Home / Romansa / Aku ,Target balas dendam CEO / Luka yang tak pernah sembuh

Share

Luka yang tak pernah sembuh

last update publish date: 2026-04-18 09:01:19

Malam itu hujan turun tanpa jeda bukan sekadar gerimis yang datang dan pergi, melainkan hujan deras yang seolah ingin menenggelamkan seluruh isi kota ,tetesannya menghantam jendela kecil kamar kost Aruna dengan ritme yang tidak teratur kadang pelan, kadang keras seperti detak jantung yang kehilangan kendali.

Di dalam kamar yang sempit itu, lampu kuning redup menggantung di langit-langit, menciptakan bayangan samar di dinding yang mulai mengelupas ,Aruna baru saja selesai mandi ,rambu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ancaman Terakhir

    Tiga hari ,sudah tiga hari sejak ambulans itu membawa Aruna pergi, dan sejak itu, rumah besar Oxavio terasa dingin dan hampa.Oxavio tidak tidur nyenyak ,setiap kali ia menutup mata, bayangan wajah pucat Aruna dan jeritan kesakitannya pagi itu masih menghantuinya. Ia merasa kehilangan ,rasa bersalah itu menggerogoti dirinya namun egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya ,sebagai gantinya, ia menghabiskan waktu berjam-jam di ruang keamanan, menonton rekaman CCTV dari malam kejadian berulang-ulang.Di layar monitor, ia melihat Aruna yang lemah dibawa keluar oleh Nina ,ia melihat bagaimana Nina memeluk Aruna dengan protektif, bagaimana Aruna menangis di pelukan sahabatnya Oxavio tidak mengusik mereka ,ia membiarkan mereka pergi karena pada saat itu, ia tahu jika ia menghalangi, ia mungkin akan melakukan hal yang lebih buruk lagi atau mungkin... ia takut melihat tatapan jijik di mata Aruna sekali lagi.Namun, ketiadaan Aruna mulai membuatnya gerah ,rasa tidak nyaman itu

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Luka yang Tak Terucap

    Suara sirine ambulans membelah keheningan pagi di kompleks perumahan elit itu ,Nina duduk di sampingnya, tangannya terus memegang tangan lain Aruna yang sehat, sementara paramedis lain seorang pria muda bernama Dika yang kebetulan mereka kenal dari jaringan rumah sakit lain sedang mempersiapkan peralatan stabilisasi leher dan bahu.“Bu Aruna, kami akan bawa ke RS Medika Utama ya? Itu paling dekat dan fasilitas traumanya lengkap,” kata Dika sambil memeriksa tensi Aruna.Aruna menggeleng lemah, matanya setengah tertutup karena rasa sakit yang menyengat setiap kali ambulans melewati jalan bergelombang kecil. “Tidak… jangan ke sana.”Nina menatap Dika, lalu menoleh ke Aruna ,ia mengerti ,RS Medika Utama adalah rumah sakit rekanan tempat Oxavio sering datang ,jika mereka masuk ke sana, data medis Aruna akan tercatat, dan bukan tidak mungkin Oxavio akan mengetahuinya dalam hitungan jam ,dan yang paling parah dia tidak mau ada kabar yang tidak baik kalau ada yang menganalinya

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Ketika Aruna Tidak Datang

    Nina datang lebih awal , seperti biasa ia membawa beberapa bungkus cemilan dari rumah memang bukan sesuatu yang istimewa ,hanya makanan ringan yang hampir selalu mereka habiskan bersama sebelum pergantian shift.Nina meletakkan kantong plastik itu di meja ruang jaga, kemudian mulai menyusun beberapa buku laporan yang nanti akan ia periksa ,sesekali matanya melirik ke arah pintu. Biasanya, pada jam seperti ini, Aruna sudah muncul, seharusnya perempuan itu sudah selesai menjalankan shift malam dan sedang bersiap pulang.Namun Nina belum melihatnya ,ia melihat jam tangannya kemudian kembali menatap pintu.“Aruna belum pulang kan?”Tasya yang sedang membereskan beberapa dokumen menoleh. “Aruna?”“Iya.” Nina menunjuk kantong camilan di atas meja. “Biasanya sebelum dia pulang kita ngemil dulu.”Tasya terdiam ,wajahnya berubah sedikit. “Nin...”“Hm?”“Aruna semalam nggak masuk.”Nina langsung mengernyit. “Bukan jadwal OFF dia kan hari ini ?”“Iya.”

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Malam panjang

    Oxavio tidak langsung masuk ke kamarnya setelah meninggalkan Aruna ,ia berdiri sendirian di ruang tengah ,lampu hanya menyisakan cahaya redup di sudut ruangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah menertawakannya ,pikirannya terus memutar kembali pada percakapan mereka. "Aku takut ketika kamu marah ,aku takut kehilangan pekerjaanku ,aku takut kehilangan orang-orang di sekitarku dan akhirnya hanya diriku sendiri " Oxavio memejamkan mata, mencoba mengusir suara Aruna dari kepalanya namun kalimat-kalimat itu tidak terdengar seperti pembelaan seorang istri yang lemah ,melainkan pengakuan jujur dari orang yang telah hancur berkeping-keping jauh sebelum ia mengenal Oxavio. Ia baru sadar bahwa selama ini, setiap kali ingin membuat Aruna menyerah, ia selalu mencari titik terlemah perempuan itu ,ia mengira itu adalah strategi tapi hari ini Aruna justru menunjukkan kepadanya bahwa titik terlemahnya bukan sesuatu yang bisa digunakan untuk menang dalam permainan keku

  • Aku ,Target balas dendam CEO   harus baik baik saja .

    Aruna baru saja selesai merapikan meja makan ,meski tubuhnya lelah setelah seharian bekerja, ia memastikan semuanya rapi, membersihkan debu terakhir, dan menata kursi kembali ke tempatnya ,ia melakukannya dengan gerakan mekanis, mencoba mengalihkan pikiran dari tatapan tajam yang sudah membakar punggungnya sejak beberapa menit lalu. Oxavio duduk di sofa, kedua tangannya bertaut erat , rahangnya mengeras, menandakan badai yang sedang ia tahan ,sejak pertengkaran tentang Eran atau lebih tepatnya, sejak ia melihat Aruna tersenyum pada laki-laki lain itu kemarahannya tidak pernah benar-benar padam ,nama Eran terus berputar di kepalanya seperti racun bahkan cara Aruna memberikan nomor ponselnya tanpa rasa bersalah. Hal-hal kecil itu seharusnya tidak berarti apa-apa bagi seorang CEO dingin seperti Oxavio namun justru karena hal itu "tidak berarti" bagi Aruna, Oxavio semakin membencinya ,ia tidak seharusnya peduli ,tidak seharusnya merasa terusik dan terlebih lagi, ia tidak seharusnya mer

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Batas yang Mulai Retak

    Aruna datang ke rumah sakit seperti biasa ,langkahnya terasa berat karena pikirannya masih terasa penuh setelah pertengkaran dengan Oxavio ,ucapan pedas tentang ibunya masih bergema di telinga, meninggalkan luka yang belum kering namun Aruna tidak ingin membawa masalah rumah ke tempat kerja ,ia mengenakan topeng profesionalismenya, menyembunyikan kerapuhan di balik seragamnya yang rapi. Begitu memasuki ruang VK, ia langsung memeriksa laporan pasien dan mengambil alih pekerjaan seperti biasanya ,ia mencoba menjalani malam seolah tidak terjadi apa-apa, sampai sebuah pesan masuk dari bagian administrasi. "Bu Aruna, ada beberapa laporan yang harus segera diselesaikan sebelum pagi " Aruna membuka lampiran yang dikirimkan matanya langsung berhenti ,rekap pelayanan VK selama satu bulan terakhir ,evaluasi jumlah pasien per jam ,laporan penggunaan obat dan alat kesehatan ,Aruna terdiam bukan karena tugas itu tidak masuk akal secara teknis ,semua memang masih berkaitan dengan pekerjaannya

  • Aku ,Target balas dendam CEO   luka yang dibawa pulang.

    Langit sudah mulai berubah jingga ketika Aruna berjalan pulang dari sekolah ,Langkahnya pelan, tapi pasti. Tas sekolahnya terasa lebih berat, meskipun isinya tidak bertambah apa-apa. Mungkin karena pikirannya yang penuh oleh kata-kata yang masih terngiang di kepalanya ,Perempuan malam ,

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Luka yang Tidak Terlihat

    Sekolah seharusnya menjadi tempat yang tenang.Tempat di mana aku bisa melupakan rumah kecil yang selalu penuh dengan orang asing.Tapi kenyataannya… tidak pernah benar-benar seperti itu ,Aku berjalan melewati gerbang sekolah dengan langkah cepat ,Matahari pagi masih hangat, dan halaman s

  • Aku ,Target balas dendam CEO   Malam yang Tidak Pernah Sunyi

    Malam di rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi ,Selalu ada suara. Kadang suara tawa laki-laki yang berat dan kasar ,Kadang suara gelas yang beradu di meja kayu tua ,Kadang juga suara pintu kamar ibuku yang tertutup keras diikuti suara yang membuatku menutup telinga dengan kedua tangan. Aku sud

  • Aku ,Target balas dendam CEO   wanita dari masa lalu

    Oxavio menghela napas pelan, tanda ketidaktertarikan yang tidak ia tutupi.“Sudah saya bilang, untuk hal seperti ini atur jadwal melalui sekretaris.”Rafael terdiam sejenak ,ada sesuatu dalam raut wajahnya yang membuat Oxavio akhirnya mengangkat pandangan.“Wanita itu…

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status