Share

USG

Penulis: Mediasari012
last update Tanggal publikasi: 2026-02-24 21:55:54

“Mira, kamu nggak takut adikmu jatuh cinta sama Elesha?” tanya Sisil tiba-tiba, memecah suasana santai di ruang tengah.

Amira yang sedang menyandarkan tubuhnya di sofa menoleh pelan. Ia menghela napas panjang, lalu mengusap pelipisnya seolah beban dunia berada di sana.

“Entahlah,” sahutnya lesu. “Aku pusing banget mikirin anak muda zaman sekarang.”

Sisil langsung mendengus. “Cih! Emangnya kamu sekarang udah setua itu, ya?”

Amira terkekeh pelan, matanya menyipit jahil. “Ya, setidaknya aku ud
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Pup

    “Apa jangan-jangan perempuan yang akan dinikahi sekretaris Ken itu Kak Sisil?” ucapnya lirih.Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Sinta, bahkan sebelum ia sempat mencerna rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.Tatapannya masih terpaku ke arah mobil hitam milik Ken yang perlahan menjauh dari pelataran kafe. Di balik kaca mobil itu, bayangan Sisil masih terlihat samar dengan senyum yang tadi begitu cerah.Entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dalam hatinya.“Apa mereka benar-benar punya hubungan spesial?” gumamnya pelan. “Atau aku aja yang terlalu mikir jauh?”Sinta melangkah cepat menuju parkiran, seolah ingin memastikan semuanya sendiri. Namun, baru beberapa langkah, mobil itu sudah melaju keluar gerbang dan menghilang di tikungan jalan.Deg!Dadanya mendadak terasa nyeri.Sinta menghentikan langkahnya. Napasnya terasa berat, sementara tenggorokannya seperti tercekat oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.“Ya Tuhan ... kenapa

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Keberadaan Sinta

    “Bu, tadi aku besuk ayah di penjara,” ucap Sisil hati-hati.Deg!Sendok yang sedari tadi diputar pelan di dalam cangkir teh, seketika berhenti. Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya perlahan, lalu menatap putrinya lekat-lekat. Tatapannya menyimpan banyak hal—sedih, kecewa, sekaligus khawatir.“Aku minta restu padanya,” lanjut Sisil lirih.“Lalu ... gimana?” tanya ibunya pelan.Sisil tersenyum hambar. Ia menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali berbicara.“Sebenarnya ibu udah tau gimana jawabannya.” Ia menarik napas panjang. “Saat ini cuma ibu yang benar-benar aku minta restu buat hubungan aku. Rasanya, aku kayak anak yang udah nggak punya ayah.”Kalimat itu membuat dada wanita paruh baya tersebut terasa sesak. Ia mengusap lengan Sisil beberapa kali, mencoba menenangkan anak gadisnya yang selama ini terlalu sering memendam luka sendirian.“Ibu ngerti perasaan kamu, Nak,” ucapnya lirih.Suasana dapur kecil itu mendadak terasa hening. Hanya suara kipas angin yang berputar pel

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Meminta Restu

    Di belahan bumi yang lain, Ken sudah berada di area parkir apartemen Sisil. Ia duduk diam di dalam mobilnya, kedua tangannya memegang sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam.Perlahan, ia membukanya.Kilauan cincin berlian di dalamnya memantulkan cahaya lembut dari lampu parkiran. Tatapannya terpaku cukup lama, seolah-olah benda kecil itu menyimpan keputusan terbesar dalam hidupnya."Tuhan … kalau memang ini jalanku," gumam Ken lirih, suaranya nyaris tak terdengar, "aku mohon permudahkan semua urusanku."Ia menarik napas panjang, lalu menutup kembali kotak cincin itu dengan hati-hati.Tak lama kemudian, dari arah pintu utama gedung apartemen, sosok Sisil terlihat keluar. Ia mengenakan pakaian sederhana, namun tetap terlihat anggun. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat ia menyapa para petugas keamanan.Ken segera menyelipkan kotak cincin itu ke dalam saku jasnya. Ia keluar dari mobil dan berjalan cepat, lalu membukakan pintu untuk Sisil."Maaf, kamu nunggu lama ya?" tanya Sisil sambi

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Gara-gara Tali Pusar

    “Pergilah, Ken. Tidak perlu mengantarku masuk,” ucap Arsya saat mobil telah berhenti tepat di depan pintu utama rumahnya.Pintu mobil terbuka. Arsya turun dengan gerakan tegas, wajahnya masih menyisakan lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Udara siang yang hangat menyambutnya, namun tidak cukup untuk meredakan beban yang masih menggantung di kepalanya.Di sampingnya, kepala pelayan sudah berdiri tegap sejak tadi, seolah sudah menunggu sejak lama.“Baik, Tuan. Selamat beristirahat. Sampaikan salam saya kepada Tuan Ryu,” balas Ken sambil menundukkan kepala dengan hormat.Arsya hanya mengangguk singkat. Tanpa membalas lebih jauh, ia langsung melangkah cepat memasuki rumah besar itu. Langkahnya panjang dan terburu, seperti ada sesuatu yang ingin segera ia pastikan.Pintu utama terbuka lebar.Sunyi.Tidak ada suara tangisan, tidak ada suara langkah kaki, bahkan suara televisi pun tidak terdengar. Rumah itu terasa terlalu tenang, tidak seperti biasanya.Kening Arsya langsung be

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Rencana Meminta Restu

    Setelah membaca pesan dari Arsya, Ken perlahan menghela napas, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Ekspresinya kembali datar, seperti biasa—tenang, tanpa emosi yang mudah terbaca.Ia melangkah mendekat ke arah Riana.“Nyonya, saya pamit pulang,” ucap Ken sopan, sedikit menundukkan kepala. Namun, sebelum berbalik, matanya sempat melirik ke arah Sisil.Sisil yang menyadari itu langsung berdiri dari duduknya, seolah sudah menunggu isyarat tersebut sejak tadi.“Aku juga pamit, Tante,” ucapnya lembut kepada Riana.Sebelum benar-benar pergi, Sisil menghampiri ranjang bayi kecil itu. Ia tersenyum gemas, lalu menunduk dan menciumi pipi Ryu berulang kali.“Lucu banget sih kamu ...” gumamnya pelan.Ryu yang semula terlelap, kini menggeliat kecil. Wajah mungilnya bergerak ke kanan dan ke kiri, bibirnya sedikit mengerucut, seperti mencari sesuatu.Melihat itu, Sisil tertawa kecil. “Aduh, maaf ya ... Tante ganggu tidurmu.”Ken hanya berdiri memperhatikan dari kejauhan. Tatapann

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Belajar Menggendong

    Deg!Amira refleks meraih tisu di samping ranjang, lalu dengan gerakan cepat namun tetap hati-hati ia mengelap sisa muntahan yang menempel di wajah kecil Ryu. Bau susu yang sedikit asam masih terasa di udara, membuat suasana kamar mendadak tegang.Arsya, Ken, dan Sisil hanya bisa diam mematung. Ketiganya tampak syok melihat bayi sekecil itu bisa muntah sebanyak itu hingga pakaian dan wajahnya basah.Ken menelan ludah. "Kenapa bayi sekecil itu bisa muntah sebanyak ini? Apa dia keracunan susu?" batinnya panik.Namun, berbeda dengan yang lain, Amira terlihat jauh lebih tenang. Tanpa menunggu perintah atau bantuan, ia langsung bergerak cepat. Ia membuka lemari kecil di samping ranjang, mengambil pakaian ganti bayi, lalu kembali ke sisi Ryu.Dengan gerakan yang terlatih, ia membuka pakaian bayi itu perlahan, memastikan tidak ada bagian tubuh yang terlalu lama terkena cairan. Tangannya cekatan, tapi tetap lembut—seolah-olah ia sudah melakukan ini ratusan kali sebelumnya."Untung aja muntaha

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Di Kebun

    "Halo, Dek. Siapa namanya? Cantik sekali," sapa Amira dengan senyum hangat.Langkahnya melambat saat melihat seorang gadis kecil berdiri mematung di tepi jalan. Gadis itu tampak malu-malu, memeluk keranjang kecil di tangannya. Amira sedikit menunduk, menyamakan tinggi badannya, berusaha membuat si

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kegugupan Sisil

    “Kamu sekolah di mana?” tanya Amira dengan nada ramah.Gadis bernama Kiara itu tersenyum kecil. Ia tampak sedikit malu saat ditanya langsung oleh wanita yang baru dikenalnya, tetapi entah mengapa kehangatan Amira membuatnya merasa nyaman.“Di daerah sini saja, Kak,” jawab Kiara pelan.Amira mengang

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Memberikan Cincin

    "Gadis di sebelahmu itu siapa, Ken?" tanya ibunya tiba-tiba.Pertanyaan itu membuat suasana ruang tamu yang semula hangat seketika berubah tegang. Seolah ada sesuatu yang berat jatuh tepat di tengah ruangan.Ken dan Sisil sama-sama terdiam.Pertanyaan yang sejak tadi mereka khawatirkan akhirnya ben

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Perjalanan Menuju Ibu Ken

    Setelah obrolan singkat itu, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari kamar. Mereka berjalan menuruni tangga dengan langkah beriringan.Dari bawah tangga sudah ada Sekretaris Ken dan Pak Heru yang berdiri di ujung tangga. Mereka menganggukan kepalanya hormat saat Arsya dan Amira sudah sampai di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status