Share

Bab 47 : Suami Durhaka

Author: Amoora bee
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-20 18:28:15

“Xander sudah berangkat dari tadi, Mbok?” tanya Jenny begitu melangkah ke area meja makan.

Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya saat pandangannya tertuju pada secangkir kopi hitam milik suaminya yang sudah kosong melompong.

Sudah dua hari penuh mereka terjebak perang dingin. Mereka bahkan sengaja saling menghindari satu sama lain di dalam rumah. Rasanya, baru kali ini Xander benar-benar menunjukkan kekecewaan yang teramat mendalam pada Jenny, dan keheningan pria itu sukses menyiksa batin Jenny perlahan.

“Sudah, Non,” lapor Mbok Ratih yang sedang merapikan dapur. “Tadi Bapak titip pesan sebelum berangkat, katanya hari ini bakal pulang larut malam.”

“Kenapa enggak langsung bilang sendiri sih, pakai titip pesan segala,” gerutu Jenny pelan.

Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi makan sambil mengerucutkan bibir kesal. Wanita itu melipat kedua tangan di depan dada, menatap kosong ke arah langit-langit ruang makan. Dia terdiam selama beberapa menit meratapi nasib penolakannya, sebelum akhirnya sepasang matanya berbinar dengan senyuman penuh arti.

“Aku punya ide!” seru Jenny tertawa licik. Dia langsung meloncat dari kursi dan berlari cepat menuju kamar utama.

Tanpa membuang waktu, Jenny segera membongkar lemari pakaian dan mengganti bajunya menggunakan kaos rumah favorit milik Xander. Dia berdiri di depan cermin besar, lalu mengambil foto yang menampilkan siluet tubuhnya secara keseluruhan. Tanpa berpikir panjang lagi, sang supermodel langsung mengunggah foto tersebut ke akun media sosial pribadinya tanpa keterangan.

Jenny terus menjatuhkan pandangannya ke layar ponsel, berharap interaksi atau tanda suka pertama datang dari akun Xander.

Lima menit... Sepuluh menit... Tiga puluh menit...

Hingga satu jam penuh berlalu, namun layar ponselnya tetap hening tanpa ada tanda-tanda kehidupan dari suaminya.

Biasanya selalu nomor satu yang jadi fans paling cepat, batin Jenny merutuki ponselnya kesal. Sekarang... benar-benar lupa kalau punya istri cantik di rumah. Suami durhaka!

Melihat pancingan pertamanya gagal total menarik perhatian Xander, Jenny mulai melancarkan strategi kedua. Kali ini, dia mengambil foto swafoto jarak dekat dengan pose cemberut andalannya—sebuah ekspresi wajah yang selama ini selalu berhasil membuat pertahanan Xander runtuh dan tak bisa menolak keinginan apa pun darinya.

Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit yang terletak di pusat kawasan bisnis kota, Xander baru saja melangkah kembali ke dalam ruang kerja CEO-nya. Gurat wajahnya terlihat teramat dingin dan kaku, memancarkan aura intimidasi yang membuat para staf di sekitarnya enggan mendekat.

“Ryan, tunda jadwal meeting berikutnya satu jam lagi,” perintah Xander tegas sembari menanggalkan jas hitamnya dan menyampirkannya di kursi kerja. “Saya ingin beristirahat sebentar tanpa gangguan.”

Ryan segera mengangguk patuh, memahami betul kondisi atasannya yang tampak begitu kelelahan. Dia pun berbalik hendak melangkah mundur keluar ruangan.

“Ryan,” panggil Xander lagi, tepat saat asistennya itu memegang gagang pintu kayu. “Bagaimana caranya... agar seorang pria bisa dimaafkan dan kembali tidur di kamar?”

“Maksud Bapak?” Ryan langsung memutar tubuhnya, melangkah kembali mendekati meja kerja bosnya dengan ekspresi kebingungan yang kentara. “Kembali ke kamar siapa, Pak?”

Xander mengembuskan napas panjang dan pasrah. Dia mendadak merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa dia terpikir untuk mencari solusi hubungan rumah tangga dari asisten pribadinya yang jelas-jelas belum menikah, bahkan berstatus lajang abadi? Setelah menatap Ryan dengan pandangan yang sulit diartikan, Xander melambaikan tangannya.

“Lupakan saja. Sudah, kamu keluar sekarang.”

Ryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu membungkuk hormat dengan wajah yang masih dipenuhi rasa penasaran yang mengganjal. “Aneh...” bisiknya pelan saat menutup pintu.

Begitu suasana sepi, Xander menyalakan ponselnya dan mendapati sebuah notifikasi postingan baru dari akun Jenny Wong. Dengan gerakan cepat, dia membuka aplikasi media sosialnya. Sepasang matanya seketika membelalak sempurna melihat foto sang istri yang tengah mengenakan kaos miliknya. Begitu dia menggeser ke foto kedua yang menampilkan wajah cemberut Jenny, sang CEO dingin itu langsung mengusap wajahnya dengan kasar.

“Gila... aku bisa gila sungguhan kalau kamu begini terus, Jen...” gumamnya lirih penuh nada frustrasi yang tertahan.

Pria itu segera membuka ruang obrolan pribadi mereka. Menatap layar obrolan yang biasanya dipenuhi oleh rentetan pesan dan ocehan manja istrinya yang kini kosong. Jemari tegapnya mulai mengetikkan sebuah pesan: [Aku pulang malam.]

Namun sebelum menekan tombol kirim, dia menghapusnya kembali.

“Jangan sekarang...” bisik Xander pada keheningan ruangan. “Aku takut kalau kita bicara dalam kondisi sekarang, kita malah saling melukai lagi.”

Di tempat lain, Jenny terus menatap layar ponselnya dengan sisa-sisa harapan yang kian menipis. “Hah?!” Jenny mengembuskan napas panjang. “Biasanya dia langsung kirim pesan kalau aku pakai bajunya...”

Jenny menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu dengan perasaan kesal yang luar biasa. Dia memejamkan matanya rapat-rapat. “Kalau emang mau marah terus, ya udah! Biarin aja!”

Drrt...!

Ponselnya bergetar. Jenny spontan membuka mata dan bersiap memamerkan senyuman kemenangan. Namun, binar bahagia itu langsung padam dalam sekejap begitu nama 'LEO’ terpampang di layar dengan sebuah pesan singkat.

[Leo: Aku ada berita besar buat masa depan kariermu. Temui aku sekarang juga.]

Jenny menatap layar ponselnya cukup lama. Di dalam benaknya, bayangan larangan keras dan sorot mata terluka Xander malam itu kembali berkelebat hebat.

Namun... di detik berikutnya, bayangan hitam di atas putih surat skorsing yang akan menghancurkan delapan tahun kerja kerasnya ikut membayangi ego. Setelah menarik napas panjang untuk memantapkan hati, dia segera bangkit dan bergegas pergi menemui Leo.

Satu jam kemudian, Jenny telah tiba di sebuah restoran Italia mewah. Dengan perasaan yang diliputi ketidaknyamanan, dia mendorong pintu ruang VIP yang telah dipesan khusus oleh Leo. Kali ini, Jenny benar-benar nekat menemui pria itu seorang diri, tanpa memberi tahu Meta ataupun suaminya.

“Jenny...” Leo menyunggingkan senyum lebar begitu melihat kedatangan wanita itu. Dia langsung berdiri dari kursinya dan menarik sebuah kursi kosong. “Silakan duduk.”

Jenny sempat ragu untuk melangkah. Sejujurnya, ada rasa takut yang teramat besar menyelimuti hatinya jika sampai Xander mengetahui pertemuan terlarang ini. Jemarinya meremas tali tas tangannya dengan kencang sebelum akhirnya terpaksa menduduki kursi tersebut.

“Tegang banget, Jen?” Leo terus menatap Jenny dengan pandangan intens yang justru membuat Jenny semakin merasa risi. “Aku dengar dari orang dalam... kamu baru aja dijatuhi hukuman skorsing, ya?”

“Bukannya itu semua adalah skenario dari Anda, Pak Leo? Anda kan yang mengatur semua intimidasi ini agar saya terdesak?”

Leo terkekeh renyah dan menyodorkan buku menu ke hadapan Jenny. “Kamu mau pesan makan apa? Kita makan siang dulu... baru setelah itu kita ngobrol santai,” ucap Leo dengan nada teramat tenang.

Jenny membalas tatapan Leo dengan pandangan dingin. Dia membenci kenyataan bahwa pria asing di hadapannya ini merasa di atas angin karena akan menjadi pemilik baru agensinya. “Maaf, saya ke sini bukan untuk menikmati makan siang dengan Anda. Bisa kita langsung bicara ke intinya saja, Pak?”

“Jangan panggil saya 'Pak'. Panggil saja Leo. Lagipula, aku cuma ingin membangun obrolan yang santai dengan model berbakat sepertimu.”

“Maksudnya apa?” Wajah Jenny langsung berubah ketus seketika. Kesopanan yang sejak awal dia usahakan runtuh total, digantikan oleh tatapan menghunus tajam. “Jangan permainkan waktu saya! Saya ke sini hanya ingin berbicara tentang kejelasan karier saya di agensi, bukan untuk obrolan tidak berguna yang membuang waktu!”

Leo kembali terkekeh kecil melihat letupan emosi Jenny—sebuah sikap defensif yang konsisten dan justru menarik perhatiannya sejak awal perkenalan mereka.

“Oke, tenang dulu... kamu enggak akan pernah menyesal karena sudah menemuiku hari ini,” Leo menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur angkuh. “Aku perhatikan... Xander William itu cukup memberikan perhatian yang tidak wajar ke kamu.”

Jenny mengernyitkan alisnya tersinggung. “Kenapa Anda tiba-tiba membawa-bawa nama Pak Xander?” tanya Jenny yang mulai kebingungan dengan arah pembicaraan Leo.

“Karena subjek yang ingin aku bicarakan sejak tadi memang bukan tentang agensimu, Jenny.”

Jenny memilih untuk bungkam, menunggu kalimat berikutnya.

“Aku hanya heran... bagaimana bisa seorang CEO dari konglomerasi sebesar William Group sampai sudi ikut campur urusan model papan atas seperti kamu?” Tatapan Leo mengunci lekat-lekat wajah Jenny. “Pria dingin itu bahkan rela melakukan segala cara gila demi mengamankan posisimu.”

“Apa maksud Anda?” suara Jenny mulai meninggi karena tak sabar. “Melakukan segala cara demi aku?”

Senyuman di wajah Leo lenyap seketika, berganti dengan gurat rahang yang mengeras sempurna. Sorot matanya menatap lurus ke depan.

“Kamu benar-benar enggak tahu?” Leo menjeda kalimatnya selama beberapa detik, menatap Jenny dengan pandangan yang sulit diartikan.

“William Group baru saja memotong jalur negosiasiku. Xander membeli seluruh saham agensimu dari pemilik lama dengan harga fantastis... lima kali lipat dari nilai valuasi pasar.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 134 : Kesempatan

    Xander pun langsung sigap duduk di samping Jenny dengan wajah cemas. “Aku minta maaf, aku sudah salah kali ini…”Jenny hanya merespon dengan lirikan mata yang begitu tajam.“Aku salah tidak berdiskusi sama kamu, tapi aku benaran enggak bisa diam saja melihat kamu terus disakiti Sandra, sayang.” Xander masih tetap berusaha mempertahankan argumennya. “Oke gini aja, sekarang kamu maunya aku bagaimana?”Jenny menggigit bibir bawahnya. Dia masih tetap mempertahankan emosinya, menolak untuk luluh begitu saja dengan alasan suaminya.Lalu, wanita itu manrik nafas dalam. “Kamu boleh memecat dia, tapi jangan menutup semua aksesnya di dunia hiburan. Biarkan kontrak yang masih berjalan tetap diselesaikan, dan biarkan dia bernaung di bawah agensi lain.”Sebelah alis Xander langsung terangkat, saat mendengar permintaan istrinya. Entah apa yang ada di otak istrinya saat itu, mengapa masih berbaik hati kepada orang yang jelas-jelas selalu menyakitinya.“Kenapa diam saja? Setuju kan sama permintaanku?

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 133 : Bukan Barang

    Xander menatap lekat ekspresi istrinya. Sudut bibirnya terangkat sinis, tanpa ada rasa takut ataupun rasa bersalah sediktipun. “Aku tidak perlu izin dari siapapun untuk memecat dia.”Jenny langsung melempar tatapan sengit pada pria yang wajahnya tanpa dosa itu. “Kamu enggak anggap aku sebagai istrimu?! Keputusan sebesar ini kamu lakukan tanpa sepengetahuanku.”Xander bergerak pelan, duduk di tepi brankar di samping istrinya. Dia memang sadar kali ini dia ada salahnya, tapi tidak serratus persen. “Aku tahu karaktermu, Jen. Kalau aku bicara sama kamu terlebih dulu, pasti kamu akan menentang pemecatan Sandra.”Jenny menahan napasnya sebentar sambil mengatupkan mata. Tangannya mengepal menahan kesal. Dia sadar bahwa pernyataan suaminya memang benar, dia pasti akan menentang keputusan itu. Hanya saja, keputusan Xander kali ini membuatnya sangat marah.“Kamu tahu kan Sandra itu siapa?!” suara Jenny tiba-tiba meninggi, hinga membuat Xander sedikit tersentak. “Dia sahabatku! Seseorang yang be

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 132 : Ada apa lagi?

    “Akkhh!”Jenny memejamkan matanya. Tangannya seketika memegang perutnya dengan panik. Namun sebelum tubuhnya menghantam anak tangga, tubuhnya justru tertahan oleh sepasang tangan.Beberapa detik itu terasa begitu mencekam. Jenny perlahan membuka matanya. Wajah yang berada tepat di hadapannya langsung membuat napasnya tercekat. “Leo,” gumamnya lirih.Tapi belum sempat Jenny mencerna kejadian yang barusan menimpanya, matanya berasa berkunang-kunang. Jenny kehilangan seluruh kekuatannya.“Jenny!” Leo berusaha menepuk pelan wajah Jenny, demi mengembalikan kesadarannya. Namun justru wajah Jenny semakin terlihat pucat. Dahinya mulai di penuhi keringat dingin.Meta dan Vero yang baru saja tiba langsung terkejut. “Ke rumah sakit!” teriak Meta. Sang manager langsung berlari menghampiri.Tanpa pikir panjang Leo langung mengangkat tubuh Jenny dan berlari menuju mobil pribadi Jenny. Meta langsung masuk dan menopang tubuh Jenny. sedangkan Vero duduk di kursi penumpang bagian depan, dan langsung me

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 131 : Perintah Itu

    Sandra berdiri di depan ruangan tim legal. Ia menatap pintu ruangan itu dengan dahi mengernyit. Sepanjang karir nya sebagai model, dia tidak pernah diminta langsung bertemu dengan bagian legal perusahaan.Tok. Tok. TokPintu ruangan terbuka. Kepala tim legal dan HRD agensi sudah menantinya.“Pagi,” sapa Sandra tepat ketika pintu terbuka. Ia melangkah masuk, dan duduk dengan gerakan tenang dan anggun. “Saya mendapat pesan panggilan pertemuan dengan tim legal. Ada urusan apa, ya?”Sang HRD menggangguk membenarkan pesan pertemuan pagi itu. Ia menyodorkan sebuah map ke meja Sandra. “Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan dengan Mbak Sandra, silahkan dibaca lebih dahulu.”Sandra tidak langsung membuka map itu. Ia hanya menyentuh permukaa map, lalu kembali menatap HRD selama beberapa detik. Perasaannya mulai tidak karuan, menyadari ada sesuatu yang salah.“Silahkan dibaca terlebih dahulu, Mbak,” tegur HRD sekali lagi.Tanpa pikir lama, Sandra langsung membuka map itu. “Hah?!” matanya t

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 130 : Pintar

    Menjelang malam akhirnya mereka telah kembali ke Indonesia. Jenny turun dari pesawat dengan wajahnya yang masih mengantuk berat, padahal sepanjang perjalanan dia sudah tidur sangat nyenyak. Berbeda dengan Xander yang tetap terlihat kesal dan dingin.Meta dan Vero sudah menunggunya di bandara. Begitu melihat sosok Jenny, Meta langsung melangkah maju dengan wajah serius. “Jen, setelah sampai di rumah kita perlu bicara.”Jenny mengerutkan dahinya. “Ada apa, Kak?” tanyanya santai, dan langsung masuk ke dalam kabin mobil.Meta menyamai langkah Jenny, dan berdiri di samping pintu mobil. “Produser reality show-mu menghubungiku.”“Soal?”Meta menghela napas pendek. “Mereka mulai mempertanyakan status pernikahanmu. Sekarang pulang dulu, kita lanjut di rumahmu.” Meta langsung menutup pintu mobil Jenny, dan beralih ke mobil perusahaan.Sepanjang perjalanan pulang, Jenny beberapa kali menguap, lalu sibuk memakan camilan ringan yang khusus disiapkan Vero untuknya. Sementara Xander mulai sibuk meme

  • Aku Supermodel, bukan Istri Pewaris   Bab 129 : Tetap Santai

    Setelah seluruh pekerjaan Xander selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Pagi menjelang siang Jenny, Xander dan Ryan sudah berada di dalam private jet William Group.Pesawat sudah lepas landas. Xander dan Ryan kembali bekerja di dalam pesawat, memeriksa beberapa berkas dan membahas hasil kontrak dengan investor.Sementara Jenny menatap kedua pria itu dengan tatapan sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya. “Kalian enggak bosan bekerja terus? Aku di sini berasa cuma jadi pajangan.” Tangan Jenny seketika menutup laptop milik Xander.“Lah aku kan memang kesini buat bekerja, bukan buat santai-santai, Sayang,” balas Xander, tangannya kembali membuka layar laptopnya tanpa memperhatikan wajah Jenny.“Xander!” Jenny langsung menarik laptop dari meja Xander, memindahkannya ke meja Ryan. “Emang enggak kerja beberapa jam saja bisa bikin kamu bangkrut kah?! Aku jauh-jauh nyusulin kamu, cuma dianggurin, disuruh lihat kamu kerja terus.”Xan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status