เข้าสู่ระบบ"Sekarang, Braelyn! Tarik tuasnya!" raung Eryx. Tubuhnya yang melayang di udara akibat hilangnya gravitasi instan menubruk agen Ardent yang tersisa, mengunci pergerakan pria kekar itu agar tidak bisa melepaskan tembakan.
Cairan ungu pekat yang bocor dari tabung jam pasir mini itu terus bergolak liar di udara, membentuk bola-bola merkuri gaib yang mengikis apa saja yang disentuhnya. Buku-buku di rak, karpet bulu, hingga pecahan kaca mendadak terangkat dan berputar dalam pusaran badai mi
"Bangun, Kael! Kalau lu menyerah di sini, segalanya benar-benar hancur!" teriak Braelyn, mengguncang tubuh peretas muda itu dengan panik.Pelipis Kael mengalirkan darah segar yang membasahi tanah hangus di sekeliling kawah. Suara dengung balok laser langit semakin memekakkan telinga, menggetarkan seluruh partikel udara di sekitar mereka. Braelyn melirik tajam ke arah langit utara di mana bola mata merah raksasa mulai memfokuskan energi pamungkasnya. Panas gelombang kejut membakar kulit punggungnya yang terkoyak tanpa ampun. Debu vulkanik beterbangan menutupi sisa-sisa reruntuhan hutan purba yang hangus terbakar."Aku... aku tidak bisa merasakan kakiku, Braelyn," bisik Kael terbatuk-batuk, membuka matanya perlahan dengan pandangan kabur.Pria itu berusaha merangkak meraih kabel optik yang tergeletak di dekat batu karang besar. Tenaganya merosot drastis akibat sengatan gelombang mental komandan musuh sebelumnya. Sinar merah dari langit jatuh menyapu pepohonan di s
"Cakar baja itu bukan sisa mesin tiruan, tanah ini sedang merobek dirinya sendiri untuk menelan kita hidup-hidup!" teriak Kael histeris, melompat mundur sejauh dua meter dari bibir kawah.Tanah purba di bawah kaki mereka bergetar hebat melebihi guncangan gempa vulkanik biasa. Retakan bercahaya biru menjalar cepat melintasi batang pohon raksasa di sekeliling area kawah. Debu tebal beraroma belerang mengepul pekat menutup pandangan mata. Braelyn berdiri kokoh tanpa bergeming, menatap lurus ke arah lengan raksasa yang terus mendesak naik ke permukaan."Jangan panik, cari titik tumpuan pada batu karang di sebelah kiri sebelum seluruh tanah ini runtuh!" perintah Braelyn lantang.Pendaran emas di telapak tangannya menyala semakin terang menerangi kegelapan hutan yang tertutup asap. Wanita itu melangkah maju mendekati bibir kawah dengan tatapan penuh siaga tinggi. Suara derit logam purba bergesekan dengan batu karang memekakkan telinga. Entitas di dalam tanah mengaum b
"Armada itu bukan sisa pasukan lama, ukuran kapal induk di tengah sana melampaui seluruh kapasitas radar darurat kita!" seru Kael histeris, jemarinya mencengkeram erat tepi kawah.Cahaya merah darah membakar angkasa utara, menciptakan pantulan mengerikan di permukaan air laut yang mulai mendidih. Ribuan pesawat tempur tanpa awak meluncur turun membelah awan dengan kecepatan hipersonik. Suara dengung mesin berfrekuensi tinggi menghantam gendang telinga, memicu getaran hebat di dalam dada. Braelyn menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa nyeri yang masih mendera sekujur persendiannya."Mereka sengaja memancing kita keluar dari reruntuhan simulasi untuk menghabisi sisa perlawanan di alam nyata," ucap Braelyn dingin, menatap tajam ke arah langit.Pendaran emas di telapak tangannya berdenyut lemah, merespons kehadiran energi masif yang dipancarkan oleh armada kosmik tersebut. Tanah di sekitar mereka kembali berderit, menampakkan celah-celah baru yang mengeluarkan uap pa
"Tangkap kabel pengaman ini sebelum tarikan gravitasi hampa merobek tubuhmu!" teriak Kael, suaranya teredam oleh desingan angin vakum yang memekakkan telinga.Braelyn melayang liar di tengah pusaran serpihan logam yang terbakar akibat ledakan lambung kapal piramida. Wanita itu mengulurkan tangan kanannya sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih luar biasa yang meremukkan otot bahunya. Bola kristal api biru terlepas dari genggaman sang arsitek, meluncur berputar bebas ke dalam jurang angkasa luar. Ruang hampa di sekitar mereka mendadak bergetar hebat, memancarkan gelombang kejut keperakan yang membelah awan."Aku tidak bisa meraihnya, tarikan di sisi kiri terlalu kuat!" balas Braelyn tersengal-sengal, menendang keras sisa panel baja yang melintas di depannya.Kael mengaitkan kait pengaman pada sabuk daruratnya, melompat menerjang badai serpihan demi menggapai pergelangan tangan Braelyn. Peretas muda itu mendesis kesakitan saat hantaman puing tajam merobek sisi jaket
"Armada itu bukan bagian dari sisa simulasi, Kael, lambang di lambung kapal itu membawa tanda tangan asli para leluhur pertama!" teriak Braelyn, matanya membelalak menatap langit barat."Tanda tangan leluhur bagaimana maksudmu? Kita baru saja keluar dari reruntuhan kubikal Adrian dan sekarang menyambut kapal piramida raksasa?" balas Kael tersengal-sengal, meraba saku jaketnya yang kosong melompong.Peretas muda itu mengatupkan rahangnya rapat-rapat saat deburan ombak di pantai mulai berubah warna menjadi kelam. Pasir putih bersih di bawah kaki mereka bergetar hebat memunculkan retakan-retakan kecil bercahaya biru terang. Suara dengung frekuensi tinggi berdengking keras di dalam gendang telinga, memecah ketenangan pagi di tepian samudra. Armada berbentuk piramida itu semakin mendekat dengan formasi melingkar yang menutupi separuh cakrawala."Mereka bukan penyelamat, melainkan hakim agung yang datang untuk menghapus jejak anomali kita," ucap Braelyn dingin, mengam
"Kalau kita tidak bisa meretas mata itu, riwayat kita tamat hari ini juga, Braelyn!" seru Kael histeris, jemarinya mencakar konsol kosong yang mati total.Peretas muda itu mundur selangkangan saat bayangan hitam makhluk bermata seribu membentang menutupi seluruh kubah langit yang runtuh. Udara di sekitarnya mendadak memadat, menekan rongga dada hingga terasa seperti menelan serpihan kaca tajam. Keringat dingin bercampur darah segar mengalir deras membasahi kerah jaketnya yang robek. Suara desis frekuensi rendah bergetar hebat di dalam tengkorak mereka, memicu rasa pusing luar biasa."Jangan biarkan rasa takut menguasai sistem sarafmu, Kael, cari celah frekuensi terlemah di inti mata itu!" bentak Braelyn tajam, berdiri tegak dengan sisa tenaga yang bergolak di nadinya.Wanita itu mengepalkan kedua tangannya erat-erat, memaksa aliran darah keturunan Wilson membakar kembali kulit telapak tangannya yang sempat padam. Pendaran emas tipis kembali menyala terang di ant
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,
“Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn







