Share

Bab 6

Author: Wanita
Air mataku mengalir deras tidak terkontrol saat mendengar suara yang familier dan hangat di telepon itu. Sejak orang tuaku meninggal, dialah satu-satunya orang di dunia ini yang dekat denganku.

Aku sangat ingin menceritakan semua yang terjadi padanya, tetapi aku tahu dia tidak bisa mendengarku.

Yosef bersandar di kursinya dengan ekspresi acuh tak acuh, "Nggak tahu, mungkin sudah mati."

Kalimat itu terucap begitu ringan tanpa ada rasa peduli sedikit pun.

Silvia di seberang telepon jelas tertegun. Saat dia bicara lagi, napasnya terdengar tidak teratur, seolah sengaja menahan emosi yang hampir meledak. Suaranya sedikit gemetar.

"Yosef, ngomong apa kamu ini?! Ada orang yang nyumpahin istrinya sendiri kayak gitu?"

Dia terdiam sejenak dan nadanya sedikit melunak, "Aku tahu kamu benci aku. Dulu aku yang salah karena selalu mojokin kamu, aku minta maaf. Tapi sekarang, aku cuma mau tahu Shofia di mana, aku beneran khawatir sama dia."

Air mata tidak berhenti mengalir dari sudut mataku mendengar suaranya yang seperti memohon.

Ini pertama kalinya aku melihat Silvia merendahkan ego, apalagi kepada orang yang paling dia benci.

Dia menentang keras saat aku dan Yosef baru bersama dulu. Dia tidak tahan melihat sikap Yosef yang dingin padaku dan dia selalu membelaku.

Namun, saat itu aku benar-benar buta karena cinta, sama sekali tidak mau mendengar nasihatnya.

Setelah itu mereka seperti api dan air. Lalu demi menyenangkan Yosef, aku sengaja menjaga jarak dari Silvia.

Namun, kehidupan setelah menikah tidak seindah yang kubayangkan. Di tengah pengabaian Yosef yang bertubi-tubi, hanya Silvia yang selalu peduli padaku. Saat itulah aku tahu betapa bodohnya aku.

Penyakitku pun hanya aku beritahukan kepadanya. Setiap ke rumah sakit pun dia yang menemani. Tanpa dukungannya, mungkin aku sudah menyerah sejak lama.

Sementara suami yang dulu kupilih dengan begitu yakin, saat aku tersiksa oleh rasa sakit justru pergi berkencan dengan cinta pertamanya, Wina.

Bahkan suatu malam saat obat pereda nyeriku habis dan aku kesakitan sampai kejang, aku meneleponnya memohon bantuan untuk membawakan obat, tapi dia langsung mematikan telepon.

Aku meringkuk di sudut ranjang, menahan rasa sakit selama tiga jam lebih sampai akhirnya dia pulang dengan bau alkohol.

Sekarang kalau dipikir lagi, bagi aku dia bahkan tidak lebih berguna daripada sebutir obat pereda nyeri.

Yosef terdiam sejenak, nadanya tetap tenang seolah sedang membicarakan hal yang tidak ada hubungannya dengan dia, "Dia itu orang dewasa, bisa kena masalah apa? Aku nggak tahu dia di mana, dan nggak peduli juga!"

Benar juga, orang yang mengharapkan aku mati mana mungkin benar-benar peduli pada keselamatanku?

Silvia di seberang sana tidak bisa lagi menahan amarahnya, "Nggak peduli? Yosef, hati nuranimu sudah dimakan anjing ya? Oh salah, orang kayak kamu memang nggak punya hati, cuma kacang yang lupa kulitnya!" Suaranya penuh kemarahan dan kekecewaan.

"Silvia, tolong jaga ucapanmu. Aku angkat telepon ini cuma karena kita dulu teman sekolah." Ekspresi Yosef suram, jelas dia sudah kehilangan kesabaran.

Silvia tertawa sinis, "Kenapa? Marah karena malu? Apa aku salah ngomong? Kalau nggak ada Shofia, apa kamu bisa jadi kayak sekarang?"

Tatapan Yosef sedikit berubah seolah teringat masa lalu, tapi segera tertutup oleh sikap dingin, "Itu semua kemauan dia sendiri, tanpa dia pun aku bakal hidup lebih baik!"

Mendengar percakapan mereka, hatiku terasa seperti diiris pisau.

Aku pernah memberikan segalanya untuk Yosef, tapi setelah aku mati, sedikit saja perhatian dan kepedulian darinya pun tidak kudapatkan.

Silvia di seberang sana sudah menangis tersedu-sedu, "Yosef, kamu bener-bener nggak punya hati! Aku peringatin ya, kalau sampai terjadi sesuatu sama Shofia, aku nggak bakal ampuni kamu!"

Sudut bibir Yosef terangkat membentuk senyum mengejek, "Silvia, kalau dia beneran hilang, harusnya kamu cari polisi, bukan cari aku!"

"Kamu pikir aku nggak mau lapor polisi? Sekarang Shofia belum hilang selama dua puluh empat jam, belum bisa bikin laporan. Kamu tahu nggak, Shofia itu sakit ...."

Tanpa menunggu Silvia selesai bicara, Yosef langsung mematikan telepon.

Aku tahu Silvia ingin memberi tahu soal penyakit mematikanku, tapi Yosef jelas tidak mau mendengar lebih banyak darinya.

Padahal harusnya dia dengar. Kalau dia tahu aku benar-benar mau mati, dia bisa bersama Wina-nya tanpa perlu merasa terbebani lagi.

Yosef melempar ponselnya kembali ke meja, matanya melirik vas bunga di sudut meja dengan tatapan mengejek, "Shofia, aku mau lihat sampai kapan kamu sanggup sandiwara begini."

Aku menatapnya tanpa ekspresi. Entah mengapa, aku malah jadi agak menantikan saat dia tahu aku sudah mati dan melihat wajahnya terpukul.

Saat itu ponsel Yosef berbunyi lagi. Aku mendekat untuk melihat layar, ternyata dari nomor asing.

Dia mengernyit, tapi tetap mengangkat telepon itu.

"Apa benar ini dengan Bapak Yosef? Kami dari kepolisian kota. Kami baru saja mengangkat sebuah mobil dari laut. Di dalamnya ditemukan mayat perempuan yang wajahnya sudah nggak bisa dikenali ...."

Yosef memotong, "Apa hubungannya sama saya?"

Suara di telepon menjawab, "Pada mayat ini ditemukan beberapa barang pribadi dan kartu identitas. Kami butuh Bapak datang untuk memastikan apakah dia adalah istri Bapak, Shofia Rimanda ...."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 18

    Setelah mematikan telepon, Yosef langsung mencabut jarum infus. Dia mengabaikan bujukan Bi Yayah dan bersikeras untuk keluar, lalu langsung naik taksi menuju kantor polisi.Petugas polisi menyerahkan sebuah kantong berisi barang-barang kepada Yosef. Dia tampak termenung menatap barang-barang di tangannya.Polisi itu melanjutkan, "Pelaku utama pembunuhan istri Anda bernama Wina. Dialah yang menyuruh Yulius Candra membuntuti istri Anda, lalu sengaja menabrak mobil Ibu Shofia hingga jatuh ke bawah jembatan, menciptakan ilusi kematian akibat kecelakaan.""Menurut pengakuan tersangka, Yulius ini adalah sepupu Wina ....""Nggak mungkin Wina, kalian ... apa salah orang?" wajah Yosef membiru, dia spontan membantah.Bahkan sampai titik ini, dia masih berusaha membela Wina.Kemudian kudengar dia bergumam, "Jadi, aku yang mencelakainya ...." suaranya terlalu pelan sampai aku tidak mendengar jelas sisanya.Polisi itu mengangguk yakin, "Pak Yosef, Wina sudah mengaku. Menurut pengakuannya, dia membu

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 17

    Setelah pemakaman, Yosef rutin berangkat ke kantor tepat waktu seperti biasa. Sepintas terlihat normal, hanya saja ada kesan ganjil yang menyelimuti kenormalan itu.Setiap pagi dia mengenakan pakaian yang dulu kusiapkan untuknya. Dia menyuruh Bi Yayah menyiapkan makan siang seperti dulu, bahkan sampai detail kemasan dan jenis hidangannya harus persis sama seperti saat aku masih hidup, meskipun rasanya jelas berbeda.Terkadang di sela-sela rapat yang sibuk, dia tiba-tiba memanggil Heni dan bertanya pelan apakah ada telepon masuk atau kiriman untukku.Nada bicara Yosef sangat lembut, wajahnya penuh harap, tidak ada lagi kesan tidak sabaran seperti dulu.Setiap kali Heni dengan hati-hati mengingatkannya bahwa aku sudah tidak ada, Yosef akan memotongnya dengan tatapan dingin.Dia mulai sering menelepon nomor ponselku yang tidak akan pernah aktif lagi, berbisik pada udara kosong seolah aku benar-benar bisa mendengarnya.Pria yang dulu selalu sibuk itu, sekarang langsung bergegas pulang begi

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 16

    Yosef tampak sangat lelah. Entah karena belum sadar sepenuhnya atau apa, dia tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun atas perkataan polisi.Cukup lama kemudian, barulah dia bertanya pelan, "Siapa yang membunuhnya?"Kedua polisi itu sepertinya menyadari kalau Yosef terlalu tenang. Mereka menatap tajam setiap gerak-gerik Yosef untuk mencari petunjuk, tapi Yosef hanya balas menatap dengan datar, seolah-olah dia benar-benar hanya orang asing yang menonton kejadian ini."Kami masih menyelidiki pelakunya. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan. Di mana Bapak berada pada pagi hari saat istri Bapak menghilang?" tanya polisi dengan raut serius.Yosef sedikit mengernyit, seolah mulai nggak sabar sama pertanyaan itu, "Lagi istirahat." Nadanya benar-benar tanpa emosi.Para polisi saling lirik, jelas nggak puas sama jawaban Yosef. Mereka lanjut mendesak, "Pak Yosef, Bapak dan Ibu Shofia sempat bertengkar hari sebelumnya. Terus pas tahu istri Bapak nggak ada, masa Bapak nggak kepikiran buat

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 15

    Yosef mendadak duduk tegak. Dia menggenggam ponselnya kuat-kuat, suaranya terdengar serak, "Kamu yakin? Beneran dia?"Di seberang telepon, nada bicara terdengar berat, "Pak Yosef, harap tabah! Saat ini Bapak perlu segera datang ke kantor polisi."Setelah telepon ditutup, tangan Yosef yang memegang ponsel tidak kunjung turun. Seluruh tubuhnya seolah-olah kehilangan tenaga, dia duduk terpaku di atas ranjang.Tiba di kantor polisi, baru saja Yosef melangkah masuk ke ruang jenazah, suara "plak" yang nyaring terdengar. Sebuah tamparan keras dari Silvia mendarat telak di wajahnya.Dia sama sekali tidak bersiap, hingga terhuyung mundur dua langkah sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak.Para petugas polisi di sekitar pun terkejut melihat kejadian mendadak itu. Mereka saling pandang dan suasana seketika membeku.Mata Silvia merah dan bengkak, wajahnya penuh jejak air mata. Dia menatap tajam pria di depannya dengan penuh kemarahan, "Yosef, kamu! Kamu yang sudah bikin Shofia mati!"Sambil bicar

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 14

    Yosef tidak memperhatikan kotak-kotak itu. Dia sibuk melonggarkan dasinya sendiri lalu menuangkan segelas air. Namun, saat dia mengangkat gelas tersebut, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat keruh.Aku mengikuti arah pandangannya. Terlihat kotak-kotak kardus itu penuh berisi pakaian, perlengkapan mandi, dan barang-barang elektronik milikku. Barang pribadiku dikemas begitu saja dengan sembarangan, seolah-olah aku tidak pernah ada di rumah ini.Saat itu, Wina menggerakkan kursi rodanya keluar dari arah lift. Senyum puas terlukis di wajahnya. "Yosef, kamu akhirnya pulang juga. Aku tunggu kamu lama banget."Yosef menatapnya dengan dingin. Suaranya menyiratkan kemarahan. "Ini semua apa maksudnya?"Wina menunjuk kardus-kardus itu dengan santai. "Oh, yang ini? Aku pikir kalian 'kan mau cerai, barang-barangnya juga nggak perlu disimpan lagi. Jadi aku minta pembantu beresin sekalian."Dia mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang sangat wajar. Dia bersikap layaknya nyonya rumah. Namun,

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 13

    Setelah menutup telepon, dia menoleh ke arah Wina. Bayangan kelam di wajahnya belum sepenuhnya hilang, nadanya terdengar dingin. "Wina, aku harus ke kantor polisi. Kamu istirahat yang baik di rumah.""Apa terjadi sesuatu sama Shofia?"Entah itu hanya perasaanku saja, tapi aku merasa saat Wina menanyakan hal itu, tatapan matanya tampak goyah dan gelisah.Kilatan ejekan melintas di wajah Yosef, dia mendengus dingin, "Dia? Aku malah berharap dia benar-benar kena musibah."Sudah sampai di tahap ini pun, dia masih saja menyumpahiku! Seberapa besar rasa bencinya padaku, sampai-sampai dia sangat tidak menginginkan hal baik terjadi padaku?Aku menahan rasa jijikku pada Yosef dan mengikutinya ke kantor polisi.Baru saja sampai di depan gerbang kantor polisi, Silvia pun tiba. Mereka berdua yang memang tidak pernah akur, saat ini bahkan tidak sudi bertukar sepatah kata pun dan langsung berjalan masuk ke dalam.Begitu masuk, seorang polisi langsung membimbing mereka menuju ruang identifikasi jenaz

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status