MasukAnton datang tidak lama kemudian. Beberapa detik setelahnya, Dokter Cha juga menyusul dengan langkah tergesa. Namun keduanya langsung membeku begitu melihat keadaan Raiya di dalam ruangan.Tubuh Raiya terkulai lemah di atas ranjang operasi. Wajahnya pucat tanpa warna, sementara napasnya terdengar begitu tipis hingga nyaris tak terasa. nDan sesuatu yang seharusnya melindunginya, kini telah pergi.Raiya baru sadar keesokan harinya. Saat kelopak matanya terbuka perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah Zack yang duduk diam di kursi yang ada di sisi tempat tidurnya. Pria itu menatapnya tanpa berkedip, seolah-olah takut ia akan kembali menghilang jika lengah sesaat.Raiya mengerjapkan matanya berkali-kali, memastikan apa yang ia lihat bukan sekadar ilusi.“Raiya… kamu sudah bangun?”Raiya terdiam, menatap Zack dengan wajah yang terlihat bingung. Tenggorokannya terasa kering, kepalanya masih juga terasa berat.“Zack, bagaimana bisa kamu ada di sini?”Zack segera berdiri dan membantu Raiya
Raiya tertegun. Ia mendongak, menatap Tria dengan tatapan yang penuh dengan ketidakpercayaan. Nafasnya tercekat, ada sesuatu yang menghantam dadanya dari dalam.Ia tidak pernah membayangkan bahwa pamannya, pasangan Veromon-nya sendiri, akan mengucapkan hal seperti itu. Kata-kata itu bukan hanya menyakitkan, tetapi juga menghancurkan sesuatu yang selama ini ia pegang dengan erat.Raiya memalingkan wajah ke samping, buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan.“Paman…” suaranya gemetar. “jika aku melakukannya, jika aku menuruti kemauan paman, apakah hutangku pada paman karena paman telah membesarkanku selama dua puluh tiga tahun ini akan lunas?”Ia tidak sanggup mengucapkan semua itu sambil menatap Tria. Tubuhnya bergetar hebat, seolah-olah sedang menahan sesuatu di dalam dirinya yang hampir runtuh.Keheningan itu memenuhi ruang kamar mereka. Dan tak ada jawaban yang datang.Tria ingin mengatakan bahwa ia salah bicara. Ingin menarik kembali semua kalimat yang baru saja keluar
Napas Raiya tercekat. Tubuhnya mulai bergetar hebat, seolah-olah rasa dingin perlahan merayap keluar dari dalam tulangnya sendiri.“Nggak...” bisiknya lirih.Dengan tangan gemetar, ia meraih jubah mandi lalu mengenakannya seadanya sebelum melangkah keluar dari kamar mandi. Langkahnya terburu-buru. Napasnya terdengar kacau dan tidak beraturan.Raiya segera membuka laci meja di samping tempat tidur, lalu meraih ponselnya. Kali ini, ia tidak mencari nama Tria. Jemarinya langsung bergerak menuju kontak Dokter Cha.Raiya tidak tahu banyak tentang bangsa Veromon. Sejak bayi, ia telah hidup di dunia manusia. Dan dari bangsanya sendiri, orang yang benar-benar ia kenal hanyalah Tria dan Dokter Cha.Karena itu, hilangnya tanda pasangan di punggungnya terasa jauh lebih mengerikan daripada yang mampu ia pahami. Namun sebelum jarinya sempat menekan tombol panggil.Klik.Pintu kamarnya perlahan terbuka. Dengan penuh kesadaran Raiya langsung menoleh menatap sosok yang kini berdiri tegak di depan pin
Raiya meraih ponselnya dengan tangan gemetar, mencoba menekan satu nama yang selalu ia harapkan kehadirannya.Sekali, dua kali dan berkali-kali. Namun tak satu pun dari panggilannya yang dijawab.Jemarinya menggenggam ponsel itu semakin erat hingga buku-buku jarinya memucat. Bibirnya bergetar pelan, terus memanggil nama Tria di tengah isak yang tertahan. Sampai akhirnya, tanpa sadar, Raiya tertidur dalam keadaan seperti itu.Saat pagi datang, ia terbangun dengan rasa kram yang menusuk di seluruh tubuhnya dan membuatnya merasa sangat tidak nyaman bahkan hanya untuk sekedar duduk. Ia terdiam sejenak di atas tempat tidur, hingga beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Anton datang membawa sarapan ke dalam kamarnya dan Tria.“Paman belum pulang?” tanya Raiya lirih begitu melihatnya.Anton terdiam beberapa sesaat sebelum akhirnya menggeleng pelan.Begitu melihat jawabannya, Raiya hanya mengangguk. Tak ada pertanyaan lain yang lolos dari bibirnya.Hari demi hari terus berlalu dengan kehen
Kamu mengandung anak Tria?”Raiya kembali menoleh, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.Dokter Cha terdiam. Tubuhnya bersandar perlahan ke belakang, sementara rahangnya menegang samar, seolah baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi.“Bagaimana bisa?” suaranya rendah, tak percaya.“Umurmu masih kurang tiga tahun untuk bisa mengandung keturunan bangsa Veromon, Raiya.”Nada suaranya bergetar, antara logika dan ketakutan.“Raiya… jelaskan padaku.”Raiya menyentuh perutnya tanpa sadar, gerakan itu refleks dan penuh kehati-hatian.“Dokter Pras,” ucapnya pelan.“Paman mencari bantuan dari Dokter Pras. Selama ini, Paman kesulitan mengendalikan hasratnya padaku… dan akhirnya ia meminta bantuannya.”“Dokter Pras bilang, jika aku bisa segera melahirkan anak paman, hasrat paman padaku akan segera hilang.”Tangan Raiya tetap berada di atas perutnya, memastikan bahwa sesuatu yang seharusnya ada di sana masih tetap ada.Tatapan Raiya perlahan beralih ke arah jendela, lalu
“Anton!” panggil Raiya lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras. Tatapannya menajam, dipenuhi kecemasan yang perlahan berubah menjadi ketakutan.“Paman... apa dia menemui wanita itu? Bibi Manda?”“Nona... Mungkin tuan hanya sedang membicarakan sesuatu yang penting. Tolong jangan berpikir terlalu jauh. Tuan hanya mencintai nona seorang.”Tubuh Raiya menegang seketika, air matanya jatuh begitu saja tanpa mampu ia tahan.“Kenapa? Kenapa Paman masih menemuinya? Bukankah aku sudah mengandung anaknya? Bukankah hasrat itu seharusnya sudah hilang?”Raiya menatap Anton dengan tatapan putus asa. “Kenapa, Anton?”“Nona, tolong...” Anton melangkah mendekat ke arah Raiya. “Kondisi nona sedang hamil. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang belum tentu benar.”Raiya tidak menanggapi nasehat Anton, ia hanya menangis dalam diam, bahunya bergetar pelan menahan sesak yang memenuhi dadanya. Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali.“Anton, antar aku ke kediaman Bibi Manda.







