INICIAR SESIÓN"Mari ikut aku ke ruang strategi utama, waktu kita tidak banyak sebelum pasukan Adrian memindai seluruh frekuensi wilayah ini," ucap pria tua berbalut jubah usang itu, memimpin langkah melewati koridor baja yang terang benderang.
Eryx dan Kael mengekor di belakang, sementara Braelyn menggenggam erat chip memori data di dalam saku jaketnya. Ruangan strategi pusat tampak sangat futuristik dengan meja taktis hologram melingkar di tengah ruangan. Belasan teknisi dan panglima koloni berdiri
Cahaya putih menyilaukan mata perlahan meredup, menyisakan dengung frekuensi rendah yang menggetarkan tulang belakang. Gravitasi lenyap sepenuhnya, membuat tubuh mereka melayang bebas di tengah hamparan ruang hampa tanpa batas. Puing-puing benteng berterbangan berputar liar di sekeliling, hancur menjadi debu kosmik dalam hitungan detik. Udara terasa hampa tanpa oksigen, memaksa paru-paru membakar sisa energi terakhir untuk bertahan hidup."Kael! Tangkap tanganku sebelum pusaran ini memisahkan kita!" teriak Eryx histeris, merentangkan lengan di tengah badai partikel yang berputar kencang.Pria itu mengayunkan tubuhnya melawan arus gravitasi buatan yang menarik mereka ke dalam lorong gelap. Serpihan logam tajam melesat nyaris menggores lehernya tanpa ampun. Napasnya memburu di balik bibir yang mulai membiru akibat suhu ekstrem ruang hampa. Cengkeraman tangannya mengeras pada batangan besi yang kini kehilangan pendaran birunya."Aku tidak bisa melihat apa-apa, tari
"Tutup jalur evakuasi sektor tiga sekarang juga sebelum gelombang pertama plasma menembus kubah pelindung!" bentak Eryx sambil mengempaskan batangan besinya ke lantai baja.Percikan api berpijar terang setiap kali hantaman senjata itu berbenturan dengan puing beton yang runtuh. Asap belerang mengepul pekat dari koridor utama yang membara akibat hantaman rudal udara. Suara sirene meraung memekakkan telinga, bersahutan dengan deru mesin pesawat tempur musuh di luar dinding benteng. Para pejuang koloni berlarian mengambil posisi di balik tembok pertahanan darurat."Sistem hidrolik gerbang utama sudah lumpuh total akibat korsleting listrik," balas Kael terengah-engah, mengetik cepat di atas konsol darurat yang berkedip merah. Rembesan darah segar menetes dari pelipis peretas muda itu akibat terjangan gelombang kejut sebelumnya. Jemarinya menari liar memindahkan sisa daya baterai ke menara meriam plasma otomatis. "Kita harus menahan mereka manual dari sini!"Braelyn
"Mari ikut aku ke ruang strategi utama, waktu kita tidak banyak sebelum pasukan Adrian memindai seluruh frekuensi wilayah ini," ucap pria tua berbalut jubah usang itu, memimpin langkah melewati koridor baja yang terang benderang.Eryx dan Kael mengekor di belakang, sementara Braelyn menggenggam erat chip memori data di dalam saku jaketnya. Ruangan strategi pusat tampak sangat futuristik dengan meja taktis hologram melingkar di tengah ruangan. Belasan teknisi dan panglima koloni berdiri mengelilingi meja tersebut, menatap layar proyeksi tiga dimensi yang menampilkan peta orbit satelit bumi secara detail."Aku Aris, pemimpin dewan pertahanan koloni ini," ucap pria tua itu berbalik menghadap mereka setelah tiba di depan meja taktis. "Kalian telah membawa dokumen paling berharga yang kita butuhkan untuk meruntuhkan jaringan utama Adrian."Braelyn mengeluarkan chip memori dari saku jaketnya, menyerahkannya langsung ke tangan Aris. "Data di dalam chip ini memuat kode
"Cepat masuk sebelum pintu ini tertutup total, pasukan pembersih sudah berada di ujung tebing!" seru pria tua berbalut jubah usang itu, menarik lengan Braelyn dengan sigap ke dalam lorong batu.Eryx dan Kael melompat masuk bersamaan tepat saat rentetan tembakan laser drone menghantam dinding luar tebing dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Pintu batu tebing bergeser menutup rapat secara otomatis, memutus total suara bising di luar dan menyisakan keheningan di dalam terowongan bawah tanah yang temaram. Bau mesiu seketika tergantikan oleh aroma tanah lembap yang bersih.Braelyn mengatur napasnya yang memburu, menatap lekat-lekat sosok pria tua yang berdiri di hadapannya dengan sorot mata penuh wibawa. Obor kuno di tangan pria itu memantulkan pendaran hangat di dinding batu yang dipenuhi ukiran mekanik purba."Lu... bagaimana lu bisa tahu kami akan datang lewat jalur ini?" tanya Kael curiga, meraba saku jaketnya untuk memastikan chip memori data aman di te
"Loncat sekarang sebelum lantai menara ini runtuh total menimbun kita!" seru Eryx tajam, menepis pecahan besi membara dengan batangan besinya.Ledakan susulan menghantam dinding beton menara komunikasi, menciptakan lubang besar yang menganga lebar ke arah jurang bukit. Asap hitam pekat mengepul memenuhi ruangan sempit, mencekat pernapasan tiga buronan tersebut. Kael terbatuk keras sambil menyeret tubuhnya merayap mendekati tepian lubang ledakan."Chip memori datanya sudah di tanganku, kita tidak punya waktu lagi untuk berdebat!" balas Braelyn tegas, menyembunyikan benda kecil itu ke dalam saku dalam jaketnya.Pesawat tempur tanpa awak di luar menembakkan rentetan sinar laser biru yang membelah udara pagi. Semburan api membakar sisa konsol utama, meruntuhkan langit-langit menara dalam satu kedipan mata. Eryx menarik lengan Braelyn dan Kael secara bersamaan, melompat menerobos lubang dinding menuju lereng bukit curam."Kita meluncur bebas ke arah semak berd
Suara serak itu memantul di dinding besi berkarat, menciptakan gema yang menusuk telinga di tengah kesunyian bukit. Eryx langsung menarik tubuh Braelyn ke belakang, mengarahkan batangan besinya lurus ke lubang speaker menara. Kael merinding hebat, menyapu sekeliling area dengan tatapan siaga penuh."Siapa yang memasang penyadap di tempat terpencil ini, sistemnya bahkan sudah mati ratusan tahun lalu," desis Kael tegang, melangkah mundur perlahan.Layar monitor darurat berkedip liar, memproyeksikan cahaya biru pucat ke wajah Braelyn yang menatap lekat-lekat barisan kode sandi Wilson. Wanita itu melepaskan genggaman Eryx, melangkah pasti melewati ambang pintu baja tanpa ragu sedikit pun. Bau ozon tipis bercampur debu tua langsung menyergap rongga hidungnya saat ia berdiri tepat di depan konsol utama. Tidak ada jebakan digital atau aliran listrik berbahaya yang menyengat kulit telapak tangannya."Jangan mendekati konsol itu sendirian, Braelyn, kita tidak tahu jebaka
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at
“Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn







