MasukOxavio tidak ke kantor ,sejak Aruna membelakanginya tadi, pria itu hanya duduk di sofa dengan pikiran yang tidak mau diam ,kalimat Aruna terus terngiang " Kamu cemburu "
Oxavio mengusap wajahnya kasar.“Omong kosong.”Ia bahkan tidak tahu kepada siapa ia sedang menyangkal "Dirinya sendiri?" atau Aruna?Ia bangkit, berjalan menuju jendela, lalu menatap halaman rumah yang masih sepi.Biasanya jam segini ia sudah berada di Rumah sakit namun hari ini tidak ,ponselnya beberapaOxavio tidak ke kantor ,sejak Aruna membelakanginya tadi, pria itu hanya duduk di sofa dengan pikiran yang tidak mau diam ,kalimat Aruna terus terngiang " Kamu cemburu "Oxavio mengusap wajahnya kasar.“Omong kosong.”Ia bahkan tidak tahu kepada siapa ia sedang menyangkal "Dirinya sendiri?" atau Aruna?Ia bangkit, berjalan menuju jendela, lalu menatap halaman rumah yang masih sepi.Biasanya jam segini ia sudah berada di Rumah sakit namun hari ini tidak ,ponselnya beberapa kali berdering nama asistennya muncul di layar akhirnya mengangkat.“Ada apa?”“Pak, rapat pagi ini tetap dilaksanakan ,bapak jadi datang?”Oxavio terdiam.“Tidak.”“Tapi ada beberapa agenda yang—”“Batalkan.”“Pak, beberapa .. ”“Aku bilang batalkan.”Sambungan diputus ,ponsel diletakkan begitu saja di atas meja ,Oxavio menarik napas panjang entah kenapa sejak semalam ia tidak ingin melihat siapa pun ,tidak ingin bekerja ,bahkan tidak ingin berada di rumah sa
Aruna tiba di rumah menjelang pagi ,tubuhnya terasa seperti tidak lagi memiliki tenaga ,setelah menyelesaikan pekerjaannya, pikirannya justru terus kembali pada kejadian beberapa jam sebelumnya.Pangeran ,laki-laki yang dulu ia panggil Kak Eran ,sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu, tetapi anehnya, percakapan singkat itu meninggalkan rasa hangat yang asing di dalam dirinya, Eran hanya seseorang dari masa lalu yang pernah beberapa kali menolongnya ketika ia sedang kesulitan namun sekarang semuanya terasa berbeda ,mungkin karena mereka sudah dewasa ,mungkin karena Aruna baru menyadari betapa lama waktu telah berlalu atau mungkin karena tatapan perempuan yang bersama Eran tadi membuatnya merasa tidak enak.Aruna menggeleng pelan ,ia tidak ingin memikirkannya lagi yang ia inginkan hanya tidur.Namun begitu pintu kamar dibuka langkahnya berhenti Oxavio sudah ada di sana ,duduk di tepi tempat tidurnya ,diam dan seperti menunggu.Aruna menatapnya wajahnya datar ,tidak
Perjalanan pulang sore itu ternyata jauh lebih lama dari yang mereka perkirakan ,kemacetan membuat mobil nyaris tidak bergerak selama beberapa waktu ,ditambah beberapa ruas jalan yang padat, mereka baru sampai di rumah setelah waktu isya ,begitu turun dari mobil, Aruna langsung melihat jam.“Aku harus bersiap.”Ia bahkan tidak sempat duduk berleha, tubuhnya memang lelah, matanya masih berat setelah acara tadi, tetapi malam ini ia kembali harus bekerja Aruna langsung masuk ke kamar mengganti pakaian, lalu memasukkan beberapa barang ke dalam tas ,tidak lama kemudian, ia keluar lagi ,Oxavio yang sejak tadi berada di ruang tengah memperhatikannya.“Kamu mau berangkat sekarang?”“Iya.”“Aku antar.”Aruna berhenti ia menatap Oxavio seolah baru saja mendengar sesuatu yang tidak biasa.“Kamu?”Oxavio mengerutkan kening.“Kenapa?”“Tidak apa-apa.”Aruna mengambil ponselnya.“Aku sudah pesan ojek.”Kalimat itu membuat Oxavio terdiam ,ia seb
Setelah Aruna pergi bekerja, Oxavio masih berdiri di ruang tengah ,pintu rumah sudah tertutup ,suara langkah Aruna pun perlahan menghilang namun pria itu tidak segera beranjak ,pikirannya justru kembali pada satu kalimat yang terlanjur keluar dari mulutnya "Aku tidak suka "Oxavio mengusap wajahnya kasar ,ia tidak suka mengingatnya lebih buruk lagi ia tidak suka alasan di balik kalimat itu ,seharusnya ia tidak peduli ,Aruna hanya tertawa bersama teman-temannya dan tidak ada yang salah ,namun entah mengapa, melihat senyum perempuan itu di layar ponselnya membuat sesuatu di dalam dirinya terusik ,Oxavio mengambil ponselnya lagi ,video itu masih ada Aruna sedang tertawa ,wajahnya terlihat ceria ,Oxavio menatap layar lagi sebelum akhirnya mematikannya.“Tidak.”Ia menggeleng pelan.“Bukan itu.”Ia tidak cemburu ,tidak mungkin ,perasaan seperti itu terlalu tidak masuk akal untuk orang seperti dirinya ,selama ini ia hanya ingin melihat Aruna tersakiti ,ia ingin perempu
Tangis Aruna perlahan mereda ,ia mengusap pipinya yang basah sambil tersenyum malu."Maaf...""Aku menangis begini."Nina langsung menggeleng sambil berbisik"Justru bagus Run , jangan dipendam terus.""Selama ini kamu selalu terlihat kuat padahal aku tahu kamu juga capek."Aruna hanya tersenyum kecil ,entah mengapa...dadanya terasa lega ,sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan sesederhana ini.Saat suasana mulai kembali tenang, Rani tiba-tiba masuk sambil membawa dua kantong besar di kedua tangannya."Wah...""Sudah datang!"serunya dengan wajah berbinar ,di belakangnya, dua anak PKL lain ikut membantu membawa kantong minuman Nina langsung tertawa."Pas banget."Rani mulai membagikan satu per satu gelas minuman kepada para bidan yang sedang berjaga."Kami patungan Mbak sebagai hadiah ulang tahun."Aruna langsung menggeleng cepat."Lho, jangan begitu.""Kalian masih sekolah."Rani tersenyum lebar."
Siang hari ,Aruna akhirnya tertidur setelah perdebatan panjang dengan Oxavio pagi tadi, tubuh dan pikirannya benar-benar terkuras ,ia bahkan tidak ingat sejak kapan tertidur yang ia tahu, begitu kepalanya menyentuh bantal kesadarannya langsung menghilang.Ruangan itu sunyi hanya terdengar suara pendingin ruangan dan napasnya yang perlahan mulai teratur namun ketenangan itu tidak berlangsung lama ,ponselnya berdering memecah keheningan kamarSekaliDua kali.Tiga kali tanpa henti Aruna mengernyit pelan matanya berat karena masih mengantuk ketika meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal, begitu melihat nama yang muncul di layar, dahinya langsung berkerut."Rani "Anak PKL itu hampir tidak pernah menghubunginya di luar jam kerja dengan jantung yang mulai berdegup cepat, Aruna segera mengangkat telepon."Halo, Rani?"Suara gadis itu terdengar tergesa-gesa."Mbak Aruna... cepat ke rumah sakit, ya."Aruna langsung terduduk."Ada apa?"
Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma antiseptik yang tajam, menusuk samar ke dalam indera penciuman ,cahaya lampu putih memantul di lantai keramik yang bersih, di sepanjang koridor ruang bersalin suara langkah kaki para perawat terdengar silih berganti, berirama seperti deta
Hujan masih menemani malam aruna ,langit seperti sedang menumpahkan sesuatu yang lama tertahan sama seperti hati Aruna saat itu ,langkahnya terasa berat saat ia memasuki gang sempit menuju kamar kostnya ,sepatu yang basah meninggalkan jejak kecil di lantai semen yang lembap ,tubuhnya masih gemet
Malam itu hujan turun tanpa jeda bukan sekadar gerimis yang datang dan pergi, melainkan hujan deras yang seolah ingin menenggelamkan seluruh isi kota ,tetesannya menghantam jendela kecil kamar kost Aruna dengan ritme yang tidak teratur kadang pelan, kadang keras seperti detak jantung yang kehilan
Oxavio menghela napas pelan, tanda ketidaktertarikan yang tidak ia tutupi.“Sudah saya bilang, untuk hal seperti ini atur jadwal melalui sekretaris.”Rafael terdiam sejenak ,ada sesuatu dalam raut wajahnya yang membuat Oxavio akhirnya mengangkat pandangan.“Wanita itu…







