แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Hanu
Saat memesan makanan, Jayden dengan lancar menyebutkan sederet nama hidangan. "Jangan pakai daun ketumbar, minyak dan garamnya sedikit saja, rasanya asam pedas ...."

Semuanya adalah makanan kesukaan Dhea.

Baru ketika pelayan bertanya, "Kalau adiknya mau makan apa?" Jayden seolah tersadar dan menoleh ke arah Kirana.

"Apa saja boleh," jawab Kirana sambil menunduk menyesap teh. Uap panas mengaburkan sorot matanya.

Begitu semua hidangan tersaji, Kirana menunduk dan menyuap nasi butir demi butir secara mekanis.

Sampai tiba-tiba tenggorokannya terasa sesak, barulah dia menyadari bahwa bola ketan di mangkuknya berisi pasta wijen hitam.

Kirana alergi terhadap wijen!

Dulu, Jayden mengingat semua makanan yang tidak boleh dia makan. Bahkan saat mengambil makanan di kantin, Jayden selalu berpesan agar makanannya tidak diberi wijen.

Sekarang, justru dia yang memesan satu piring penuh bola ketan isi wijen.

"Kirana?" Dhea memperhatikan wajahnya yang tidak beres. "Ada apa denganmu?"

Baru saat itu, Jayden mendongak. Setelah melihat pipi Kirana yang mulai memerah, dia langsung berdiri. "Kau makan wijen?"

Napas Kirana makin sesak, pandangannya mulai menggelap.

Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat Jayden berlari ke arahnya. Namun, di tengah jalan, langkahnya terhenti oleh teriakan Dhea. "Ah ... perutku sakit sekali ...."

Waktu seolah membeku pada saat itu.

Kirana melihat Jayden berdiri terpaku. Tatapannya terus beralih antara dirinya dan Dhea, seolah diliputi keraguan.

Pada akhirnya, Jayden menggendong Dhea. Sebelum pergi, dia buru-buru berkata kepada pelayan, "Tolong antar adikku ke rumah sakit."

"Nona! Nona!" Suara panik pelayan itu terdengar makin jauh.

Kesadaran Kirana pun makin kabur hingga akhirnya dia benar-benar pingsan.

Aroma disinfektan yang menyengat membuat mata Kirana terasa perih.

Dia membuka mata dan melihat seorang perawat sedang mengganti botol infus.

"Nona, Anda sudah sadar?" Perawat itu mengembuskan napas lega. "Untung pelayan restoran mengantar Anda tepat waktu. Syok anafilaksis karena alergi bisa mengancam nyawa."

Kirana ingin berbicara, tetapi tenggorokannya terasa perih seperti terbakar.

Bayangan punggung Jayden yang tanpa ragu membawa Dhea pergi terus terbayang di benaknya.

Kirana memejamkan mata, tetapi air mata tetap mengalir dari sudut matanya hingga membasahi rambut di pelipis.

Selama tiga hari dirawat di rumah sakit, Kirana terbaring sendirian di ranjang pasien. Ruam merah akibat alergi membuat seluruh tubuhnya gatal, sementara tenggorokannya membengkak sampai-sampai dia kesulitan menelan air.

Pada saat-saat paling menyiksa itu, Kirana mendengar dua perawat berbisik di luar pintu.

"Pasien hamil di kamar 308 itu cuma mengalami gerakan janin yang lebih sering dari biasanya, tapi suaminya panik setengah mati."

"Iya, beda sekali dengan pasien di kamar 302 ini. Alerginya separah ini, tapi suaminya bahkan nggak datang menjenguk. Seolah-olah suaminya sudah meninggal."

Kirana mengubur wajahnya ke dalam bantal.

Benar. Suaminya memang sudah meninggal.

Meninggal dalam tugas, meninggal tiga bulan yang lalu, meninggal ... tepat ketika dia memilih menjadi suami wanita lain.

Hari Kirana keluar dari rumah sakit, cuacanya sangat cerah.

Baru saja Kirana sampai di gerbang rumah sakit, dia melihat jip hijau militer yang begitu dikenalnya.

Detik berikutnya, Dhea keluar dari pintu utama rumah sakit.

Pintu mobil terbuka dengan suara keras. Jayden segera turun dan berlari menghampirinya, lalu dengan hati-hati menopang pinggangnya. "Pelan-pelan. Dokter bilang kau harus banyak istirahat."

Suara Jayden begitu lembut, sama persis seperti saat dulu dia menenangkan Kirana.

Kirana berdiri terpaku di tempatnya, memandangi jip itu melaju pergi. Asap knalpotnya menerpa wajahnya yang pucat.

Bahkan, Jayden tidak memberinya satu lirikan pun.

....

Angin senja terasa dingin.

Saat Kirana mendorong pintu rumah, dari kejauhan dia melihat sosok tinggi berdiri di depan rumahnya.

Jayden membawa beberapa kantong berisi suplemen, di samping kakinya ada beberapa tas jaring yang berisi susu malt, gula merah, dan makanan kaleng.

"Kirana." Jayden berjalan cepat menghampirinya. "Bagaimana alergimu? Sudah membaik?"

Betapa ironisnya.

Siang hari pria itu berpura-pura tidak melihatnya, tetapi ketika tidak ada orang lain, Jayden datang dan berpura-pura peduli.

"Terima kasih atas perhatianmu, Kak Kayden. Aku sudah jauh lebih baik." Kirana melewatinya dan hendak membuka pintu.

Namun, Jayden langsung meraih pergelangan tangannya. "Ambillah semua ini buat memulihkan kesehatanmu ...."

"Nggak perlu ...."

"Kayden! Gawat!" Tiba-tiba Dhea berlari masuk ke halaman dengan wajah penuh air mata. "A ... aku dilaporkan karena menjual kuota kepulangan para pemuda terdidik ke kota!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 31

    Tiga hari kemudian, orang-orang dari Keluarga Sagara datang ke pulau untuk menjemput Jayden dan Dhea pulang.Saat melihat keduanya bergandengan tangan, ditambah buku nikah yang berada di tangan Dhea, mereka saling berpandangan dan sama-sama mengembuskan napas lega.Peluit kapal pun berbunyi, sementara asap hitam mengepul dari cerobong.Jayden berdiri di geladak sambil mengusap cincin nikah di tangannya. Tatapannya dipenuhi kepahitan.Dulu, saat menikah dengan Kirana, dia menghabiskan gaji selama enam bulan untuk membuat cincin itu.Ketika memakaikannya ke jari Kirana, Jayden yang selama ini dikenal tidak pernah menangis meski terluka, justru menangis seperti anak kecil.Saat itu, Jayden mengucapkan begitu banyak kata cinta dan janji kepadanya.Namun, pada akhirnya, semua janji itu dia ingkari.Bahkan, dialah yang lebih dulu menghancurkan kepercayaan paling mendasar dalam sebuah pernikahan.Jadi, semua yang dialaminya saat ini adalah buah dari perbuatannya sendiri.Pada akhirnya, Jayden

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 30

    Setelah semalam penuh mereka bercinta, Jayden yang telah sadar dari pengaruh alkohol hanya merasakan kepalanya berdenyut hebat.Jayden membuka mata dengan susah payah. Namun, dia mendapati seorang wanita berbaring dalam pelukannya. Wajah wanita itu tertutupi rambut panjangnya.Di bahunya yang bulat dan mulus tampak penuh bekas kemerahan. Sekilas saja sudah cukup untuk mengetahui apa yang telah dilakukannya semalam.Mata Jayden langsung membelalak. Pikirannya pun seketika kacau hingga kehilangan kendali.Saat itu, wanita dalam pelukannya mengerang pelan, lalu perlahan mengangkat kepala dan tersenyum kepadanya."Jayden."Suasana pagi yang semula tenang seketika berubah menjadi kacau. Jayden sama sekali tidak pernah menyangka bahwa suatu hari dirinya akan dijebak dan dibius oleh seorang wanita.Di tengah amarah yang membara, rasa pilu juga meluap dari dalam hatinya.Dulu, dia tidur dengan Dhea demi memberinya seorang anak.Kini, satu-satunya yang ada dalam pikiran Jayden adalah mendapatka

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 29

    Jayden terbaring tidak sadarkan diri selama satu minggu penuh. Saat sadar, hal pertama yang dia tanyakan bukanlah sudah berapa lama Dhea menemaninya di sisi ranjang.Melainkan menanyakan kondisi Kirana.Setelah mengetahui bahwa orang yang dia selamatkan bukan Kirana, dan Kirana ternyata sudah lebih dulu berhasil melarikan diri, Jayden sempat tertegun dan kehilangan fokus. Kemudian, dia menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjang seolah seluruh tenaganya telah terkuras. Namun, senyum lega perlahan mengembang di sudut bibirnya.Senyum itu menusuk hati Dhea hingga terasa perih, sekaligus makin menguatkan tekadnya untuk menggunakan obat itu pada Jayden.Begitu mendengar bahwa Kirana juga dirawat di rumah sakit yang sama, Jayden bahkan mengabaikan luka-luka di tubuhnya. Dia memaksa turun dari ranjang untuk menemui Kirana.Kali ini, Dhea tidak lagi menghentikannya. Dia hanya memandang punggung Jayden yang perlahan menjauh.Pikirannya kembali melayang pada kejadian saat kebakaran.Ketika mendenga

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 28

    Duar!Ledakan dahsyat kembali mengguncang. Puing-puing dan serpihan beterbangan ke segala arah, melesat bagaikan anak panah."Pak, tenang dulu! Di dalam terlalu berbahaya. Kalau kau masuk sekarang, sama saja mencari mati!""Kami sudah menghubungi polisi! Tim penyelamat bakal segera datang!"Melihat Elio hendak menerobos masuk tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, orang-orang di sekitar segera berlari menghampiri dan mati-matian menahannya."Lepaskan aku! Istriku masih di dalam! Dia sedang hamil!"Mata Elio memerah. Tanpa memedulikan apa pun, dia berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman mereka.Pikirannya saat itu benar-benar kosong. Yang ada di benaknya hanyalah Kirana yang masih terjebak di dalam.Kirana tidak boleh mengalami apa pun!"Pergi!"Entah dari mana datangnya tenaga itu, Elio tiba-tiba berhasil melepaskan diri dari orang-orang yang menahannya, lalu langsung menerjang ke arah kobaran api.Pak!Duar!Ledakan dahsyat kembali terdengar. Gelombang kejut yang lu

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 27

    Kirana dan Elio saling berpandangan. Tatapan mereka sama-sama dipenuhi kebingungan.Belakangan ini, mereka tidak merasa pernah membantu siapa pun, dan rasanya juga tidak mungkin ada orang yang begitu baik hati hingga rela menghabiskan uang sebanyak itu untuk mereka.Pada awalnya, Kirana mengira pramuniaga itu hanya bercanda. Namun, setelah pramuniaga tersebut menunjukkan struk pembayaran kepada mereka, barulah mereka terpaksa percaya bahwa semua itu benar.Semula, pasangan suami istri itu mengira kejadian tersebut hanyalah kebetulan. Mungkin ada teman yang tanpa sengaja bertemu dengan mereka, tetapi tidak sempat menyapa secara langsung sehingga memilih cara itu untuk menyampaikan salam.Mereka pun berpikir, jika suatu saat nanti mengetahui siapa orangnya, mereka akan mengucapkan terima kasih secara langsung.Namun, siapa sangka, setiap kali mereka pergi ke tempat baru dan selesai berbelanja, hal yang sama selalu terjadi.Lama-kelamaan, Kirana mulai merasa gelisah. Dia memandang Elio de

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 26

    Melihat sikap Jayden yang begitu dingin dan menjaga jarak, hati Dhea terasa perih. Dia mengepalkan tangannya erat-erat, lalu akhirnya menceritakan keputusan ibu Jayden kepadanya tanpa menyembunyikan sedikit pun.Begitu mendengar bahwa ibunya ingin Jayden menikah dengan Dhea, wajah Jayden langsung muram. Tatapannya dingin, sementara nada bicaranya tetap datar."Kalau begitu, bagaimana denganmu? Apa kau juga mau menikah denganku?"Dhea menatap wajah di hadapannya yang sangat mirip dengan mendiang suaminya. Entah mengapa, dia menganggukkan kepala.Dulu, salah satu alasan terbesar dia bersedia menikah dengan kakak Jayden adalah karena wajah itu.Meski Jayden tidak mencintainya, setidaknya dia memiliki wajah itu. Kelak, jika mereka dikaruniai seorang putra yang mirip dengan Jayden, semua ini rasanya tetap sepadan.Namun, tentu saja Dhea tidak bisa mengatakan hal itu."Aku sudah bilang, dengan reputasiku yang sekarang, nggak ada pria yang mau menikahiku. Kalau bukan menikah denganmu, lalu de

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status