Share

Bab 5

Author: Wanita
Wajah Yosef sedikit menegang. Dengan ekspresi suram, dia mengambil surat wasiat yang sudah kusut karena kugenggam berkali-kali. Tatapannya menyapu cepat isinya, lalu berhenti di bagian tanda tangan. Untuk pertama kalinya, wajahnya yang selalu tenang menunjukkan perubahan.

Aku menatap reaksinya lekat-lekat dengan hati gelisah. Namun, dia tiba-tiba tertawa sinis dan membanting surat itu ke atas meja. Dia bergumam sendiri, "Shofia, kamu beneran makin pintar ya. Demi nipu aku, kamu bahkan berani bikin surat wasiat segala."

Aku menatapnya dengan wajah datar, tapi jauh di lubuk hati muncul rasa dingin yang menjalar. Bagaimanapun juga, kami sudah hidup bersama selama lima tahunan. Dia tahu betul aku bukan tipe orang yang suka cari ribut tanpa alasan, tapi dia tidak punya rasa percaya sedikit pun padaku.

Aku mencoba menenangkan emosiku. Aku membatin, kalaupun dia percaya, terus kenapa? Dia sudah menegaskan sikapnya, lebih baik aku mati saja!

Yosef menuangkan segelas air lalu menenggaknya habis, seolah berusaha meredam emosinya sendiri. Saat meletakkan gelas, tatapannya refleks kembali jatuh pada surat wasiat itu. Seakan teringat sesuatu, dia mengeluarkan ponsel dan memeriksanya, tapi tetap tidak ada pesan apa pun.

Dia mengernyit, lalu mencoba meneleponku.

Belum sempat suara operator yang memberitahu bahwa ponselku mati selesai bicara, dia langsung mematikan telepon. Rasa tidak sabar di wajahnya makin terlihat jelas.

Matanya memerah saat menatap layar ponsel tanpa berkedip. Sementara aku berdiri di sampingnya, menatapnya dengan ketenangan yang aneh.

Kemudian, dia membuka kolom pesan. Jarinya menari cepat di atas papan ketik dan mengirimkan sebuah kalimat yang sangat dingin.

[Shofia, aku kasih kamu satu kesempatan terakhir. Sekarang juga balik ke rumah, kalau nggak, jangan pernah balik selamanya! Kalau berani mati aja di luar sana, biar aku pertimbangkan buat urus jenazahmu!]

Setelah pesan terkirim, dia menunduk sambil terus memilin daun telinganya. Itu adalah kebiasaan yang dia lakukan saat sedang merasa tegang.

Aku tahu, dia sedang menunggu balasanku. Tapi, dia tidak akan pernah mendapatkannya.

Aku berdiri di sampingnya, menatapnya dengan dingin dan tertawa mengejek. Jenazahku bahkan belum ditemukan sampai sekarang. Mungkin sudah hanyut entah ke mana terbawa arus laut, atau sudah habis dimakan ikan. Dia tidak akan punya kesempatan untuk mengurus jenazahku.

Yosef terus menatap layar ponselnya. Seolah merasa belum cukup, dia mengirim pesan tambahan,

[Jangan mimpi bisa narik perhatianku pakai cara kayak gini. Kamu ... nggak pantas!] Wajahnya terlihat sangat kaku dengan tatapan muak yang tidak ditutup-tutupi.

Nggak pantas?

Selama tahun-tahun ini, akulah yang membawanya masuk ke perusahaan, mengajarinya urusan bisnis, hingga membuatnya menjadi sosok Pak Yosef yang dihormati semua orang seperti sekarang.

Awalnya aku berpikir, meskipun dia tidak punya rasa cinta padaku dalam kehidupan sehari-hari, setidaknya dia akan merasa berterima kasih dalam hal karier. Tidak kusangka yang kudapat justru kebencian. Ironis sekali.

Benar juga, di matanya semua pengorbananku pasti dianggap punya maksud terselubung. Aku mendadak sadar kalau aku tidak lagi merasa sedih karena kata-katanya yang keterlaluan. Rasa sedih itu kini berganti menjadi rasa muak kepadanya.

Yosef menunduk melihat kemejanya yang sudah kusut. Kerutan di dahinya makin dalam, lalu dia pergi ke lantai atas.

Sejak menikah, kami selalu tidur di kamar terpisah. Dia tidur di sisi kiri tangga, sedangkan aku di ujung sisi kanan. Kamar kami berjauhan.

Aku menebak dia mau kembali ke kamarnya untuk ganti baju, jadi aku bersiap belok ke kiri. Tapi, dia mendadak berhenti di depan tangga dan menatap tajam ke arah kamarku. Detik berikutnya, dia malah berjalan menuju kamarku.

Aku mengikutinya diam-diam sambil merasa heran. Dua tahun pertama pernikahan, aku sudah mencoba segala cara agar dia mau datang ke kamarku, tapi dia tidak pernah masuk sekali pun. Setiap saat dia hanya menatapku muak, "Shofia, kamu segitu pengennya sama laki-laki ya? Nggak punya malu?"

Hari ini sungguh langka, dia justru masuk ke kamarku atas kemauannya sendiri.

Saat aku masih melamun, dia sudah memutar kenop pintu dan masuk ke dalam.

Aku menyusul di belakangnya. Penataan di dalam kamar masih rapi dan teratur. Di tengah kepala ranjang terpajang foto pernikahan kami. Itu satu-satunya foto berdua yang kami punya, dan saat ini foto itu terlihat sangat menyakitkan mata.

Dia berdiri di dalam kamar dengan tatapan yang menyisir ke segala arah, seolah sedang mencari sesuatu.

Dia masuk ke kamar mandi, menatap sepasang perlengkapan mandi di sana, bahkan mengambil dan memeriksanya dengan teliti. Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan. Aku tidak mengerti tindakannya, apalagi menebak isi pikirannya.

Kemudian, dia berbalik menuju ruang ganti. Tatapannya melewati perhiasan yang tersimpan rapi di dalam lemari kaca.

Akhirnya, pandangannya tertuju pada lemari pakaian.

Aku menatapnya heran saat dia membuka lemari itu. Di dalamnya hanya berkurang beberapa potong pakaian musim gugur. Gaun-gaun lainnya termasuk tas masih tersimpan lengkap di tempatnya. Dia menatap lemari itu lalu tiba-tiba tertawa. Tawa yang penuh dengan sindiran dan penghinaan.

"Sudah kuduga, Shofia. Aktingmu bener-bener jelek."

Aku tertegun sejenak, lalu segera paham maksud ucapannya. Barang-barang di kamar tidak ada yang berkurang, jadi dia yakin kalau aku hanya sedang bersandiwara.

Namun, dia tidak tahu kalau bagi orang yang hidupnya tidak akan lama lagi, membawa semua barang itu tidak ada gunanya. Itulah sebabnya saat pergi aku hanya membawa dua setel pakaian ganti.

Aku tidak tahu harus menangis atau tertawa. Pertama kalinya dia bersikap sangat perhatian padaku, ternyata hanya untuk membuktikan "kebohonganku". Sungguh malang nasibnya.

Mungkin karena dugaannya sudah "terbukti", Yosef keluar dari kamarku dengan langkah yang tampak ringan.

Begitu turun ke bawah, dia melihat Bi Yayah datang membawakan camilan malam. Yosef melihat bubur yang disiapkan Bi Yayah, lalu alisnya sedikit berkerut, "Nggak bikin sup pereda mabuk?"

Bi Yayah ragu sejenak lalu menjawab hati-hati, "Maaf Pak Yosef, gimana kalau saya buatkan air madu saja? Itu juga bisa bantu ngilangin mabuk."

Wajah Yosef datar saja saat dia menjawab pelan, "Nggak usah. Nanti cari tukang kunci buat ke sini, ganti lubang kunci pintu depan."

Tangan Bi Yayah yang sedang menaruh bubur terhenti. Dia menatap Yosef dengan terkejut, "Ganti ... kunci?"

"Bukannya Shofia nggak mau balik? Ya sudah, ganti saja kuncinya biar dia puas tinggal di luar," ujar Yosef dingin.

Aku yang berdiri di sampingnya merasa campur aduk mendengar itu.

Tenang saja. Bahkan tanpa mengganti kunci pun, aku memang tidak akan pernah kembali.

Yosef duduk di meja makan dan mencicipi buburnya sedikit. Alisnya mengernyit, lalu dia mengambil tisu sambil mengusap sudut bibirnya dan bertanya, "Bi Yayah, kok bubur ini rasanya beda sama yang sebelumnya?"

Bi Yayah yang belum berjalan jauh segera berbalik dan melangkah cepat kembali. Dia ragu sejenak, hingga akhirnya memberanikan diri untuk bicara pelan, "Pak Yosef, sejujurnya camilan malam selama ini yang masak ibu, sup pereda mabuk juga."

Dia mengangkat pandangan untuk melirik pria di depannya, lalu lanjut bicara, "Ibu tahu lambung Bapak nggak bagus, makanya urusan makanan, ibu selalu turun tangan sendiri. Dia takut Bapak nggak mau makan kalau tahu itu masakannya, jadi setiap saat dia selalu bilang kalau itu saya yang masak."

Yosef tidak menjawab. Wajahnya seperti dilapisi es tipis, matanya yang gelap berkilat dingin, seolah sedang menekan sesuatu di dalam dirinya.

Apa dia merasa makanan buatanku itu menjijikkan? Aku membatin sambil mengejek diri sendiri.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengangkatnya dan melihat nama di layar. Seketika ekspresinya menjadi lebih suram. Aku melirik layar itu dan terkejut.

Itu Silvia, sahabat baikku sekaligus orang yang paling mengenalku.

Di bawah tatapanku, Yosef akhirnya menekan tombol jawab.

Di ujung telepon, suara Silvia terdengar sangat cemas dan khawatir.

"Yosef, ini Silvia. Shofia di mana? Aku nggak bisa hubungi dia dari tadi, makanya aku terpaksa telepon kamu!"
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 18

    Setelah mematikan telepon, Yosef langsung mencabut jarum infus. Dia mengabaikan bujukan Bi Yayah dan bersikeras untuk keluar, lalu langsung naik taksi menuju kantor polisi.Petugas polisi menyerahkan sebuah kantong berisi barang-barang kepada Yosef. Dia tampak termenung menatap barang-barang di tangannya.Polisi itu melanjutkan, "Pelaku utama pembunuhan istri Anda bernama Wina. Dialah yang menyuruh Yulius Candra membuntuti istri Anda, lalu sengaja menabrak mobil Ibu Shofia hingga jatuh ke bawah jembatan, menciptakan ilusi kematian akibat kecelakaan.""Menurut pengakuan tersangka, Yulius ini adalah sepupu Wina ....""Nggak mungkin Wina, kalian ... apa salah orang?" wajah Yosef membiru, dia spontan membantah.Bahkan sampai titik ini, dia masih berusaha membela Wina.Kemudian kudengar dia bergumam, "Jadi, aku yang mencelakainya ...." suaranya terlalu pelan sampai aku tidak mendengar jelas sisanya.Polisi itu mengangguk yakin, "Pak Yosef, Wina sudah mengaku. Menurut pengakuannya, dia membu

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 17

    Setelah pemakaman, Yosef rutin berangkat ke kantor tepat waktu seperti biasa. Sepintas terlihat normal, hanya saja ada kesan ganjil yang menyelimuti kenormalan itu.Setiap pagi dia mengenakan pakaian yang dulu kusiapkan untuknya. Dia menyuruh Bi Yayah menyiapkan makan siang seperti dulu, bahkan sampai detail kemasan dan jenis hidangannya harus persis sama seperti saat aku masih hidup, meskipun rasanya jelas berbeda.Terkadang di sela-sela rapat yang sibuk, dia tiba-tiba memanggil Heni dan bertanya pelan apakah ada telepon masuk atau kiriman untukku.Nada bicara Yosef sangat lembut, wajahnya penuh harap, tidak ada lagi kesan tidak sabaran seperti dulu.Setiap kali Heni dengan hati-hati mengingatkannya bahwa aku sudah tidak ada, Yosef akan memotongnya dengan tatapan dingin.Dia mulai sering menelepon nomor ponselku yang tidak akan pernah aktif lagi, berbisik pada udara kosong seolah aku benar-benar bisa mendengarnya.Pria yang dulu selalu sibuk itu, sekarang langsung bergegas pulang begi

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 16

    Yosef tampak sangat lelah. Entah karena belum sadar sepenuhnya atau apa, dia tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun atas perkataan polisi.Cukup lama kemudian, barulah dia bertanya pelan, "Siapa yang membunuhnya?"Kedua polisi itu sepertinya menyadari kalau Yosef terlalu tenang. Mereka menatap tajam setiap gerak-gerik Yosef untuk mencari petunjuk, tapi Yosef hanya balas menatap dengan datar, seolah-olah dia benar-benar hanya orang asing yang menonton kejadian ini."Kami masih menyelidiki pelakunya. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan. Di mana Bapak berada pada pagi hari saat istri Bapak menghilang?" tanya polisi dengan raut serius.Yosef sedikit mengernyit, seolah mulai nggak sabar sama pertanyaan itu, "Lagi istirahat." Nadanya benar-benar tanpa emosi.Para polisi saling lirik, jelas nggak puas sama jawaban Yosef. Mereka lanjut mendesak, "Pak Yosef, Bapak dan Ibu Shofia sempat bertengkar hari sebelumnya. Terus pas tahu istri Bapak nggak ada, masa Bapak nggak kepikiran buat

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 15

    Yosef mendadak duduk tegak. Dia menggenggam ponselnya kuat-kuat, suaranya terdengar serak, "Kamu yakin? Beneran dia?"Di seberang telepon, nada bicara terdengar berat, "Pak Yosef, harap tabah! Saat ini Bapak perlu segera datang ke kantor polisi."Setelah telepon ditutup, tangan Yosef yang memegang ponsel tidak kunjung turun. Seluruh tubuhnya seolah-olah kehilangan tenaga, dia duduk terpaku di atas ranjang.Tiba di kantor polisi, baru saja Yosef melangkah masuk ke ruang jenazah, suara "plak" yang nyaring terdengar. Sebuah tamparan keras dari Silvia mendarat telak di wajahnya.Dia sama sekali tidak bersiap, hingga terhuyung mundur dua langkah sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak.Para petugas polisi di sekitar pun terkejut melihat kejadian mendadak itu. Mereka saling pandang dan suasana seketika membeku.Mata Silvia merah dan bengkak, wajahnya penuh jejak air mata. Dia menatap tajam pria di depannya dengan penuh kemarahan, "Yosef, kamu! Kamu yang sudah bikin Shofia mati!"Sambil bicar

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 14

    Yosef tidak memperhatikan kotak-kotak itu. Dia sibuk melonggarkan dasinya sendiri lalu menuangkan segelas air. Namun, saat dia mengangkat gelas tersebut, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat keruh.Aku mengikuti arah pandangannya. Terlihat kotak-kotak kardus itu penuh berisi pakaian, perlengkapan mandi, dan barang-barang elektronik milikku. Barang pribadiku dikemas begitu saja dengan sembarangan, seolah-olah aku tidak pernah ada di rumah ini.Saat itu, Wina menggerakkan kursi rodanya keluar dari arah lift. Senyum puas terlukis di wajahnya. "Yosef, kamu akhirnya pulang juga. Aku tunggu kamu lama banget."Yosef menatapnya dengan dingin. Suaranya menyiratkan kemarahan. "Ini semua apa maksudnya?"Wina menunjuk kardus-kardus itu dengan santai. "Oh, yang ini? Aku pikir kalian 'kan mau cerai, barang-barangnya juga nggak perlu disimpan lagi. Jadi aku minta pembantu beresin sekalian."Dia mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang sangat wajar. Dia bersikap layaknya nyonya rumah. Namun,

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 13

    Setelah menutup telepon, dia menoleh ke arah Wina. Bayangan kelam di wajahnya belum sepenuhnya hilang, nadanya terdengar dingin. "Wina, aku harus ke kantor polisi. Kamu istirahat yang baik di rumah.""Apa terjadi sesuatu sama Shofia?"Entah itu hanya perasaanku saja, tapi aku merasa saat Wina menanyakan hal itu, tatapan matanya tampak goyah dan gelisah.Kilatan ejekan melintas di wajah Yosef, dia mendengus dingin, "Dia? Aku malah berharap dia benar-benar kena musibah."Sudah sampai di tahap ini pun, dia masih saja menyumpahiku! Seberapa besar rasa bencinya padaku, sampai-sampai dia sangat tidak menginginkan hal baik terjadi padaku?Aku menahan rasa jijikku pada Yosef dan mengikutinya ke kantor polisi.Baru saja sampai di depan gerbang kantor polisi, Silvia pun tiba. Mereka berdua yang memang tidak pernah akur, saat ini bahkan tidak sudi bertukar sepatah kata pun dan langsung berjalan masuk ke dalam.Begitu masuk, seorang polisi langsung membimbing mereka menuju ruang identifikasi jenaz

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status