分享

Bab 48

作者: Ellow_dikata
last update publish date: 2026-06-05 20:28:55

Tangan Raiya terangkat menyentuh wajah Tria cukup lama.

“Paman, jangan sering begadang setelah ini. Paman harus banyak istirahat. Dan jangan merokok lagi ya, itu nggak baik buat tubuh paman.”

Tria hanya mengangguk. Air matanya jatuh saat ia menggenggam tangan Raiya yang kurus dan dingin di wajahnya.

“Raiya, paman janji akan mendengarkanmu. Tapi jangan seperti ini, paman takut. Tolong jangan pergi, ya?”

Raiya akhirnya meneteskan air mata yang sejak tadi ia tahan dengan susah payah.

“Paman, jika
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 51 (TAMAT)

    Saat Tria keluar, pakaiannya telah berlumur darah. Tatapannya bertemu dengan Arley dan Arleya yang berdiri di ujung lorong. Tak ada pertanyaan ataupun rasa takut di wajah mereka. Akhirnya Tria hanya melewati mereka begitu saja, kembali ke kamarnya dan bergegas membersihkan diri.Keesokan paginya, Zask tiba di kediaman Tria. Arleya langsung berlari menghampirinya.“Paman, di mana Bibi Rena? Dia tidak datang lagi?”Arley tetap diam, namun tatapannya menyimpan pertanyaan yang sama.“Bibi Rena dan Paman Randy sedang di Torobo. Mereka akan tiba besok pagi, untuk merayakan ulang tahun kalian.” jawab Zask sambil mengelus rambut Arley pelan.“Benarkah?” mata Arleya berbinar.“Benar,” jawab Zask mantap, berusaha menenangkan hati mereka.Hari itu dihabiskan oleh mereka dengan obrolan ringan, bermain gim, dan membuat camilan sederhana. Tawa mereka terdengar ringan, tapi Tria melihat bayangan Raiya di wajah mereka, bayangan yang menekan dadanya dan mengingatkan akan kesalahan yang tak lagi bisa d

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 50

    Tujuh belas tahun telah berlalu dengan sangat lama bagi Tria tapi tidak bagi putra-putrinya.Bagi Arleya dan Arley, itu sudah cukup untuk membuat kehilangan berubah wujud, dari rindu yang samar menjadi kebenaran yang menekan dada mereka setiap malam.Mereka bukan lagi anak-anak yang hanya tahu bahwa ibu mereka tak pernah pulang. Potongan-potongan masa lalu kini berkumpul perlahan, tersusun rapi seiring bertambahnya usia, hingga alasan di balik kematian wanita itu tak lagi bisa dihindari untuk diketahui keduanya.Mereka memahami kenyataan itu dengan sangat baik. Mereka tahu mengapa Tria melakukan semua ini. Mereka tahu dari mana kemarahan, penyesalan, dan keputusasaan itu berasal.Namun pemahaman tersebut tidak melahirkan kebencian ataupun kemarahan di hati mereka. Yang muncul justru malah jarak. Jarak yang perlahan terbentang di antara mereka dan Tria.Tak ada tudingan yang diucapkan, tak ada amarah yang meledak. Namun setiap kali mereka berada di ruangan yang sama dengan Tria, sesuat

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 49

    Tubuh Tria akhirnya menyerah, ia jatuh dan tertidur di atas makam itu.Dalam lelapnya, ia bermimpi.Raiya berdiri di hadapannya, mengenakan gaun serba putih. Wajahnya cerah, tidak ada lagi rasa sakit yang bisa ia lihat di sana.“Raiya!” Tria berlari menghampiri dan memeluknya dengan erat.Raiya membalas pelukan Tria perlahan.“Paman, ingat janji paman, ya.” ucap Raiya dengan suara lembut. “Paman harus hidup sampai anak-anak kita tumbuh dewasa. Habiskan waktu paman untuk merawat mereka dengan baik.”Ia menatap Tria dalam-dalam. “Jika paman mengingkari janji.. aku tidak akan mau menemui paman lagi.”“Raiya.. maafkan paman.. ini semua salah paman.”“Paman,” potong Raiya. “Mau sampai kapan paman mengucapkan kata-kata itu? Aku sudah benar-benar muak mendengarnya.”Ia tersenyum kecil sebelum melanjutkan kalimatnya. “Ingat janji paman, ya. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku mencintai paman.”Setelah itu, Raiya menghilang dari pandangan Tria.Tria akhirnya terbangun beberapa saat kemudian

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 48

    Tangan Raiya terangkat menyentuh wajah Tria cukup lama.“Paman, jangan sering begadang setelah ini. Paman harus banyak istirahat. Dan jangan merokok lagi ya, itu nggak baik buat tubuh paman.”Tria hanya mengangguk. Air matanya jatuh saat ia menggenggam tangan Raiya yang kurus dan dingin di wajahnya.“Raiya, paman janji akan mendengarkanmu. Tapi jangan seperti ini, paman takut. Tolong jangan pergi, ya?”Raiya akhirnya meneteskan air mata yang sejak tadi ia tahan dengan susah payah.“Paman, jika aku sudah nggak ada nanti, paman boleh memilih untuk bersama bibi Manda. Aku tidak akan melarang paman.”“Tapi tolong, tolong jangan abaikan anak-anak kita.”Tria buru-buru menggeleng mendengar ucapan Raiya.“Jangan bicara seperti itu. Paman hanya punya kamu. Jika kamu pergi, paman juga tidak ingin hidup, paman..”Raiya menghentikan kata-katanya dengan meletakkan jarinya yang dingin di bibir Tria.“Paman. Jika paman ikut pergi, siapa yang akan menjaga anak-anak kita? Mereka butuh orang tua. Dan

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 47

    Tangan Tria mendadak kaku. Ia tidak bergerak sedikit pun saat tatapannya tertahan pada wajah Raiya, lalu perlahan beralih ke kedua mata gadis itu, mencari petunjuk bahwa firasat buruk yang sejak tadi mencengkeram dadanya hanyalah ketakutan yang ia ciptakan sendiri.“Paman, tolong."Air mata Tria akhirnya jatuh tanpa mampu ia tahan lagi. Ia berlutut di sisi ranjang, menggenggam tangan Raiya erat dengan kedua tangannya.“Maafkan paman, maaf Raiya..”Raiya menghela napas pendek.“Paman tidak perlu minta maaf.., tolong, ya.”"Paman akan membuatkan bubur jagung untukmu. Setelah itu, kamu harus menerima kembali inti Veromonmu, ya? Manda akan segera tiba dan semuanya akan kembali seperti semula. Jadi kamu harus berjanji pada paman, apa pun yang terjadi, jangan menyerah, Raiya.”Tria bergegas mendekat dan memeluk tubuh Raiya dengan erat.Raiya hanya membalas Tria dengan senyuman dan kembali berkata, “Paman..” Beberapa saat kemudian, Tria akhirnya keluar dari kamar Raiya. Ia meminta bawahanny

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 46

    Tangis bayi keduanya terdengar lebih lirih, namun tetap hidup. Tria membantu membersihkan keringat di wajah Raiya. Tangannya gemetar saat menyentuh kulit itu, seputih kertas dan nyaris tanpa warna kehidupan. Matanya terus memeriksa wajah Raiya dengan panik, mencari tanda-tanda kesadaran yang ia harap akan segera muncul.“Raiya…” panggil Tria pelan.“Paman, aku mengantuk, aku ingin tidur. Aku lelah…”Mata Raiya sudah terpejam erat sebelum Tria sempat memberi tanggapan.Panik langsung menghampiri dan mencengkeram dada Tria dengan keras.“Raiya! Raiya! Paman mohon bertahanlah.. jangan tinggalkan paman, paman mohon Raiya."Tria buru-buru meminta Dokter Cha untuk segera memeriksa kondisi Raiya. Tangan dokter itu sempat bergetar saat menyentuh nadi Raiya, lalu ia menghela napas ringan.“Dia hanya tertidur,” ucap Dokter Cha ringan. “Tapi aku tidak bisa menjamin kapan Raiya akan bangun. Energinya telah habis untuk melahirkan bayi-bayi itu.”Kata-kata itu terdengar samar dan jelas tidak sepen

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status