تسجيل الدخولKamu mengandung anak Tria?”Raiya kembali menoleh, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.Dokter Cha terdiam. Tubuhnya bersandar perlahan ke belakang, sementara rahangnya menegang samar, seolah baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi.“Bagaimana bisa?” suaranya rendah, tak percaya.“Umurmu masih kurang tiga tahun untuk bisa mengandung keturunan bangsa Veromon, Raiya.”Nada suaranya bergetar, antara logika dan ketakutan.“Raiya… jelaskan padaku.”Raiya menyentuh perutnya tanpa sadar, gerakan itu refleks dan penuh kehati-hatian.“Dokter Pras,” ucapnya pelan.“Paman mencari bantuan dari Dokter Pras. Selama ini, Paman kesulitan mengendalikan hasratnya padaku… dan akhirnya ia meminta bantuannya.”“Dokter Pras bilang, jika aku bisa segera melahirkan anak paman, hasrat paman padaku akan segera hilang.”Tangan Raiya tetap berada di atas perutnya, memastikan bahwa sesuatu yang seharusnya ada di sana masih tetap ada.Tatapan Raiya perlahan beralih ke arah jendela, lalu
“Anton!” panggil Raiya lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras. Tatapannya menajam, dipenuhi kecemasan yang perlahan berubah menjadi ketakutan.“Paman... apa dia menemui wanita itu? Bibi Manda?”“Nona... Mungkin tuan hanya sedang membicarakan sesuatu yang penting. Tolong jangan berpikir terlalu jauh. Tuan hanya mencintai nona seorang.”Tubuh Raiya menegang seketika, air matanya jatuh begitu saja tanpa mampu ia tahan.“Kenapa? Kenapa Paman masih menemuinya? Bukankah aku sudah mengandung anaknya? Bukankah hasrat itu seharusnya sudah hilang?”Raiya menatap Anton dengan tatapan putus asa. “Kenapa, Anton?”“Nona, tolong...” Anton melangkah mendekat ke arah Raiya. “Kondisi nona sedang hamil. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu benar.”Raiya tidak menanggapi nasehat Anton, ia hanya menangis dalam diam, bahunya bergetar pelan menahan sesak yang memenuhi dadanya. Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali.“Anton, antar aku ke kediaman Bibi Manda.
Raiya menatap mata Tria. Warna hitam itu kini akhirnya kembali utuh, tak lagi dipenuhi kegelisahan yang beberapa hari ini terus menghantuinya.“Paman… sakit,” ucap Raiya lirih. “Punggungku sakit sekali.”Tria menoleh panik ke arah Dokter Pras yang kini berdiri mematap Raiya. “Lakukan sesuatu! Jangan biarkan dia kesakitan!”Dokter Pras mengangguk dan segera membuka tasnya, mengeluarkan botol kecil berisi satu pil berwarna hitam. “Suruh dia menelan ini.”Tria mengikuti perintah dokter Pras dan memasukkan kapsul itu ke mulut Raiya. Raiya ingin menolak, tetapi tubuhnya terasa mati rasa, seperti tak lagi mampu bergerak. Kapsul itu perlahan meleleh di mulutnya, dan tak lama kemudian darah yang mengalir di hidungnya mulai berhenti. Tubuh Raiya melemah sebelum akhirnya terkulai tak sadarkan diri.Setidaknya, itulah yang terlihat oleh semua orang. Namun di dalam dirinya, sebenarnya Raiya masih terjaga. Rasa sakit masih ada, menusuk dan berdenyut, terutama di punggungnya, tepat di tempat tanda
“Apa ada cara untuk menghapus sepenuhnya hasrat berlebihan yang aku miliki pada Raiya?”“Ada. Aku hanya perlu mengganti efek pil keseratus itu untuk Raiya minum.”“Apa aku masih harus melakukannya dengan Raiya? Dengan kondisi tubuhnya saat ini, bayinya bisa dalam bahaya.”“Tidak perlu. Kau hanya perlu menahan hasratmu saja padanya saat aku memberi dia obat ke seratus ini.”“Jika kau setuju, aku akan datang minggu depan dengan obat itu.”“Aku akan membicarakannya dengan Raiya dulu.”“Aku mengerti.”Panggilan terputus, dan seketika wajah Dokter Pras berubah, tidak ada kebimbangan ataupun rasa bersalah di sana. Hanya senyum datar, seakan semua ini sudah berada dalam hitungannya sejak awal.Tidak jauh darinya, Manda duduk dengan tenang sambil menikmati camilan di tangannya.“Lakukan yang terbaik, aku menginginkan tanda itu.”Dokter Pras mengangguk ringan.“Kau adalah putriku, jangan khawatirkan hal seperti ini.”Manda tersenyum puas mendengar jawaban itu. Dan di saat yang sama, jauh dari
Raiya tahu pertanyaan Tria bukan sekadar basa-basi. Ia menelan ludah sebelum menggeleng pelan, meski gerakan kecil itu sama sekali tidak terdengar meyakinkan.“Raiyaa… dokter Cha sedang melakukan penelitian tersembunyi dengan murid didiknya. Paman sudah mencoba menghubunginya sejak kita meninggalkan Torobo, namun sampai saat ini masih belum ada hasil.”Tria duduk di sampingnya, menurunkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Raiya. Tatapannya menembus, namun suaranya tetap dijaga agar terdengar sabar.“Kenapa kamu takut dengan Dokter Pras? Hm? Dia seorang veromon sama seperti kita. Dia tidak akan melukai sebangsanya sendiri.”Raiya membuang pandangannya. Jari-jarinya mencengkeram seprai, meninggalkan lipatan kecil di kain putih itu.“Jika paman memanggil dokter manusia, dia tidak akan tahu apa yang terjadi pada dirimu secara pasti.”Tria menghela napas pelan sebelum melanjutkan. Ia ingin memastikan setiap kata yang keluar tidak terdengar sebagai paksaan.“Jika itu hanya demam biasa ti
Setiap kali mereka menetap di suatu tempat, dunia Raiya selalu menyempit menjadi satu ruang yang sama. Tria hampir tidak pernah membiarkannya sendiri. Raiya hanya diberi waktu untuk beristirahat ketika tubuhnya benar-benar tidak memungkinkan, dan bahkan saat itu pun, pengawasan tak pernah lepas dari tubuh Raiya.Setiap kali semuanya usai, Tria selalu menyodorkan pil kecil berwarna hijau gelap ke mulut Raiya.“Kamu harus minum ini,” ucapnya setiap kali, dengan nada yang tidak menerima penolakan.Dokter Pras pernah menjelaskan dengan sangat rinci. Seratus pil. Jika semuanya tertelan, maka proses yang mereka harapkan akan terjadi. Dan bersamaan dengan itu, hasrat Tria diyakini akan menghilang sepenuhnya.Saat pil ke-50 masuk ke tubuhnya, semuanya masih tampak baik-baik saja.Namun setelah pil ke-70, Raiya mulai merasakan ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan. Tubuhnya terasa asing, seolah ada bagian dalam dirinya yang perlahan menolak sesuatu. Meski begitu, ia memilih diam. Melihat waja







