LOGIN“Tunggu, kalian malam pertama beneran?” serunya sambil menunjuk Amira, yang berada dibawah Arsya seolah menunjuk setan.
“Astaga! Kalau jadi cucu gimana? Ya Tuhan, Mama pusing!” Ia memijat pelipisnya dramatis.
Dikamar Amira dan Arsya menghela napas panik di bawah selimut yang sama.
Arsya baru-buru mengenakan celana, sementara Amira memeluk bantal tameng seakan senjata itu adalah hidup dan matinya, sedangkan Riani yang sudah kepalang tidak habis pikir dengan kelakuan anak dan menantunya, seketika meninggalkan ruangan itu.
Keduanya kini merebahkan tubuhnya. “Tuan, kamu curang, kamu sengaja jatuhin diri!”
Arsya memandang Amira seolah ia korban “Amira, kamu yang tarik handuk aku! Kamu yang nodai tubuhku, terus mau ambil kesucianku!”
"Buaya buntung, sorry ya? Timbang ganteng secuil pake merasa ternoda. Kamu jujur sama aku, kamu punya kelainan eksibisionis ya, suka pamer-pamer begituan?”
Arsya melotot mendengar tuduhan Amira. ”Itu kamu yang jatuhin pake nuduh aku kelainan! Kamu pikir aku sengaja apa?”
"Jangan ngelak, ganteng-ganteng ada kelainan!”
Mereka berdebat sampai Amira dan Arsya haus, keletihan bicara dan memutuskan berhenti. Keduanya minum bersamaan.
Arsya kemudian tersenyum dan mengelus kepala Amira. "Terima kasih. Perjodohanku dengan Cassandra benar-benar gagal. Mama juga gak cerewet suruh nikah lagi."
"Tuan, Cassandra tuh cantik banget tahu, kenapa nggak mau? Gara-gara kelainan tadi ya?"
Pluk!
Pukulan lembut dari guling Arsya mendarat di tubuh Amira. "Hey, aku normal. Aku merasa gak cocok dengan Cassandra!"
Wajah Amira mengernyit bingung.
Pluk!
Guling Amira membalas ke tubuh Arsya. Arsya melindungi wajahnya sambil tersenyum.
"Cassandra itu milik publik, tubuhnya dipakai iklan sabun, perhiasan, catwalk, pakaian seksi, nightlife, glamor, dan aku punya rahasia yang membuat aku jijik untuk kembali sama wanita itu.”
"Ooh suka yang katro kayak aku ya?" Amira merasa cantik sekarang. Dadanya berbunga dan senyumnya mekar.
“Aku tidak mau istri yang tubuhnya jadi konsumsi kamera. Aku tidak mau istri yang hidupnya untuk panggung.”
“Jadi kamu pilih aku karena? Sebenarnya banyak wanita cantik katro kan dikantor kamu?”
“Aku pilih kamu karena kamu lucu. Aku seperti punya kucing kecil.”
Amira tersinggung tapi tersanjung. “LUCU?! Kamu pikir aku badut apa?”
Arsya cuma tersenyum kecil “Bukan, kamu itu kucing kecil yang lucu, menggemaskan.”
Amira langsung memerah, bahkan sampai Arsya sudah tertidur pulas sekalipun, gadis itu masih tersenyum-senyum sendiri. Dia tidak pernah menyangka kalau Arsya yang di luar tampak dingin, keren, dan sangat maskulin, ternyata memiliki sisi romantis yang lucu dan menggemaskan.
“Udah, kamu tidur aja, aku nggak akan sentuh kamu.” Arsya terpejam sambil bicara pelan.
“Bagus, Aku juga nggak akan sentuh kamu.” Amira menjawab diambang tidurnya.
“Tadi kayaknya kamu udah sentuh deh.” Arsya masih mengoceh padahal kantuknya tak tertahan.
“Itu karena aku kaget, Arsya, mana mungkin aku nyentuh kamu tiba-tiba. Jijik kali lah aku nyentuh-nyentuh cowo kayak kamu!” Amira berteriak kesal walau matanya terpejam.
Mereka akhirnya tertidur di sisi masing-masing, membelakangi dengan pikiran lebih ringan setelah obrolan tersebut.
Saat pagi tiba, mata Amira dan Arsya terbuka, Keduanya terkejut, posisinya mereka sangat dekat. Tidak saling memeluk, tapi saling tindih, menempel satu sama lain.
“Aaaagh!” Kaki Amira mendorong tubuh Arsya, reflek.
Arsya terdorong mundur, “Aku nggak ngapa-ngapain!”
Di saat mereka berebut jarak, hp Arsya berbunyi video call Cassandra. Ketika Arsya ingin menolak panggilan itu, Amira malah memintanya untuk menekan tombol hijau.
Cassandra muncul di layar, loudspeaker diaktifkan tadi. “Arsya?! Aku tahu kamu tidak tidur dengannya kan?”
Amira terlompat dari kasur, tapi dia tiba-tiba tertahan sebuah tangan kekar.
Pelukan Arsya mendarat, Amira paham, waktunya berakting.
Keduanya menempel bagai tak terpisahkan sekarang, Amira berakting menurunkan piyamanya hingga pundak terlihat, lalu selimut dinaikkan hingga dada.
"Aku menidurinya Cassandra. Aku harap ia akan segera hamil anak kami." Arsya bicara tenang.
Klik.
Panggilan terputus sepihak.
***
"Tuan Muda, Nona Cassandra datang hari ini dan sekarang sedang berada di kamar Nyonya Riana," ucap Pak Heru sambil membantu Arsya melepaskan jasnya.
"Kenapa kamu mengizinkannya masuk kerumah ini lagi?" tanya Arsya dengan tatapan tajam.
"Saya sudah mencegahnya, tapi Nyonya Riana langsung membawa Nona Cassandra masuk ke dalam kamarnya."
"Pastikan ini hari terakhir dia datang kesini. Oh iya, di mana Amira?" tanya Arsya.
"Nona mudah sedang tidur di kamar," jawab Pak Heru.
Pak Heru mengikuti langkah Arsya hingga masuk ke kamar.
Arsya mengedarkan pandangannya menyapu seisi ruangan. Ia tersenyum sekilas saat melihat Amira sedang tidur di atas tempat tidur.
"Keluarlah. Aku mau istirahat sebentar," titah Arsya pada Pak Heru.
Arsya duduk dipinggir tempat tidur. Membelai lembut pipi Amira, tapi gadis itu tidak memberikan reaksi apapun. Arsya menikmati raut wajah nyaman Amira. Laki-laki terus memperhatikan gadis yang sedang tertidur disampingnya.
Setengah jam kemudian, Amira kini sudah duduk diatas sofa. Ia terbangun dari tidurnya saat mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Arsya keluar dari kamar mandi dan melihat Amira sudah terbangun dari tidur nyenyaknya tapi ia tidak menyadari kedatangannya, entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
"Kamu udah bangun?" tanya Arsya.
Arsya sudah berdiri tepat di depan Amira dengan pakaian dan rambut yang sudah rapi. Gadis itu terperanjat saat melihat Arsya yang sudah berdiri di depannya. Entah berapa lama ia melamun tadi, ia segera berdiri dan merapikan bajunya.
"Ya Tuhan, dia tampan sekali. Andaikan aku bukan istri kontraknya pasti aku sudah menjadi penggemar beratnya," gumam Amira dalam hati.
Arsya tidak menjawab dan menjatuhkan tubuhnya di sofa, ia kemudian menarik tangan Amira agar duduk kembali. Amira mencari jarak aman agar laki-laki itu marah ia bisa menghindar, dia tetap harus berakting meski dalam hatinya, dia sangat ingin menjadi satu-satunya ratu di mata Arsya.
"Kamu pake parfum apa?" tanya Arsya sambil menarik baju istrinya hingga membuat Amira terpaksa menggeser tubuhnya.
Amira merinding hebat. "Aku pake parfum dari desa."
"Oh ya? Kenapa kamu tidak memberiku juga?" tanya Arsya.
"Parfumnya sudah ada di ruang ganti. Ambil aja kalau kamu mau pakai, aku bawa banyak!"
"Menurutmu parfumku wangi tidak? Lebih wangi punyaku atau punyamu?"
"Mana kutau, tanya aja ke jendela sono, banyak burung-burung yang mau cium parfum kamu!”
"Coba cium bajuku," ucap Arsya modus.
Dengan polosnya Amira perlahan mencium lengan baju Arsya dari samping dan saat itu juga, Arsya tiba-tiba menundukkan kepalanya.
Saat Amira mengangkat wajahnya, keningnya tidak sengaja bersentuhan dengan bibir Arsya.
Amira membulatkan matanya dan reflek memegang dahinya sendiri.
"Apa kamu sedang menggodaku lagi?" tanya Arsya pura-pura terkejut.
Mulut dan mata Amira membulat. "Kamu yang nundukin kepala!"
"Udah ngaku aja, kamu emang mau menggodaku kan?" Arsya menunjuk hidung mancung Amira.
"Tidak ... Tuan," jawab Amira gugup.
"Kemarin kau menyentuh milikku, sekarang kamu mendekatkan keningmu sendiri. Segitu kerasnya kamu ingin menggodaku," ucap Arsya sambil tergelak.
"Hei tunggu dulu! Luruskan kesalahpahaman ini. Siapa yang mau menggodamu, dasar es kutub lima pintu! Sok cuek di luar, aslinya centil-genit gini!"
Amira mengikuti langkah Arsya, ia berjalan sambil memaki laki-laki yang berjalan di depannya ini.
Bugh!
Amira menabrak tubuh Arsya.
Arsya benar-benar menghentikan langkahnya sesuai permintaan Amira tadi. Sedangkan Arsya yang mendengar makian Amira bukannya marah malah terkekeh pelan.
"Lihat kan, kamu mencari kesempatan untuk menciumku lagi." Arsya membalikkan tubuhnya, menyeringai lalu mencubit hidung Amira.
"Aku sedang memakimu tadi, kamu terus kabur. Tiba-tiba, kamu balik badan sama berhenti. Apa maksudnya?"
"Banyak sekali alasanmu."
Arsya segera menuruni tangga, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya lagi. Ia sangat senang mengerjai dan menggoda istri kontraknya itu.
Bugh!
Lagi dan lagi Amira menabrak tubuh Arsya untuk yang kedua kalinya.
Arsya membalikkan tubuhnya lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Sedangkan Amira sangat kesal dengan Arsya, ia memegangi hidungnya yang terbentur punggung Arsya.
"Lihat, bahkan kamu menyiksa hidungmu sendiri agar bisa menciumku. Kalau kamu mau menciumku kan kamu tinggal bilang aja," ucap Arsya sambil mengusap hidup Amira.
"Anda lagi-lagi berhenti mendadak, Tuan," lirih Amira.
Arsya membalikkan tubuhnya lagi, tapi ia tidak melangkah. Amira mengintip dari balik punggung Arsya.
Tring!Ponsel Arsya berdering. Terlihat Amira sedang melakukan panggilan video kepadanya. Arsya segera menjawab panggilan itu.“H-halo, Sayang. Kamu lagi ada di mana?” tanya Amira terbata.“Seharusnya karyawanmu sudah memberitahumu, kan?” jawab Arsya datar.“I-iya.”Amira bingung sendiri. Ia sudah melihat sorot kemarahan dari mata suaminya itu.“Aku mau masak hari ini,” ucap Amira.Ia mencoba mencari topik pembicaraan karena Arsya dari tadi hanya menatapnya tanpa berkata apa pun.“Jangan kotori tanganmu dengan kompor,” jawab Arsya dengan wajah tetap datar.“Tapi aku jenuh sekali.”“Aku nggak mau istriku bau bawang,” ujar Arsya lagi.“Mulai lagi,” gumam Ken sambil melirik ke arah Arsya.“Tapi ini bukan aku yang mau,” ucap Amira. Lagi-lagi si biji jagung dijadikan umpan.“Ya sudah, terserahmu,” jawab Arsya menyerah.“Aku akan ke kantormu dan mengantarkan makan siang,” ucap Amira sambil tersenyum. Ia sepertinya telah menemukan ide yang sangat brilian.Arsya melirik ke arah Ken, tetapi la
Sementara itu, di kediaman Arsya, Amira kembali berulah. Setelah selesai berunding dengan suaminya tentang kepulangan Aiden, ia kembali mual dan muntah hebat.Amira menangis sesenggukan di dalam kamar mandi. Ia tidak mau didekati oleh Arsya. Laki-laki itu kini hanya bisa menatap istrinya dari jauh melalui pintu kamar mandi yang terbuka.“Kenapa lagi sih dia?” Arsya bergumam pelan.Amira keluar dari kamar mandi dengan air mata yang masih terus mengalir. Ia menutupi mulut dan hidungnya sendiri sembari berjalan ke arah tempat tidur.“Jangan mendekat!” pekik Amira.“Kenapa?” tanya Arsya dengan suara terdengar kesal.Amira kembali menangis. “Jangan tidur denganku, kamu bau sekali, hiks.”“Apa?!”Arsya menatap istrinya dengan sorot mata nyalang. Ia refleks mencium bajunya dan lengannya sendiri.Arsya mencoba mendekati istrinya. “Apanya yang bau? Aku masih wangi begini.”“Aku mau muntah lagi kalau kamu mendekat. Aku mau tidur di sofa aja,” ucap Amira sembari hendak turun dari tempat tidur.“
Sepulang dari rumah orang tuanya, pikiran Sisil kacau."Udahlah, keluar dari pekerjaanmu itu. Gajimu nggak akan cukup buat membiayai keluargamu, lebih baik kamu tukarkan harga dirimu sama uang. Dasar anak nggak ada gunanya!"Ucapan ayahnya itu selalu terngiang di telinganya."Dasar laki-laki sialan! Kalau emang aku anak yang nggak ada gunanya, kenapa aku kalian besarkan! Kenapa nggak kau bunuh aja aku dari dulu?!" teriak Sisil di tengah derasnya hujan.Gadis itu duduk meringkuk di emperan toko yang sudah tutup. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya, tapi tentu saja ia tidak bisa melakukan itu.Jalanan terlihat sangat sepi, hal itu diakibatkan oleh hujan yang turun sangat deras. Tiba-tiba gadis itu menyipitkan matanya saat sorot lampu mobil mengenai tepat di matanya.Terlihat laki-laki turun dari mobil itu dan berlari menghampiri Sisil yang sedang terpaku melihat kedatangannya."Tidak baik seorang wanita keluar malam sendirian seperti ini," ucap laki-laki itu."S-sekretaris Ken?" Suar
Mobil sudah berhenti tepat di depan rumah mewah Arsya. Seperti biasa mereka sudah di sambut oleh para pelayan di rumah utama.Setelah memasuki rumah, Arsya dan Amira bergegas menaiki tangga. Sementara Ken sudah memasuki ruang kerja.Kesibukan Ken bukan hanya di kantor saja, sesampainya dirumah, ia juga masih harus bekerja. Jadi sudah bisa di tebak gaji seorang Ken itu berapa, yang jelas nominalnya sangat fantastis.Tring ...Ponsel Amira yang masih berada di tasnya berbunyi. Ia membuka tasnya, lalu meraih ponsel itu. Tapi secepat kilat Arsya merampasnya dari tangan istrinya."Sinta? Dia punya nomor kamu?" tanya Arsya."Iya, tadi mereka datang ke rukoku, dan dia minta nomor hpku," jawab Amira yang kini sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur."Dia mengirim pesan apa?" tanya Amira.Arsya menunjukkan isi pesan itu kearah Amira."Kakak ipar, aku ingin bertemu sama kak Arsya. Aku ingin bicara penting dengannya, tolong bantu aku kakak ipar. Aku cinta dan sayang sama kakak ipar, muah, muah
Sisil dan Amira sudah duduk di bangku alun-alun yang tepat berada di seberang ruko milik Amira. Sebelumnya, mereka memang sudah membuat janji untuk bertemu.“Udah tahu ada ibu hamil, kenapa masih merokok sih?” ucap Amira kesal.“Pakai masker kamu,” sahut Sisil santai.Amira mengambil masker yang selalu ada di dalam tasnya, lalu segera memakainya.“Aku kira kamu udah berhenti merokok, Sil. Ternyata masih aja. Apa kebijakan di tempat kerja kamu memperbolehkan wanita merokok?” tanya Amira.“Haha, ya nggak bolehlah. Mana mungkin aku berani merokok. Bisa-bisa aku ditendang saat itu juga,” jawab Sisil sambil terkekeh. “Tenang aja, aku bakal berhenti nanti.”Amira menghela napas panjang. Ia sudah sering menasihati sahabatnya itu, tetapi Sisil tak pernah benar-benar mendengarkan.“Kamu ada masalah, ya?” tanya Amira. Dari sorot mata Sisil, ia sudah bisa menebak.Sisil tidak langsung menjawab. Ia masih mengisap rokok yang ada di tangannya.“Kenapa mereka nggak bercerai aja, sih, daripada setiap
Amira terpaku membaca surat yang berada di dalam kotak kecil. Tangan kanannya memegang secarik kertas, sementara tangan kirinya memegang sebuah kalung berlian."Hai Mira, aku pastikan kamu sekarang udah menerima hadiah kecil dari aku. Selamat ya atas kehamilan kamu, tapi kenapa hati aku sakit sekali saat mendengar bahwa sahabat aku akan punya anak dari kamu. Mungkin kamu menganggap aku sekarang laki-laki gila atau bahkan nggak tau diri, haha. Tapi emang aku udah gila karena kamu, kalau suami kamu tau aku bertindak seperti ini, pasti aku akan abis saat ini juga. Aku lebih memilih mati dalam keadaan kamu udah tau perasaan aku, daripada aku harus mati dalam keadaan memendam semua perasaan ini. Jaga calon keponakanku ya cantik, i love you, Mira."Dimas, satu nama yang tertulis di bawah kertas putih itu."Apa ini? I love you katanya?" Tangan Amira bergetar sembari terus menatap tulisan tangan Dimas. "Kenapa dia selalu menyusahkan hidupku dan dirinya sendiri. Dia emang gila, laki-laki yang







