로그인Di belahan bumi yang lain, Ken sudah berada di area parkir apartemen Sisil. Ia duduk diam di dalam mobilnya, kedua tangannya memegang sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam.Perlahan, ia membukanya.Kilauan cincin berlian di dalamnya memantulkan cahaya lembut dari lampu parkiran. Tatapannya terpaku cukup lama, seolah-olah benda kecil itu menyimpan keputusan terbesar dalam hidupnya."Tuhan … kalau memang ini jalanku," gumam Ken lirih, suaranya nyaris tak terdengar, "aku mohon permudahkan semua urusanku."Ia menarik napas panjang, lalu menutup kembali kotak cincin itu dengan hati-hati.Tak lama kemudian, dari arah pintu utama gedung apartemen, sosok Sisil terlihat keluar. Ia mengenakan pakaian sederhana, namun tetap terlihat anggun. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat ia menyapa para petugas keamanan.Ken segera menyelipkan kotak cincin itu ke dalam saku jasnya. Ia keluar dari mobil dan berjalan cepat, lalu membukakan pintu untuk Sisil."Maaf, kamu nunggu lama ya?" tanya Sisil sambi
“Pergilah, Ken. Tidak perlu mengantarku masuk,” ucap Arsya saat mobil telah berhenti tepat di depan pintu utama rumahnya.Pintu mobil terbuka. Arsya turun dengan gerakan tegas, wajahnya masih menyisakan lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Udara siang yang hangat menyambutnya, namun tidak cukup untuk meredakan beban yang masih menggantung di kepalanya.Di sampingnya, kepala pelayan sudah berdiri tegap sejak tadi, seolah sudah menunggu sejak lama.“Baik, Tuan. Selamat beristirahat. Sampaikan salam saya kepada Tuan Ryu,” balas Ken sambil menundukkan kepala dengan hormat.Arsya hanya mengangguk singkat. Tanpa membalas lebih jauh, ia langsung melangkah cepat memasuki rumah besar itu. Langkahnya panjang dan terburu, seperti ada sesuatu yang ingin segera ia pastikan.Pintu utama terbuka lebar.Sunyi.Tidak ada suara tangisan, tidak ada suara langkah kaki, bahkan suara televisi pun tidak terdengar. Rumah itu terasa terlalu tenang, tidak seperti biasanya.Kening Arsya langsung be
Setelah membaca pesan dari Arsya, Ken perlahan menghela napas, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Ekspresinya kembali datar, seperti biasa—tenang, tanpa emosi yang mudah terbaca.Ia melangkah mendekat ke arah Riana.“Nyonya, saya pamit pulang,” ucap Ken sopan, sedikit menundukkan kepala. Namun, sebelum berbalik, matanya sempat melirik ke arah Sisil.Sisil yang menyadari itu langsung berdiri dari duduknya, seolah sudah menunggu isyarat tersebut sejak tadi.“Aku juga pamit, Tante,” ucapnya lembut kepada Riana.Sebelum benar-benar pergi, Sisil menghampiri ranjang bayi kecil itu. Ia tersenyum gemas, lalu menunduk dan menciumi pipi Ryu berulang kali.“Lucu banget sih kamu ...” gumamnya pelan.Ryu yang semula terlelap, kini menggeliat kecil. Wajah mungilnya bergerak ke kanan dan ke kiri, bibirnya sedikit mengerucut, seperti mencari sesuatu.Melihat itu, Sisil tertawa kecil. “Aduh, maaf ya ... Tante ganggu tidurmu.”Ken hanya berdiri memperhatikan dari kejauhan. Tatapann
Deg!Amira refleks meraih tisu di samping ranjang, lalu dengan gerakan cepat namun tetap hati-hati ia mengelap sisa muntahan yang menempel di wajah kecil Ryu. Bau susu yang sedikit asam masih terasa di udara, membuat suasana kamar mendadak tegang.Arsya, Ken, dan Sisil hanya bisa diam mematung. Ketiganya tampak syok melihat bayi sekecil itu bisa muntah sebanyak itu hingga pakaian dan wajahnya basah.Ken menelan ludah. "Kenapa bayi sekecil itu bisa muntah sebanyak ini? Apa dia keracunan susu?" batinnya panik.Namun, berbeda dengan yang lain, Amira terlihat jauh lebih tenang. Tanpa menunggu perintah atau bantuan, ia langsung bergerak cepat. Ia membuka lemari kecil di samping ranjang, mengambil pakaian ganti bayi, lalu kembali ke sisi Ryu.Dengan gerakan yang terlatih, ia membuka pakaian bayi itu perlahan, memastikan tidak ada bagian tubuh yang terlalu lama terkena cairan. Tangannya cekatan, tapi tetap lembut—seolah-olah ia sudah melakukan ini ratusan kali sebelumnya."Untung aja muntaha
Deg!Sisil refleks memegangi dadanya, napasnya sempat tertahan sejenak. Wajahnya mengerut, bukan karena sakit yang parah, tapi lebih seperti denyutan aneh yang datang tiba-tiba dan membuatnya tidak nyaman."Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Ken panik. Ia langsung mencondongkan tubuhnya, menatap Sisil dengan penuh kekhawatiran. Alisnya bertaut, jelas tidak bisa menyembunyikan rasa cemas yang muncul begitu saja.Sisil menggeleng pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Nggak ... cuma tiba-tiba berdenyut aja," jawabnya, suaranya masih sedikit ragu.Ken menghela napas, tapi bukannya menjauh, ia justru semakin mendekat. Tatapannya berubah sedikit nakal, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis."Bolehkah aku menyentuh dan merasakan denyutan itu secara langsung?" tanyanya santai, seolah-olah itu adalah permintaan paling wajar di dunia.Sisil langsung melotot. Tanpa pikir panjang, ia menepis bahu Ken."Tidak!" jawabnya tegas, pipinya sedikit merona.Di balik pohon palem yang tidak j
Deg!Jantung Riana tiba-tiba berdegup kencang saat tangannya menyentuh gagang pintu menuju kamar Arsya. Langkahnya sempat terhenti di ambang koridor itu, lantai yang dulu terasa begitu asing, dingin, dan seolah terlarang baginya.Dulu, sejak mendiang suaminya wafat, Arsya menutup dirinya. Ia bahkan melarang siapa pun dari keluarganya menginjakkan kaki di lantai ini. Tempat itu menjadi dunia miliknya sendiri—sunyi, dingin, dan tak tersentuh.Namun hari ini … semuanya terasa berbeda.“Tanpa aku sadari, ternyata Amira yang sudah mengubah sikap dingin anakku,” gumam Riana pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. “Arsya jadi lebih manusiawi sekarang, dia juga sudah bersikap hangat lagi padaku.”Ada rasa haru yang perlahan menghangat di dadanya. Riana menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah mendekati pintu kamar itu.“Arsya, Ryu mau diletakkan di mana dulu?” tanyanya lembut dari luar. “Di kamar kamu atau di kamarnya sendiri?”Tak butuh waktu lama hingga suara Arsya terd
"Halo, Dek. Siapa namanya? Cantik sekali," sapa Amira dengan senyum hangat.Langkahnya melambat saat melihat seorang gadis kecil berdiri mematung di tepi jalan. Gadis itu tampak malu-malu, memeluk keranjang kecil di tangannya. Amira sedikit menunduk, menyamakan tinggi badannya, berusaha membuat si
“Kamu sekolah di mana?” tanya Amira dengan nada ramah.Gadis bernama Kiara itu tersenyum kecil. Ia tampak sedikit malu saat ditanya langsung oleh wanita yang baru dikenalnya, tetapi entah mengapa kehangatan Amira membuatnya merasa nyaman.“Di daerah sini saja, Kak,” jawab Kiara pelan.Amira mengang
"Gadis di sebelahmu itu siapa, Ken?" tanya ibunya tiba-tiba.Pertanyaan itu membuat suasana ruang tamu yang semula hangat seketika berubah tegang. Seolah ada sesuatu yang berat jatuh tepat di tengah ruangan.Ken dan Sisil sama-sama terdiam.Pertanyaan yang sejak tadi mereka khawatirkan akhirnya ben
Setelah obrolan singkat itu, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari kamar. Mereka berjalan menuruni tangga dengan langkah beriringan.Dari bawah tangga sudah ada Sekretaris Ken dan Pak Heru yang berdiri di ujung tangga. Mereka menganggukan kepalanya hormat saat Arsya dan Amira sudah sampai di







