LOGINDi planet ini, terdapat berbagai jenis makhluk hidup yang keberadaannya tidak diketahui oleh masyarakat luas. Salah satunya adalah Bangsa Voremon, entitas yang menyerupai manusia namun memiliki karakteristik unggul di segi penampilan dan kekuatan fisik. Selain itu, umur mereka, rata-rata mencapai seribu tahun. Populasi Voremon di Bumi relatif kecil dan tidak pernah melebihi angka 1000. Bangsa Voremon dikenal karena kemurnian garis keturunan yang dipertahankan melalui tidak adanya percampuran dengan bangsa lain. Bangsa Voremon dikenal karena kesetiaan kuat mereka terhadap pasangan, berkat tanda pasangan yang dimiliki Voremon jantan sejak lahir. Tanda ini memungkinkan mereka merasakan keberadaan dan kondisi pasangannya, sehingga mereka akan berusaha melindungi pasangan jika terjadi sesuatu. Ini menjadikan hubungan pasangan Voremon sangatlah spesial dan kuat. Biasanya, pasangan Voremon memiliki perbedaan umur yang relatif kecil, maksimal 5 tahun. Namun, aku berbeda. Sebagai Voremon nomor 718 yang lahir di Bumi, aku memiliki pasangan yang berusia 20 tahun lebih tua dariku, dia pamanku sendiri. Situasi ini jelas tidak biasa bagi bangsa Voremon. Meskipun bangsa Voremon tidak menunjukkan tanda-tanda penuaan hingga usia 500 tahun dan tetap akan terlihat seperti manusia dewasa pada umumnya, perbedaan umur yang signifikan ini tetap menjadi penghalang utama bagi kami untuk bersatu.
View MoreDi planet ini, ada makhluk-makhluk yang hidup berdampingan dengan manusia tanpa pernah benar-benar dikenal oleh mereka. Mereka berjalan di jalan yang sama, bernapas di udara yang sama, namun keberadaan mereka tersembunyi di balik tabir tipis bernama ketidaktahuan.
Salah satunya adalah Bangsa Voremon. Voremon menyerupai manusia dalam banyak hal, tetapi mereka diciptakan dengan keunggulan yang tidak dimiliki ras lain, fisik yang jauh lebih kuat, penampilan yang hampir selalu sempurna, serta umur panjang yang rata-rata mencapai seribu tahun. Mereka tidak menua seperti manusia. Hingga usia lima ratus tahun, tubuh mereka akan berhenti pada satu fase, dewasa, prima, dan nyaris tak berubah. Populasi Voremon di Bumi tidak pernah lebih dari seribu. Jumlah itu dijaga ketat, bukan karena keterbatasan kelahiran, melainkan karena kemurnian garis keturunan. Bangsa ini tidak pernah bercampur dengan ras lain. Kesetiaan mereka terhadap pasangan adalah hukum tertinggi yang tidak tertulis, namun ditaati tanpa pengecualian. Setiap Voremon jantan lahir dengan tanda pasangan yang terukir di punggungnya. Tanda itu mengikat dua jiwa seumur hidup, memungkinkan mereka merasakan keberadaan, emosi, bahkan bahaya yang mengancam pasangannya. Karena itulah hubungan pasangan Voremon dianggap sakral dan mutlak. Biasanya, pasangan memiliki perbedaan usia yang sangat kecil, maksimal lima tahun. Keseimbangan itu dianggap penting untuk keharmonisan ikatan. Namun aku adalah pengecualian. Namaku Raiya. Aku adalah Voremon nomor 718 yang lahir di Bumi. Pasanganku… berusia lebih dari tiga puluh tahun di atasku. Dan lebih buruk lagi, dia adalah pamanku sendiri. Tria. Keadaan itu adalah sesuatu yang bahkan bangsa Voremon enggan bicarakan. Sebuah penyimpangan. Sebuah kecacatan yang tidak bisa diperbaiki. Aku kehilangan kedua orang tuaku saat usiaku baru satu tahun. Ingatanku tentang mereka nyaris tidak ada, hanya serpihan perasaan hangat yang tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Karena tidak memiliki kerabat dekat, aku diasuh oleh sahabat ayahku, Tria. Sejak kecil, aku memanggilnya Paman. Ia tidak pernah memperlakukanku seperti beban. Tidak sekalipun. Aku tumbuh dalam kasih sayang yang melimpah, hidup berkecukupan, dan tidak pernah kekurangan apa pun. Tria adalah Voremon yang sukses beradaptasi di dunia manusia, membangun bisnis besar, dan hidup dalam kemewahan tanpa menimbulkan kecurigaan. Aku hidup di tengah manusia, bersekolah bersama mereka, tertawa bersama mereka. Dan tidak ada yang tahu siapa kami sebenarnya. Bagi manusia, aku dan paman hanyalah manusia yang terlahir sempurna. Namun bagi bangsa Voremon, aku dan pamanku adalah mahluk cacat. Kami tidak memiliki tanda pasangan sejak lahir. Tanpa tanda itu, kami dianggap tidak mampu meneruskan garis keturunan. Voremon tanpa tanda pasangan ditakdirkan untuk hidup sunyi dan mati tanpa arti. Setidaknya… begitulah yang mereka kira. Namun, segalanya berubah ketika aku menginjak usia dewasa. Tanda itu muncul di punggungku. Dan tanda itu… sama persis dengan milik Tria. Sebenarnya, dia sudah mengetahuinya jauh sebelum aku lahir. Bahkan sejak aku masih berada dalam kandungan ibuku. Namun Tria memilih menyembunyikan kebenaran itu, menghapus, menekan, dan menolak keberadaan tanda tersebut dengan caranya sendiri. Ia lebih memilih kami dicap cacat, daripada dipasangkan dalam hubungan yang menurutnya tidak seharusnya ada. Aku baru mengetahui kebenaran itu bertahun-tahun kemudian. Saat usiaku mencapai usia dua puluh tiga tahun. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang benar-benar sama. “Paman!” Aku berlari menghampirinya begitu pintu rumah tertutup di belakangku. Tria menoleh, lalu refleks mencondongkan tubuh dan memelukku erat, mengangkat tubuhku seperti kebiasaan lama. “Kamu baru pulang?” tanyanya. “Bagaimana sekolahnya?” Aku tertawa kecil. “Cukup baik. Tapi sedang sibuk. Ada clasmeeting.” “Hm.” Ia menurunkanku dan mengajakku ke ruang makan. “Paman…” aku mengayunkan lengannya pelan. “Minggu depan sekolah mengadakan wisata ke negara Waley. Kami wajib ikut.” Langkah Tria terhenti. Ia menoleh ke arahku, sorot matanya mengeras. “Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?” Aku menelan ludah. Mata hitamnya selalu membuatku gugup saat ia tidak senang. “Aku ingin ikut, Paman. Aku ingin bermain salju bersama teman-teman. Tolong… jangan marah.” Sejak kecil, Tria selalu melarangku bepergian jauh tanpanya. Semua bermula dari kejadian saat aku berusia tiga belas tahun, penculikan dalam wisata sekolah yang hampir merenggut nyawaku. Aku ditemukan dua hari kemudian. Tria-lah yang pertama memelukku saat itu, dengan wajah pucat dan mata merah karena tidak tidur. Sejak hari itu, dunia baginya menjadi terlalu berbahaya untukku. “Tidak.” Suaranya tegas, tanpa celah. “Jika kamu ingin bermain salju, Paman akan mengajakmu sendiri. Tapi bukan wisata sekolah.” Aku menggeleng, air mata mulai menggenang. “Paman... sebentar lagi, Aku akan lulus. Aku akan berpisah dengan mereka. Aku hanya ingin kenangan yang normal.” “Waley bukan tempat aman,” katanya pelan namun berat. “Bukan untuk gadis sepertimu.” “Aku tidak bisa selamanya hidup di balik bayang-bayang Paman.” Keheningan menyelimuti ruangan. Wajah Tria menggelap. “Kembali ke kamar,” perintahnya. Tanpa mengatakan apapun, aku menghentakkan kaki dan berlari menjauh. Sejak kecil, kami selalu tidur di kamar dan ranjang yang sama. Tidak pernah ada pembahasan tentang berpisah. Bahkan ketika aku mencoba tidur sendiri, aku selalu kembali padanya sebelum fajar. Setelah aku mengurung diri di kamar, Tria memanggil Anton. “Kau tahu tentang ini?” tanyanya dingin. “Benar, Tuan. Tapi nona Raiya melarang saya melapor. Dia mengancam akan melompat dari mobil.” Wajah Tria mengeras. “Pergi ke aula hukuman,” katanya pelan namun mematikan. “Jangan keluar sebelum aku memanggilmu.” Anton menunduk lalu berjalan menuju aula hukuman, seolah itu hal yang biasa baginya. Tria berdiri sendiri di ruang yang sunyi. Tangannya mengepal. Tria menatap punggung pintu kamar mereka yang tertutup rapat. Dari balik kayu tebal itu, ia masih bisa merasakan keberadaannya, napasnya, detak jantungnya, emosi yang bergejolak seperti riak air yang dipukul batu. Semua itu merambat halus ke dalam kesadarannya, memicu rasa sesak yang sudah lama ia kenal. Rasa bersalah. Ketakutan. Dan sesuatu yang lebih gelap, yang tidak pernah ia izinkan tumbuh. Ia mengingat malam ketika tanda itu pertama kali muncul di tubuhnya, puluhan tahun lalu. Rasa panas membakar di punggung, disusul dorongan naluriah untuk mencari, melindungi, mengikat. Saat itu ia mengira pasangannya telah lahir di suatu tempat yang jauh, seseorang yang suatu hari akan ditemukannya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa takdir akan menertawakannya dengan cara sekejam ini. Bahwa ikatan itu akan tertuju pada darah daging sahabatnya sendiri. Pada gadis kecil yang ia gendong sejak belum bisa berjalan. Tria menarik napas panjang, menekan telapak tangannya ke dada. “Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi,” gumamnya lirih, seolah meyakinkan dirinya sendiri. Namun di saat yang sama, tempat dimana tanda pasangan itu harusnya berada, berdenyut lebih kuat, seolah menjawab bahwa penolakan itu sudah terlambat.Banyak tamu hadir memberi ucapan selamat kepada kami. Wajahku terasa kaku karena harus terus tersenyum, hampir kram karena terlalu lama menahan ekspresi. Setiap kali ada yang menatapku, aku tersenyum dan mengangguk, tapi hatiku tetap berdebar tak menentu. Dua hari terakhir terasa begitu melelahkan, dan kini di tengah pesta yang megah ini, ketegangan itu masih membekas di setiap detak jantungku. Aku merasa seolah semua mata tertuju padaku, menilai setiap gerakan, setiap senyum, dan setiap kata yang aku ucapkan.Melihatku kelelahan, Tria akhirnya mengizinkanku beristirahat sebentar di ruang ganti. Tubuhku tersandar sejenak di kursi empuk yang tersedia, dan aku menutup mata, menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Meski tubuhku beristirahat, hatiku tetap berdebar, seolah menolak berhenti meski aku ingin melupakan beberapa hari terakhir yang penuh tekanan. Aku merasakan campuran lega dan cemas, lega karena bisa duduk sebentar, tapi cemas karena masih ada banyak hal yang belum a
Tria menekanku dengan kasar. Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku, sementara bibirnya menutup mulutku tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk menghindar. Nafasku tercekat. Kepalaku seketika kosong, seolah seluruh pikiranku tersapu bersih dalam satu tarikan napas.Aku tidak tahu harus berbuat apa.Ketika cengkeramannya semakin kuat, tubuhku membeku. Aku ingin menjerit, ingin memanggil siapa pun, tetapi suaraku tidak keluar. Yang ada hanyalah rasa takut yang menjalar dari ujung kepala hingga kakiku.Saat kesadaranku kembali sedikit demi sedikit, aku menyadari pakaianku telah berantakan. Kain yang tadi menutupi tubuhku kini robek dan terlepas. Mataku membesar, jantungku berdetak begitu kencang hingga terasa menyakitkan.Aku mencoba mendorong tubuhnya. Tapi tenagaku gemetar, tidak sebanding dengan kekuatan yang menekanku. “Paman… tolong…” suaraku bergetar, penuh permohonan.Namun Tria tidak mendengarnya.Ia menarik tubuhku dan melemparkanku ke atas ranjang kecil di sudut ruang d
“Raiya… kamu”Suara Zack terhenti di tenggorokannya.Aku menoleh, namun belum sempat mendengar kelanjutan kalimat itu, deru mesin berat memecah suasana taman penginapan. Sebuah Bentley hitam melaju perlahan melewati gerbang, rodanya berhenti tepat beberapa langkah dariku dan Zack.Mobil itu terlalu mencolok untuk berada di tempat sederhana seperti ini.Pintu terbuka.Dan di sanalah dia.Tria.Aku terdiam sepersekian detik, napasku tercekat. Namun keterkejutan itu segera berubah menjadi kegembiraan yang mengalir deras. Tanpa berpikir panjang, aku berlari menghampirinya, meninggalkan Zack yang masih berlutut kaku di tempatnya.“Paman!” seruku ceria. “Apa Paman datang untuk merayakan ulang tahunku?”Tatapan Tria yang sebelumnya dingin, tatapan yang mengamati kami dari balik kaca mobil, seketika mencair. Senyum tipis terbit di wajahnya saat aku berdiri tepat di hadapannya.“Benar,” jawabnya lembut. “Paman punya kejutan untukmu. Ayo, kita pulang ke kediaman.”Aku mengangguk patuh dan melan
Begitu pintu kamar tertutup, aku langsung menguncinya dari dalam. Tubuhku terasa sangat lelah, seolah seluruh energi terkuras habis oleh kejadian hari ini. Aku bahkan tak sempat berganti pakaian sebelum akhirnya terjatuh ke atas ranjang dan tertidur lelap.Aku terbangun ketika hari sudah benar-benar gelap.Lampu kamar menyala redup, menimbulkan bayangan panjang di dinding. Kesadaranku perlahan kembali saat aku merasakan kehadiran seseorang di sisiku. Saat mataku terbuka sepenuhnya, aku mendapati Tria duduk di kursi dekat ranjang, fokus membaca laporan tebal di tangannya.Aku tersentak kaget dan tanpa sadar bergerak cukup kasar.Gerakanku rupanya cukup untuk menarik perhatiannya. Tria menurunkan laporan itu, meletakkannya di meja, lalu berdiri dan mendekat. Telapak tangannya yang besar menyentuh keningku dengan lembut.“Sudah tidak panas,” ucapnya singkat. “Turunlah. Makan bersama paman.”Baru saat itu aku benar-benar menyadari tubuhku terasa ringan, tapi lemas. Ingatanku terputus-putu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.