FAZER LOGINGlek.Sisil menelan salivanya pelan. Dalam keheningan kamar hotel yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang, jemarinya mulai bergetar tanpa bisa ia kendalikan.Ken yang menyadari hal itu perlahan menggenggam tangan istrinya.“Kamu takut, ya?” tanyanya lembut.Sisil tidak langsung menjawab. Tatapannya justru menunduk gugup.Kalau begitu, aku nggak akan melakukannya malam ini,” lanjut Ken pelan. “Aku bakal nunggu sampai kamu benar-benar siap.”Nada suara laki-laki itu begitu lembut dan penuh pengertian. Namun entah kenapa, justru ucapan Amira beberapa waktu lalu kembali terngiang jelas di kepala Sisil.“Kalau kamu kayak gitu terus, nanti sekretaris Ken bisa aja melampiaskannya ke wanita lain.”Deg.Sisil menggigit bibir bawahnya pelan. Ia mengusir jauh-jauh rasa takut yang sedari tadi memenuhi dadanya.“Ini pengalaman pertama aku,” ucapnya lirih. “Lakukan aja apa yang kamu mau.”Setelah mengatakan itu, Sisil turun perlahan dari meja rias dan berjalan menuju tempat tidur. Langkahnya
"Wah, ada pengantin baru nih," celetuk Sean begitu memasuki ruang tengah.Nada suaranya yang penuh godaan langsung membuat suasana menjadi sedikit riuh. Ia berjalan santai sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Senyum jahil bahkan sudah terukir jelas di wajah laki-laki itu.Amira dan Sisil hanya diam. Keduanya memilih pura-pura tidak mendengar."Dua wanita cantik yang udah nggak perawan lagi. Ah! Sayang sekali," lanjut Sean tanpa dosa sembari menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa."Sean!" tegur Amira tidak terima.Namun laki-laki itu justru tertawa kecil."Mbak Sisil!" panggilnya lagi."Ya?" jawab Sisil pelan sembari menoleh."Bagaimana antusias malam pertamanya? Ada huru-hara nggak?" tanyanya dengan wajah penuh rasa penasaran.Sisil langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajah wanita itu memerah seketika."Pertanyaannya kayak orang yang udah pro aja," sahut Amira sambil menyipitkan matanya.Sean malah menaik-turunkan alisnya penuh percaya diri. "Haha ... Mbak Mira tau aja k
“Kenapa kamu mencubit hidungnya?” tanya Sisil tidak terima. Alisnya sampai bertaut, sementara tangannya refleks mengusap hidung Ryu pelan seolah takut bayi itu kesakitan.“Itu udah janji aku dulu,” jawab Ken santai seraya menegakkan tubuhnya kembali.Ia melirik singkat ke arah Ryu yang masih mengoceh kecil di pangkuan Sisil.“Aku masih belum selesai, tunggu dulu sebentar ya,” lanjut Ken sebelum akhirnya melangkah menuju dapur.“Iya,” jawab Sisil singkat.Tatapannya mengikuti punggung pria itu sampai menghilang di balik lorong rumah.“Janji katanya? Janji macam apa itu?” gumamnya sendiri dengan wajah penuh curiga.Sisil lalu menunduk menatap Ryu. “Kamu tahu nggak janji apa maksud Om Ken tadi?” tanyanya pelan.Ryu malah menggerakkan tangan kecilnya sembari mengeluarkan suara samar yang membuat Sisil gemas sendiri.Sementara itu di dapur, Ken berhenti tepat di samping Amira yang sedang sibuk memotong buah di atas meja marmer dapur yang luas.Beberapa jenis buah sudah tersusun rapi di dal
Siang mulai bergeser menuju sore.Sinar matahari yang sejak tadi masuk dari jendela besar ruang tengah kini mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang membuat suasana rumah terasa hangat dan tenang. Aroma teh melati yang tadi disajikan pelayan masih samar tercium di udara.Di ruang tengah kediaman Arsya, suasana terlihat cukup santai. Elena sudah berpamitan sejak beberapa menit lalu untuk beristirahat di kamarnya karena kepalanya semakin terasa pusing.Sementara itu, Aidan masih berada di posisi semula. Ia duduk di sofa tunggal yang jaraknya lumayan jauh dari Amira dan Sisil.Laki-laki itu tampak fokus menatap layar ponselnya sejak tadi, sesekali menggerakkan ibu jarinya dengan ekspresi datar.Di sisi lain, Amira sedang menyusui Ryu menggunakan botol dot bayi. Bayi mungil itu baru saja diantarkan oleh Riana setelah sejak sebelum siang berada di kamar omanya.Ryu terlihat sangat tenang dalam gendongan sang ibu. Sesekali tangan kecilnya bergerak-gerak gemas, membuat Sisil tak henti
Blush!Wajah Ken seketika bersemu merah. Sampai tanpa sadar, laki-laki itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Niat hati ingin mengerjai Sisil pagi ini, tetapi justru dirinya sendiri yang terkena serangan balik.Deg.Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat mengingat ekspresi polos Sisil barusan.“Mandi sana!” titah Ken singkat sambil berdeham pelan, berusaha menutupi rasa gugupnya.Sisil mengerjap bingung beberapa kali.“Lho? Kok berubah cepat banget?” batinnya heran.Ia bahkan sempat curiga Ken akan kembali menggodanya seperti tadi. Namun ternyata laki-laki itu malah menyuruhnya mandi dengan wajah memerah.“Jadi … aku selamat, kan?” batin Sisil lagi sambil menahan senyum.Tanpa membuang waktu, gadis itu segera berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi. Hari sudah semakin siang dan mereka harus segera pergi ke rumah Arsya.Sementara itu, Ken berdiri mematung di depan lemari sambil mengusap wajahnya kasar. “Sial … kenapa malah aku yang salah tingkah?” gerutunya pelan.Ia menghela n
"Oh, jadi aku bukan ciuman pertamamu?" balas Ken. Suaranya mendadak terdengar datar dan dingin.Rahang laki-laki itu mengeras samar. Tatapannya masih tertuju pada Sisil, tetapi kini ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat Sisil mendadak merasa bersalah.“Aku bisa dengan mudah mengetahui semua rahasia Nona muda, tapi kenapa dulu aku nggak pernah mencari tahu tentang Sisil?” batin Ken. “Dan sekarang, justru aku mengetahui fakta yang cukup mengejutkan.”“Apa mereka tinggal di kota ini?” tanyanya lagi pelan.“Iya,” jawab Sisil sambil mengangguk kecil. “Tapi aku nggak tahu sekarang mereka ada di mana.”Setelah itu, suasana mendadak hening.Ken menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Ia mencoba menekan rasa panas yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Entah kenapa, membayangkan ada laki-laki lain yang pernah mencium perempuan di hadapannya membuat dadanya terasa sesak.Sisil yang menyadari perubahan ekspresi suaminya langsung panik sendiri.“Bukan aku lho ya yang mulai duluan,” uc
“Kamu pesan di mana? Cepat sekali datangnya?” tanya Arsya, alisnya terangkat sedikit, jelas heran melihat semuanya sudah siap dalam waktu singkat.“Di toko dekat sini. Aku pakai nama kamu, jadi bisa dikirim secepat kilat,” jawab Amira sambil terkekeh pelan. Ada nada bangga dalam suaranya, seolah ia
Arsya terlihat menyunggingkan senyum tipis. Sorot matanya melembut, seolah tak percaya bahwa Amira benar-benar melakukan hal yang tadi sempat ia pikir hanya ancaman emosi sesaat. Ada rasa hangat yang menyelinap, meski di saat yang sama, kepalanya juga terasa pening memikirkan konsekuensi dari sikap
“Sepertinya kita sederajat, ya? Bisakah kita berteman?” tanya Relia tanpa rasa canggung, bahkan cenderung terlalu percaya diri.Sisil yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mengernyit. Alisnya terangkat, sementara jemarinya tanpa sadar mengepal.“Sederajat? Apa maksud wanita itu?” gumamnya pela
“Kamu marah?” tanya Arsya. Suaranya terdengar berat, seperti tertahan sesuatu yang sejak tadi ia paksa untuk tidak meledak.Amira tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat ranjang, menatap ke arah jendela dengan mata yang mulai memerah. Napasnya naik turun, menahan emosi yang sudah sejak tadi be







