เข้าสู่ระบบSementara itu, di dalam kamar mandi, Sisil duduk meringkuk di atas lantai dingin dengan kedua lutut yang ia peluk erat. Wajahnya pucat, sementara bibirnya beberapa kali tergigit pelan demi menahan rasa nyeri yang masih menjalar di tubuhnya.Ia memejamkan mata sesaat, lalu mengembuskan napas panjang.“Benar kata Mira … rasanya sakit sekali,” lirihnya pelan sambil meringis. “Kayak disobek pakai pisau, aah! Mana perih banget lagi pas buang air kecil.”Tangannya mengepal pelan di atas paha. Bahkan hanya bergerak sedikit saja membuat tubuhnya kembali terasa nyeri.“Dan rasanya masih … masih ada,” gumamnya malu sendiri. “Aku harus pasang ekspresi apa nanti kalau keluar? Senyum? Datar? Atau pura-pura biasa aja?”Sisil mengusap wajahnya berkali-kali, berusaha menepis rasa malu yang sejak tadi memenuhi kepalanya. Pipi wanita itu kembali memanas saat mengingat apa yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu.Di luar kamar mandi, Ken berdiri di dekat jendela kamar dengan handuk yang masih melilit
Glek.Sisil menelan salivanya pelan. Dalam keheningan kamar hotel yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang, jemarinya mulai bergetar tanpa bisa ia kendalikan.Ken yang menyadari hal itu perlahan menggenggam tangan istrinya.“Kamu takut, ya?” tanyanya lembut.Sisil tidak langsung menjawab. Tatapannya justru menunduk gugup.Kalau begitu, aku nggak akan melakukannya malam ini,” lanjut Ken pelan. “Aku bakal nunggu sampai kamu benar-benar siap.”Nada suara laki-laki itu begitu lembut dan penuh pengertian. Namun entah kenapa, justru ucapan Amira beberapa waktu lalu kembali terngiang jelas di kepala Sisil.“Kalau kamu kayak gitu terus, nanti sekretaris Ken bisa aja melampiaskannya ke wanita lain.”Deg.Sisil menggigit bibir bawahnya pelan. Ia mengusir jauh-jauh rasa takut yang sedari tadi memenuhi dadanya.“Ini pengalaman pertama aku,” ucapnya lirih. “Lakukan aja apa yang kamu mau.”Setelah mengatakan itu, Sisil turun perlahan dari meja rias dan berjalan menuju tempat tidur. Langkahnya
"Wah, ada pengantin baru nih," celetuk Sean begitu memasuki ruang tengah.Nada suaranya yang penuh godaan langsung membuat suasana menjadi sedikit riuh. Ia berjalan santai sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Senyum jahil bahkan sudah terukir jelas di wajah laki-laki itu.Amira dan Sisil hanya diam. Keduanya memilih pura-pura tidak mendengar."Dua wanita cantik yang udah nggak perawan lagi. Ah! Sayang sekali," lanjut Sean tanpa dosa sembari menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa."Sean!" tegur Amira tidak terima.Namun laki-laki itu justru tertawa kecil."Mbak Sisil!" panggilnya lagi."Ya?" jawab Sisil pelan sembari menoleh."Bagaimana antusias malam pertamanya? Ada huru-hara nggak?" tanyanya dengan wajah penuh rasa penasaran.Sisil langsung tersedak ludahnya sendiri. Wajah wanita itu memerah seketika."Pertanyaannya kayak orang yang udah pro aja," sahut Amira sambil menyipitkan matanya.Sean malah menaik-turunkan alisnya penuh percaya diri. "Haha ... Mbak Mira tau aja k
“Kenapa kamu mencubit hidungnya?” tanya Sisil tidak terima. Alisnya sampai bertaut, sementara tangannya refleks mengusap hidung Ryu pelan seolah takut bayi itu kesakitan.“Itu udah janji aku dulu,” jawab Ken santai seraya menegakkan tubuhnya kembali.Ia melirik singkat ke arah Ryu yang masih mengoceh kecil di pangkuan Sisil.“Aku masih belum selesai, tunggu dulu sebentar ya,” lanjut Ken sebelum akhirnya melangkah menuju dapur.“Iya,” jawab Sisil singkat.Tatapannya mengikuti punggung pria itu sampai menghilang di balik lorong rumah.“Janji katanya? Janji macam apa itu?” gumamnya sendiri dengan wajah penuh curiga.Sisil lalu menunduk menatap Ryu. “Kamu tahu nggak janji apa maksud Om Ken tadi?” tanyanya pelan.Ryu malah menggerakkan tangan kecilnya sembari mengeluarkan suara samar yang membuat Sisil gemas sendiri.Sementara itu di dapur, Ken berhenti tepat di samping Amira yang sedang sibuk memotong buah di atas meja marmer dapur yang luas.Beberapa jenis buah sudah tersusun rapi di dal
Siang mulai bergeser menuju sore.Sinar matahari yang sejak tadi masuk dari jendela besar ruang tengah kini mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang membuat suasana rumah terasa hangat dan tenang. Aroma teh melati yang tadi disajikan pelayan masih samar tercium di udara.Di ruang tengah kediaman Arsya, suasana terlihat cukup santai. Elena sudah berpamitan sejak beberapa menit lalu untuk beristirahat di kamarnya karena kepalanya semakin terasa pusing.Sementara itu, Aidan masih berada di posisi semula. Ia duduk di sofa tunggal yang jaraknya lumayan jauh dari Amira dan Sisil.Laki-laki itu tampak fokus menatap layar ponselnya sejak tadi, sesekali menggerakkan ibu jarinya dengan ekspresi datar.Di sisi lain, Amira sedang menyusui Ryu menggunakan botol dot bayi. Bayi mungil itu baru saja diantarkan oleh Riana setelah sejak sebelum siang berada di kamar omanya.Ryu terlihat sangat tenang dalam gendongan sang ibu. Sesekali tangan kecilnya bergerak-gerak gemas, membuat Sisil tak henti
Blush!Wajah Ken seketika bersemu merah. Sampai tanpa sadar, laki-laki itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Niat hati ingin mengerjai Sisil pagi ini, tetapi justru dirinya sendiri yang terkena serangan balik.Deg.Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat mengingat ekspresi polos Sisil barusan.“Mandi sana!” titah Ken singkat sambil berdeham pelan, berusaha menutupi rasa gugupnya.Sisil mengerjap bingung beberapa kali.“Lho? Kok berubah cepat banget?” batinnya heran.Ia bahkan sempat curiga Ken akan kembali menggodanya seperti tadi. Namun ternyata laki-laki itu malah menyuruhnya mandi dengan wajah memerah.“Jadi … aku selamat, kan?” batin Sisil lagi sambil menahan senyum.Tanpa membuang waktu, gadis itu segera berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi. Hari sudah semakin siang dan mereka harus segera pergi ke rumah Arsya.Sementara itu, Ken berdiri mematung di depan lemari sambil mengusap wajahnya kasar. “Sial … kenapa malah aku yang salah tingkah?” gerutunya pelan.Ia menghela n
“Siapa yang sudah berani menghina kamu jelek?” tanya Arsya sambil menatap wajah istrinya dengan dahi berkerut.“Kamu,” jawab Amira singkat tanpa ragu.Arsya langsung mengangkat alisnya tinggi-tinggi.“Hei! Aku nggak pernah bilang kamu jelek.”Amira menyipitkan matanya, lalu mencebikkan bibir dengan
“Ken, aku tadi bilang jaga Mira. Kenapa kamu malah mengajaknya berbicara? Kamu mau habis malam ini!” pekik Arsya dengan nada kesal.Suasana ruang makan yang sebelumnya tenang kini terasa tegang. Arsya berdiri dari kursinya dengan wajah yang sedikit memerah. Tatapannya tajam mengarah pada Ken yang b
“Aku percaya Ken bukan laki-laki yang seperti itu,” jawab Arsya dengan nada yakin.Nada suaranya terdengar tenang, tetapi ketegasan dalam setiap katanya membuat Amira sempat terdiam sesaat.“Tapi isi hati dan otak seseorang mana ada yang tahu,” balas Amira sambil mengangkat bahu. Sorot matanya masi
"Bajuku tadi mana?" Sisil mencari ke meja dekat bathtub, tapi ia tidak menemukan pakaiannya disana.Gadis itu perlahan mengintip dari balik tirai, matanya membulat saat mendapati pakaiannya ternyata masih teronggok rapi di atas meja samping wastafel. Pakaian dalamnya yang berwarna senada itu juga t







