Partager

Bab 2

Auteur: Ellow_dikata
last update Date de publication: 2025-11-02 21:58:42

Begitu pintu kamar tertutup, aku langsung menguncinya dari dalam. Tubuhku terasa sangat lelah, seolah seluruh energi terkuras habis oleh kejadian hari ini. Aku bahkan tak sempat berganti pakaian sebelum akhirnya terjatuh ke atas ranjang dan tertidur lelap.

Aku terbangun ketika hari sudah benar-benar gelap.

Lampu kamar menyala redup, menimbulkan bayangan panjang di dinding. Kesadaranku perlahan kembali saat aku merasakan kehadiran seseorang di sisiku. Saat mataku terbuka sepenuhnya, aku mendapati Tria duduk di kursi dekat ranjang, fokus membaca laporan tebal di tangannya.

Aku tersentak kaget dan tanpa sadar bergerak cukup kasar.

Gerakanku rupanya cukup untuk menarik perhatiannya. Tria menurunkan laporan itu, meletakkannya di meja, lalu berdiri dan mendekat. Telapak tangannya yang besar menyentuh keningku dengan lembut.

“Sudah tidak panas,” ucapnya singkat. “Turunlah. Makan bersama paman.”

Baru saat itu aku benar-benar menyadari tubuhku terasa ringan, tapi lemas. Ingatanku terputus-putus, namun perlahan aku mengingat bahwa setelah pulang tadi aku memang merasa pusing dan menggigil. Rupanya aku demam, dan pamanlah yang mengompres keningku selama aku tertidur.

Tentang bagaimana dia bisa masuk ke kamar yang pintunya sudah kukunci, aku tak perlu bertanya. Tria selalu memiliki kunci cadangan.

Aku hanya mengangguk pelan dan turun dari ranjang, mengikutinya keluar kamar.

Namun, baru beberapa langkah menuruni tangga, perutku tiba-tiba terasa melilit. Nyeri tajam menusuk dari dalam, membuat langkahku terhenti. Aku refleks memegangi perutku dan menarik napas pendek.

Tria langsung berbalik.

“Ada apa?” tanyanya, sorot matanya berubah khawatir.

“Aku tidak tahu,” jawabku jujur. “Tiba-tiba sakit.”

Dia menatapku sejenak, lalu bertanya dengan nada yang lebih rendah, seolah tak ingin orang lain mendengar. “Apakah ini jadwalmu?”

Aku terdiam.

Pertanyaan itu menyadarkanku pada sesuatu yang sejak tadi luput dari ingatan. Ya, ini memang waktunya. Bulanan. Aku mengangguk pelan.

“Aku ke kamar mandi dulu,” kataku.

Tria mengangguk, wajahnya tampak tenang, seolah hal seperti ini sudah sangat biasa baginya.

Saat tiba di ruang makan, dia langsung memerintahkan pelayan untuk membuatkan air gula dengan jahe. Beberapa menit kemudian, aku turun kembali dengan pakaian baru. Langkahku pelan, tanganku masih memegangi perut yang terasa sedikit nyeri.

“Minum ini,” katanya sambil menyodorkan cangkir. “Bisa meredakan sakitnya.”

Aku menurut. Menghabiskan air gula itu dalam beberapa tegukan. Rasa hangat menjalar ke tubuhku, membuat rasa nyeri sedikit berkurang. Aku tak berniat menyentuh makanan. Minuman itu saja sudah cukup membuatku kenyang.

Setelah menemani paman makan, aku kembali ke kamar dan tidur lebih awal dari biasanya.

Satu minggu kemudian, aku berada di negara Waley.

Aku pergi berwisata bersama teman-teman sekolahku setelah melalui perjuangan yang tidak mudah. Tria baru mengizinkanku pergi setelah aku mogok makan selama tiga hari penuh. Itu pun dengan syarat aku harus membawa lima bawahannya sebagai pengawal.

Waley menyambutku dengan gemerlap lampu kota dan udara yang terasa berbeda. Begitu menginjakkan kaki di sana, rasa gembira yang terpendam seolah meledak begitu saja. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar bebas.

Aku menghabiskan hari-hariku dengan bermain, tertawa, dan berkeliling kota bersama teman-teman. Selama di Waley, aku hampir selalu bersama Rena. Kami seperti kembar siam, ke mana pun aku pergi, dia selalu ada di sisiku.

Malam ini, kami sedang menikmati makan malam di sebuah toko kecil dekat alun-alun kota. Suasananya ramai, penuh suara tawa dan percakapan orang-orang yang berlalu-lalang.

“Raiya,” Rena membuka percakapan sambil menusuk makanannya. “Setelah lulus, kamu mau kuliah di mana?”

Aku terdiam sejenak sebelum menjawab. “Aku belum tahu. Sebenarnya aku ingin melanjutkan belajar di Torobo, karena makam orang tuaku ada di sana. Tapi paman memintaku untuk kuliah di Amelo.”

“Kamu selalu menurut sama pamanmu,” Rena menghela napas. “Dia kan cuma pamanmu. Kenapa kamu sampai seperti itu?”

Aku menatap meja. “Paman yang membesarkanku sejak kecil. Kalau aku tidak menurut padanya, lalu aku harus menurut pada siapa? Masa pada pacar? Aku saja tidak punya.”

Rena mendengus. “Kalau tidak punya, ya carilah. Banyak yang naksir kamu.”

Aku menggeleng. “Tidak tertarik.”

“Coba aku ingat-ingat,” katanya sambil menghitung dengan jari. “Ada Andi, Ivan, Very, Saro, Sliz”

“Cukup!” potongku cepat. “Untuk apa kamu mengingat nama mereka? Mereka tidak setampan pamanku.”

Rena memiringkan kepala, menatapku penuh arti. “Kalau kamu tidak memanggilnya paman, aku pasti sudah mengira kamu jatuh cinta padanya.”

Aku memilih diam. Rena sudah terlalu sering mengatakan hal itu. Menjelaskan hanya akan membuat semuanya semakin rumit.

Malam itu, kami kembali ke penginapan setelah menghabiskan makanan. Aku tertidur dengan perasaan campur aduk.

Menjelang tengah malam, aku terbangun oleh suara ketukan pintu yang sangat keras. Ketukan itu berulang, memekakkan telinga, seolah orang di luar tidak punya kesabaran sedikit pun.

Dadaku langsung terasa sesak.

Aku sudah merasa kesal sejak sebelum tidur karena Tria tidak menghubungiku sama sekali. Padahal besok adalah hari ulang tahunku. Hari di mana aku akan resmi menjadi dewasa. Namun sepertinya, baginya, itu tidak penting.

Aku bangkit dan melihat ke arah ranjang Rena, kosong.

Karena sendirian, aku memutuskan membuka pintu. Ketukan itu semakin keras, membuatku tidak punya pilihan.

“Sebentar,” kataku.

Begitu pintu terbuka, aku terkejut. Semua teman sekelasku berdiri di depan kamar, termasuk Rena. Wajahku langsung memerah.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyaku sambil membenahi gaun tidurku.

Rena melangkah ke depan. “Kami tahu hari ini ulang tahunmu! Ayo ke taman depan. Kami punya kejutan!”

Aku terpaku. “Benarkah?”

Mereka mengangguk serempak.

Di taman, aku mendapati Zack berdiri dengan kue ulang tahun di tangannya. Black forest, kue favoritku.

“Kenapa kalian merayakan ulang tahunku?” tanyaku bingung.

“Ini ide Zack,” jawab Rena.

“Kamu beruntung,” tambah Weni. “Dia sudah kamu tolak enam kali, tapi masih saja mengejarmu.”

Randy tersenyum tipis. "Benar. Dia pantang menyerah… tidak seperti aku."

Rena mengejek, "Ck ck… bukankah kau sudah punya aku? Apa masih ada perasaan untuk Raiya?"

Randy tampak gugup. "Mana mungkin! Sekarang kamu adalah cintaku. Kalau tidak percaya, tanya saja orang tuaku."

Aku hanya menggeleng, menghadapi dua sejoli yang selalu ribut itu.

Aku kembali menatap Zack. “Zack.. kamu tahu kan, aku tidak mungkin menyukaimu. Kamu tidak setampan pamanku.”

Zack tersedak, tapi kemudian tersenyum. “Aku memang tidak setampan pamanmu. Tapi aku janji tidak akan menyakitimu.”

Dia berlutut di hadapanku.

“Raiya, mau nggak jadi pacarku?”

Hatiku berdebar. Aku ragu. Namun keinginan untuk mencoba hidupku sendiri akhirnya menang.

“Kamu yakin mau aku jadi pacarmu?” tanyaku dengan nada serius. “Soalnya aku tidak pernah suka cowok yang plin-plan, bodoh, dan tukang selingkuh.”

“Aku yakin,” jawabnya mantap.

Aku menatap lilin di kue itu… lalu ke wajah Zack.

Dan di saat yang sama, ponselku bergetar di sakuku.

Nama Tria muncul di layar.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 51 (TAMAT)

    Saat Tria keluar, pakaiannya telah berlumur darah. Tatapannya bertemu dengan Arley dan Arleya yang berdiri di ujung lorong. Tak ada pertanyaan ataupun rasa takut di wajah mereka. Akhirnya Tria hanya melewati mereka begitu saja, kembali ke kamarnya dan bergegas membersihkan diri.Keesokan paginya, Zask tiba di kediaman Tria. Arleya langsung berlari menghampirinya.“Paman, di mana Bibi Rena? Dia tidak datang lagi?”Arley tetap diam, namun tatapannya menyimpan pertanyaan yang sama.“Bibi Rena dan Paman Randy sedang di Torobo. Mereka akan tiba besok pagi, untuk merayakan ulang tahun kalian.” jawab Zask sambil mengelus rambut Arley pelan.“Benarkah?” mata Arleya berbinar.“Benar,” jawab Zask mantap, berusaha menenangkan hati mereka.Hari itu dihabiskan oleh mereka dengan obrolan ringan, bermain gim, dan membuat camilan sederhana. Tawa mereka terdengar ringan, tapi Tria melihat bayangan Raiya di wajah mereka, bayangan yang menekan dadanya dan mengingatkan akan kesalahan yang tak lagi bisa d

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 50

    Tujuh belas tahun telah berlalu dengan sangat lama bagi Tria tapi tidak bagi putra-putrinya.Bagi Arleya dan Arley, itu sudah cukup untuk membuat kehilangan berubah wujud, dari rindu yang samar menjadi kebenaran yang menekan dada mereka setiap malam.Mereka bukan lagi anak-anak yang hanya tahu bahwa ibu mereka tak pernah pulang. Potongan-potongan masa lalu kini berkumpul perlahan, tersusun rapi seiring bertambahnya usia, hingga alasan di balik kematian wanita itu tak lagi bisa dihindari untuk diketahui keduanya.Mereka memahami kenyataan itu dengan sangat baik. Mereka tahu mengapa Tria melakukan semua ini. Mereka tahu dari mana kemarahan, penyesalan, dan keputusasaan itu berasal.Namun pemahaman tersebut tidak melahirkan kebencian ataupun kemarahan di hati mereka. Yang muncul justru malah jarak. Jarak yang perlahan terbentang di antara mereka dan Tria.Tak ada tudingan yang diucapkan, tak ada amarah yang meledak. Namun setiap kali mereka berada di ruangan yang sama dengan Tria, sesuat

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 49

    Tubuh Tria akhirnya menyerah, ia jatuh dan tertidur di atas makam itu.Dalam lelapnya, ia bermimpi.Raiya berdiri di hadapannya, mengenakan gaun serba putih. Wajahnya cerah, tidak ada lagi rasa sakit yang bisa ia lihat di sana.“Raiya!” Tria berlari menghampiri dan memeluknya dengan erat.Raiya membalas pelukan Tria perlahan.“Paman, ingat janji paman, ya.” ucap Raiya dengan suara lembut. “Paman harus hidup sampai anak-anak kita tumbuh dewasa. Habiskan waktu paman untuk merawat mereka dengan baik.”Ia menatap Tria dalam-dalam. “Jika paman mengingkari janji.. aku tidak akan mau menemui paman lagi.”“Raiya.. maafkan paman.. ini semua salah paman.”“Paman,” potong Raiya. “Mau sampai kapan paman mengucapkan kata-kata itu? Aku sudah benar-benar muak mendengarnya.”Ia tersenyum kecil sebelum melanjutkan kalimatnya. “Ingat janji paman, ya. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku mencintai paman.”Setelah itu, Raiya menghilang dari pandangan Tria.Tria akhirnya terbangun beberapa saat kemudian

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 48

    Tangan Raiya terangkat menyentuh wajah Tria cukup lama.“Paman, jangan sering begadang setelah ini. Paman harus banyak istirahat. Dan jangan merokok lagi ya, itu nggak baik buat tubuh paman.”Tria hanya mengangguk. Air matanya jatuh saat ia menggenggam tangan Raiya yang kurus dan dingin di wajahnya.“Raiya, paman janji akan mendengarkanmu. Tapi jangan seperti ini, paman takut. Tolong jangan pergi, ya?”Raiya akhirnya meneteskan air mata yang sejak tadi ia tahan dengan susah payah.“Paman, jika aku sudah nggak ada nanti, paman boleh memilih untuk bersama bibi Manda. Aku tidak akan melarang paman.”“Tapi tolong, tolong jangan abaikan anak-anak kita.”Tria buru-buru menggeleng mendengar ucapan Raiya.“Jangan bicara seperti itu. Paman hanya punya kamu. Jika kamu pergi, paman juga tidak ingin hidup, paman..”Raiya menghentikan kata-katanya dengan meletakkan jarinya yang dingin di bibir Tria.“Paman. Jika paman ikut pergi, siapa yang akan menjaga anak-anak kita? Mereka butuh orang tua. Dan

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 47

    Tangan Tria mendadak kaku. Ia tidak bergerak sedikit pun saat tatapannya tertahan pada wajah Raiya, lalu perlahan beralih ke kedua mata gadis itu, mencari petunjuk bahwa firasat buruk yang sejak tadi mencengkeram dadanya hanyalah ketakutan yang ia ciptakan sendiri.“Paman, tolong."Air mata Tria akhirnya jatuh tanpa mampu ia tahan lagi. Ia berlutut di sisi ranjang, menggenggam tangan Raiya erat dengan kedua tangannya.“Maafkan paman, maaf Raiya..”Raiya menghela napas pendek.“Paman tidak perlu minta maaf.., tolong, ya.”"Paman akan membuatkan bubur jagung untukmu. Setelah itu, kamu harus menerima kembali inti Veromonmu, ya? Manda akan segera tiba dan semuanya akan kembali seperti semula. Jadi kamu harus berjanji pada paman, apa pun yang terjadi, jangan menyerah, Raiya.”Tria bergegas mendekat dan memeluk tubuh Raiya dengan erat.Raiya hanya membalas Tria dengan senyuman dan kembali berkata, “Paman..” Beberapa saat kemudian, Tria akhirnya keluar dari kamar Raiya. Ia meminta bawahanny

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 46

    Tangis bayi keduanya terdengar lebih lirih, namun tetap hidup. Tria membantu membersihkan keringat di wajah Raiya. Tangannya gemetar saat menyentuh kulit itu, seputih kertas dan nyaris tanpa warna kehidupan. Matanya terus memeriksa wajah Raiya dengan panik, mencari tanda-tanda kesadaran yang ia harap akan segera muncul.“Raiya…” panggil Tria pelan.“Paman, aku mengantuk, aku ingin tidur. Aku lelah…”Mata Raiya sudah terpejam erat sebelum Tria sempat memberi tanggapan.Panik langsung menghampiri dan mencengkeram dada Tria dengan keras.“Raiya! Raiya! Paman mohon bertahanlah.. jangan tinggalkan paman, paman mohon Raiya."Tria buru-buru meminta Dokter Cha untuk segera memeriksa kondisi Raiya. Tangan dokter itu sempat bergetar saat menyentuh nadi Raiya, lalu ia menghela napas ringan.“Dia hanya tertidur,” ucap Dokter Cha ringan. “Tapi aku tidak bisa menjamin kapan Raiya akan bangun. Energinya telah habis untuk melahirkan bayi-bayi itu.”Kata-kata itu terdengar samar dan jelas tidak sepen

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 13

    Saat perkuliahan berlangsung, ponsel Raiya terus bergetar di atas meja. Getarannya begitu sering hingga mengganggu konsentrasinya. Dengan ragu, ia melirik layar ponselnya dan melihat puluhan pesan masuk dari grup kelas.Matanya membeku saat sebuah foto muncul di layar, foto dirinya yang telah diedi

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 11

    Keesokan paginya, Raiya seharusnya menghadiri mata kuliah Freehand. Tapi tubuhnya terasa panas dan lemah tiba-tiba, mungkin karena ia terlalu banyak makan es krim semalam. Dan, kini, ia hanya bisa duduk di ranjang, memeluk selimut mencoba menahan rasa tidak enak yang kini menyerang seluruh tubuhnya

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 5

    Banyak tamu hadir memberi ucapan selamat kepada kami. Wajahku terasa kaku karena harus terus tersenyum, hampir kram karena terlalu lama menahan ekspresi. Setiap kali ada yang menatapku, aku tersenyum dan mengangguk, tapi hatiku tetap berdebar tak menentu. Dua hari terakhir terasa begitu melelahka

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 4

    Tria menekanku dengan kasar. Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku, sementara bibirnya menutup mulutku tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk menghindar. Nafasku tercekat. Kepalaku seketika kosong, seolah seluruh pikiranku tersapu bersih dalam satu tarikan napas.Aku tidak tahu harus berb

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status