Share

Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila
Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila
Author: Mountain

Bab 1

Author: Mountain
"Bom! Lindungi kepala keluarga!"

Sebuah jeritan menggema di aula.

Di hadapannya, seorang teroris berdiri dengan tubuh dipasangi bom dan matanya dipenuhi kegilaan.

Aku secara refleks mundur setengah langkah.

Belum sempat pudar dari ingatan rasa sakit hebat akibat organ yang dicabut di kehidupan sebelumnya, hiruk-pikuk aula perjamuan sudah lebih dulu menyergap.

Aku terlahir kembali, tepat pada saat kepala keluarga diserang.

Setelah tersadar dari keterkejutan, aku perlahan meletakkan tanganku di atas perut yang membuncit.

Anakku masih ada, semuanya masih bisa diselamatkan.

Di tengah kekacauan, aku melepas cincin sinyal darurat dari jariku dan langsung membuangnya ke tempat sampah di sampingku.

Kepala keluarga kini terekspos di tengah arus orang-orang yang panik dan tidak terkendali.

Penyerang itu telah menembus garis pertahanan, jarinya menekan pemicu bom, lalu berlari ke arahnya.

Tanpa ragu, aku mendorong kepala keluarga ke balik pilar marmer, lalu melindunginya dengan tubuhku sendiri.

Duar.

Gelombang panas yang membara, bercampur serpihan batu, menghantam punggungku dengan keras.

Hantaman itu membuat tubuhku terhempas ke depan, rasa sakit hebat menembus seluruh anggota tubuhku.

Aku terbatuk pelan beberapa kali, darah mengalir dari bibirku.

Di bawah tatapan kepala keluarga yang tertegun, aku kembali menahan sebuah batu yang jatuh dari atas.

"Kepala Keluarga ... hati-hati. Keluarga ini masih membutuhkanmu ...."

Melihat keterkejutan di matanya perlahan berubah menjadi haru, aku tahu.

Dalam taruhan ini, aku memilih dengan benar.

Suamiku, Daren Karsa, adalah kepala pengawal keluarga, yang seharusnya selalu berada di sisi kepala keluarga.

Namun, hari ini saat kepala keluarga dalam bahaya, dia justru tidak berada di tempat.

Hanya karena Freya Hastanta, teman masa kecilnya, ingin menonton peragaan busana, Daren meninggalkan tugasnya dan bahkan membawa seluruh tim pengawal untuk mengantarnya.

Di kehidupan sebelumnya, karena khawatir dia akan dihukum atas kelalaiannya, aku menekan cincin sinyal darurat untuk memberi peringatan lebih awal.

Meskipun Daren meninggalkan posnya, dia berhasil kembali tepat waktu berkat sinyal permintaan tolong itu, dan akhirnya dipromosikan menjadi tangan kanan kepala keluarga.

Namun setelah itu, dia justru menuduhku haus akan kehormatan, dan menyalahkanku atas kematian Freya.

Bahkan, dia mengirimku ke pelelangan bawah tanah, hingga aku dan anakku disiksa sampai mati.

Karena takdir memberiku kesempatan untuk mengulang semuanya, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama.

Saat itu, ledakan telah mereda, yang tersisa dari penyerang hanyalah serpihan tubuh.

Kepala keluarga terlindungi olehku, selamat tanpa cedera.

Bersamaan dengan itu, para pengawal keluarga bergegas datang, mengangkat senjata, dan menutup semua akses.

Krisis pun berakhir.

Namun, aku merasakan dengan jelas, gerakan di dalam perutku perlahan menghilang.

Darah hangat mengalir deras dari luka robek di punggungku. Tubuhku gemetar tidak terkendali.

Di dalam perutku masih ada bayi yang sudah berusia delapan bulan.

Aku ingin mengulurkan tangan untuk melindungi sesuatu, tetapi pandanganku menggelap, dan tubuhku langsung terjatuh.

Kepala keluarga segera menopangku, suaranya terdengar panik, sesuatu yang jarang sekali terdengar darinya.

"Panggil dokter! Sekarang juga! Siapa yang datang bersamanya? Segera bawa mereka ke sini!"

Aku ingin berbicara, tetapi yang keluar hanyalah batuk terputus-putus bercampur darah. Kepala keluarga tidak merasa jijik sedikit pun, dia menunduk untuk mendengarku.

Dengan sisa tenaga, aku mengucapkan kata demi kata dengan jelas.

"Saya ... Elisa Magata, istri Kepala Pengawal Daren."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 10

    Enam bulan kemudian.Matahari Santio masih menyilaukan seperti biasa.Aku mengenakan gaun beludru hitam panjang dan berdiri di depan sebuah nisan baru di pemakaman keluarga.Di batu nisan itu tidak tertera nama, hanya terukir satu baris kecil.[Untuk malaikat kecil yang tak pernah kutemui.]Aku meletakkan seikat mawar putih di depan nisan, jemariku menyusuri marmer yang dingin.Lubang di hatiku belum sepenuhnya sembuh, tetapi sudah tidak lagi berdarah.Waktu adalah obat.Dari belakang terdengar langkah kaki yang mantap.Tanpa perlu menoleh, aku tahu siapa itu.Sebuah mantel yang masih menyimpan hangat tubuh disampirkan di pundakku."Anginnya kencang."Suara kepala keluarga terdengar di atas kepalaku.Aku merapatkan mantel itu. Di sana ada aroma cerutu dan kolonye yang biasa dia gunakan, menghadirkan rasa tenang."Kabar dari area tambang."Dia menyerahkan kepadaku sebuah berkas, nadanya datar, seolah membicarakan hal yang sama sekali tidak penting.Aku membuka berkas itu.Halaman pertam

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 9

    Malam hujan, di Restoran Luona di Bruolin.Sebuah Lincoln hitam berhenti di depan pintu.Aku dan kepala keluarga turun dari mobil tanpa membawa pengawal.Begitu pintu didorong terbuka, restoran itu sudah dikosongkan. Hanya ada satu meja makan, dan di sana duduk pemimpin keluarga musuh, Moretti, bersama seorang pengikutnya.Dia sedang memasukkan sepotong besar daging sapi berdarah ke mulutnya, cara makannya rakus dan menjijikkan.Pengikut Moretti menghadang kami. "Mohon bekerja sama untuk pemeriksaan tubuh."Kepala keluarga membuka kedua tangannya, membiarkannya memeriksa dirinya.Setelah dipastikan tidak ada apa-apa, pengikut itu menoleh ke arahku.Moretti menyeka minyak di sudut bibirnya, lalu tertawa licik. "Nona ini, biar aku sendiri yang memeriksa."Tatapan kepala keluarga mendadak dingin, dia hendak bergerak, tetapi aku menahan tangannya.Dengan wajah datar, aku melangkah maju dan membiarkan tangan Moretti yang gemuk menepuk-nepuk bagian luar mantelku.Tatapannya membuat muak, tet

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 8

    Aku berbalik menatap dua pengawal yang berjaga di pintu sambil menunggu perintah. Mereka adalah orang di keluarga yang khusus menangani "sampah". Wajah mereka tertutup topeng hitam, di tangannya tergenggam kotak peralatan yang berat."Bawa mereka ke tambang belerang di bagian Selatan Santio."Begitu mendengar kata tambang belerang, Daren dan Freya serempak menarik napas dengan ketakutan.Para penambang di sana kebanyakan adalah anggota mafia yang melakukan kejahatan berat atau para penjudi yang tidak mampu melunasi utang.Itu adalah neraka dunia yang sesungguhnya, panas ekstrem, gas beracun, kerja paksa tanpa henti."Nggak! Elisa, kau nggak bisa melakukan ini padaku! Aku suamimu!" teriak Daren putus asa."Mantan suami," ujarku mengoreksi, "karena Nona Freya sangat suka berakting, biarkan dia pergi berakting dengan baik untuk para penambang. Aku yakin mereka akan sangat senang melihat perempuan secantik dia tampil setiap hari.""Nggak!" Jeritan Freya terdengar melengking dan memilukan.

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 7

    Udara di ruang bawah tanah begitu pengap, bercampur dengan bau karat besi, jamur, dan aroma anyir yang membuat mual."Nggak ... nggak mungkin!" Freya menjerit, jari-jarinya mencengkeram jeruji kandang besi dengan kuat hingga kuku-kukunya patah tanpa dirinya sadari. "Aku dijebak! Anna, perempuan jalang itu, sedang berbohong! Dia iri padaku! Elisa, kau nggak boleh percaya kata-kata orang gila itu!"Aku berdiri di luar kandang besi, tubuhku diselimuti mantel wol hitam tebal. Mantel itu sengaja dikirim oleh kepala keluarga untuk menangkal dinginnya ruang bawah tanah.Aku menatap Freya seperti menatap seekor tikus yang sedang sekarat dalam perangkap."Anna gila atau nggak, semuanya tertulis jelas dalam catatan interogasi."Aku mengeluarkan setumpuk berkas yang sedikit berlumur darah dari saku mantel, lalu melemparkannya begitu saja ke dalam kandang besi.Kertas-kertas itu berserakan di kaki Freya, penuh dengan catatan rinci tentang rekaman komunikasi dan transaksi keuangan antara dirinya da

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 6

    Kepala keluarga memandang pasangan yang saling mencabik itu dengan tatapan penuh jijik.Dia menarik kembali pistolnya, lalu memberi isyarat dengan tangan kepada anak buahnya.Beberapa pengawal bertubuh kekar bergegas masuk, menyeret Daren dan Freya seperti menyeret bangkai anjing."Bawa mereka ke ruang interogasi. Aku akan menginterogasi mereka sendiri."Kepala keluarga berjalan ke pintu, lalu berhenti dan menoleh ke arahku."Elisa, kau adalah penasihat keluarga. Kau memiliki wewenang untuk menangani perkara ini. Setelah lukamu agak pulih, kau yang akan memutuskan hidup dan mati mereka."Aku menatap punggung mereka yang diseret pergi, tetapi di hatiku tidak muncul kepuasan seperti yang kubayangkan.Anakku telah tiada. Sekalipun nyawa mereka diambil, itu tidak akan bisa mengembalikan nyawa anakku.Beberapa hari berikutnya, aku bekerja sama dengan dokter untuk menjalani perawatan.Setiap hari kepala keluarga datang menjengukku, dan dia membawa sebuah kabar.Serangan teroris itu bukanlah

  • Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila   Bab 5

    Tangan Daren membeku di udara, moncong pistolnya masih mengarah ke pelipisku.Namun, lehernya bergerak seperti roda gigi berkarat, berputar perlahan dengan tersendat.Saat dia melihat jelas siapa yang datang, seakan-akan seluruh darah di tubuhnya tersedot habis. Wajah angkuh itu seketika pucat pasi."Ke ... Kepala Keluarga?"Pistol di tangan Daren terjatuh ke lantai."Kenapa Anda bisa ada di sini?"Freya jelas masih belum memahami situasi.Dia belum pernah melihat sosok pria yang konon mengendalikan seluruh dunia hitam Santio.Di mata Freya, dia hanyalah seorang berandalan kecil dengan kemeja kotor berlumuran darah dan aura penuh kekerasan.Freya mengernyitkan hidung dengan jijik, tetapi tetap merangkul lengan Daren sambil bersikap manja."Daren, siapa pria ini? Kenapa tubuhnya penuh darah, jorok sekali. Dia juga aktor yang dipanggil Elisa, ya?"Plak!Sebuah tamparan nyaring menggema di ruang rawat.Yang melakukannya bukan orang lain, melainkan Daren.Tamparan itu dilakukan dengan seku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status