Home / Romansa / Aku ,Target balas dendam CEO / Rahasia di Balik Masker

Share

Rahasia di Balik Masker

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-20 09:01:57

Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma antiseptik yang tajam, menusuk samar ke dalam indera penciuman ,cahaya lampu putih memantul di lantai keramik yang bersih, di sepanjang koridor ruang bersalin suara langkah kaki para perawat terdengar silih berganti, berirama seperti detak waktu yang tidak pernah berhenti ,beberapa pasien telah datang sejak pagi, duduk dengan gelisah di kursi tunggu, menggenggam harapan sekaligus ketakutan yang tak terucap ,ada yang sesekali mengelus

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Belajar Jadi Bidan (2)

    Tangisan bayi yang nyaring masih memenuhi ruangan ,beberapa saat setelah persalinan selesai pasien itu menangis keras, namun kali ini bukan karena rasa sakit ,tangannya gemetar saat Aruna meletakkan bayi mungil yang masih berlumur vernix di atas dadanya ,kulit bertemu kulit sebuah pertemuan pertama yang terasa istimewa. "Anak saya..." bisiknya lirih. Jari-jarinya yang masih bergetar menyentuh pipi kecil bayi itu dengan hati-hati ,Aruna tersenyum sambil merapikan selimut tipis yang menyelimuti tubuh mungil tersebut. "Iya, Bu." Suaranya terdengar lembut. "Itu anak Ibu." Pasien kembali menangis kali ini sambil tertawa kecil di sela isaknya ,sang suami yang sejak tadi berdiri di samping juga tampak mengusap sudut matanya diam-diam. Di sudut ruangan, anak-anak praktik masih berdiri mematung seolah belum benar-benar mencerna apa yang baru saja mereka lihat ,Rani bahkan masih menatap ke arah ibu dan bayi itu ta

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Belajar Menjadi Bidan

    Hari ketujuh anak-anak praktik berada di ruang VK dan satu yang akhirnya disepakati seluruh bidan di ruangan itu adalah anak-anak tersebut ternyata lebih bising daripada pasien yang sedang kesakitan. "Mbak Aruna!" Suara cempreng itu kembali memecah keheningan ,Aruna bahkan tidak perlu menoleh untuk menebak siapa pemiliknya ,ia sudah hafal betul nada antusias yang khas itu. "Rani." Siswi berponi rapi itu langsung menyeringai lebar. "Hehe." Aruna menghela napas pelan meski sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kamu memanggilku lima kali dalam sepuluh menit terakhir." "Kan saya semangat belajar, Mbak." Nina yang sedang mengisi rekam medis di meja sebelah mendongak tanpa mengangkat pena. "Itu bukan semangat, Rani." "Lalu apa, Mbak?" "Mengganggu." Jawaban singkat Nina langsung membuat satu ruangan tertawa ,Rani hanya nyengir tanpa merasa bersalah memang beberapa

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Anak-anak Magang

    Hari-hari setelah perayaan kecil di ruang VK itu berlalu dengan cepat ,mungkin karena Aruna terlalu sibuk menjalaninya atau mungkin karena ia tidak lagi menghitung hari hanya untuk bertahan ,beberapa hari terakhir terasa menyenangkan seolah semesta sedang memberinya jeda setelah terlalu lama dipaksa berlari tanpa henti ,bukan sesuatu yang besar hanya hal-hal kecil namun datang berturut-turut ,dimulai dari jadwal kerjanya yang kembali normal ,tubuhnya yang perlahan pulih ,dan Nina juga hampir setiap hari menemukan alasan untuk menyeretnya keluar rumah, entah untuk jogging, membeli kopi setelah dinas, atau sekadar berjalan mengelilingi taman sambil mengobrol tentang hal-hal tidak penting ,lalu ruang VK juga sedang berada dalam masa yang relatif tenang ,tidak terlalu banyak kasus darurat ,dan tidak ada pasien yang sulit untuk ditangani dan ketika Aruna mulai terbiasa dengan ritme baru yang lebih santai itu, rumah sakit kembali menghadirkan sesuatu yang tanpa disangka membuat suasana se

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Apa itu Rindu ?

    Shift siang di ruang VK selalu menjadi waktu yang paling tidak bisa diprediksi ,kadang kesibukan menyeret semua orang hingga lupa rasa lapar, namun kadang sebaliknya tenang, hening yang justru membuat telinga berdenging karena menunggu sesuatu yang belum tentu datang dan siang ini, nasib baik sepertinya berpihak pada mereka ,hari ini cukup tenang ,beberapa pasien yang sebelumnya berada di ruang observasi masih dalam pemantauan rutin, belum ada yang memasuki fase aktif, dan tidak ada satu pun kasus yang membutuhkan tindakan segera ,Aruna bisa duduk lama tanpa merasa bersalah ,ia sedang asyik mengisi laporan medis ketika pintu ruang jaga terbuka ,dokter Ervina seorang dokter spesialis kandungan masuk sambil menjinjing dua kantong besar berisi minuman. "Ayo, ambil dulu," serunya ringan. seketika beberapa bidan yang sedang duduk lesu langsung menoleh ,mata mereka berbinar. "Eh?" salah seorang bertanya tak percaya. "Dokter traktir?" "Masy

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Kebiasaan Baru

    Setelah liburnya bersama Nina ,hari hari Aruna berjalan tenang ,entah kebetulan entah memang waktu berpihak padanya ,masa perubahan jadwal yang sempat membuat hidupnya jungkir balik akhirnya benar-benar berakhir.Sejak awal, kebijakan itu memang hanya diberlakukan sebagai masa percobaan selama satu bulan ,satu bulan yang terasa panjang dari seharusnya ,satu bulan yang menguras tenaga, waktu, dan perlahan-lahan menggerus ketenangan yang selama ini berusaha ia pertahankan namun kini semuanya selesai ,setidaknya untuk sementara jadwal kerjanya kembali seperti semula ,jam pulangnya kembali manusiawi ,ia tidak lagi harus pulang larut malam lalu kembali berangkat pagi hari , tubuhnya pun mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan ,lingkaran gelap di bawah matanya perlahan memudar ,rasa lelah yang selalu menempel di pundaknya tidak lagi terasa seberat sebelumnya dan meskipun hidupnya masih jauh dari kata sempurna, Aruna mulai merasa bisa bernapas lega ,ia masih tidak mengerti apa yang seb

  • Aku ,Target balas dendam CEO   perbedaan rasa

    Kali ini setelah beberapa minggu terakhir, Aruna terbangun tanpa suara alarm yang memaksanya beranjak dari tempat tidur ,tidak ada jadwal shift pagi yang harus dikejar ,tidak ada laporan pasien yang menunggu untuk diselesaikan dan yang paling penting tidak ada tubuh yang menggigil karena demam ,pagi ini terasa berbeda ,lebih bersemangat dan lebih tenang. Aruna membuka mata perlahan ,beberapa saat ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit kamar sambil menikmati keheningan yang sudah lama tidak ia rasakan ,tidak ada rasa terburu-buru ,tidak ada kecemasan yang langsung menghantam begitu ia membuka mata dan tanpa sadar senyum kecil terukir di bibirnya ,hari ini adalah hari liburnya sesuatu yang akhir-akhir ini terasa seperti kemewahan yang sulit didapatkan ,setelah perbincangan panjang mereka, Aruna mulai menyadari Nina mungkin benar ,ia tidak bisa terus-menerus menjadikan Oxavio sebagai pusat dari setiap keputusan yang ia ambil ,karena sekeras apa pun ia berusaha menghindari

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status