Share

Bab 24 : Rahasia Xander

Author: Amoora bee
last update publish date: 2026-07-10 19:42:49

Jenny mendorong pintu kayu itu dengan gerakan yang teramat pelan. Ujung jemarinya bergetar hebat saat menyentuh permukaan kayu. Begitu celah pintu melebar, matanya membelalak sempurna menatap seisi ruangan. Persendian lututnya mendadak terasa lemas, kehilangan kekuatan dalam sekejap ketika melihat barisan foto dirinya memenuhi hampir seluruh permukaan dinding ruangan tersebut. Tidak berhenti sampai di sana, pandangannya menyapu ratusan artikel koran tentang dirinya, bahkan tabloid edisi pertamanya saat memulai karier pun tersusun rapi di atas rak.

 

Xander segera menoleh begitu mendengar langkah kaki di belakangnya. Kelopak matanya melebar sempurna, mendapati Jenny sudah berdiri kaku di dalam ruangan rahasianya.

 

“Jenny... keluar!” Xander melangkah cepat, langsung menggenggam lengan Jenny untuk menarik wanita itu keluar dari dalam wilayah pribadinya.

 

Jenny menyentak lengan Xander dengan gerakan kasar hingga terlepas. Ia menatap pria di hadapannya dengan pandangan nanar. “Apa maksud semua ini, Xander?” tanya Jenny, nada suaranya bergetar menahan desakan emosi. “Kenapa... kenapa semua barang ini ada di sini?!”

 

Pandangan Jenny menyapu foto dirinya saat masih remaja mengenakan seragam sekolah, foto saat dirinya sedang menangis, tertawa lepas, dan berbagai kilasan visual yang terasa mengorek privasinya.

 

“Jen... aku bisa jelaskan semuanya,” ujar Xander, dengan tatapan hancur. “Jenny, tolong dengerin aku dulu,” sambungnya sembari berusaha kembali meraih jemari Jenny.

 

“Jangan sentuh aku!” teriak Jenny, melangkah mundur menghindar. “Apa maksud semua ini?! Kenapa kamu menyimpan foto-fotoku? Kenapa?!” Pertahanannya runtuh, air matanya menetes membasahi pipi seiring tubuhnya yang bergetar.

 

“Kenapa kamu punya fotoku saat masih sekolah?! Kenapa ada foto saat aku makan di cafe?! Kenapa ada foto saat aku pertama kali ikut audisi model?! Kenapa...” Jenny mengarahkan jari telunjuknya pada setiap bingkai yang tertata rapi di dinding. “Dari mana kamu mendapatkan ini semua, Xande?!” pekik Jenny dengan air mata yang terus mengalir.

 

Xander menatap Jenny dalam bungkam. Gurat rasa bersalah yang teramat besar menggelayuti wajah kakunya. Ia tahu tindakannya telah menggoreskan luka yang dalam di hati istrinya. “Maafkan aku, Jen.” Xander mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang gemetar. “Aku salah, Jen... aku salah.”

 

Jenny terus melangkah patah-patah menyusuri setiap sudut ruangan terlarang itu. Beberapa kali ia refleks menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan, menggelengkan kepala karena menolak mempercayai visual di depannya.

 

“Maaf, Jen... aku bisa jelaskan semuanya,” ujar Xander dengan ritme napas yang memburu pendek. “Aku... aku melakukan ini semua sejak kamu menginjak usia lima belas tahun,” ucapnya dengan suara yang melubangi keheningan.

 

“Lima belas tahun?” Jenny mengulangi kalimat itu, suaranya tercekat di tenggorokan.

 

Xander mengembuskan napas panjang yang terasa teramat berat, sebelum akhirnya memilih untuk membuka seluruh kartu rahasianya. “Iya. Sejak aku pindah sekolah di London, aku menyewa orang untuk memantau dari jauh. Awalnya aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik aja. Tapi seiring berjalannya waktu, aku malah terbiasa dengan semua ini.” Xander kembali mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku selalu ingin menjagamu dengan caraku sendiri, Jen. Aku tahu cara ini salah,” akunya lirih.

 

Jenny melangkah mundur beberapa tapak, lalu menumpu bobot tubuhnya yang hampir limbung pada sandaran meja kerja di dekatnya. “Jadi... kamu tahu semua hal yang terjadi di hidupku sejak aku umur lima belas tahun?”

 

“Iya.”

 

“Kamu tahu saat aku bolos sekolah? Kamu tahu saat aku kabur dari rumah Tante karena bertengkar? Kamu tahu semua hal itu?” desak Jenny, memastikan bahwa ia tidak sedang terjebak di dalam mimpi buruk.

 

Xander hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pasrah, menolak menyuarakan pembelaan diri lagi.

 

“Bahkan... kamu tahu kalau aku selalu menangis setiap malam sejak Papi dan Mami meninggal?! Kamu tahu seberapa menderitanya aku karena kecelakaan maut itu?!” Nada suara Jenny meninggi, diiringi air mata yang mengalir deras membasahi seluruh wajah cantiknya.

 

Xander mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Jenny. Sorot mata cokelat kehijauannya kini memancarkan binar kepiluan yang mendalam. “Iya, aku tahu semuanya,” jawab Xander dengan suara yang teramat serak.

 

Sebuah tawa hambar mendadak lolos dari belahan bibir Jenny—sebuah tawa yang justru terdengar jauh lebih menyakitkan daripada suara tangisannya sendiri. “Hebat ya.”

 

“Jenny—”

 

“Hebat banget kamu, Xander William!” Air mata Jenny kembali menetes, membasahi ujung dagunya. “Jadi selama sembilan tahun ini, hidup penderitaanku cuma kayak tontonan hiburan buat kamu?!”

 

“Bukan begitu maksudku, Jen—”

 

“Lalu apa?!” pekik Jenny, menatap Xander dengan sepasang mata yang memerah sempurna. “Aku menangis sendirian, kamu lihat dari jauh! Aku dihina orang lain saat merintis karier, kamu tonton! Aku berjuang sendirian setengah mati pun, kamu pantau! Tapi... kamu bahkan enggak pernah sekalipun muncul di hadapanku untuk membantuku!”

 

Detik itu juga, Xander bungkam seribu bahasa. Tidak ada satu pun kalimat bantahan yang keluar dari mulutnya, karena ia tahu semua tuduhan yang dilontarkan Jenny adalah sebuah kebenaran yang telak.

 

Jenny menatap Xander dengan perasaan yang porak-poranda. Dadanya terasa begitu sesak menahan gemuruh emosi. Tanpa membuang waktu lagi, ia melangkah cepat menerobos keluar dari ruangan terlarang itu. Jenny berlari menuruni anak tangga, menyambar kunci mobilnya di atas meja lobi, lalu melajukan kendaraannya membelah malam dengan kecepatan yang teramat tinggi.

 


Xander segera masuk ke dalam mobilnya, menginjak pedal gas dalam-dalam untuk menyusul Jenny. Namun di tengah pekatnya malam metropolitan, ia benar-benar kehilangan jejak kendaraan istrinya.

 

Di balik kemudi, Jenny menyetir tanpa arah tujuan yang jelas. Genangan air mata di kelopak matanya membuat pandangan ke jalanan depan menjadi kabur berbayang. Isi kepalanya dipenuhi oleh potongan-potongan kenangan masa lalu. Xander tahu segalanya. Pria itu melihat seluruh kerapuhannya dari balik bayangan. Sampai tanpa ia sadari, mobil yang dikendarainya melambat dan berhenti di sebuah area tepi jalan.

 

Jenny mendongak, menyapu pandangan ke sekeliling. Ia tersentak pelan saat menyadari instingnya telah membawa dirinya berhenti di sebuah taman masa kecil mereka dulu. Jenny turun dari mobil, melangkah perlahan menuju sebuah ayunan kosong. Ia duduk di sana sendirian di bawah cahaya lampu taman, membiarkan air matanya kembali luruh saat memori masa kecilnya berputar kembali—momen saat ia bermain tawa bersama Xander di tempat ini, dan momen ketika kedua orang tuanya masih setia berdiri mengawasinya di taman ini. Semuanya berbaur menghadirkan rasa sesak di dadanya.

 

Beberapa saat kemudian, suara derap langkah kaki yang terengah-engah terdengar mendekat dari arah belakang. Tanpa perlu berbalik, Jenny sudah tahu siapa sosok yang datang menyusulnya. Namun, ia memilih untuk tetap menatap lurus ke depan, menolak memutar tubuhnya.

 

“Pulang, Xander,” ujar Jenny, nada suaranya mendadak berubah menjadi jauh lebih tenang namun sarat akan jarak. “Aku lagi enggak mau lihat wajahmu sekarang,” sambungnya dengan suara yang terdengar serak.

 

Xander tidak menuruti perintah tersebut. Dengan napas yang masih memburu pendek karena panik mencari keberadaan Jenny sejak tadi, ia melangkah mendekat. Xander melepas jaket tebalnya, lalu menyampirkannya ke atas kedua pundak Jenny untuk menghalau angin malam yang dingin, sebelum akhirnya ia ikut mengambil posisi duduk di atas ayunan kosong tepat di sebelah Jenny. Pria itu memilih bungkam, tidak mencoba membela diri atau merangkai kata-kata penjelasan yang rumit.

 

Jenny menatap rantai ayunannya yang berkarat, lalu kembali membuka suara dengan nada dingin yang mengulur. “Kamu melihat semuanya dari jauh, tapi kamu enggak pernah sekalipun datang menghampiriku. Kenapa?”

 

Xander menurunkan pandangannya, menatap hamparan rumput di bawah kakinya. “Karena aku pengecut.”

 

Jenny spontan menolehkan kepalanya, menatap lekat profil wajah pria di sampingnya dari samping.

 

“Karena aku takut,” lanjut Xander, suaranya merendah. “Aku takut kalau aku melangkah terlalu dekat, aku enggak akan bisa menahan diri. Aku takut kalau aku mulai menginginkan sesuatu yang sejak awal enggak boleh aku miliki.” Xander menyunggingkan senyuman tipis yang teramat getir, fokus matanya tetap terkunci pada rumput di bawahnya. “Awalnya aku enggak pernah berniat untuk terus memperhatikan hidupmu sejauh ini, Jen. Niat awalku murni hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja setelah kecelakaan itu.”

 

Xander menjeda kalimatnya sejenak, lalu memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Jenny. “Tapi aku melihatmu tumbuh. Aku melihatmu menangis, aku melihatmu jatuh bangun merintis karier...” sambung Xander, suaranya melembut berkali-kali lipat. “Dan setiap kali aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku harus berhenti untuk mengawasi hidupmu... aku selalu berakhir gagal, Jen.”

 

Jenny tertegun di atas ayunannya, lidahnya mendadak kelu untuk menyela. “Kenapa?” tanya Jenny pelan, menuntut alasan akhir.

 

Xander mengunci pandangannya lurus ke dalam manik mata Jenny, menyalurkan seluruh emosi tersembunyi yang ia pendam selama sembilan tahun terakhir. “Karena aku mencintaimu, Jenny.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 134 : Kesempatan

    Xander pun langsung sigap duduk di samping Jenny dengan wajah cemas. “Aku minta maaf, aku sudah salah kali ini…”Jenny hanya merespon dengan lirikan mata yang begitu tajam.“Aku salah tidak berdiskusi sama kamu, tapi aku benaran enggak bisa diam saja melihat kamu terus disakiti Sandra, sayang.” Xander masih tetap berusaha mempertahankan argumennya. “Oke gini aja, sekarang kamu maunya aku bagaimana?”Jenny menggigit bibir bawahnya. Dia masih tetap mempertahankan emosinya, menolak untuk luluh begitu saja dengan alasan suaminya.Lalu, wanita itu manrik nafas dalam. “Kamu boleh memecat dia, tapi jangan menutup semua aksesnya di dunia hiburan. Biarkan kontrak yang masih berjalan tetap diselesaikan, dan biarkan dia bernaung di bawah agensi lain.”Sebelah alis Xander langsung terangkat, saat mendengar permintaan istrinya. Entah apa yang ada di otak istrinya saat itu, mengapa masih berbaik hati kepada orang yang jelas-jelas selalu menyakitinya.“Kenapa diam saja? Setuju kan sama permintaanku?

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 133 : Bukan Barang

    Xander menatap lekat ekspresi istrinya. Sudut bibirnya terangkat sinis, tanpa ada rasa takut ataupun rasa bersalah sediktipun. “Aku tidak perlu izin dari siapapun untuk memecat dia.”Jenny langsung melempar tatapan sengit pada pria yang wajahnya tanpa dosa itu. “Kamu enggak anggap aku sebagai istrimu?! Keputusan sebesar ini kamu lakukan tanpa sepengetahuanku.”Xander bergerak pelan, duduk di tepi brankar di samping istrinya. Dia memang sadar kali ini dia ada salahnya, tapi tidak serratus persen. “Aku tahu karaktermu, Jen. Kalau aku bicara sama kamu terlebih dulu, pasti kamu akan menentang pemecatan Sandra.”Jenny menahan napasnya sebentar sambil mengatupkan mata. Tangannya mengepal menahan kesal. Dia sadar bahwa pernyataan suaminya memang benar, dia pasti akan menentang keputusan itu. Hanya saja, keputusan Xander kali ini membuatnya sangat marah.“Kamu tahu kan Sandra itu siapa?!” suara Jenny tiba-tiba meninggi, hinga membuat Xander sedikit tersentak. “Dia sahabatku! Seseorang yang be

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 132 : Ada apa lagi?

    “Akkhh!”Jenny memejamkan matanya. Tangannya seketika memegang perutnya dengan panik. Namun sebelum tubuhnya menghantam anak tangga, tubuhnya justru tertahan oleh sepasang tangan.Beberapa detik itu terasa begitu mencekam. Jenny perlahan membuka matanya. Wajah yang berada tepat di hadapannya langsung membuat napasnya tercekat. “Leo,” gumamnya lirih.Tapi belum sempat Jenny mencerna kejadian yang barusan menimpanya, matanya berasa berkunang-kunang. Jenny kehilangan seluruh kekuatannya.“Jenny!” Leo berusaha menepuk pelan wajah Jenny, demi mengembalikan kesadarannya. Namun justru wajah Jenny semakin terlihat pucat. Dahinya mulai di penuhi keringat dingin.Meta dan Vero yang baru saja tiba langsung terkejut. “Ke rumah sakit!” teriak Meta. Sang manager langsung berlari menghampiri.Tanpa pikir panjang Leo langung mengangkat tubuh Jenny dan berlari menuju mobil pribadi Jenny. Meta langsung masuk dan menopang tubuh Jenny. sedangkan Vero duduk di kursi penumpang bagian depan, dan langsung me

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 131 : Perintah Itu

    Sandra berdiri di depan ruangan tim legal. Ia menatap pintu ruangan itu dengan dahi mengernyit. Sepanjang karir nya sebagai model, dia tidak pernah diminta langsung bertemu dengan bagian legal perusahaan.Tok. Tok. TokPintu ruangan terbuka. Kepala tim legal dan HRD agensi sudah menantinya.“Pagi,” sapa Sandra tepat ketika pintu terbuka. Ia melangkah masuk, dan duduk dengan gerakan tenang dan anggun. “Saya mendapat pesan panggilan pertemuan dengan tim legal. Ada urusan apa, ya?”Sang HRD menggangguk membenarkan pesan pertemuan pagi itu. Ia menyodorkan sebuah map ke meja Sandra. “Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan dengan Mbak Sandra, silahkan dibaca lebih dahulu.”Sandra tidak langsung membuka map itu. Ia hanya menyentuh permukaa map, lalu kembali menatap HRD selama beberapa detik. Perasaannya mulai tidak karuan, menyadari ada sesuatu yang salah.“Silahkan dibaca terlebih dahulu, Mbak,” tegur HRD sekali lagi.Tanpa pikir lama, Sandra langsung membuka map itu. “Hah?!” matanya t

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 130 : Pintar

    Menjelang malam akhirnya mereka telah kembali ke Indonesia. Jenny turun dari pesawat dengan wajahnya yang masih mengantuk berat, padahal sepanjang perjalanan dia sudah tidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Xander yang tetap terlihat kesal dan dingin.Meta dan Vero sudah menunggunya di bandara. Begitu melihat sosok Jenny, Meta langsung melangkah maju dengan wajah serius. “Jen, setelah sampai di rumah kita perlu bicara.”Jenny mengerutkan dahinya. “Ada apa, Kak?” tanyanya santai, dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.Meta menyamai langkah Jenny, dan berdiri di samping pintu mobil. “Produser reality show-mu menghubungiku.”“Soal?”Meta menghela napas pendek. “Mereka mulai mempertanyakan status pernikahanmu. Sekarang pulang dulu, kita lanjut di rumahmu.” Meta langsung menutup pintu mobil Jenny, dan beralih ke mobil perusahaan.Sepanjang perjalanan pulang, Jenny beberapa kali menguap, lalu sibuk memakan camilan ringan yang khusus disiapkan Vero untuknya. Sementara Xander mulai sibuk meme

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 129 : Tetap Santai

    Setelah seluruh pekerjaan Xander selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pagi menjelang siang Jenny, Xander dan Ryan sudah berada di dalam private jet William Group.Pesawat sudah lepas landas. Xander dan Ryan kembali bekerja di dalam pesawat, memeriksa beberapa berkas dan membahas hasil kontrak dengan investor.Sementara Jenny menatap kedua pria itu dengan tatapan sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya. “Kalian enggak bosan bekerja terus? Aku di sini berasa cuma jadi pajangan.” Tangan Jenny seketika menutup laptop milik Xander.“Lah aku kan memang kesini buat bekerja, bukan buat santai-santai, Sayang,” balas Xander, tangannya kembali membuka layar laptopnya tanpa memperhatikan wajah Jenny.“Xander!” Jenny langsung menarik laptop dari meja Xander, memindahkannya ke meja Ryan. “Emang enggak kerja beberapa jam saja bisa bikin kamu bangkrut kah?! Aku jauh-jauh nyusulin kamu, cuma dianggurin, disuruh lihat kamu kerja terus.”Xan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status