Share

Bab 5

Author: Hanu
Jayden tiba-tiba melepaskannya, lalu mundur dua langkah dengan sempoyongan, seolah baru saja tersengat api.

"Maaf, aku ...." Jakun Jayden bergerak naik turun, suaranya serak. "Dhea beberapa hari ini dirawat di rumah sakit karena gerakan janinnya lebih sering dari biasanya. Aku salah masuk kamar dan salah mengira orang."

Setelah mengatakan itu, Jayden berbalik dan pergi. Punggungnya tampak panik, seolah sedang melarikan diri.

Kirana mengangkat tangan dan mengusap sisa kehangatan di bibirnya. Dia hanya merasa semuanya begitu ironis.

Bahkan berbohong pun dia tidak pandai.

Sekarang masih siang hari. Jika hanya salah masuk kamar, bagaimana mungkin dia sampai salah mengenali orang?

Kirana tinggal di rumah sakit beberapa hari lagi sebelum mengurus kepulangannya.

Hari dia keluar dari rumah sakit kebetulan bertepatan dengan hari markas militer dibuka untuk umum.

Baru saja dia memasuki kompleks perumahan militer, beberapa istri tentara yang antusias langsung mengerumuninya.

"Kirana, sudah cukup lama sejak Jayden meninggal. Hidup sendirian pasti kesepian. Sudah saatnya kau melangkah maju. Ayo, kami kenalkan kau dengan pria yang baik!"

"Benar! Putra bungsu Pak Ezra itu lulusan akademi militer dan sangat tampan ...."

Kirana hendak mengatakan bahwa dia sudah menerima lamaran Elio, tetapi sebelum sempat berbicara, dia sudah didorong ke hadapan seorang pria muda yang mengenakan seragam militer.

"Cepat lihat, Ivan ini bekerja di lembaga penelitian. Di rumahnya ada sepeda, mesin jahit, arloji, dan radio, gajinya juga seratus lima puluh enam ribu sebulan!"

Pemuda itu mendorong kacamatanya dan hendak berbicara, tetapi tiba-tiba sebuah bayangan hitam menerjang dan menjatuhkannya ke tanah dengan satu pukulan.

"Ah!"

Semua orang di tempat itu tercengang.

Kirana mendongak dan berhadapan dengan sepasang mata yang merah membara.

Tiga kancing seragam Jayden terlepas, dadanya naik turun dengan hebat. "Aku menghargai niat baik para kakak ipar."

Jayden mengucapkannya kata demi kata dengan suara sedingin es. "Adik iparku masih ada aku yang mengurus. Nggak perlu merepotkan kalian."

Setelah itu, dia meraih tangan Kirana dan menyeretnya pergi.

Baru setelah mereka berjalan cukup jauh, Kirana mengibaskan tangannya dengan keras. "Kayden!"

Kirana sengaja menekankan nama itu. "Orang yang sebenarnya ikut campur urusan orang lain itu kau."

Pupil mata Jayden menyusut.

"Kalau dipikir-pikir, aku dan kau sama sekali nggak punya hubungan apa pun." Kirana merapikan lengan bajunya yang kusut karena ditarik. "Dengan siapa aku berkencan, dengan siapa aku menikah, itu adalah kebebasanku."

Kirana berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba terdengar suara keras dari belakang.

Jayden menghantamkan tinjunya ke batang pohon hingga darah mengalir dari sela-sela jarinya.

Namun, Kirana pergi tanpa menoleh sedikit pun.

....

Tengah malam, Kirana terbangun karena mendengar suara berdesir.

Sebelum sempat menyalakan lampu, sebuah tubuh yang panas sudah menindihnya.

Aroma alkohol yang pekat bercampur dengan wangi kayu pinus yang begitu dikenalnya menerpa wajahnya. Bibir Jayden menekan bibirnya dengan kasar.

"Hmm ...."

Jelas dia sudah mabuk berat. Ciumannya ganas dan terburu-buru, seolah ingin menelan Kirana bulat-bulat.

Kirana berusaha sekuat tenaga mendorongnya, tetapi kedua pergelangan tangannya ditahan dan ditekan di atas kepalanya.

"Jangan pergi ...." ujar Jayden dengan suara serak. Air mata panas menetes ke wajah Kirana. "Jangan pergi berkencan dengan pria lain ... kumohon ...."

Tubuh Kirana gemetar, entah karena marah atau malu. "Jayden! Sekarang kau adalah suami Dhea!"

"Aku bukan ...." Dia menempelkan dahinya ke dahi Kirana dengan ekspresi penuh penderitaan. "Tunggu sebentar lagi, sebentar lagi ...."

"Pergi!"

Kirana tiba-tiba mengangkat lututnya. Jayden mengerang tertahan dan jatuh dari tempat tidur.

Keributan itu mengejutkan penghuni kamar sebelah. Dhea segera mendorong pintu dan masuk. "Ada apa?"

Lampu menyala terang. Kirana memalingkan wajahnya, rambut panjangnya menutupi bibir yang tergigit hingga terluka.

"Kak Kayden mabuk dan salah masuk kamar. Kakak Ipar, tolong bawa dia kembali."

Tatapan Dhea jatuh pada sudut bibir Kirana yang masih mengeluarkan darah. Kukunya mencengkeram telapak tangannya begitu kuat.

Namun, dia tidak mengatakan apa pun. Dengan sikap lembut dan lemah, Dhea membantu Jayden berdiri. "Kayden, ayo kembali ke kamar."

Jayden ditarik pergi dalam keadaan sempoyongan, tetapi di ambang pintu dia menoleh dan memandang Kirana sekali.

Tatapan itu seperti seekor binatang buas yang sedang sekarat.

Kirana menutup pintu, lalu merosot duduk di lantai.

Luka di bibirnya terasa perih seperti terbakar, tetapi yang lebih menyakitkan adalah bagian di dadanya yang sejak lama sudah dipenuhi luka dan retakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 31

    Tiga hari kemudian, orang-orang dari Keluarga Sagara datang ke pulau untuk menjemput Jayden dan Dhea pulang.Saat melihat keduanya bergandengan tangan, ditambah buku nikah yang berada di tangan Dhea, mereka saling berpandangan dan sama-sama mengembuskan napas lega.Peluit kapal pun berbunyi, sementara asap hitam mengepul dari cerobong.Jayden berdiri di geladak sambil mengusap cincin nikah di tangannya. Tatapannya dipenuhi kepahitan.Dulu, saat menikah dengan Kirana, dia menghabiskan gaji selama enam bulan untuk membuat cincin itu.Ketika memakaikannya ke jari Kirana, Jayden yang selama ini dikenal tidak pernah menangis meski terluka, justru menangis seperti anak kecil.Saat itu, Jayden mengucapkan begitu banyak kata cinta dan janji kepadanya.Namun, pada akhirnya, semua janji itu dia ingkari.Bahkan, dialah yang lebih dulu menghancurkan kepercayaan paling mendasar dalam sebuah pernikahan.Jadi, semua yang dialaminya saat ini adalah buah dari perbuatannya sendiri.Pada akhirnya, Jayden

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 30

    Setelah semalam penuh mereka bercinta, Jayden yang telah sadar dari pengaruh alkohol hanya merasakan kepalanya berdenyut hebat.Jayden membuka mata dengan susah payah. Namun, dia mendapati seorang wanita berbaring dalam pelukannya. Wajah wanita itu tertutupi rambut panjangnya.Di bahunya yang bulat dan mulus tampak penuh bekas kemerahan. Sekilas saja sudah cukup untuk mengetahui apa yang telah dilakukannya semalam.Mata Jayden langsung membelalak. Pikirannya pun seketika kacau hingga kehilangan kendali.Saat itu, wanita dalam pelukannya mengerang pelan, lalu perlahan mengangkat kepala dan tersenyum kepadanya."Jayden."Suasana pagi yang semula tenang seketika berubah menjadi kacau. Jayden sama sekali tidak pernah menyangka bahwa suatu hari dirinya akan dijebak dan dibius oleh seorang wanita.Di tengah amarah yang membara, rasa pilu juga meluap dari dalam hatinya.Dulu, dia tidur dengan Dhea demi memberinya seorang anak.Kini, satu-satunya yang ada dalam pikiran Jayden adalah mendapatka

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 29

    Jayden terbaring tidak sadarkan diri selama satu minggu penuh. Saat sadar, hal pertama yang dia tanyakan bukanlah sudah berapa lama Dhea menemaninya di sisi ranjang.Melainkan menanyakan kondisi Kirana.Setelah mengetahui bahwa orang yang dia selamatkan bukan Kirana, dan Kirana ternyata sudah lebih dulu berhasil melarikan diri, Jayden sempat tertegun dan kehilangan fokus. Kemudian, dia menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjang seolah seluruh tenaganya telah terkuras. Namun, senyum lega perlahan mengembang di sudut bibirnya.Senyum itu menusuk hati Dhea hingga terasa perih, sekaligus makin menguatkan tekadnya untuk menggunakan obat itu pada Jayden.Begitu mendengar bahwa Kirana juga dirawat di rumah sakit yang sama, Jayden bahkan mengabaikan luka-luka di tubuhnya. Dia memaksa turun dari ranjang untuk menemui Kirana.Kali ini, Dhea tidak lagi menghentikannya. Dia hanya memandang punggung Jayden yang perlahan menjauh.Pikirannya kembali melayang pada kejadian saat kebakaran.Ketika mendenga

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 28

    Duar!Ledakan dahsyat kembali mengguncang. Puing-puing dan serpihan beterbangan ke segala arah, melesat bagaikan anak panah."Pak, tenang dulu! Di dalam terlalu berbahaya. Kalau kau masuk sekarang, sama saja mencari mati!""Kami sudah menghubungi polisi! Tim penyelamat bakal segera datang!"Melihat Elio hendak menerobos masuk tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, orang-orang di sekitar segera berlari menghampiri dan mati-matian menahannya."Lepaskan aku! Istriku masih di dalam! Dia sedang hamil!"Mata Elio memerah. Tanpa memedulikan apa pun, dia berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman mereka.Pikirannya saat itu benar-benar kosong. Yang ada di benaknya hanyalah Kirana yang masih terjebak di dalam.Kirana tidak boleh mengalami apa pun!"Pergi!"Entah dari mana datangnya tenaga itu, Elio tiba-tiba berhasil melepaskan diri dari orang-orang yang menahannya, lalu langsung menerjang ke arah kobaran api.Pak!Duar!Ledakan dahsyat kembali terdengar. Gelombang kejut yang lu

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 27

    Kirana dan Elio saling berpandangan. Tatapan mereka sama-sama dipenuhi kebingungan.Belakangan ini, mereka tidak merasa pernah membantu siapa pun, dan rasanya juga tidak mungkin ada orang yang begitu baik hati hingga rela menghabiskan uang sebanyak itu untuk mereka.Pada awalnya, Kirana mengira pramuniaga itu hanya bercanda. Namun, setelah pramuniaga tersebut menunjukkan struk pembayaran kepada mereka, barulah mereka terpaksa percaya bahwa semua itu benar.Semula, pasangan suami istri itu mengira kejadian tersebut hanyalah kebetulan. Mungkin ada teman yang tanpa sengaja bertemu dengan mereka, tetapi tidak sempat menyapa secara langsung sehingga memilih cara itu untuk menyampaikan salam.Mereka pun berpikir, jika suatu saat nanti mengetahui siapa orangnya, mereka akan mengucapkan terima kasih secara langsung.Namun, siapa sangka, setiap kali mereka pergi ke tempat baru dan selesai berbelanja, hal yang sama selalu terjadi.Lama-kelamaan, Kirana mulai merasa gelisah. Dia memandang Elio de

  • Aku Mengkhianati Istriku Demi Kakakku   Bab 26

    Melihat sikap Jayden yang begitu dingin dan menjaga jarak, hati Dhea terasa perih. Dia mengepalkan tangannya erat-erat, lalu akhirnya menceritakan keputusan ibu Jayden kepadanya tanpa menyembunyikan sedikit pun.Begitu mendengar bahwa ibunya ingin Jayden menikah dengan Dhea, wajah Jayden langsung muram. Tatapannya dingin, sementara nada bicaranya tetap datar."Kalau begitu, bagaimana denganmu? Apa kau juga mau menikah denganku?"Dhea menatap wajah di hadapannya yang sangat mirip dengan mendiang suaminya. Entah mengapa, dia menganggukkan kepala.Dulu, salah satu alasan terbesar dia bersedia menikah dengan kakak Jayden adalah karena wajah itu.Meski Jayden tidak mencintainya, setidaknya dia memiliki wajah itu. Kelak, jika mereka dikaruniai seorang putra yang mirip dengan Jayden, semua ini rasanya tetap sepadan.Namun, tentu saja Dhea tidak bisa mengatakan hal itu."Aku sudah bilang, dengan reputasiku yang sekarang, nggak ada pria yang mau menikahiku. Kalau bukan menikah denganmu, lalu de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status