LOGIN"Veronica Ashbourne," desis Nara.
Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya, seolah-olah nama itu sudah lama tertanam di dalam saraf vokalnya. Ingatan demi ingatan mulai membanjiri otaknya seperti air bah yang merobohkan bendungan. Bukan lagi sekadar potongan plot novel yang ia baca, melainkan memori yang terasa sangat nyata hingga membuatnya mual. Tiga tahun. Ia berada di tahun ketiga sejak Arlo datang ke mansion ini. Tiga tahun penuh penghinaan, obsesi bodoh, dan pengejaran sia-sia. Dalam memori yang tumpang tindih itu, Nara melihat sosok Veronica yang bersujud di kaki Arlo, memohon pria itu untuk menoleh padanya. Ia melihat Veronica yang menampar Arabella karena cemburu, hanya untuk kemudian ditampar balik oleh ayahnya di depan seluruh pelayan. Nara memegang kepalanya yang berdenyut hebat. "Sial, apa aku masuk ke tahap ini? Tahap di mana semua orang sudah menganggapku sampah?" Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka tanpa peringatan. Tidak ada ketukan. Tidak ada salam. Seorang pria masuk dengan langkah tegap. Ia mengenakan seragam pengawal berwarna hitam dan perak yang melekat sempurna pada tubuhnya yang atletis. Rambut hitamnya yang sedikit panjang menutupi sebagian matanya yang berwarna abu-abu tajam. Wajahnya sangat tampan, namun ketampanan itu dibalut oleh kedinginan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang menatapnya. Arlo. Atau lebih tepatnya, Dimitier Laurent yang sedang menyamar. Nara membeku di tempatnya. Residu emosi dari tubuh Veronica bereaksi seketika. Jantungnya berdebar kencang, namun bukan karena cinta, melainkan kombinasi antara sisa obsesi Veronica dan ketakutan murni milik Nara. Arlo berdiri di tengah ruangan, menatap Nara dengan tatapan yang sangat merendahkan. Tidak ada rasa hormat dari seorang pengawal kepada majikannya. Yang ada hanyalah kejengkelan yang mendalam. "Anda sudah sadar, Nona?" suara Arlo berat dan dingin, memotong kesunyian ruangan seperti mata pisau. "Sandiwara pingsan Anda kali ini cukup lama. Tapi sayangnya, itu tidak membuat Tuan Baron merasa iba. Beliau justru semakin murka karena Anda mengganggu jamuan teh Nona Arabella dengan drama murahan Anda di taman tadi sore." Nara terdiam, otaknya mencoba memproses informasi itu. Drama di taman? Ah, ia ingat. Dalam memori Veronica, tadi sore ia mencoba menarik perhatian Arlo dengan berpura-pura jatuh ke kolam, namun Arlo justru melompat untuk menyelamatkan Arabella yang hanya terkena percikan air, sementara Veronica dibiarkan tenggelam dan menggigil kedinginan sampai pingsan karena hipotermia ringan. "Sandiwara?" Nara mengulangi kata itu dengan suara parau. Ia menatap Arlo, mencoba mencari sedikit saja rasa kemanusiaan di mata abu-abu itu, namun ia hanya menemukan kekosongan. "Ya, sandiwara," Arlo melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Bau kayu cendana yang kuat mulai menyelimuti indra penciuman Nara. "Sampai kapan Anda akan mempermalukan diri sendiri, Nona Veronica? Tidakkah Anda lelah mengejar seseorang yang bahkan tidak sudi menganggap Anda ada? Anda hampir membunuh diri sendiri hanya untuk sebuah perhatian yang tidak akan pernah Anda dapatkan." Nara merasakan dorongan untuk menangis, namun itu bukan tangisannya. Itu adalah sisa rasa sakit Veronica yang telah diabaikan selama tiga tahun. Namun, Nara menahan air mata itu. Sebagai seseorang yang terbiasa hidup keras di dunia modern, ia tahu bahwa menangis di depan pria seperti ini hanya akan membuat posisinya semakin rendah. "Keluar," ucap Nara singkat. Arlo sedikit mengernyit. Biasanya, pada titik ini, Veronica akan mulai meracau, memegang tangan Arlo, atau menangis histeris meminta maaf. Ia akan mengatakan betapa ia mencintai Arlo dan betapa jahatnya Arabella. Tapi sekarang, gadis di depannya hanya menatapnya dengan pandangan kosong yang aneh. "Apa Anda bilang?" tanya Arlo, memastikan ia tidak salah dengar. "Aku bilang, keluar dari kamarku," Nara menegakkan punggungnya, mencoba mengabaikan rasa dingin yang menusuk kakinya. "Bukankah jam kerjamu sudah selesai? Atau kau ingin berdiri di sini hanya untuk menghinaku lebih lama lagi? Jika iya, simpan tenagamu. Aku sedang tidak selera meladeni mulut tajammu." Arlo terdiam sejenak. Ada sesuatu yang berbeda. Kilatan di mata biru safir itu bukan lagi kilatan obsesi yang menjijikkan, melainkan sesuatu yang terasa jauh lebih dalam, lebih dingin, dan... lebih asing. "Tuan Baron memerintahkan saya untuk memastikan Anda meminum obat ini," Arlo meletakkan sebuah botol kecil di atas meja rias dengan kasar. "Beliau tidak ingin Anda mati sekarang. Setidaknya tidak sebelum pernikahan politik Anda dengan Duke dari Utara dijadwalkan." Nara melirik botol itu, lalu kembali menatap Arlo. Pernikahan politik. Duke dari Utara yang dikabarkan lumpuh dan kejam. Itu adalah bagian dari plot novel di mana Veronica akan dijual oleh ayahnya untuk mengantikan Arabella yang tidak sudi menikah dengan orang lumpuh dan kejam. "Sudah kau letakkan, kan? Sekarang pergilah. Dan beritahu Ayah, aku akan meminumnya jika aku mau," ujar Nara sambil berjalan menuju tempat tidur, membelakangi Arlo. Arlo mengepalkan tangannya di samping tubuh. Perubahan sikap Veronica yang tiba-tiba ini membuatnya merasa sedikit terusik. Namun, ia segera menepis perasaan itu. Baginya, ini hanyalah taktik baru dari wanita manipulatif ini untuk menarik perhatiannya. "Satu hal lagi, Nona," Arlo berkata sebelum berbalik menuju pintu. "Nona Arabella meminta saya menyampaikan bahwa dia sudah memaafkan tindakan kasar Anda di taman tadi. Dia sungguh gadis yang berhati malaikat, sangat kontras dengan Anda." Nara tidak menjawab. Ia tetap membelakangi Arlo sampai terdengar suara pintu yang tertutup rapat. Begitu Arlo pergi, Nara langsung merosot di pinggir tempat tidur, napasnya tersengal-sengal.Setelah merasa cukup bersih, Nara bangkit. Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut, lalu mengenakan jubah mandi sutra tipis berwarna putih gading. Jubah itu sangat ringan, hampir tidak terasa di kulitnya yang masih lembap, dan memberikan efek transparan yang samar di bawah pencahayaan lampu kristal yang temaram. Nara berdiri di depan wastafel marmer, mencoba merapikan rambut hitamnya yang basah, ketika tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka tanpa peringatan. Killian masuk dengan langkah yang penuh otoritas. Pria itu kini hanya mengenakan sehelai handuk putih yang melilit pinggangnya yang rendah. Tubuh bagian atasnya terekspos sepenuhnya, memperlihatkan otot-otot dada yang bidang dan perut yang terpahat sempurna seperti patung dewa perang. Rambut peraknya yang basah berantakan, meneteskan air ke bahunya yang pucat namun kuat. Nara tersentak, tangannya refleks memegang kerah jubah mandinya. "Killian! Aku belum selesai... kau harusnya menunggu di luar ruangan." Killian tidak ber
Harap like dan follow akun sebelum lanjut membaca ----- Setelah ketegangan di balkon dan ciuman yang membakar di bawah rembulan, Killian tidak membiarkan Nara berlama-lama di aula pesta. Baginya, tatapan pria-pria di sana adalah polusi yang mengganggu hak miliknya. Ia menarik Nara melewati koridor-koridor panjang istana yang megah, menuju paviliun tamu agung yang telah disiapkan khusus untuk keluarga Duke Valerius. Sepanjang jalan, genggaman tangan Killian terasa sangat panas, seolah-olah mana miliknya sedang bergejolak menuntut pelampiasan. Begitu pintu paviliun tertutup rapat dan terkunci, suasana sunyi istana langsung berubah menjadi medan energi yang menyesakkan. Killian menyandarkan Nara ke pintu, menatapnya dengan mata ungu yang kini benar-benar gelap, hanya menyisakan sedikit kilatan gairah yang buas. "Mandilah dulu, Veronica," bisik Killian, suaranya serak dan berat. "Bersihkan aroma pesta ini dari kulitmu. Aku ingin hanya aromaku yang tersisa di tubuhmu malam ini."
Suasana pesta semakin memanas ketika musik orkestra mulai melambat, memberikan kesempatan bagi para bangsawan untuk saling menyapa. Di sudut ruangan, Nara melihat Baron Ashbourne—ayahnya—tengah mencoba mendekati seorang Earl kaya. Baron itu tampak kuyu, mungkin karena guncangan mental setelah menerima penghinaan telak dari Killian. "Lihat itu," Killian menunjuk dengan dagunya. "Ayahmu sepertinya butuh moralitas baru, bukan sekadar kayu busuk." Nara hanya tersenyum tipis. "Dia tidak akan pernah belajar selama dia merasa masih bisa memanfaatkan nama 'Veronica' untuk kepentingannya." Tiba-tiba, seorang pemuda dengan rambut pirang madu dan pakaian yang terlalu mencolok mendekati mereka. Namanya Julian, seorang Count muda yang baru saja melakukan debutante-nya. Ia memiliki reputasi sebagai perayu yang tidak tahu malu. "Duke Valerius, sungguh kejutan melihat Anda sudah bisa berdiri tegak," ucap Julian dengan nada yang sedikit merendahkan, matanya justru tertuju pada lekuk tubuh Na
Di lantai atas istana, tepatnya di balik jendela besar ruang kerja kaisar yang terbuat dari kristal gelap, seorang wanita dengan mahkota emas yang rumit berdiri memperhatikan seluruh kejadian di taman mawar. Ia adalah Sang Kaisar, penguasa tertinggi Astheria. Mata Sang Kaisar menyipit saat melihat punggung Nara yang menjauh. Ia meletakkan tangannya di kaca jendela, dan tiba-tiba, sebuah energi keemasan yang sangat tipis bereaksi di ujung jarinya—energi yang selaras dengan getaran Mana yang terpancar dari tubuh Nara. "Darah Elianor..." gumam Sang Kaisar dengan suara yang penuh misteri. "Aku bisa merasakan Roh Kuno itu menggeliat di dalam dirinya. Veronica Ashbourne... kau bukan lagi wanita gila yang diceritakan orang-orang." Kaisar berbalik ke arah penasehatnya yang berdiri di kegelapan ruangan. "Pastikan dia duduk di sampingku saat perayaan pesta pembukaan besok. Aku ingin melihat seberapa besar kekuatan yang ia sembunyikan di balik wajah tenangnya itu. Utara telah menemukan per
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca -------- Malam pertama di paviliun istana berlalu dengan kehangatan yang kontras dengan udara Ibu Kota yang mulai dipenuhi intrik. Nara terbangun dengan perasaan sedikit berat di bahunya—lengan Killian masih melingkar di sana, posesif bahkan dalam tidur. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama karena jadwal hari ini telah menanti. Sebuah undangan pesta minum teh dari para Lady terpandang di Ibu Kota telah tiba di atas meja riasnya. Nara menatap undangan berwarna krem dengan pinggiran emas itu dengan helaan napas panjang. Sebagai seorang mahasiswa "kupu-kupu" (kuliah-pulang-kuliah-pulang) di kehidupannya yang dulu, interaksi sosial berskala besar adalah mimpi buruk baginya. Ia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan atau di depan laptop mengerjakan skripsi daripada harus berbasa-basi di bawah payung sutra sambil memegang cangkir porselen. "Kenapa wajahmu ditekuk begitu, Istriku?" Killian terbangun, suaranya serak
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------ Perjalanan dari wilayah Utara menuju Ibu Kota Kekaisaran, Astheria, memakan waktu beberapa hari menggunakan kereta kuda sihir milik keluarga Valerius. Musim semi yang telah merebak sepenuhnya membuat pemandangan di sepanjang jalan berubah dari hamparan salju putih menjadi padang rumput hijau yang dihiasi bunga-bunga liar. Namun, bagi Nara, perjalanan ini bukan sekadar menghadiri undangan pesta musim semi dari Kaisar; ini adalah kepulangannya ke tempat di mana reputasi Veronica dihancurkan, tempat di mana "Aku yang Tak Pernah Dipilih" bermula. "Kau terlihat sangat gelisah sejak kita melewati perbatasan wilayah Tengah," suara Killian memecah lamunan Nara. Pria itu duduk tepat di hadapannya, mengenakan kemeja linen hitam yang longgar dengan beberapa kancing atas terbuka—sebuah tampilan santai yang tetap membuatnya terlihat sangat berbahaya. Killian sedang memegang segelas anggur merah, namun matanya tidak pernah lepas dari
Kedai arak itu sangat bising. Nara duduk di sudut yang paling gelap, memesan sebotol arak keras. Di meja lain yang lebih bersih, Arlo duduk berhadapan dengan Arabella. Arlo tampak sibuk memastikan Arabella tidak menyentuh minuman keras, memberikan air putih padanya, dan membuang muka saat Nara men
"Gila... ini benar-benar gila," ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia harus mencerna semuanya. Ia berada di dalam tubuh seorang wanita yang dibenci semua orang. Ia memiliki ayah yang menganggapnya komoditas, adik tiri yang merupakan manipulator ulung berwajah malaikat, dan seorang pengawal
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang kabur. Luka di bahu Nara mulai mengering, meninggalkan bekas parut yang mengerikan. Selama masa pemulihan, Arlo tetap menjalankan tugasnya sebagai pengawal, namun ia memperlakukan Nara seperti udara. Ia hanya masuk untuk mengantar obat, berdiri
Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari koridor mansion Ashbourne yang dingin dan penuh dengan aroma arogansi. Nara—yang kini harus terbiasa dengan panggilan Veronica—berdiri di depan cermin besar di ruang ganti. Ia tidak memilih gaun sutra berwarna pastel yang biasa dikenakan Veronica as







