แชร์

Bab 31

ผู้เขียน: Ellow_dikata
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-19 17:52:48

“Apa ada cara untuk menghapus sepenuhnya hasrat berlebihan yang aku miliki pada Raiya?”

“Ada. Aku hanya perlu mengganti efek pil keseratus itu untuk Raiya minum.”

“Apa aku masih harus melakukannya dengan Raiya? Dengan kondisi tubuhnya saat ini, bayinya bisa dalam bahaya.”

“Tidak perlu. Kau hanya perlu menahan hasratmu saja padanya saat aku memberi dia obat ke seratus ini.”

“Jika kau setuju, aku akan datang minggu depan dengan obat itu.”

“Aku akan membicarakannya dengan Raiya dulu.”

“Aku mengert
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 36

    Napas Raiya tercekat. Tubuhnya mulai bergetar hebat, seolah-olah rasa dingin perlahan merayap keluar dari dalam tulangnya sendiri.“Nggak...” bisiknya lirih.Dengan tangan gemetar, ia meraih jubah mandi lalu mengenakannya seadanya sebelum melangkah keluar dari kamar mandi. Langkahnya terburu-buru. Napasnya terdengar kacau dan tidak beraturan.Raiya segera membuka laci meja di samping tempat tidur, lalu meraih ponselnya. Kali ini, ia tidak mencari nama Tria. Jemarinya langsung bergerak menuju kontak Dokter Cha.Raiya tidak tahu banyak tentang bangsa Veromon. Sejak bayi, ia telah hidup di dunia manusia. Dan dari bangsanya sendiri, orang yang benar-benar ia kenal hanyalah Tria dan Dokter Cha.Karena itu, hilangnya tanda pasangan di punggungnya terasa jauh lebih mengerikan daripada yang mampu ia pahami. Namun sebelum jarinya sempat menekan tombol panggil.Klik.Pintu kamarnya perlahan terbuka. Dengan penuh kesadaran Raiya langsung menoleh menatap sosok yang kini berdiri tegak di depan pin

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 35

    Raiya meraih ponselnya dengan tangan gemetar, mencoba menekan satu nama yang selalu ia harapkan kehadirannya.Sekali, dua kali dan berkali-kali. Namun tak satu pun dari panggilannya yang dijawab.Jemarinya menggenggam ponsel itu semakin erat hingga buku-buku jarinya memucat. Bibirnya bergetar pelan, terus memanggil nama Tria di tengah isak yang tertahan. Sampai akhirnya, tanpa sadar, Raiya tertidur dalam keadaan seperti itu.Saat pagi datang, ia terbangun dengan rasa kram yang menusuk di seluruh tubuhnya dan membuatnya merasa sangat tidak nyaman bahkan hanya untuk sekedar duduk. Ia terdiam sejenak di atas tempat tidur, hingga beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Anton datang membawa sarapan ke dalam kamarnya dan Tria.“Paman belum pulang?” tanya Raiya lirih begitu melihatnya.Anton terdiam beberapa sesaat sebelum akhirnya menggeleng pelan.Begitu melihat jawabannya, Raiya hanya mengangguk. Tak ada pertanyaan lain yang lolos dari bibirnya.Hari demi hari terus berlalu dengan kehen

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 34

    Kamu mengandung anak Tria?”Raiya kembali menoleh, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.Dokter Cha terdiam. Tubuhnya bersandar perlahan ke belakang, sementara rahangnya menegang samar, seolah baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi.“Bagaimana bisa?” suaranya rendah, tak percaya.“Umurmu masih kurang tiga tahun untuk bisa mengandung keturunan bangsa Veromon, Raiya.”Nada suaranya bergetar, antara logika dan ketakutan.“Raiya… jelaskan padaku.”Raiya menyentuh perutnya tanpa sadar, gerakan itu refleks dan penuh kehati-hatian.“Dokter Pras,” ucapnya pelan.“Paman mencari bantuan dari Dokter Pras. Selama ini, Paman kesulitan mengendalikan hasratnya padaku… dan akhirnya ia meminta bantuannya.”“Dokter Pras bilang, jika aku bisa segera melahirkan anak paman, hasrat paman padaku akan segera hilang.”Tangan Raiya tetap berada di atas perutnya, memastikan bahwa sesuatu yang seharusnya ada di sana masih tetap ada.Tatapan Raiya perlahan beralih ke arah jendela, lalu

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 33

    “Anton!” panggil Raiya lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras. Tatapannya menajam, dipenuhi kecemasan yang perlahan berubah menjadi ketakutan.“Paman... apa dia menemui wanita itu? Bibi Manda?”“Nona... Mungkin tuan hanya sedang membicarakan sesuatu yang penting. Tolong jangan berpikir terlalu jauh. Tuan hanya mencintai nona seorang.”Tubuh Raiya menegang seketika, air matanya jatuh begitu saja tanpa mampu ia tahan.“Kenapa? Kenapa Paman masih menemuinya? Bukankah aku sudah mengandung anaknya? Bukankah hasrat itu seharusnya sudah hilang?”Raiya menatap Anton dengan tatapan putus asa. “Kenapa, Anton?”“Nona, tolong...” Anton melangkah mendekat ke arah Raiya. “Kondisi nona sedang hamil. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu benar.”Raiya tidak menanggapi nasehat Anton, ia hanya menangis dalam diam, bahunya bergetar pelan menahan sesak yang memenuhi dadanya. Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali.“Anton, antar aku ke kediaman Bibi Manda.

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 32

    Raiya menatap mata Tria. Warna hitam itu kini akhirnya kembali utuh, tak lagi dipenuhi kegelisahan yang beberapa hari ini terus menghantuinya.“Paman… sakit,” ucap Raiya lirih. “Punggungku sakit sekali.”Tria menoleh panik ke arah Dokter Pras yang kini berdiri mematap Raiya. “Lakukan sesuatu! Jangan biarkan dia kesakitan!”Dokter Pras mengangguk dan segera membuka tasnya, mengeluarkan botol kecil berisi satu pil berwarna hitam. “Suruh dia menelan ini.”Tria mengikuti perintah dokter Pras dan memasukkan kapsul itu ke mulut Raiya. Raiya ingin menolak, tetapi tubuhnya terasa mati rasa, seperti tak lagi mampu bergerak. Kapsul itu perlahan meleleh di mulutnya, dan tak lama kemudian darah yang mengalir di hidungnya mulai berhenti. Tubuh Raiya melemah sebelum akhirnya terkulai tak sadarkan diri.Setidaknya, itulah yang terlihat oleh semua orang. Namun di dalam dirinya, sebenarnya Raiya masih terjaga. Rasa sakit masih ada, menusuk dan berdenyut, terutama di punggungnya, tepat di tempat tanda

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 31

    “Apa ada cara untuk menghapus sepenuhnya hasrat berlebihan yang aku miliki pada Raiya?”“Ada. Aku hanya perlu mengganti efek pil keseratus itu untuk Raiya minum.”“Apa aku masih harus melakukannya dengan Raiya? Dengan kondisi tubuhnya saat ini, bayinya bisa dalam bahaya.”“Tidak perlu. Kau hanya perlu menahan hasratmu saja padanya saat aku memberi dia obat ke seratus ini.”“Jika kau setuju, aku akan datang minggu depan dengan obat itu.”“Aku akan membicarakannya dengan Raiya dulu.”“Aku mengerti.”Panggilan terputus, dan seketika wajah Dokter Pras berubah, tidak ada kebimbangan ataupun rasa bersalah di sana. Hanya senyum datar, seakan semua ini sudah berada dalam hitungannya sejak awal.Tidak jauh darinya, Manda duduk dengan tenang sambil menikmati camilan di tangannya.“Lakukan yang terbaik, aku menginginkan tanda itu.”Dokter Pras mengangguk ringan.“Kau adalah putriku, jangan khawatirkan hal seperti ini.”Manda tersenyum puas mendengar jawaban itu. Dan di saat yang sama, jauh dari

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status