Short
Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?

Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?

Oleh:  WanitaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
18Bab
7Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Aku sudah menghilang selama seminggu, namun Yosef selaku suamiku masih mengira aku hanya cari ribut dan menungguku pulang untuk memohon maaf kepadanya. "Shofia, kamu sebaiknya cepat muncul, atau tanggung sendiri akibatnya!" Namun, dia tidak kunjung mendapatkan balasanku. Dia tidak tahu bahwa aku sudah lama mati. Tepat saat dia sedang saling mencurahkan isi hati dengan Silvia. Aku ditabrak sebuah truk bersama mobilku hingga terjun dari Jembatan Samudra, tenggelam ke dasar laut, dan mati seketika ....

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Aku mengidap penyakit mematikan. Menjelang ajal, aku menyiapkan surat cerai dan surat wasiat untuk suamiku.

Namun, dia malah berkata kepadaku, "Orang jahat itu panjang umur, kamu nggak bakal mati. Kalau kamu beneran mati, aku pasti bakal nyalain petasan buat ngerayainnya."

Kemudian, aku benar-benar mati. Di kantor polisi, dia memeluk jasadku yang sudah tidak dikenali lagi sambil bergumam sendiri, "Sayang, jangan bercanda lagi ya. Setelah pulang kali ini, gantian aku yang masakin buat kamu, oke?"

……

Larut malam, Yosef akhirnya pulang dengan aroma alkohol yang samar.

Saat melihatku duduk di sofa, sebersit keterkejutan sempat muncul di matanya sebelum kembali tenang. Dia bertanya, entah kepadaku atau pada dirinya sendiri, "Belum tidur?"

Nada bicaranya sama sekali tidak menutupi rasa muaknya.

Aku berdiri sambil menggenggam erat surat cerai di tangan, "Yosef, ada yang mau aku omongin sama kamu."

Dia melirikku sekilas. Tatapannya beralih pada gelas alkohol di sampingku, membuat alisnya yang rupawan sedikit berkerut.

"Perempuan kok minum alkohol seharian, kamu nggak bisa cari kerjaan lain yang bener apa?" dia mendengus dengan nada penuh hinaan.

Kerjaan yang benar?

Aku tersenyum pahit dalam hati. Yosef sepertinya sudah lupa kalau dulu dialah yang memintaku melepas pekerjaan dan impian demi mengurus orang tuanya. Empat tahun menikah, aku yang dulunya seorang gadis kaya tanpa beban, aku kini berubah menjadi wanita yang terkurung di rumah, mahir dalam segala urusan rumah tangga namun penuh keluhan dan kepahitan.

Namun, pada akhirnya aku justru mendapatkan laporan diagnosis kanker serta tatapan dingin dan menghina darinya.

Dia hendak pergi saat melihatku diam.

Aku menahan rasa tidak nyaman di perut dan menjulurkan tangan untuk menghentikannya.

Suaraku terdengar tenang secara tidak wajar, "Yosef, ayo kita bicara!"

Langkahnya terhenti. Dia menunduk dan menatapku dingin dengan nada tidak sabar, "Aku capek, apa pun itu kita omongin besok aja!"

"Cuma tanda tangan doang, nggak bakal nyita banyak waktu kamu kok."

Sambil berkata demikian, aku menyodorkan surat cerai itu ke hadapannya.

Di bawah surat itu, aku melampirkan surat wasiatku. Aku sudah tidak punya keluarga lagi di dunia ini. Aku ingin semua aset atas namaku didonasikan ke panti asuhan melalui suamiku setelah aku meninggal nanti.

Tentu saja, dalam hartaku itu juga termasuk perhiasan yang pernah Yosef berikan.

Kalau mau, dia bisa menyimpannya sebagai kenangan, tapi kalau tidak mau, dia juga boleh menjual semuanya.

Yosef tidak menerima kertas itu. Dia hanya melirik malas ke bawah. Saat melihat tulisan besar bertajuk "Surat Cerai", alisnya berkerut makin dalam, "Kamu mau main trik apa lagi sekarang?"

Lagi?

Empat tahun jadi suami istri, aku sudah rela melepaskannya demi cinta sejatinya. Tapi, dia malah menganggap kado perpisahan ini sebagai taktik licikku untuk mempertahankannya?

Rasa sakit di perutku mendadak makin hebat, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum. Dengan wajah memucat, aku mencengkeram perutku kuat-kuat, keringat dingin bercucuran.

Namun, Yosef hanya menatapku dingin dengan raut wajah seolah sudah membaca semua sandiwaraku.

"Kenapa? Mulai pura-pura sakit lagi? Shofia, kamu nggak bisa cari jurus baru apa? Aku kasih tahu ya, biarpun kamu mati di depanku sekarang, aku nggak bakal sudi lihat kamu sedikit pun."

Sekujur tubuhku terasa membeku. Rasa sakit di perutku ini bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit hati akibat ucapannya yang beribu kali lipat lebih pedih.

Aku menarik napas dalam, menahan penderitaan fisik dan batin, lalu menyodorkan surat cerai serta pulpen tepat ke dadanya. "Tanda tangan! Begitu kamu tanda tangan, kamu bebas! Kamu bisa terang-terangan sama Wina yang baru pulang dari luar negeri itu."

Yosef mendengus sinis. "Shofia, kamu jago banget akting ya. Baru beberapa hari lalu kamu cari gara-gara sama Wina di rumah sakit, sekarang malah sok murah hati gini."

Aku tertegun sejenak, lalu langsung mengerti. Yang dia maksud adalah saat aku pergi ke rumah sakit mengambil hasil laporan medis.

Hari itu, aku mengambil laporan diagnosis kanker dan memang berpapasan dengan Wina. Namun, kami bahkan tidak bicara lebih dari dua patah kata, dari mana datangnya tuduhan cari gara-gara itu?

"Kalau aku bilang aku begini karena kena ...."

"Cukup!" Dia memijat pangkal hidungnya. "Aku capek hari ini. Kalau mau ajak ribut, lain kali aja."

Aku tidak punya sisa tenaga lagi bahkan hanya untuk sekadar menjelaskan. Aku hanya mendesaknya agar segera mengurus surat cerai itu.

"Kalau menurut kamu suratnya bermasalah, kamu bisa telepon pengacara buat ke sini dan tanda tangan depan dia."

Mendengar itu, tatapan Yosef sedikit berubah. Dia akhirnya mau menatap mataku yang tegas dan penuh harap. Aku melihat jakunnya bergerak naik turun sebelum dia mendengus dingin. "Shofia, kamu pikir kamu siapa? Atas dasar apa kamu yang mutusin kapan nikah dan kapan cerai? Mau kamu serius atau cuma pura-pura, aku nggak bakal tanda tangan, sekalipun kamu mati!"

Tapi, aku memang sudah hampir mati.

"Oh, aku hampir lupa. Orang jahat itu panjang umur, kamu nggak bakal mati. Kalau suatu hari nanti kamu beneran mati, aku pasti bakal nyalain petasan buat ngerayainnya, terus surat cerai ini bakal aku tanda tanganin, lalu kubakar buat kamu!"

Dia pergi ke lantas atas setelah itu.

Aku hendak mengejarnya, tapi rasa sakit di perutku kembali menyerang lebih hebat. Tubuhku ambruk begitu saja hingga berlutut di lantai. Aku mencengkeram sudut meja kuat-kuat agar tidak terjatuh sepenuhnya.

Yosef berdiri di sudut tangga. Punggungnya tampak sempat membeku sejenak, tapi pada akhirnya dia tetap tidak menoleh.

Sosoknya perlahan menghilang sepenuhnya dari pandanganku.

Pada detik itu, semua harapan dan khayalanku tentang dia hancur lebur. Pria yang pernah sangat kucintai ini kini justru menjadi luka terbesar dalam hidupku.

Aku bersusah payah untuk duduk stabil di sofa, lalu menenggak habis sisa setengah gelas anggur merah di atas meja. Sensasi alkohol itu membuatku melupakan rasa sakit untuk sementara, sekaligus menguatkan tekadku.

Kupikir, sisa waktu dalam hidupku seharusnya tidak diakhiri dengan kematian yang begitu menyakitkan.

Aku menatap cincin kawin di jari manisku, lalu perlahan melepasnya dan meletakkannya di samping surat cerai. Surat wasiatku sendiri kugenggam, kuremas hingga kusut, lalu kubuang ke tempat sampah ....

Aku mengganti pakaian dengan gaun putih, merias wajah dengan rapi, lalu mengemudikan mobil meninggalkan rumah yang dulu pernah kusebut sebagai rumahku.

Aku ingin pergi berlibur dan melihat matahari terbit di pegunungan bersalju.

Mobil melaju terus ke depan, melewati pinggir laut.

Namun, tepat saat aku hendak berbelok, sebuah truk tiba-tiba muncul dalam pandanganku.

Pria di kursi kemudi tertutup rapat, hanya menyisakan sepasang mata yang menatap dingin.

Saat aku melintasi Jembatan Samudra, truk itu mendadak melaju kencang dan menghantam mobilku dengan brutal!

Aku terdorong hingga menabrak pagar pembatas. Diiringi suara dentuman keras, mobilku tenggelam dengan cepat ke dalam air laut!

Hidupku ini sungguh tragis, bahkan keinginan kecil untuk pergi ke gunung salju di saat terakhir pun tidak tercapai.
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
18 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status