Share

Ciuman

Author: Mediasari012
last update Last Updated: 2025-12-03 17:59:13

Saat ini semua orang yang ada diruangan makan sedang memperhatikan sikap Arsya terhadap Amira saat menuruni tangga tadi.

Cassandra terlihat menundukkan kepalanya setelah melihat sikap Arsya pada Amira.

"Selamat malam Arsya," sapa Cassandra.

Riana menyentuh tangan manta kekasih anaknya itu. "Arsya, Mama yang mengundang Sandra. Nggak apa-apa kan?"

"Lakukan aja yang Mama mau," jawab Arsya dingin.

"Bawakan makanan ke ruang kerjaku."

Pak Heru mengangguk dan segera memberikan instruksi kepada para pelayan untuk segera menyiapkan makanan ke troli.

Arsya melangkah sambil terus menggandeng tangan Amira meninggalkan keheningan di ruang makan itu. Ruangan itu semakin hening, hanya terdengar suara langkah kaki Arsya dan Amira saja saat ini.

Terlihat Pak Heru sedang mendorong troli makanan mengikuti langkah Arsya memasuki ruang kerja.

Arsya menarik tangan Amira untuk segera keluar dari ruang kerjanya.

Begitu pintu ruang kerja terbuka, atmosfer di ruang tengah seketika berubah mencekam. Keheningan yang tadi tercipta kini berganti menjadi ketegangan yang memuakkan.

Sementara itu di meja makan...

"Maaf ya Ma, aku yang udah memaksa Mama untuk mengundangku," ucap Cassandra menunduk.

Hatinya sangat kecewa melihat sikap Arsya pada Amira tadi. Ia mengira bahwa selama ini Arsya tidak mencintai Amira. Tapi ia tadi melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Arsya sedang menggoda gadis itu.

"Sandra, ayo lakukan sesuatu agar kamu bisa kembali dengan Arsya," ucap Riana memberi semangat pada Cassandra.

Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Cassandra dan bersiap untuk menetes.

Melihat Arsya pergi meninggalkannya dan masuk ke ruang kerjanya bersama Amira, membuat harga dirinya tercabik-cabik.

"Sandra, jangan lemah seperti ini. Arsya tidak mungkin mencintai wanita kampungan itu. Kamu hanya perlu berusaha lebih keras lagi," ucap Riana sambil menepuk bahu Cassandra.

Cassandra hanya bisa meremas jari jemari nya sendiri. Ia tidak yakin bisa merebut hati Arsya kembali.

Sementara diruang kerja, Arsya dan Amira makan malam dalam diam.

"Kenapa seolah-olah kamu sekarang sedang bermain drama dengan Cassandra? Padahal tinggal bilang aja kalau kamu masih mencintainya dan semuanya beres. Tapi sepertinya kamu suka sekali membuat dirimu kesusahan."

Amira melamun sambil terus melihat Arsya.

Isi otak Amira dan Arsya kini saling berbanding terbalik. Amira berpikir bahwa Arsya masih mencintai Cassandra, tapi kenyataannya Arsya sedang memikirkan cara untuk mengerjai istri kontraknya itu.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu sedang merencanakan sesuatu agar bisa menciumku lagi?" tanya Arsya sambil menahan tawa.

Amira segera tersadar dari lamunannya dan coba berakting layaknya drama kolosal. "Tidak, Suamiku, aku hanya sedang merasakan makan malam ini dengan sepenuh hati."

Arsya menahan tawanya yang akan meledak mendengar jawaban Amira.

Arsya dan Amira kembali melanjutkan makan malamnya tanpa berbicara sedikitpun. Amira mempercepat makannya saat melihat makanan di piring Arsya sudah habis tak tersisa.

"Apa kamu sudah selesai?" tanya Arsya.

Amira hanya menganggukkan kepalanya karena mulutnya masih terisi penuh makanan, pipinya terlihat menggembung dan itu terlihat menggemaskan di mata Arsya.

"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?!"

"Bisakah kamu berakting mencintaiku dan nggak ngungkit perihal validasi kalau aku masih cinta sama Cassandra?”.

"Bukannya aku udah melakukannya selama ini?" tanya Amira kebingungan.

"Lakukan lebih gila lagi. Setelah keluar dari ruangan ini kita berakting seolah seperti dua orang yang saling mencintai." Arsya menjelaskan secara rinci. Sedangkan Amira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Aku nggak ahli dalam melakukan hal itu," ucap Amira udah geli sendiri. “Tapi, aku bakal coba, moga aja keluargamu nggak marah sama tingkahku ini!”

Arsya menarik tangan Amira untuk segera keluar dari ruang kerjanya.

Di meja makan, Riana masih duduk dengan punggung tegak, matanya menyorot tajam penuh kebencian begitu melihat putranya keluar menggandeng Amira.

Di samping Riana, Cassandra tidak lagi menunduk sedih. Wajahnya kini terangkat, namun sorot matanya telah berubah.

Kesedihan palsu yang tadi ia tampilkan perlahan memudar, berganti dengan kilatan licik yang tersembunyi rapi di balik riasan wajahnya yang sempurna.

Di bawah meja, jari-jemarinya dengan lincah mengetik pesan singkat pada ponselnya.

“Saka, percepat rencananya. Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Hancurkan reputasi perempuan kampung itu malam ini juga. Buat dia menyesal pernah menginjakkan kaki di rumah ini.”

Pesan terkirim.

Cassandra menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat.

Saka adalah kartu as-nya. Jika air mata tidak bisa membuat Arsya kembali, maka skandal dan kehancuran harga diri Amira pasti bisa. Ia dan Saka akan memastikan Amira terusir dengan cara yang paling memalukan.

"Mau ke mana kalian?" Suara Riana memecah keheningan, dingin dan menusuk. "Mama belum selesai bicara, Arsya."

Arsya menghentikan langkahnya tepat di ujung ruang makan, namun ia tidak melepaskan genggaman tangannya pada Amira. "Aku lelah, Ma. Kami butuh istirahat."

"Istirahat?" Riana tertawa sumbang, sebuah tawa yang meremehkan. Ia berdiri, menatap Amira dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan jijik yang terang-terangan. "Kau lebih memilih istirahat dengan wanita udik ini daripada menemani Cassandra, wanita yang jelas-jelas selevel dengan keluarga kita? Sadarlah, Arsya. Dia hanya benalu yang beruntung masuk ke rumah ini. Lihat penampilannya, tidak ada satu pun yang pantas bersanding denganmu."

Amira merasakan dadanya sesak. Kalimat itu seperti tamparan keras di wajahnya. Ia hendak menunduk, namun Arsya mempererat genggamannya, menahannya untuk tetap tegak.

"Jaga bicara Mama!"

Cassandra melihat celah itu dan segera berdiri, memasang wajah malaikatnya lagi. Ia berjalan mendekat, seolah ingin melerai. "Tante, sudahlah, jangan marahi Arsya. Mungkin Arsya memang khilaf atau mungkin gadis itu punya sesuatu yang bikin Arsya terancam.”

Ucapan Cassandra terdengar halus, namun isinya jauh lebih beracun daripada teriakan Riana.

"Dengar itu, Arsya? Cassandra bahkan masih berbaik hati memaafkanmu. Ceraikan perempuan tidak jelas ini sekarang juga karena Mama tidak sudi punya menantu yang tidak punya asal-usul jelas dan hanya mempermalukan nama besar keluarga kita!"

Arsya terdiam sejenak. Tatapannya beralih dari ibunya, lalu ke Cassandra yang tersenyum penuh kemenangan, dan terakhir mendarat pada Amira yang kini gemetar di sampingnya.

Amira tampak rapuh, namun ia berusaha keras untuk tidak menangis.

Cukup sudah.

Arsya sudah muak dengan drama ini.

Perlahan, Arsya memutar tubuhnya, menghadap sepenuhnya kepada Amira, mengabaikan keberadaan ibu dan mantan kekasihnya. Tangannya terulur, menyentuh dagu Amira dan mengangkat wajah istrinya itu agar menatap matanya.

"Kau bilang aku sedang bermain drama?" bisik Arsya, cukup keras untuk didengar oleh seisi ruangan. "Kalau begitu, lihat baik-baik karena pernikahan ini bukan drama seperti yang kalian kira!"

Tanpa peringatan, Arsya menunduk dan menyambar bibir Amira.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Amira Datang Ke Kantor

    Tring!Ponsel Arsya berdering. Terlihat Amira sedang melakukan panggilan video kepadanya. Arsya segera menjawab panggilan itu.“H-halo, Sayang. Kamu lagi ada di mana?” tanya Amira terbata.“Seharusnya karyawanmu sudah memberitahumu, kan?” jawab Arsya datar.“I-iya.”Amira bingung sendiri. Ia sudah melihat sorot kemarahan dari mata suaminya itu.“Aku mau masak hari ini,” ucap Amira.Ia mencoba mencari topik pembicaraan karena Arsya dari tadi hanya menatapnya tanpa berkata apa pun.“Jangan kotori tanganmu dengan kompor,” jawab Arsya dengan wajah tetap datar.“Tapi aku jenuh sekali.”“Aku nggak mau istriku bau bawang,” ujar Arsya lagi.“Mulai lagi,” gumam Ken sambil melirik ke arah Arsya.“Tapi ini bukan aku yang mau,” ucap Amira. Lagi-lagi si biji jagung dijadikan umpan.“Ya sudah, terserahmu,” jawab Arsya menyerah.“Aku akan ke kantormu dan mengantarkan makan siang,” ucap Amira sambil tersenyum. Ia sepertinya telah menemukan ide yang sangat brilian.Arsya melirik ke arah Ken, tetapi la

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Amira Kembali Mual

    Sementara itu, di kediaman Arsya, Amira kembali berulah. Setelah selesai berunding dengan suaminya tentang kepulangan Aiden, ia kembali mual dan muntah hebat.Amira menangis sesenggukan di dalam kamar mandi. Ia tidak mau didekati oleh Arsya. Laki-laki itu kini hanya bisa menatap istrinya dari jauh melalui pintu kamar mandi yang terbuka.“Kenapa lagi sih dia?” Arsya bergumam pelan.Amira keluar dari kamar mandi dengan air mata yang masih terus mengalir. Ia menutupi mulut dan hidungnya sendiri sembari berjalan ke arah tempat tidur.“Jangan mendekat!” pekik Amira.“Kenapa?” tanya Arsya dengan suara terdengar kesal.Amira kembali menangis. “Jangan tidur denganku, kamu bau sekali, hiks.”“Apa?!”Arsya menatap istrinya dengan sorot mata nyalang. Ia refleks mencium bajunya dan lengannya sendiri.Arsya mencoba mendekati istrinya. “Apanya yang bau? Aku masih wangi begini.”“Aku mau muntah lagi kalau kamu mendekat. Aku mau tidur di sofa aja,” ucap Amira sembari hendak turun dari tempat tidur.“

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Trik Sisil

    Sepulang dari rumah orang tuanya, pikiran Sisil kacau."Udahlah, keluar dari pekerjaanmu itu. Gajimu nggak akan cukup buat membiayai keluargamu, lebih baik kamu tukarkan harga dirimu sama uang. Dasar anak nggak ada gunanya!"Ucapan ayahnya itu selalu terngiang di telinganya."Dasar laki-laki sialan! Kalau emang aku anak yang nggak ada gunanya, kenapa aku kalian besarkan! Kenapa nggak kau bunuh aja aku dari dulu?!" teriak Sisil di tengah derasnya hujan.Gadis itu duduk meringkuk di emperan toko yang sudah tutup. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya, tapi tentu saja ia tidak bisa melakukan itu.Jalanan terlihat sangat sepi, hal itu diakibatkan oleh hujan yang turun sangat deras. Tiba-tiba gadis itu menyipitkan matanya saat sorot lampu mobil mengenai tepat di matanya.Terlihat laki-laki turun dari mobil itu dan berlari menghampiri Sisil yang sedang terpaku melihat kedatangannya."Tidak baik seorang wanita keluar malam sendirian seperti ini," ucap laki-laki itu."S-sekretaris Ken?" Suar

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Arsya Tau Kado Dari Dimas

    Mobil sudah berhenti tepat di depan rumah mewah Arsya. Seperti biasa mereka sudah di sambut oleh para pelayan di rumah utama.Setelah memasuki rumah, Arsya dan Amira bergegas menaiki tangga. Sementara Ken sudah memasuki ruang kerja.Kesibukan Ken bukan hanya di kantor saja, sesampainya dirumah, ia juga masih harus bekerja. Jadi sudah bisa di tebak gaji seorang Ken itu berapa, yang jelas nominalnya sangat fantastis.Tring ...Ponsel Amira yang masih berada di tasnya berbunyi. Ia membuka tasnya, lalu meraih ponsel itu. Tapi secepat kilat Arsya merampasnya dari tangan istrinya."Sinta? Dia punya nomor kamu?" tanya Arsya."Iya, tadi mereka datang ke rukoku, dan dia minta nomor hpku," jawab Amira yang kini sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur."Dia mengirim pesan apa?" tanya Amira.Arsya menunjukkan isi pesan itu kearah Amira."Kakak ipar, aku ingin bertemu sama kak Arsya. Aku ingin bicara penting dengannya, tolong bantu aku kakak ipar. Aku cinta dan sayang sama kakak ipar, muah, muah

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Taman Kota

    Sisil dan Amira sudah duduk di bangku alun-alun yang tepat berada di seberang ruko milik Amira. Sebelumnya, mereka memang sudah membuat janji untuk bertemu.“Udah tahu ada ibu hamil, kenapa masih merokok sih?” ucap Amira kesal.“Pakai masker kamu,” sahut Sisil santai.Amira mengambil masker yang selalu ada di dalam tasnya, lalu segera memakainya.“Aku kira kamu udah berhenti merokok, Sil. Ternyata masih aja. Apa kebijakan di tempat kerja kamu memperbolehkan wanita merokok?” tanya Amira.“Haha, ya nggak bolehlah. Mana mungkin aku berani merokok. Bisa-bisa aku ditendang saat itu juga,” jawab Sisil sambil terkekeh. “Tenang aja, aku bakal berhenti nanti.”Amira menghela napas panjang. Ia sudah sering menasihati sahabatnya itu, tetapi Sisil tak pernah benar-benar mendengarkan.“Kamu ada masalah, ya?” tanya Amira. Dari sorot mata Sisil, ia sudah bisa menebak.Sisil tidak langsung menjawab. Ia masih mengisap rokok yang ada di tangannya.“Kenapa mereka nggak bercerai aja, sih, daripada setiap

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Surat Dari Dimas

    Amira terpaku membaca surat yang berada di dalam kotak kecil. Tangan kanannya memegang secarik kertas, sementara tangan kirinya memegang sebuah kalung berlian."Hai Mira, aku pastikan kamu sekarang udah menerima hadiah kecil dari aku. Selamat ya atas kehamilan kamu, tapi kenapa hati aku sakit sekali saat mendengar bahwa sahabat aku akan punya anak dari kamu. Mungkin kamu menganggap aku sekarang laki-laki gila atau bahkan nggak tau diri, haha. Tapi emang aku udah gila karena kamu, kalau suami kamu tau aku bertindak seperti ini, pasti aku akan abis saat ini juga. Aku lebih memilih mati dalam keadaan kamu udah tau perasaan aku, daripada aku harus mati dalam keadaan memendam semua perasaan ini. Jaga calon keponakanku ya cantik, i love you, Mira."Dimas, satu nama yang tertulis di bawah kertas putih itu."Apa ini? I love you katanya?" Tangan Amira bergetar sembari terus menatap tulisan tangan Dimas. "Kenapa dia selalu menyusahkan hidupku dan dirinya sendiri. Dia emang gila, laki-laki yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status