로그인“Pergilah, Ken. Tidak perlu mengantarku masuk,” ucap Arsya saat mobil telah berhenti tepat di depan pintu utama rumahnya.Pintu mobil terbuka. Arsya turun dengan gerakan tegas, wajahnya masih menyisakan lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Udara siang yang hangat menyambutnya, namun tidak cukup untuk meredakan beban yang masih menggantung di kepalanya.Di sampingnya, kepala pelayan sudah berdiri tegap sejak tadi, seolah sudah menunggu sejak lama.“Baik, Tuan. Selamat beristirahat. Sampaikan salam saya kepada Tuan Ryu,” balas Ken sambil menundukkan kepala dengan hormat.Arsya hanya mengangguk singkat. Tanpa membalas lebih jauh, ia langsung melangkah cepat memasuki rumah besar itu. Langkahnya panjang dan terburu, seperti ada sesuatu yang ingin segera ia pastikan.Pintu utama terbuka lebar.Sunyi.Tidak ada suara tangisan, tidak ada suara langkah kaki, bahkan suara televisi pun tidak terdengar. Rumah itu terasa terlalu tenang, tidak seperti biasanya.Kening Arsya langsung be
Setelah membaca pesan dari Arsya, Ken perlahan menghela napas, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Ekspresinya kembali datar, seperti biasa—tenang, tanpa emosi yang mudah terbaca.Ia melangkah mendekat ke arah Riana.“Nyonya, saya pamit pulang,” ucap Ken sopan, sedikit menundukkan kepala. Namun, sebelum berbalik, matanya sempat melirik ke arah Sisil.Sisil yang menyadari itu langsung berdiri dari duduknya, seolah sudah menunggu isyarat tersebut sejak tadi.“Aku juga pamit, Tante,” ucapnya lembut kepada Riana.Sebelum benar-benar pergi, Sisil menghampiri ranjang bayi kecil itu. Ia tersenyum gemas, lalu menunduk dan menciumi pipi Ryu berulang kali.“Lucu banget sih kamu ...” gumamnya pelan.Ryu yang semula terlelap, kini menggeliat kecil. Wajah mungilnya bergerak ke kanan dan ke kiri, bibirnya sedikit mengerucut, seperti mencari sesuatu.Melihat itu, Sisil tertawa kecil. “Aduh, maaf ya ... Tante ganggu tidurmu.”Ken hanya berdiri memperhatikan dari kejauhan. Tatapann
Deg!Amira refleks meraih tisu di samping ranjang, lalu dengan gerakan cepat namun tetap hati-hati ia mengelap sisa muntahan yang menempel di wajah kecil Ryu. Bau susu yang sedikit asam masih terasa di udara, membuat suasana kamar mendadak tegang.Arsya, Ken, dan Sisil hanya bisa diam mematung. Ketiganya tampak syok melihat bayi sekecil itu bisa muntah sebanyak itu hingga pakaian dan wajahnya basah.Ken menelan ludah. "Kenapa bayi sekecil itu bisa muntah sebanyak ini? Apa dia keracunan susu?" batinnya panik.Namun, berbeda dengan yang lain, Amira terlihat jauh lebih tenang. Tanpa menunggu perintah atau bantuan, ia langsung bergerak cepat. Ia membuka lemari kecil di samping ranjang, mengambil pakaian ganti bayi, lalu kembali ke sisi Ryu.Dengan gerakan yang terlatih, ia membuka pakaian bayi itu perlahan, memastikan tidak ada bagian tubuh yang terlalu lama terkena cairan. Tangannya cekatan, tapi tetap lembut—seolah-olah ia sudah melakukan ini ratusan kali sebelumnya."Untung aja muntaha
Deg!Sisil refleks memegangi dadanya, napasnya sempat tertahan sejenak. Wajahnya mengerut, bukan karena sakit yang parah, tapi lebih seperti denyutan aneh yang datang tiba-tiba dan membuatnya tidak nyaman."Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Ken panik. Ia langsung mencondongkan tubuhnya, menatap Sisil dengan penuh kekhawatiran. Alisnya bertaut, jelas tidak bisa menyembunyikan rasa cemas yang muncul begitu saja.Sisil menggeleng pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Nggak ... cuma tiba-tiba berdenyut aja," jawabnya, suaranya masih sedikit ragu.Ken menghela napas, tapi bukannya menjauh, ia justru semakin mendekat. Tatapannya berubah sedikit nakal, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis."Bolehkah aku menyentuh dan merasakan denyutan itu secara langsung?" tanyanya santai, seolah-olah itu adalah permintaan paling wajar di dunia.Sisil langsung melotot. Tanpa pikir panjang, ia menepis bahu Ken."Tidak!" jawabnya tegas, pipinya sedikit merona.Di balik pohon palem yang tidak j
Deg!Jantung Riana tiba-tiba berdegup kencang saat tangannya menyentuh gagang pintu menuju kamar Arsya. Langkahnya sempat terhenti di ambang koridor itu, lantai yang dulu terasa begitu asing, dingin, dan seolah terlarang baginya.Dulu, sejak mendiang suaminya wafat, Arsya menutup dirinya. Ia bahkan melarang siapa pun dari keluarganya menginjakkan kaki di lantai ini. Tempat itu menjadi dunia miliknya sendiri—sunyi, dingin, dan tak tersentuh.Namun hari ini … semuanya terasa berbeda.“Tanpa aku sadari, ternyata Amira yang sudah mengubah sikap dingin anakku,” gumam Riana pelan, hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri. “Arsya jadi lebih manusiawi sekarang, dia juga sudah bersikap hangat lagi padaku.”Ada rasa haru yang perlahan menghangat di dadanya. Riana menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah mendekati pintu kamar itu.“Arsya, Ryu mau diletakkan di mana dulu?” tanyanya lembut dari luar. “Di kamar kamu atau di kamarnya sendiri?”Tak butuh waktu lama hingga suara Arsya terd
Hari itu akhirnya tiba—hari di mana Amira dan bayinya diizinkan pulang.Di dalam ruangan rawat inap yang kini terasa lebih hangat dari sebelumnya, hanya ada tiga orang yang tersisa: Arsya, Amira, dan Ken. Tirai putih yang sempat tertutup kini masih membatasi sebagian ruang, sementara seorang dokter wanita berdiri di sisi ranjang, menyelesaikan pemeriksaan terakhirnya dengan teliti.Amira duduk di tepi ranjang, kedua tangannya bertumpu pelan di sisi tubuhnya. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya, meski masih menyisakan kelelahan setelah proses persalinan. Di sampingnya, Arsya berdiri dengan wajah tegang—terlalu serius untuk ukuran pemeriksaan yang seharusnya sudah berakhir.Sementara itu, Ken berdiri sedikit menjauh, menyandarkan punggungnya ke dinding dengan ekspresi santai, meski matanya tetap memperhatikan interaksi di antara mereka.Beberapa detik kemudian, dokter itu menghela napas pelan, lalu merapikan alat-alatnya sebelum akhirnya membuka tirai yang m
“Kamu pesan di mana? Cepat sekali datangnya?” tanya Arsya, alisnya terangkat sedikit, jelas heran melihat semuanya sudah siap dalam waktu singkat.“Di toko dekat sini. Aku pakai nama kamu, jadi bisa dikirim secepat kilat,” jawab Amira sambil terkekeh pelan. Ada nada bangga dalam suaranya, seolah ia
Arsya terlihat menyunggingkan senyum tipis. Sorot matanya melembut, seolah tak percaya bahwa Amira benar-benar melakukan hal yang tadi sempat ia pikir hanya ancaman emosi sesaat. Ada rasa hangat yang menyelinap, meski di saat yang sama, kepalanya juga terasa pening memikirkan konsekuensi dari sikap
“Sepertinya kita sederajat, ya? Bisakah kita berteman?” tanya Relia tanpa rasa canggung, bahkan cenderung terlalu percaya diri.Sisil yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mengernyit. Alisnya terangkat, sementara jemarinya tanpa sadar mengepal.“Sederajat? Apa maksud wanita itu?” gumamnya pela
“Kamu marah?” tanya Arsya. Suaranya terdengar berat, seperti tertahan sesuatu yang sejak tadi ia paksa untuk tidak meledak.Amira tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat ranjang, menatap ke arah jendela dengan mata yang mulai memerah. Napasnya naik turun, menahan emosi yang sudah sejak tadi be







