Share

Bab 2

Author: Hanu
Kirana berdiri di lorong rumah sakit, telinganya berdengung.

Ucapan dokter, "lagi hamil", terasa seperti hantaman keras di kepalanya.

Tanpa sadar, dia menoleh ke arah Jayden. Pria itu mula-mula tertegun, lalu matanya dipenuhi kegembiraan yang meluap. Dengan suara pelan, dia bergumam, "Syukurlah ... semuanya bakal kembali seperti semula."

Tentu saja Kirana mengerti maksud perkataannya. Dhea hamil, akhirnya dia bisa melepaskan identitasnya sebagai Kayden dan kembali ke sisi Kirana.

Namun, sekarang, Kirana sudah tidak membutuhkannya lagi.

"Tapi pasien mengalami sedikit anemia dan perlu transfusi darah." Ucapan dokter itu memutus lamunannya.

Jayden segera menyingsingkan lengan baju, tetapi dokter menghentikannya. "Golongan darah Anda nggak cocok. Kami membutuhkan darah golongan B."

Kebetulan, Kirana bergolongan darah B.

Tatapan Jayden beralih kepadanya. Setelah ragu sejenak, dia melangkah mendekat. "Kirana, kakak iparmu lagi hamil. Anak ini ... sudah lama kami nantikan."

Jayden berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Bisakah kau mendonorkan sedikit darah untuknya? Setelah anak ini lahir, aku pasti bakal menebus semua ini padamu."

Menebus? Kirana mencibir dalam hati.

Jadi, yang dia maksud dengan penebusan itu hanyalah kembali ke sisinya seolah sedang mengasihaninya?

"Aku bisa mendonorkan darah, tapi soal penebusan itu nggak perlu," ucap Kirana tenang, lalu dia berbalik mengikuti perawat untuk diambil darah.

Saat jarum menembus pembuluh darahnya, Kirana memandangi darah merah yang mengalir masuk ke kantong transfusi. Tiba-tiba, dia teringat pada tahun pertama pernikahan mereka, ketika Kirana terserang demam tinggi dan Jayden menggendongnya di punggung sambil berlari beberapa kilometer menuju rumah sakit di tengah malam.

Hari itu, jarum pengambil darah yang digunakan juga seperti ini. Jayden menggenggam tangannya erat-erat sambil berkata, "Jangan takut, Istriku. Aku di sini."

Kini, darahnya justru akan mengalir ke tubuh wanita lain, menutrisi anak mereka.

Beberapa hari berikutnya, Kirana beristirahat di rumah.

Dari balik jendela, dia melihat Jayden tidak pergi ke markas lagi. Setiap hari, pria itu bolak-balik antara rumah dan rumah sakit sambil membawa termos makanan.

Hari ini merebus sup ayam, besok memasak telur kecap ....

Dulu, ketika Kirana terbaring sakit karena flu, Jayden juga seperti itu, berdiri di depan kompor dan memasakkan berbagai makanan bergizi untuk memulihkan kesehatannya.

Hari Dhea keluar dari rumah sakit, aroma manis permen susu memenuhi seluruh kompleks perumahan militer.

Jayden membawa toples permen dan membagikannya dari rumah ke rumah. Kini, wajahnya yang biasanya dingin dipenuhi senyum yang tidak bisa disembunyikan. "Dhea hamil. Silakan ambil permen."

"Selamat, ya!"

"Akhirnya, kalian bakal punya anak!"

Jayden tersenyum dan menanggapi ucapan selamat satu per satu. Sorot matanya dipenuhi kebahagiaan seorang calon ayah.

Baru setelah itu, dia berjalan ke hadapan Kirana. Tangan yang menyodorkan permen tampak sedikit ragu. "Dik ...."

"Selamat, Kak Kayden." Kirana menerima permen itu dan tersenyum secukupnya. "Semoga kalian bertiga hidup bahagia selamanya."

Alis Jayden berkerut samar.

Ucapan selamat seperti itu terlalu sopan, begitu sopan hingga membuat hatinya diliputi kegelisahan.

Sejak kematian Jayden diumumkan, Kirana selalu menangis atau membuat keributan. Kapan dia pernah setenang ini?

Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh, Dhea datang dan merangkul lengannya sambil berkata manja, "Kayden, bukannya kita sudah sepakat mentraktir Kirana makan?"

Untuk berterima kasih atas donor darahnya, Dhea bersikeras mengajak Kirana makan bersama.

Meskipun sudah berkali-kali menolak, Kirana tetap ditarik masuk ke dalam mobil.

Di restoran, seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah. "Silakan masuk."

Pandangan pelayan bergantian tertuju pada Jayden dan Dhea, lalu dia tersenyum. "Kalian berdua benar-benar serasi."

Kemudian, dia memandang Kirana. "Ini adik Anda, ya? Cantik sekali."

Jayden tertegun. Sebelum sempat menjawab, Kirana sudah menjawab dengan lembut, "Benar, aku adiknya."

Kalimat itu bagaikan pisau yang menusuk tepat ke dalam hati Jayden.

Namun, ketika melihat perut Dhea yang mulai sedikit membuncit, pada akhirnya dia tidak jadi membantah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 31

    Tiga hari kemudian, orang-orang dari Keluarga Sagara datang ke pulau untuk menjemput Jayden dan Dhea pulang.Saat melihat keduanya bergandengan tangan, ditambah buku nikah yang berada di tangan Dhea, mereka saling berpandangan dan sama-sama mengembuskan napas lega.Peluit kapal pun berbunyi, sementara asap hitam mengepul dari cerobong.Jayden berdiri di geladak sambil mengusap cincin nikah di tangannya. Tatapannya dipenuhi kepahitan.Dulu, saat menikah dengan Kirana, dia menghabiskan gaji selama enam bulan untuk membuat cincin itu.Ketika memakaikannya ke jari Kirana, Jayden yang selama ini dikenal tidak pernah menangis meski terluka, justru menangis seperti anak kecil.Saat itu, Jayden mengucapkan begitu banyak kata cinta dan janji kepadanya.Namun, pada akhirnya, semua janji itu dia ingkari.Bahkan, dialah yang lebih dulu menghancurkan kepercayaan paling mendasar dalam sebuah pernikahan.Jadi, semua yang dialaminya saat ini adalah buah dari perbuatannya sendiri.Pada akhirnya, Jayden

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 30

    Setelah semalam penuh mereka bercinta, Jayden yang telah sadar dari pengaruh alkohol hanya merasakan kepalanya berdenyut hebat.Jayden membuka mata dengan susah payah. Namun, dia mendapati seorang wanita berbaring dalam pelukannya. Wajah wanita itu tertutupi rambut panjangnya.Di bahunya yang bulat dan mulus tampak penuh bekas kemerahan. Sekilas saja sudah cukup untuk mengetahui apa yang telah dilakukannya semalam.Mata Jayden langsung membelalak. Pikirannya pun seketika kacau hingga kehilangan kendali.Saat itu, wanita dalam pelukannya mengerang pelan, lalu perlahan mengangkat kepala dan tersenyum kepadanya."Jayden."Suasana pagi yang semula tenang seketika berubah menjadi kacau. Jayden sama sekali tidak pernah menyangka bahwa suatu hari dirinya akan dijebak dan dibius oleh seorang wanita.Di tengah amarah yang membara, rasa pilu juga meluap dari dalam hatinya.Dulu, dia tidur dengan Dhea demi memberinya seorang anak.Kini, satu-satunya yang ada dalam pikiran Jayden adalah mendapatka

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 29

    Jayden terbaring tidak sadarkan diri selama satu minggu penuh. Saat sadar, hal pertama yang dia tanyakan bukanlah sudah berapa lama Dhea menemaninya di sisi ranjang.Melainkan menanyakan kondisi Kirana.Setelah mengetahui bahwa orang yang dia selamatkan bukan Kirana, dan Kirana ternyata sudah lebih dulu berhasil melarikan diri, Jayden sempat tertegun dan kehilangan fokus. Kemudian, dia menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjang seolah seluruh tenaganya telah terkuras. Namun, senyum lega perlahan mengembang di sudut bibirnya.Senyum itu menusuk hati Dhea hingga terasa perih, sekaligus makin menguatkan tekadnya untuk menggunakan obat itu pada Jayden.Begitu mendengar bahwa Kirana juga dirawat di rumah sakit yang sama, Jayden bahkan mengabaikan luka-luka di tubuhnya. Dia memaksa turun dari ranjang untuk menemui Kirana.Kali ini, Dhea tidak lagi menghentikannya. Dia hanya memandang punggung Jayden yang perlahan menjauh.Pikirannya kembali melayang pada kejadian saat kebakaran.Ketika mendenga

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 28

    Duar!Ledakan dahsyat kembali mengguncang. Puing-puing dan serpihan beterbangan ke segala arah, melesat bagaikan anak panah."Pak, tenang dulu! Di dalam terlalu berbahaya. Kalau kau masuk sekarang, sama saja mencari mati!""Kami sudah menghubungi polisi! Tim penyelamat bakal segera datang!"Melihat Elio hendak menerobos masuk tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, orang-orang di sekitar segera berlari menghampiri dan mati-matian menahannya."Lepaskan aku! Istriku masih di dalam! Dia sedang hamil!"Mata Elio memerah. Tanpa memedulikan apa pun, dia berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman mereka.Pikirannya saat itu benar-benar kosong. Yang ada di benaknya hanyalah Kirana yang masih terjebak di dalam.Kirana tidak boleh mengalami apa pun!"Pergi!"Entah dari mana datangnya tenaga itu, Elio tiba-tiba berhasil melepaskan diri dari orang-orang yang menahannya, lalu langsung menerjang ke arah kobaran api.Pak!Duar!Ledakan dahsyat kembali terdengar. Gelombang kejut yang lu

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 27

    Kirana dan Elio saling berpandangan. Tatapan mereka sama-sama dipenuhi kebingungan.Belakangan ini, mereka tidak merasa pernah membantu siapa pun, dan rasanya juga tidak mungkin ada orang yang begitu baik hati hingga rela menghabiskan uang sebanyak itu untuk mereka.Pada awalnya, Kirana mengira pramuniaga itu hanya bercanda. Namun, setelah pramuniaga tersebut menunjukkan struk pembayaran kepada mereka, barulah mereka terpaksa percaya bahwa semua itu benar.Semula, pasangan suami istri itu mengira kejadian tersebut hanyalah kebetulan. Mungkin ada teman yang tanpa sengaja bertemu dengan mereka, tetapi tidak sempat menyapa secara langsung sehingga memilih cara itu untuk menyampaikan salam.Mereka pun berpikir, jika suatu saat nanti mengetahui siapa orangnya, mereka akan mengucapkan terima kasih secara langsung.Namun, siapa sangka, setiap kali mereka pergi ke tempat baru dan selesai berbelanja, hal yang sama selalu terjadi.Lama-kelamaan, Kirana mulai merasa gelisah. Dia memandang Elio de

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 26

    Melihat sikap Jayden yang begitu dingin dan menjaga jarak, hati Dhea terasa perih. Dia mengepalkan tangannya erat-erat, lalu akhirnya menceritakan keputusan ibu Jayden kepadanya tanpa menyembunyikan sedikit pun.Begitu mendengar bahwa ibunya ingin Jayden menikah dengan Dhea, wajah Jayden langsung muram. Tatapannya dingin, sementara nada bicaranya tetap datar."Kalau begitu, bagaimana denganmu? Apa kau juga mau menikah denganku?"Dhea menatap wajah di hadapannya yang sangat mirip dengan mendiang suaminya. Entah mengapa, dia menganggukkan kepala.Dulu, salah satu alasan terbesar dia bersedia menikah dengan kakak Jayden adalah karena wajah itu.Meski Jayden tidak mencintainya, setidaknya dia memiliki wajah itu. Kelak, jika mereka dikaruniai seorang putra yang mirip dengan Jayden, semua ini rasanya tetap sepadan.Namun, tentu saja Dhea tidak bisa mengatakan hal itu."Aku sudah bilang, dengan reputasiku yang sekarang, nggak ada pria yang mau menikahiku. Kalau bukan menikah denganmu, lalu de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status