แชร์

BAB 3: permainan Baru dimulai

ผู้เขียน: Ruzaaayoora
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-28 10:19:52

"Gila... ini benar-benar gila," ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Ia harus mencerna semuanya. Ia berada di dalam tubuh seorang wanita yang dibenci semua orang. Ia memiliki ayah yang menganggapnya komoditas, adik tiri yang merupakan manipulator ulung berwajah malaikat, dan seorang pengawal yang merupakan pemeran utama pria yang kelak akan menghancurkan hidupnya.

Dan statusnya? Ia adalah wanita bucin yang sudah kehilangan harga dirinya selama tiga tahun terakhir.

"Nara, tenang. Fokus," ia berbisik pada dirinya sendiri. "Kamu mahasiswi semester akhir. Kamu sudah melewati revisi skripsi yang ditolak sepuluh kali. Kamu bisa melewati ini."

Ia berdiri kembali, berjalan menuju jendela besar di kamarnya. Di luar sana, mansion Ashbourne terlihat megah namun mencekam di bawah sinar bulan. Ia melihat bayangan Arlo yang berjalan di halaman, menuju ke paviliun tempat Arabella tinggal.

Nara mengepalkan tangannya. Selama tiga tahun ini, Veronica asli telah memberikan segalanya—harta, nama baik, dan harga diri—hanya untuk dipilih. Dan hasilnya? Ia tetap tidak dipilih. Ia tetap menjadi sampah.

"Kalau begitu, mari kita ubah aturannya," gumam Nara. Matanya menatap tajam ke arah bayangan Arlo di kejauhan. "Aku tidak akan meminta untuk dipilih lagi. Aku yang akan memilih siapa yang pantas berada di sisiku."

Tiba-tiba, pintu kamarnya kembali terbuka. Kali ini dengan suara benturan yang lebih keras.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan yang rapi masuk, diikuti oleh Martha—pelayan yang Nara kenal dari ingatannya sebagai tangan kanan Arabella.

"Nona Veronica! Mengapa Anda belum meminum obatnya?" wanita paruh baya itu, Kepala Pelayan Gretta, berteriak dengan nada memerintah. "Tuan Baron sudah memberikan instruksi yang jelas! Anda harus sehat untuk pertemuan besok pagi!"

Nara menoleh perlahan. Ingatan Veronica memberitahunya bahwa Gretta adalah orang yang sering mengurangi porsi makannya dan memberikannya pada Arabella dengan alasan "Nona Veronica sedang diet untuk menjaga kecantikan".

"Aku akan meminumnya nanti, Gretta. Keluar," jawab Nara dingin.

Martha mencibir di belakang Gretta. "Nanti? Nona, jangan berlagak sombong. Kita semua tahu Anda hanya ingin menarik perhatian Arlo lagi dengan berpura-pura sakit-sakitan. Cepat minum, atau kami akan memaksanya."

Nara merasakan amarah yang membara di dadanya. Nara yang asli bukanlah orang yang suka mencari keributan, tapi dia juga bukan orang yang membiarkan dirinya diinjak-injak oleh orang yang statusnya jelas-jelas di bawahnya.

Nara berjalan mendekati Martha. Martha yang biasanya melihat Veronica gemetar ketakutan, kini justru merasa terintimidasi oleh tatapan tajam gadis di depannya.

"Kau... kau mau apa?" gagap Martha.

Nara mengambil botol obat di meja rias, lalu menyodorkannya ke depan wajah Martha. "Kau bilang ini obat, kan? Mengapa kau terlihat begitu bersemangat menyuruhku meminumnya? Apa ada sesuatu di dalamnya yang kau tambahkan secara diam-diam?"

Wajah Martha memucat sesaat, namun ia segera menguasai diri. "Jangan menuduh sembarangan! Itu obat penguat tubuh dari tabib keluarga!"

Nara tersenyum sinis. "Kalau begitu, kau yang minum sedikit. Untuk membuktikan bahwa ini aman."

"Apa?! Mana mungkin saya meminum obat milik majikan!" teriak Gretta mencoba membela.

"Oh, jadi sekarang kau ingat bahwa aku adalah majikanmu?" suara Nara merendah, namun setiap katanya terasa seperti tusukan jarum. "Sejak kapan seorang pelayan boleh masuk ke kamar majikan tanpa mengetuk, lalu berteriak-teriak seperti mandor di pasar? Gretta, sepertinya kau sudah terlalu lama bekerja di sini sampai lupa siapa yang menggajimu."

Gretta terbelalak. "Nona, beraninya Anda—"

"Aku berani karena aku pemilik sah darah Ashbourne!" Nara memotong kalimat Gretta dengan tegas. "Keluar sekarang. Dan bawa pelayan bermulut kotor ini bersamamu. Jika dalam lima menit kalian masih di sini, aku akan memastikan Ayah tahu bahwa kalian mencoba meracuniku dengan obat yang tidak jelas ini."

Gretta dan Martha terpaku. Mereka tidak pernah melihat Veronica yang seperti ini. Biasanya, Veronica akan menangis dan meminum obat itu sambil memohon agar mereka memberitahu Arlo bahwa dia sudah patuh.

Dengan wajah merah padam karena menahan amarah dan malu, kedua pelayan itu pun mundur dan keluar dari kamar.

Nara mengunci pintu kamarnya dari dalam—hal yang belum pernah dilakukan Veronica selama tiga tahun karena ia selalu berharap Arlo akan masuk secara tiba-tiba untuk memeriksanya.

Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu yang dingin itu. Napasnya masih memburu.

"Tahap pertama selesai," bisiknya.

Namun, ia tahu ini baru permulaan. Ia harus menghadapi ayahnya besok pagi. Ia harus menghadapi Arabella yang licin. Dan yang paling berat, ia harus menghadapi Arlo—pria yang setiap kehadirannya selalu memicu reaksi kimiawi yang kacau di dalam tubuh ini.

Nara berjalan menuju meja tulis. Ia mencari kertas dan pena. Ia perlu menuliskan semua yang ia tahu tentang novel ini sebelum ingatannya memudar. Ia perlu menyusun strategi untuk setidaknya, memastikan ia memiliki cukup aset untuk melarikan diri.

Saat ia sedang menulis, matanya tanpa sengaja melirik ke arah cermin lagi.

"Veronica," ucapnya pelan pada bayangan di cermin. "Aku tidak tahu mengapa aku berada di tubuhmu. Tapi aku berjanji padamu satu hal. Bertahun atahun penderitaanmu akan berakhir di sini. Mereka tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi."

Malam itu, di dalam kamar yang luas dan dingin, Nara tidak tidur. Ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk memisahkan memorinya dari memori Veronica. Ia merinci setiap pengkhianatan yang telah dilakukan Arlo.

Bagaimana pria itu memberikan surat cinta Veronica kepada Arabella untuk dijadikan bahan tertawaan.

Bagaimana pria itu menolak payung pemberian Veronica saat hujan deras, namun menerima mantel dari Arabella dengan senyum tipis.

Dan bagaimana pria itu secara tidak langsung menyebabkan Veronica diculik di hari kedewasaannya karena ia terlalu sibuk menjaga Arabella yang hanya berpura-pura sakit kepala. Padahal wanita itu dalang dari semuanya.

"Dimitier Laurent," Nara menulis nama itu di kertas, lalu mencoretnya dengan garis hitam yang tebal. "Kau adalah pria tertampan yang pernah kulihat, tapi kau juga adalah monster paling menjijikkan di dunia ini."

Besok, permainan baru dimulai.

"Ayo kita lihat, Arlo," bisik Nara dengan senyum yang terlihat sangat tenang namun mematikan. "Siapa yang akan berlutut di akhir cerita nanti."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 37: Bara di Istana 2

    Setelah merasa cukup bersih, Nara bangkit. Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut, lalu mengenakan jubah mandi sutra tipis berwarna putih gading. Jubah itu sangat ringan, hampir tidak terasa di kulitnya yang masih lembap, dan memberikan efek transparan yang samar di bawah pencahayaan lampu kristal yang temaram. Nara berdiri di depan wastafel marmer, mencoba merapikan rambut hitamnya yang basah, ketika tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka tanpa peringatan. Killian masuk dengan langkah yang penuh otoritas. Pria itu kini hanya mengenakan sehelai handuk putih yang melilit pinggangnya yang rendah. Tubuh bagian atasnya terekspos sepenuhnya, memperlihatkan otot-otot dada yang bidang dan perut yang terpahat sempurna seperti patung dewa perang. Rambut peraknya yang basah berantakan, meneteskan air ke bahunya yang pucat namun kuat. Nara tersentak, tangannya refleks memegang kerah jubah mandinya. "Killian! Aku belum selesai... kau harusnya menunggu di luar ruangan." Killian tidak ber

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 36: Bara di Istana 1

    Harap like dan follow akun sebelum lanjut membaca ----- Setelah ketegangan di balkon dan ciuman yang membakar di bawah rembulan, Killian tidak membiarkan Nara berlama-lama di aula pesta. Baginya, tatapan pria-pria di sana adalah polusi yang mengganggu hak miliknya. Ia menarik Nara melewati koridor-koridor panjang istana yang megah, menuju paviliun tamu agung yang telah disiapkan khusus untuk keluarga Duke Valerius. Sepanjang jalan, genggaman tangan Killian terasa sangat panas, seolah-olah mana miliknya sedang bergejolak menuntut pelampiasan. Begitu pintu paviliun tertutup rapat dan terkunci, suasana sunyi istana langsung berubah menjadi medan energi yang menyesakkan. Killian menyandarkan Nara ke pintu, menatapnya dengan mata ungu yang kini benar-benar gelap, hanya menyisakan sedikit kilatan gairah yang buas. "Mandilah dulu, Veronica," bisik Killian, suaranya serak dan berat. "Bersihkan aroma pesta ini dari kulitmu. Aku ingin hanya aromaku yang tersisa di tubuhmu malam ini."

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 35: berujung bara

    Suasana pesta semakin memanas ketika musik orkestra mulai melambat, memberikan kesempatan bagi para bangsawan untuk saling menyapa. Di sudut ruangan, Nara melihat Baron Ashbourne—ayahnya—tengah mencoba mendekati seorang Earl kaya. Baron itu tampak kuyu, mungkin karena guncangan mental setelah menerima penghinaan telak dari Killian. "Lihat itu," Killian menunjuk dengan dagunya. "Ayahmu sepertinya butuh moralitas baru, bukan sekadar kayu busuk." Nara hanya tersenyum tipis. "Dia tidak akan pernah belajar selama dia merasa masih bisa memanfaatkan nama 'Veronica' untuk kepentingannya." Tiba-tiba, seorang pemuda dengan rambut pirang madu dan pakaian yang terlalu mencolok mendekati mereka. Namanya Julian, seorang Count muda yang baru saja melakukan debutante-nya. Ia memiliki reputasi sebagai perayu yang tidak tahu malu. "Duke Valerius, sungguh kejutan melihat Anda sudah bisa berdiri tegak," ucap Julian dengan nada yang sedikit merendahkan, matanya justru tertuju pada lekuk tubuh Na

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 34: bertemu kaisar

    Di lantai atas istana, tepatnya di balik jendela besar ruang kerja kaisar yang terbuat dari kristal gelap, seorang wanita dengan mahkota emas yang rumit berdiri memperhatikan seluruh kejadian di taman mawar. Ia adalah Sang Kaisar, penguasa tertinggi Astheria. Mata Sang Kaisar menyipit saat melihat punggung Nara yang menjauh. Ia meletakkan tangannya di kaca jendela, dan tiba-tiba, sebuah energi keemasan yang sangat tipis bereaksi di ujung jarinya—energi yang selaras dengan getaran Mana yang terpancar dari tubuh Nara. "Darah Elianor..." gumam Sang Kaisar dengan suara yang penuh misteri. "Aku bisa merasakan Roh Kuno itu menggeliat di dalam dirinya. Veronica Ashbourne... kau bukan lagi wanita gila yang diceritakan orang-orang." Kaisar berbalik ke arah penasehatnya yang berdiri di kegelapan ruangan. "Pastikan dia duduk di sampingku saat perayaan pesta pembukaan besok. Aku ingin melihat seberapa besar kekuatan yang ia sembunyikan di balik wajah tenangnya itu. Utara telah menemukan per

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 33: Perjamuan Teh

    Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca -------- Malam pertama di paviliun istana berlalu dengan kehangatan yang kontras dengan udara Ibu Kota yang mulai dipenuhi intrik. Nara terbangun dengan perasaan sedikit berat di bahunya—lengan Killian masih melingkar di sana, posesif bahkan dalam tidur. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama karena jadwal hari ini telah menanti. Sebuah undangan pesta minum teh dari para Lady terpandang di Ibu Kota telah tiba di atas meja riasnya. Nara menatap undangan berwarna krem dengan pinggiran emas itu dengan helaan napas panjang. Sebagai seorang mahasiswa "kupu-kupu" (kuliah-pulang-kuliah-pulang) di kehidupannya yang dulu, interaksi sosial berskala besar adalah mimpi buruk baginya. Ia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan atau di depan laptop mengerjakan skripsi daripada harus berbasa-basi di bawah payung sutra sambil memegang cangkir porselen. "Kenapa wajahmu ditekuk begitu, Istriku?" Killian terbangun, suaranya serak

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 32: Deburan Ombak

    Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------ Perjalanan dari wilayah Utara menuju Ibu Kota Kekaisaran, Astheria, memakan waktu beberapa hari menggunakan kereta kuda sihir milik keluarga Valerius. Musim semi yang telah merebak sepenuhnya membuat pemandangan di sepanjang jalan berubah dari hamparan salju putih menjadi padang rumput hijau yang dihiasi bunga-bunga liar. Namun, bagi Nara, perjalanan ini bukan sekadar menghadiri undangan pesta musim semi dari Kaisar; ini adalah kepulangannya ke tempat di mana reputasi Veronica dihancurkan, tempat di mana "Aku yang Tak Pernah Dipilih" bermula. "Kau terlihat sangat gelisah sejak kita melewati perbatasan wilayah Tengah," suara Killian memecah lamunan Nara. Pria itu duduk tepat di hadapannya, mengenakan kemeja linen hitam yang longgar dengan beberapa kancing atas terbuka—sebuah tampilan santai yang tetap membuatnya terlihat sangat berbahaya. Killian sedang memegang segelas anggur merah, namun matanya tidak pernah lepas dari

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 4: negosiasi dan Pelelangan

    Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari koridor mansion Ashbourne yang dingin dan penuh dengan aroma arogansi. Nara—yang kini harus terbiasa dengan panggilan Veronica—berdiri di depan cermin besar di ruang ganti. Ia tidak memilih gaun sutra berwarna pastel yang biasa dikenakan Veronica as

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 5: Pilihan yang Menyakitkan

    Kedai arak itu sangat bising. Nara duduk di sudut yang paling gelap, memesan sebotol arak keras. Di meja lain yang lebih bersih, Arlo duduk berhadapan dengan Arabella. Arlo tampak sibuk memastikan Arabella tidak menyentuh minuman keras, memberikan air putih padanya, dan membuang muka saat Nara men

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 2: menjadi Veronica Ashbourne

    "Veronica Ashbourne," desis Nara. Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya, seolah-olah nama itu sudah lama tertanam di dalam saraf vokalnya. Ingatan demi ingatan mulai membanjiri otaknya seperti air bah yang merobohkan bendungan. Bukan lagi sekadar potongan plot novel yang ia baca, melainkan

  • Aku menolak ending novel ini!   BAB 6: Putaran Takdir

    Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang kabur. Luka di bahu Nara mulai mengering, meninggalkan bekas parut yang mengerikan. Selama masa pemulihan, Arlo tetap menjalankan tugasnya sebagai pengawal, namun ia memperlakukan Nara seperti udara. Ia hanya masuk untuk mengantar obat, berdiri

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status