Share

Keputusan Arsya

Author: Mediasari012
last update Last Updated: 2025-12-25 18:27:16

Elena menghentikan mobilnya di sebuah mal terbesar di negeri ini. Setelah memarkirkan mobil, ia turun lalu menggandeng tangan Amira.

Melihat kerumunan orang yang begitu padat membuat kepala Amira semakin pusing. Ia beberapa kali menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan rasa mual.

“Elena, kakak mau ke kamar mandi sebentar, ya,” ucap Amira sambil melepaskan genggaman tangan adik iparnya itu.

Amira melangkah cepat menerobos keramaian. Sementara itu, Elena dan Elesha saling berpandangan, benak mereka dipenuhi tanda tanya.

“Kak, kenapa kakak ipar sering banget ke kamar mandi, sih?” tanya Elesha, yang kini sudah berdiri di depan toilet tempat Amira masuk.

“Tadi katanya lagi kurang enak badan,” jawab Elena singkat.

“Terus kenapa kakak malah maksa dia ikut ke sini? Gimana kalau kenapa-kenapa sama kakak ipar? Habis kita, Kak. Kak Arsya pasti ngamuk,” ucap Elesha dengan bibir bergetar. Bukannya mencari solusi, gadis itu justru membuat Elena semakin gelisah.

“Udah, diam! Siapa tahu kakak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   USG

    Kurang lebih satu jam persiapan dilakukan, dan semuanya telah siap untuk berangkat menempuh perjalanan panjang. Beberapa dokter tampak mendorong ranjang pasien beserta sejumlah alat medis keluar dari ruangan.“Tasya, kamu harus bisa, Sayang! Kamu harus berjuang. Kamu harus janji sama Kak Mira, kamu harus kembali ke sini dengan senyum manis kamu. Maaf … Kakak nggak bisa menemani kamu,” ucap Amira sambil menangis, tangannya erat memegangi tepi ranjang yang terus didorong menjauh.Dengan sigap, Arsya menarik tubuh istrinya agar tidak terus mengikuti langkah para dokter.“Jangan terlalu dipikirkan. Pikirkan dirimu sendiri dan anak yang ada di dalam kandunganmu, Nak. Jangan putus berdoa. Ibu berangkat, ya,” ucap Damini sambil mencium kedua pipi Amira.Damini mengangguk hormat ke arah Arsya dan Ken, lalu berjalan cepat menyusul dokter yang sudah lebih dulu melangkah. Ia berjalan berdampingan dengan putra laki-lakinya, sesekali menyeka air mata yang jatuh.“Apa kamu menangis lagi, atau kemas

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Rujuk ke Florida

    Amira sudah berada di ruangan Tasya. Suasana di dalam kamar rawat itu terasa dingin, bukan hanya karena pendingin udara, tetapi juga karena kecemasan yang terus menekan dadanya. Ia berdiri di samping ranjang adiknya, sementara seorang dokter tengah menjelaskan kondisi Tasya dengan wajah serius.“Nona, tadi saya sudah berbicara dengan sekretaris Ken. Tasya akan segera dirujuk ke Florida untuk menjalani operasi transplantasi jantung,” ucap dokter itu dengan nada profesional.Amira menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat.“Berapa biayanya kira-kira, Dok?” tanyanya, suaranya terdengar pelan namun bergetar.“Untuk biaya keseluruhannya saya belum bisa memastikan secara detail. Namun, pasti menghabiskan dana miliaran rupiah dan kemungkinan akan dilakukan beberapa tahap operasi,” jawab dokter itu hati-hati.Mata Amira membulat. Ia terpaku di tempatnya, seolah informasi itu menamparnya tanpa ampun.“Dok … saya harus berunding dulu dengan ibu saya,” ucap Amira lirih. “Karena saya tidak p

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   My Dream Come True

    Sesampainya di rumah sakit, Amira langsung disambut pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak. Beberapa pengawal yang dikerahkan Arsya beberapa hari terakhir tampak berjaga di berbagai sudut. Suasana rumah sakit yang biasanya tenang kini dipenuhi bisik-bisik panik, langkah kaki tergesa, dan wajah-wajah tegang.Untuk pertama kalinya, Amira benar-benar melihat kekacauan kota hari ini secara langsung.“Dia benar-benar udah gila,” gerutunya pelan, dengan rahang mengeras.Amira segera turun dari taksi. Tanpa menunggu pengemudi menutup pintu, ia sudah berjalan cepat memasuki rumah sakit. Napasnya memburu, jantungnya berdegup tidak beraturan.Tak jauh dari pintu masuk, Aiden sudah berdiri. Mata remaja itu sembab, merah, dan basah. Bahunya turun naik menahan tangis yang nyaris pecah.“Jangan nangis. Di mana ibu?” tanya Amira lembut, sembari mengusap air mata yang mengalir di pipi adik laki-lakinya itu.“Di ruang ICU, Kak,” jawab Aiden lirih, suaranya hampir tak terdengar.Tanpa menunggu p

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Sebuah Laporan

    “Makanlah, Ken. Aku sudah hilang selera,” ucap Arsya dengan nada enteng, seolah apa yang ia minta sebelumnya bukan sesuatu yang merepotkan.“Apaaa!” Ken refleks meninggikan suara, matanya membelalak tak percaya.Setelah melewati drama pencarian rujak buah tengah malam, Ken akhirnya memutuskan untuk bertanya langsung alamat rumah si penjual pada orang-orang yang masih berkeliaran di sekitar alun-alun kota. Udara malam yang dingin menusuk kulit, sementara rasa lelah dan kesal bercampur jadi satu di dadanya.Dan malam itu untuk pertama kalinya ia berkunjung ke rumah orang asing hanya untuk membangunkan paksa seseorang yang sedang menikmati tidur nyenyaknya.Dengan mata setengah terpejam dan wajah kusut karena kantuk, si penjual rujak akhirnya membuka pintu. Tanpa banyak tanya, laki-laki itu segera membuatkan pesanan Ken. Siapa yang berani menolak titah sang sekretaris dingin yang namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik.Namun semua perjuangan itu terasa sia-sia saat rujak tersebu

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ngidam Lagi

    Malam semakin larut, tetapi Ken masih berada di kamar Arsya. Majikannya itu belum mengizinkannya pulang. Entah kuman apa yang sudah menjalar di otak Arsya hingga membuat Ken kewalahan sejak tadi.Tok … tok … tok …Suara ketukan pintu terdengar. Ken bergegas membuka pintu dan mendapati Pak Heru berdiri di sana sambil membawa nampan makan malam. Wajah kepala pelayan itu tampak khawatir karena Arsya belum makan apa pun sejak siang.“Tunggu dulu di sini, Pak Heru,” ujar Ken pelan.Ia menahan langkah Pak Heru agar tidak masuk. Ken khawatir Arsya akan kembali muntah jika mencium aroma makanan.Ken lalu mendekat ke sisi tempat tidur. “Tuan, Anda belum makan malam.”“Aku tidak berselera,” jawab Arsya lirih.Laki-laki itu duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya tak lepas dari cincin pemberian Amira yang kini ia genggam erat.“Anda harus makan. Jika suatu hari nanti Tuan bertemu lagi dengan Nona muda, lalu tubuh Anda kurus kering, pasti Nona muda akan ketakutan,” ujar Ken hati-hati.“Sialan

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Terbongkarnya Rahasia Cassandra

    Di sebuah kafe eksklusif di pusat kota, Cassandra dan Riana yang tak lain adalah Mama Arsya sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan VIP. Lampu temaram, aroma kopi mahal, dan alunan musik jazz lembut sama sekali tak mampu meredakan kegelisahan di wajah Cassandra.Riana menyilangkan kaki, lalu menatap wanita di depannya dengan sorot mata penuh perhitungan.“Sandra, ini kesempatan kamu buat meraih cinta Arsya lagi,” ucap Riana pelan namun tegas. “Perempuan itu sekarang sudah pergi entah ke mana.”Cassandra menghela napas panjang. Jari-jarinya saling bertaut di atas meja, menunjukkan kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan.“Benar, Ma. Tapi aku nggak yakin,” sahutnya lirih. “Apa Arsya masih mencintaiku? Mama tahu sendiri, hari ini suasana kota sudah sangat kacau gara-gara titah pencarian Amira. Segitu gilanya dia sama wanita kampung itu.”Cassandra menunduk sesaat, lalu melanjutkan dengan suara bergetar, “Dulu, waktu aku pergi, dia nggak sampai segila ini.”Riana menggeser kursinya, lalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status