مشاركة

Double Date?

مؤلف: Mediasari012
last update تاريخ النشر: 2026-01-20 17:34:09

"Entah kenapa aku akhir-akhir ini mudah sekali memaafkan orang," ucap Arsya dengan sorot mata mengiris.

Sementara Amira masih terpaku melihat video itu.

"Apa sekretaris Ken yang memberitahukan ini?" tanya Amira dengan bibir yang sudah bergetar.

"Aku tau dari orang lain. Emang kamu pikir mata-mata aku hanya dia aja?"

Glek!

Lagi-lagi Amira hanya bisa menelan salivanya. Sekelas sekretaris Ken saja alibinya bisa dengan mudah di ketahui oleh Arsya, apalagi dirinya?

Bulu kuduk Amira sudah meremang, t
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Bella Ternyata Bukan Wanita

    Cahaya kamar masih temaram. Embusan udara dingin dari pendingin ruangan membuat Amira tanpa sadar semakin merapatkan selimut ke tubuhnya. Namun, ada sesuatu yang terasa berat di pinggangnya.Perlahan ia membuka mata.Deg!Amira mendapati Arsya sedang memeluknya erat dari belakang dengan wajah yang masih terlihat lelap. Napas laki-laki itu terdengar teratur, sementara lengannya melingkar kuat di tubuh Amira seolah takut sang istri menghilang."Kapan dia pindah?" gumam Amira pelan sambil menahan senyum.Matanya lalu bergeser ke arah ranjang bayi di samping tempat tidur. Seketika sudut bibirnya terangkat semakin lebar saat melihat beberapa bantal tersusun rapi di sisi tempat tidur Ryu."Ya ampun ... dia sampai bikin benteng bantal segala."Amira menggeleng pelan. Ia tahu pasti itu ulah Arsya semalam. Suaminya memang terlihat tenang dan dingin di luar, tetapi sejak Ryu lahir, laki-laki itu berubah menjadi sangat protektif."Ternyata udah jam lima pagi," lirih Amira saat melirik jam dindin

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kekacauan Tengah Malam

    “Ryu, kamu pup ya?” tanya Arsya pelan saat hidungnya mulai menangkap aroma tidak sedap dari arah bayi kecil di sampingnya.Dengan gerakan hati-hati, ia menurunkan selimut tipis yang menutupi tubuh Ryu. Dahinya langsung berkerut. Perlahan Arsya membuka kancing romper anaknya satu per satu. Seketika, bau menyengat langsung menyeruak memenuhi kamar. “Ya ampun ...” gumamnya tertahan.Arsya mematung beberapa detik sebelum menoleh ke arah Amira yang masih tertidur pulas di sisi ranjang. Napas istrinya terdengar teratur, wajahnya tampak lelah setelah seharian mengurus Ryu.Pria itu menggigit bibir bawahnya ragu.Ia benar-benar ingin membangunkan Amira sekarang juga. Namun, melihat wajah istrinya yang kelelahan membuat niat itu menghilang perlahan.“Aaa ... Ryu, kenapa malah pup tengah malam begini?” bisik Arsya panik sambil mengacak rambutnya sendiri.Ryu justru menggeliat kecil sambil menatap ayahnya polos.“Papa nggak akan bersihin pup kamu. Kita tunggu Mama bangun aja, ya?” ujar Arsya se

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Pup

    “Apa jangan-jangan perempuan yang akan dinikahi sekretaris Ken itu Kak Sisil?” ucapnya lirih.Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Sinta, bahkan sebelum ia sempat mencerna rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.Tatapannya masih terpaku ke arah mobil hitam milik Ken yang perlahan menjauh dari pelataran kafe. Di balik kaca mobil itu, bayangan Sisil masih terlihat samar dengan senyum yang tadi begitu cerah.Entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dalam hatinya.“Apa mereka benar-benar punya hubungan spesial?” gumamnya pelan. “Atau aku aja yang terlalu mikir jauh?”Sinta melangkah cepat menuju parkiran, seolah ingin memastikan semuanya sendiri. Namun, baru beberapa langkah, mobil itu sudah melaju keluar gerbang dan menghilang di tikungan jalan.Deg!Dadanya mendadak terasa nyeri.Sinta menghentikan langkahnya. Napasnya terasa berat, sementara tenggorokannya seperti tercekat oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.“Ya Tuhan ... kenapa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Keberadaan Sinta

    “Bu, tadi aku besuk ayah di penjara,” ucap Sisil hati-hati.Deg!Sendok yang sedari tadi diputar pelan di dalam cangkir teh, seketika berhenti. Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya perlahan, lalu menatap putrinya lekat-lekat. Tatapannya menyimpan banyak hal—sedih, kecewa, sekaligus khawatir.“Aku minta restu padanya,” lanjut Sisil lirih.“Lalu ... gimana?” tanya ibunya pelan.Sisil tersenyum hambar. Ia menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali berbicara.“Sebenarnya ibu udah tau gimana jawabannya.” Ia menarik napas panjang. “Saat ini cuma ibu yang benar-benar aku minta restu buat hubungan aku. Rasanya, aku kayak anak yang udah nggak punya ayah.”Kalimat itu membuat dada wanita paruh baya tersebut terasa sesak. Ia mengusap lengan Sisil beberapa kali, mencoba menenangkan anak gadisnya yang selama ini terlalu sering memendam luka sendirian.“Ibu ngerti perasaan kamu, Nak,” ucapnya lirih.Suasana dapur kecil itu mendadak terasa hening. Hanya suara kipas angin yang berputar pel

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Meminta Restu

    Di belahan bumi yang lain, Ken sudah berada di area parkir apartemen Sisil. Ia duduk diam di dalam mobilnya, kedua tangannya memegang sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam.Perlahan, ia membukanya.Kilauan cincin berlian di dalamnya memantulkan cahaya lembut dari lampu parkiran. Tatapannya terpaku cukup lama, seolah-olah benda kecil itu menyimpan keputusan terbesar dalam hidupnya."Tuhan … kalau memang ini jalanku," gumam Ken lirih, suaranya nyaris tak terdengar, "aku mohon permudahkan semua urusanku."Ia menarik napas panjang, lalu menutup kembali kotak cincin itu dengan hati-hati.Tak lama kemudian, dari arah pintu utama gedung apartemen, sosok Sisil terlihat keluar. Ia mengenakan pakaian sederhana, namun tetap terlihat anggun. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat ia menyapa para petugas keamanan.Ken segera menyelipkan kotak cincin itu ke dalam saku jasnya. Ia keluar dari mobil dan berjalan cepat, lalu membukakan pintu untuk Sisil."Maaf, kamu nunggu lama ya?" tanya Sisil sambi

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Gara-gara Tali Pusar

    “Pergilah, Ken. Tidak perlu mengantarku masuk,” ucap Arsya saat mobil telah berhenti tepat di depan pintu utama rumahnya.Pintu mobil terbuka. Arsya turun dengan gerakan tegas, wajahnya masih menyisakan lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Udara siang yang hangat menyambutnya, namun tidak cukup untuk meredakan beban yang masih menggantung di kepalanya.Di sampingnya, kepala pelayan sudah berdiri tegap sejak tadi, seolah sudah menunggu sejak lama.“Baik, Tuan. Selamat beristirahat. Sampaikan salam saya kepada Tuan Ryu,” balas Ken sambil menundukkan kepala dengan hormat.Arsya hanya mengangguk singkat. Tanpa membalas lebih jauh, ia langsung melangkah cepat memasuki rumah besar itu. Langkahnya panjang dan terburu, seperti ada sesuatu yang ingin segera ia pastikan.Pintu utama terbuka lebar.Sunyi.Tidak ada suara tangisan, tidak ada suara langkah kaki, bahkan suara televisi pun tidak terdengar. Rumah itu terasa terlalu tenang, tidak seperti biasanya.Kening Arsya langsung be

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Mengganti Curian Mangga Dengan Uang

    Setelah dirasa situasi sudah aman, Ken dan Arsya segera keluar dari tempat persembunyian. Mereka melewati jalan gang yang berbeda.“Hoek! Hoek!”Arsya terlihat mengeluarkan isi perutnya. Ia sudah menahan muntah sejak tadi.“Pasti muntah gara-gara tai kambing tadi,” gumam Ken.“Ken!”“Ya, Tuan.”“Ka

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Demi Cinta

    Arsya beranjak dari tempat tidur, ia mematikan lampu lalu keluar dari kamarnya. Ia berjalan cepat menuruni tangga.Terlihat sekretaris Ken sedang duduk di ruang tengah dengan laptop yang ada di pangkuannya. Ia sedang menunggu Arsya untuk mengabulkan ngidam ibu hamil itu.Melihat kedatangan Arsya, i

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kisah Amira

    Setelah selesai makan malam yang penuh drama dan penolakan dari Amira, mereka berdua segera menaiki tangga untuk menuju ke kamar.Sesampainya di kamar, Amira langsung berlari ke kamar mandi."Hoek!"Amira kembali memuntahkan isi perutnya di wastafel. Tangannya bergetar hebat sembari berpegangan di

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Rahasia Ken dan Arsya

    Tiga belas tahun yang lalu …Arsya kecil duduk meringkuk di samping pusara sang Papa yang masih basah. Setelah acara pemakaman, seluruh keluarga dan kerabat Papanya telah bubar, meninggalkan area pemakaman satu per satu.Kini hanya tersisa Arsya, Ken, dan Lion—ayah dari Ken sekaligus orang kepercay

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status