Home / Romansa / Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris / Bab 12 : Cinta Pertama Xander

Share

Bab 12 : Cinta Pertama Xander

Author: Amoora bee
last update publish date: 2026-07-08 22:30:07

Jenny menatap kedua wanita yang terus berjalan mendekat ke arahnya. 

 

"Kak Meta... Sandra," sapa Jenny lirih.

 

Meta menatap Jenny dengan pandangan tajam penuh selidik, seolah menanti penjelasan. "Jenny, kenapa kamu bisa ada di butik pengantin bersama Pak Xander?" tanya Meta beruntun.

 

Xander segera berdiri dari sofa. Langkah kakinya yang tegas langsung mengambil posisi berdiri tepat di samping Jenny, seolah memasang barikade pelindung. Sorot matanya tak kalah tajam dari Meta. "Apa ada masalah jika Jenny berada di sini bersama saya?"

 

"Oh, bukan begitu maksud saya, Pak." Meta buru-buru mengubah ekspresinya menjadi lebih sopan dan menunduk hormat kepada Xander. "Saya hanya ingin memastikan model saya tidak terlibat skandal apa pun. Mengingat Jenny saat ini terikat kontrak sebagai brand ambassador eksklusif untuk beberapa merek besar."

 

Xander mengangguk singkat, menerima alasan profesional Meta. Ia kemudian melirik Jenny yang terlihat pucat, lalu kembali menatap Meta. "Saya yang membawa Jenny ke butik ini," ujar Xander santai. Tidak ada gumpalan panik sama sekali di wajahnya, berbanding terbalik dengan Jenny yang sudah hampir jantungan.

Meta dan Sandra saling lempar pandang, semakin kebingungan dengan situasi ini. Sandra terutama, menatap sahabatnya dengan rentetan tanda tanya besar di kepalanya.

 

"Saya akan segera menikah," umum Xander tanpa beban.

 

Jenny mencengkeram ujung jas Xander dari belakang, matanya melotot memperingatkan. Xander, apa yang kamu lakukan?! batinnya menjerit panik.

 

Meta dan Sandra spontan melebarkan mata mereka. "Pak Xander... akan menikah?" tanya Meta hati-hati, memastikan pendengarannya tidak salah.

 

Xander menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sangat kentara palsunya di mata Jenny. Tatapannya jatuh pada gaun putih gading yang melekat di tubuh molek Jenny. "Benar. Karena itu, saya meminta bantuan Jenny secara pribadi untuk mencoba gaun ini."

 

"Maksud Pak Xander?" Kerutan di dahi Meta semakin dalam. Ia ikut menatap gaun yang melekat di tubuh Jenny. "Pak Xander akan menikah dengan wanita lain, tetapi meminta Jenny yang mencoba gaunnya?"

 

Xander memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Ekspresi wajahnya kembali berubah sedingin es, seolah ia sedang terpaksa mengarang skenario yang menyebalkan demi melindungi sesuatu.

 

"Calon istri saya saat ini sedang berada di luar negeri," alibi Xander, mengembuskan napas pendek. "Ukuran tubuhnya kebetulan mirip dengan Jenny. Karena pernikahan kami sudah dekat dan dia tidak bisa pulang untuk fitting, saya meminta tolong pada Jenny."

 

Jenny membeku mendengar kebohongan yang meluncur lancar dari mulut Xander. Logikanya tahu pria itu sedang membuat skenario instan agar kariernya sebagai brand ambassador aman dari gosip. Namun, entah mengapa, mendengar kata "calon istri di luar negeri" membuat ulu hatinya mendadak terasa sesak dan tidak nyaman. Padahal, seharusnya ia merasa lega karena rahasia mereka aman.

 

Sandra yang dasarnya memang memiliki tingkat kekepoan tinggi, langsung melangkah maju tanpa rasa takut. "Wah, jadi Pak Xander diam-diam sudah punya calon istri?"

 

"Ya," jawab Xander singkat dan super dingin. Raut wajahnya berubah menjadi sangat menyebalkan, tipikal CEO yang tidak suka urusan pribadinya diusik.

Jenny yang masih berdiri di dalam balutan gaun pengantin hanya bisa membatin kesal. Calon istri di luar negeri katanya? Sialan, aktingnya bagus sekali. Semakin Jenny memikirkan kebohongan itu, hatinya justru semakin dongkol.

 

"Acaranya kapan, Pak?" tanya Sandra, terlihat paling bersemangat memburu informasi, yang entah kenapa membuat tingkat kekesalan Jenny naik satu level lagi.

 

"Sebentar lagi," potong Jenny cepat dengan nada suara yang agak meninggi.

 

Sandra menoleh ke arah sahabatnya. "Kamu kenal dengan calon istri Pak Xander, Jen?"

 

"Sangat kenal," sahut Xander cepat, sengaja memotong agar interogasi tidak melebar ke mana-mana. Ia menatap lurus ke arah Meta dan Sandra dengan pandangan mengusir yang kentara. "Sekarang, bisa minta tolong berikan saya ruang pribadi untuk menyelesaikan urusan ini?"

 

Meta yang peka langsung menyadari bahwa mereka sudah melangkah terlalu jauh ke dalam privasi keluarga William. Ia tersenyum canggung dan segera menarik lengan Sandra kuat-kuat. "Selamat atas rencana pernikahannya, Pak. Kalau begitu, kami permisi dulu," pamit Meta sopan sebelum menyeret Sandra keluar dari butik.

 

Begitu pintu butik tertutup rapat, Vero dan Ryan yang sejak tadi menahan napas di sudut ruangan langsung mengembuskan napas lega secara serentak. Mereka terpukau dengan cara bos mereka membalikkan keadaan dalam sekejap.

Namun, kelegaan itu tidak menular pada Jenny. Entah mengapa, suasana hatinya justru merosot tajam. Wajah cantiknya berubah menjadi sangat murung.

 


Setelah seluruh proses fitting dan pemilihan jas selesai, Xander menyuruh Ryan untuk mengantar Vero pulang bersama. Pria itu menyadari ada perubahan drastis pada sikap Jenny semenjak kepergian Meta dan Sandra dari butik tadi.

 

Di dalam kabin mobil yang hening, beberapa kali Xander melirik ke arah kursi penumpang. Memastikan wanita di sampingnya baik-baik saja.

 

Sangat aneh. Biasanya, jika mereka hanya berdua, Jenny akan mencari segala celah untuk memancing keributan atau berdebat dengannya. Namun malam ini, Jenny memilih diam seribu bahasa, menatap kosong ke arah lampu-lampu jalanan metropolitan yang berpendar di luar jendela.

 

"Kenapa diam?" tanya Xander memecah keheningan. Rasa curiganya mulai terusik.

 

"Enggak apa-apa. Lagi males bicara," sahut Jenny tanpa menoleh.

 

"Bohong."

 

"Aku enggak bohong," bantah Jenny ketus.

 

Xander menyembunyikan senyuman tipis dari wajahnya. Ia tetap mempertahankan ekspresi kaku andalannya. "Kalau gitu, berhenti cemberut."

 

Jenny memilih bungkam. Ia benar-benar tidak memiliki energi lagi untuk berdebat dengan Xander. Hari ini terasa teramat menguras emosinya. Rasa sedihnya saat berkunjung ke makam orang tuanya belum sepenuhnya hilang, dan sekarang, muncul lagi perasaan tidak nyaman baru di dalam hatinya. Sebuah perasaan asing yang bahkan tidak mampu ia cerna dengan logikanya sendiri.

 

Setelah beberapa menit terjebak dalam keheningan dan pikirannya sendiri, rasa penasaran Jenny terhadap pria di sampingnya mendadak muncul ke permukaan.

 

"Xander," panggil Jenny.

 

"Hm?"

 

"Kamu... pernah punya pacar sebelum ini?" tanya Jenny, mencoba terdengar se-santai mungkin.

 

Xander menoleh sekilas ke arah Jenny, dahinya sedikit berkerut heran. "Kenapa tiba-tiba tanya?"

 

"Ya... cuma pengen tahu aja." Jenny membetulkan posisi duduknya, berpura-pura tidak terlalu peduli. "Aku cuma penasaran. Selama ini tidak pernah ada satu pun berita atau gosip kedekatanmu dengan wanita mana pun di media."

 

Melihat Xander tidak langsung merespons, Jenny kembali memancing. "Apa mantan pacarmu dulu cantik?"

 

"Nggak tahu," jawab Xander datar. Ia tampak sangat enggan dan malas membicarakan masa lalu.

 

Jenny mengernyit, menganggap jawaban itu sangat tidak masuk akal. "Hah? Kok nggak tahu?"

 

"Aku nggak pernah memperhatikan wajahnya secara detail," jawab Xander santai, fokusnya kembali ke jalanan depan.

Kerutan di dahi Jenny semakin dalam. "Terus ngapain pacaran kalau gitu?"

 

Xander hanya terdiam dan mengembuskan napas panjang. Ia benar-benar tidak paham mengapa malam ini ia harus menghadapi sesi interogasi mendadak mengenai kehidupan asmaranya di masa lalu.

 

Jenny langsung memutar tubuhnya menghadap Xander, menatap pria itu dengan intens. "Apa dia... cinta pertamamu?"

 

Xander terdiam selama beberapa detik. "Bukan."

 

Jenny menyipitkan matanya. Kehidupan pribadi seorang Xander ternyata jauh lebih misterius daripada yang ia duga. "Kalau gitu, siapa cinta pertamamu?"

 

Xander kembali bungkam. Mobilnya perlahan berhenti dengan mulus di depan lampu merah yang menyala. Selama beberapa detik yang menegangkan, tidak ada jawaban apa pun yang keluar dari belahan bibirnya.

 

"Kenapa diam aja? Siapa orangnya?" protes Jenny, terus mendesak karena tidak sabar menunggu jawaban.

 

Xander akhirnya memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Jenny. Sorot mata cokelatnya mendadak terasa begitu dalam dan sulit untuk dibaca, mengunci pandangan Jenny sepenuhnya hingga membuat wanita itu mendadak salah tingkah dan menahan napas.

 

"Sejak kapan kamu mulai peduli dengan kehidupanku?" tanya Xander dengan suara rendah yang mengintimidasi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 131 : Perintah Itu

    Sandra berdiri di depan ruangan tim legal. Ia menatap pintu ruangan itu dengan dahi mengernyit. Sepanjang karir nya sebagai model, dia tidak pernah diminta langsung bertemu dengan bagian legal perusahaan.Tok. Tok. TokPintu ruangan terbuka. Kepala tim legal dan HRD agensi sudah menantinya.“Pagi,” sapa Sandra tepat ketika pintu terbuka. Ia melangkah masuk, dan duduk dengan gerakan tenang dan anggun. “Saya mendapat pesan panggilan pertemuan dengan tim legal. Ada urusan apa, ya?”Sang HRD menggangguk membenarkan pesan pertemuan pagi itu. Ia menyodorkan sebuah map ke meja Sandra. “Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan dengan Mbak Sandra, silahkan dibaca lebih dahulu.”Sandra tidak langsung membuka map itu. Ia hanya menyentuh permukaa map, lalu kembali menatap HRD selama beberapa detik. Perasaannya mulai tidak karuan, menyadari ada sesuatu yang salah.“Silahkan dibaca terlebih dahulu, Mbak,” tegur HRD sekali lagi.Tanpa pikir lama, Sandra langsung membuka map itu. “Hah?!” matanya t

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 130 : Pintar

    Menjelang malam akhirnya mereka telah kembali ke Indonesia. Jenny turun dari pesawat dengan wajahnya yang masih mengantuk berat, padahal sepanjang perjalanan dia sudah tidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Xander yang tetap terlihat kesal dan dingin.Meta dan Vero sudah menunggunya di bandara. Begitu melihat sosok Jenny, Meta langsung melangkah maju dengan wajah serius. “Jen, setelah sampai di rumah kita perlu bicara.”Jenny mengerutkan dahinya. “Ada apa, Kak?” tanyanya santai, dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.Meta menyamai langkah Jenny, dan berdiri di samping pintu mobil. “Produser reality show-mu menghubungiku.”“Soal?”Meta menghela napas pendek. “Mereka mulai mempertanyakan status pernikahanmu. Sekarang pulang dulu, kita lanjut di rumahmu.” Meta langsung menutup pintu mobil Jenny, dan beralih ke mobil perusahaan.Sepanjang perjalanan pulang, Jenny beberapa kali menguap, lalu sibuk memakan camilan ringan yang khusus disiapkan Vero untuknya. Sementara Xander mulai sibuk meme

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 129 : Tetap Santai

    Setelah seluruh pekerjaan Xander selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pagi menjelang siang Jenny, Xander dan Ryan sudah berada di dalam private jet William Group.Pesawat sudah lepas landas. Xander dan Ryan kembali bekerja di dalam pesawat, memeriksa beberapa berkas dan membahas hasil kontrak dengan investor.Sementara Jenny menatap kedua pria itu dengan tatapan sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya. “Kalian enggak bosan bekerja terus? Aku di sini berasa cuma jadi pajangan.” Tangan Jenny seketika menutup laptop milik Xander.“Lah aku kan memang kesini buat bekerja, bukan buat santai-santai, Sayang,” balas Xander, tangannya kembali membuka layar laptopnya tanpa memperhatikan wajah Jenny.“Xander!” Jenny langsung menarik laptop dari meja Xander, memindahkannya ke meja Ryan. “Emang enggak kerja beberapa jam saja bisa bikin kamu bangkrut kah?! Aku jauh-jauh nyusulin kamu, cuma dianggurin, disuruh lihat kamu kerja terus.”Xan

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 128 : Baru Permulaan

    “Sayang, permintaanmu enggak masuk akal.”Jenny langsung mengerucutkan bibirnya. Kedua tangannya berkacak pinggang. “Kenapa enggak masuk akal? Kamu kan bisa melakukan apapun demi istri dan anakmu.”“Ya enggak mungkin bisa adopsi Koala, kalau kamu mintanya ikan, anjing, hamster atau apapun itu aku bisa usahakan. Kalau koala ya mana mungkin sih?” Xander berusaha menyadarkan logika Jenny yang mula tersesat.“Kamu enggak mau berjuang buat kita berarti.”Xander memijat pelipisnya. Baru beberapa menit matanya terbuka, tapi istrinya sudah mulai mencari masalah yang sangat tidak bisa dinalar. “Aku belikan boneka koala yang banyak.” Xander menyibakkan selimut, berpikir masalah sudah teratasi.“Aku mau yang asli, yang bisa dipeluk.”“Enggak bisa, Jenny Wong.”“Xander!” pekik Jenny tetap tak mau kalah. Ia pun sebenarnya juga tak paham mengapa pagi itu sangat ingin memelihara koala. Sebuah ide yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Pokoknya aku mau koala, titik!”Xander langsung

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 127 : Serba Salah

    Begitu tiba di kamar hotel, Jenny langsung menuju ke kamar mandi. Ia membersihkan diri jauh lebih cepat dari biasanya. Tidak sampai setengah jam, Jenny sudah keluar dengan piyama tidurnya.“Xander… aku capek,” rengeknya manja, lalu memeluk pinggang suaminya dari belakang.Xander yang sedang membongkar koper Jenny, langsung berhenti. Ia membalikkan badannya, memeluk Jenny dan mencium keningnya beberapa kali. “Ya udah ayo istirahat sekarang.”“Gendong…” bisik Jenny lirih, sambil menempelkan pipinya ke dada Xander.Xander terkekeh kecil. Dua hari terakhir kamarnya terasa begitu sepi, tetapi malam ini sudah kembali ramai oleh rengekan manja istrinya. Perlahan ia menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Jenny dan satu lagi menopang punggungnya, lalu mengangkat istrinya menuju ranjang.Ia merapikan rambut Jenny yang menutupi wajah. “Sayang, kamu kesini bukan karena berita gila itu kan?” tanya Xander demi memastikan kondisi istrinya.“Hah? Bukan lah!” Jenny mengerucutkan bibirnya, menahan kesa

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 126 : Suamiku Galak

    Bandara internasional cukup ramai siang itu.Jenny duduk sendirian di salah satu restoran, mengenakan setelan pakaian sederhana tetapi tetap terlihat mencolok. Kacamata hitam bertengger di atas kepalanya, sementara tangannya sibuk menyendok makanan.“Itu Jenny Wong kan?” bisik seseorang.Beberapa orang di meja mulai ramai berbisik.“Iya.”“Beneran sendirian?”“Iya. Berarti benar dong berita yang beredar. Padahal menikahnya masih barusan.Seseorang diam-diam mengangkat ponsel dan mulai mengambil foto Jenny.Tak lama kemudian, sebuah unggahan muncul di media sosial.“Jenny Wong terlihat sendirian di bandara setelah muncul rumor. Benarkah rumah tangganya dengan pewaris tunggal William Grup bermasalah?”Foto Jenny yang sedang makan langsung menyebar dengan cepat. Komentar pun kembali berdatangan.“Kasihan banget.”“Kayaknya mereka benar-benar pisah.”“Mereka sudah jarang terlihat tampil bersama.”“Jangan-jangan sudah bercerai?!”Sementara orang-orang sibuk membuat kesimpulan sendiri, Jenn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status