FAZER LOGINHari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang kabur. Luka di bahu Nara mulai mengering, meninggalkan bekas parut yang mengerikan. Selama masa pemulihan, Arlo tetap menjalankan tugasnya sebagai pengawal, namun ia memperlakukan Nara seperti udara. Ia hanya masuk untuk mengantar obat, berdiri di sudut dengan mata tertuju pada jendela, lalu keluar.
Satu minggu kemudian, amarah yang terpendam di hati Nara meledak. Ia merasa harus memberikan pelajaran pada pria yang telah mengkhianati tugasnya ini. Nara memanggil Arlo ke taman belakang yang sepi. "Anda memanggil saya, Nona?" Arlo bertanya dengan nada formal yang menyebalkan. Nara berdiri dengan tangan yang disembunyikan di balik jubahnya. Ia memegang sebuah cambuk kulit yang ia ambil dari gudang persenjataan. "Kau tahu apa kesalahanmu, Arlo?" Arlo menatap cambuk itu sekilas, lalu kembali menatap Nara dengan pandangan meremehkan. "Jika Anda merasa saya bersalah karena menyelamatkan Nona Arabella, maka saya tidak menyesal. Anda bisa menghukum saya sesuka hati, asal Anda tidak menyentuh Nona Arabella yang tidak bersalah." "Kau sangat setia padanya, ya?" Nara melangkah mendekat, suaranya gemetar. "Bahkan di saat kau adalah pengawal pribadiku." "Saya hanya membela yang pantas dibela," jawab Arlo tajam. Nara mengangkat cambuknya. Jantungnya berdegup kencang. Ia hanya ingin menakuti pria ini, ia ingin Arlo meminta maaf. Namun, sebelum ia sempat mengayunkan cambuk itu, Arabella tiba-tiba muncul dari balik semak-semak, berlari dan menjatuhkan diri di depan Arlo. "Jangan! Kakak, tolong jangan lakukan ini!" teriak Arabella sambil menangis histeris. Ia memeluk kaki Nara dengan erat. "Cambuk aku saja! Ini semua salahku! Jangan sakiti Arlo, dia hanya melindungiku! Aku mohon, Kak, bunuh saja aku kalau itu bisa membuat Kakak puas!" "Lepaskan, Arabella! Jangan ikut campur!" Nara mencoba menarik kakinya, namun Arabella justru semakin mengencangkan pelukannya. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan Arlo terluka karena aku! Kakak sudah cukup menderita karena luka bahu itu, jangan tambah dosa Kakak dengan menyiksa orang yang tidak bersalah!" Arabella meracau, suaranya terdengar sangat nyaring dan manipulatif. "Kubilang lepaskan!" Nara berteriak frustasi. Tiba-tiba, sebuah kekuatan asing seolah merasuki tubuh Nara. Perasaan benci dan cemburu yang luar biasa milik Veronica yang asli meluap secara mendadak, mengambil alih kendali motoriknya. Tangan Nara bergerak sendiri, mengangkat cambuk itu tinggi-tinggi. Jangan! Berhenti! Nara berteriak di dalam pikirannya, namun tubuhnya tidak mendengar. CTARRR! Ujung cambuk itu melesat dan mengenai punggung Arabella yang sedang bersujud. Suara kulit yang robek terdengar begitu nyata. "AAAKHHH!" Arabella menjerit kesakitan dan langsung jatuh tersungkur ke tanah. Sebuah garis merah darah muncul di balik gaun putihnya yang kini robek. Nara ternganga. Cambuk di tangannya terjatuh ke rumput. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar hebat. "Ti... tidak... bukan itu... aku tidak bermaksud..." Arlo langsung berlutut dan merengkuh tubuh Arabella yang pingsan karena terkejut dan rasa sakit. Mata abu-abunya yang biasanya dingin kini menyala dengan api kebencian yang murni saat ia menatap Nara. "Anda benar-benar monster, nona Veronica," desis Arlo. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang membuat bulu kuduk Nara berdiri. "Anda baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidup Anda." Arlo mengangkat tubuh Arabella dalam gendongannya dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Nara berdiri mematung di tengah taman. Angin sore berhembus dingin, namun keringat dingin membasahi punggungnya. Ia jatuh terduduk di atas rumput, memeluk lututnya yang gemetar. "99 kali..." bisik Nara dengan bibir yang memutih. "Habis ini... 99 kali cambukan..." Ia ingat betul isi novelnya. Setelah Veronica mencambuk Arabella satu kali, Arlo akan memerintahkan suruhannya untuk menculik Veronica di tengah malam, membawanya ke gudang bawah tanah, dan membalas dendam dengan 99 kali cambukan yang nyaris merenggut nyawa. "Kenapa tanganku bergerak sendiri? Kenapa?!" Nara menangis sejadi-jadinya. Ia merasa dijebak oleh takdir. Sekeras apa pun ia mencoba menjadi Nara, raga Veronica seolah memiliki kehendaknya sendiri untuk menghancurkan hidupnya. Nara segera berlari kembali ke kamarnya. Ia mengunci pintu dari dalam, menggeser lemari berat untuk mengganjal pintu itu. Ia ketakutan. Ia membayangkan rasa sakit cambuk yang merobek kulitnya. "Aku harus pergi... aku harus keluar dari sini sekarang juga..." Ia mencoba mengemasi beberapa barang dengan tangan yang terus gemetar, namun pikirannya terlalu kacau. Setiap suara langkah kaki di koridor membuatnya tersentak ketakutan. Ia merasa seperti mangsa yang menunggu waktu untuk dieksekusi. ✨✨✨ Sementara itu, di kamar Arabella, suasana terasa sangat tegang. Arlo berdiri di samping tempat tidur tempat Arabella dirawat oleh tabib. Luka cambuk itu tidak terlalu dalam, namun cukup untuk meninggalkan bekas. "Tuan Muda..." ajudan Arlo yang berpakaian hitam masuk dan membungkuk hormat. "Apakah Anda ingin saya melaksanakan perintah seperti yang ada di rencana?" Arlo menatap punggung Arabella yang diperban, lalu beralih menatap tangannya sendiri yang masih terasa hangat karena menggendong gadis itu. Wajahnya menggelap. Kedinginan terpancar dari seluruh tubuhnya, aura membunuh yang sangat kuat memenuhi ruangan. "Bawa dia malam ini," ucap Arlo dengan nada suara yang begitu tenang namun mematikan. "Jangan biarkan ada yang tahu. Bawa dia ke tempat yang sudah ditentukan. Aku sendiri yang akan memastikan dia merasakan rasa sakit yang lebih besar dari ini." "Baik, Tuan Muda Laurent." Ajudan itu menghilang dalam bayangan. Arlo kembali menatap jendela, ke arah kamar Veronica yang lampunya masih menyala. "Kau sudah melewati batas, Veronica," gumam Arlo pelan. "Cinta yang kau agungkan itu... akan aku hancurkan bersama dengan sisa harga dirimu malam ini." ✨✨✨ Di kamarnya, Nara masih meringkuk di pojok ruangan. Ia memegang sebuah pisau kecil yang ia ambil dari meja makan, bersiap untuk membela diri. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tidak punya peluang melawan pengawal sehebat Arlo dan pasukannya. Tuhan... jika aku harus mati, tolong buat ini tidak terlalu sakit, doa Nara dalam hati. Air matanya terus mengalir, membasahi lantai kayu yang dingin. Ia merasa benar-benar sendirian di dunia yang kejam ini. Tidak ada yang akan datang menolongnya. Tidak ayahnya, tidak pelayannya, dan tentu saja bukan pengawalnya. Malam semakin larut. Suara jangkrik di luar mansion terdengar seperti musik pemakaman bagi Nara. Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan halus di jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Jantung Nara seolah berhenti berdetak. Ia menatap ke arah jendela dengan mata terbelalak. "Siapa di sana?" tanyanya dengan suara bergetar. Tidak ada jawaban, hanya suara gesekan logam yang mencoba membuka paksa kunci jendela. Nara segera berdiri, memegang pisaunya dengan kedua tangan yang bersimbah keringat dingin. Ia tahu, mereka sudah datang. Pelayan-pelayan bayangan Arlo telah menemukannya. "Jangan masuk! Pergi kalian!" teriak Nara, namun suaranya justru menunjukkan betapa hancurnya mentalitasnya saat itu. Jendela terbuka lebar, dan dua sosok pria bertopeng melompat masuk dengan gerakan yang sangat terlatih. Sebelum Nara sempat mengayunkan pisaunya, salah satu dari mereka memukul tengkuknya dengan keras. "Ugh..." Pandangan Nara menggelap seketika. Tubuhnya yang lemas jatuh ke pelukan salah satu pria bertopeng itu. "Bawa dia ke gudang bawah tanah utara," perintah salah satu dari mereka. "Tuan Muda sudah menunggu." Nara tidak lagi mendengar apa pun. Ia telah dibawa menuju takdir paling berdarah dalam hidup Veronica Ashbourne, sebuah takdir yang telah tertulis dalam tinta hitam novel yang ia baca, dan kini ia harus mengalaminya dengan seluruh jiwa dan raga.Malam itu, badai salju bertiup lebih kencang dari biasanya. Suara angin melolong di antara celah bebatuan kastil, menciptakan suasana yang mencekam namun syahdu. Nara merasa tubuhnya agak meriang. Mungkin karena kelelahan emosional setelah berbicara dengan Sophia siang tadi. Namun, ada dorongan aneh di dalam hatinya. Sebuah insting yang menyuruhnya pergi ke kamar suaminya. Nara mengenakan baju tidur satin putih yang sangat tipis, dilapisi dengan jubah sutra yang ringan. Ia membawa sebuah lampu minyak kecil di tangannya. Langkah kakinya yang telanjang di atas permata bulu terasa ringan saat ia memasuki kamar utama Duke. Kamar itu remang-remang, hanya diterangi oleh bara api di perapian. Di tengah ruangan, Killian terbaring diam. Rambut merah gelapnya tampak seperti darah di bawah cahaya lampu minyak. Nara duduk di kursi kayu di samping tempat tidur. Ia meletakkan lampunya di nakas, lalu menatap wajah Killian. "Kau tahu," bisik Nara, suaranya parau karena baru saja bangun ti
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------ Di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan aroma obat-obatan yang tajam, Dimitier (Arlo) terbaring dengan berbagai selang dan alat bantu napas ajaib. Tabib kekaisaran baru saja menjahit luka di bahunya dan mencoba menetralkan racun Bunga Api Berduri yang menginfeksi luka di dadanya. Vane berdiri di samping tempat tidur, menatap tuannya dengan perasaan campur aduk. "Bodoh. Benar-benar bodoh." Tiba-tiba, mata Dimitier terbuka. Ia tidak langsung sadar sepenuhnya. Pupil matanya melebar, dan ia mencoba bangun, namun rasa sakit di punggung dan bahunya membuatnya kembali terhempas. "Veronica..." suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Tuan Muda, tenanglah. Anda berada di rumah," Vane menekan bahu Dimitier. "Mana... mana Veronica? Aku harus... mencarinya..." Dimitier mencoba merobek perbannya. "Nona Veronica sudah pergi, Tuan. Dia berangkat ke Utara. Dan Anda... Anda hampir mati karena Arabella Ashbourne," suara Vane din
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca -------- Denting lonceng di leher kuda-kuda Utara yang perkasa memecah kesunyian hutan pinus yang diselimuti salju tipis. Kereta kuda hitam yang membawa Nara—kini sang Nona Besar Ashbourne yang dibuang—terguncang pelan saat melewati jalanan berbatu menuju puncak kastil Duke Valerius. Nara menyandarkan kepalanya pada jendela yang berembun, menatap hamparan putih yang seolah tak berujung. Di tangannya, sebuah peta kecil dan beberapa gulungan catatan mengenai wilayah Utara ia pegang erat. Nara menatap pantulan dirinya di kaca. Wajah Veronica tampak lebih pucat, namun matanya memancarkan ketenangan yang mematikan. "Utara," bisik Nara, suaranya hampir tertelan deru angin dingin yang menyelinap masuk lewat celah pintu kereta. "Jika ini adalah panggung baru, aku tidak akan menjadi figuran yang menangis lagi." Ia teringat alur novel asli. Di sana, Duke Valerius adalah pria yang dijuluki "Iblis Musim Dingin". Namanya adalah Killia
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca -------- Langit di atas mansion Ashbourne pagi itu berwarna kelabu pucat, seolah-olah awan sendiri merasa enggan untuk menyaksikan perpisahan yang dingin ini. Nara berdiri di depan jendela paviliunnya, mengenakan gaun perjalanan berwarna biru tua yang kokoh namun elegan. Di punggungnya, luka-luka itu tak lagi berdenyut menyakitkan, berganti menjadi mati rasa yang memberinya kekuatan. Di atas meja rias, tas-tas kulit berisi harta peninggalan ibunya telah disamarkan di dalam peti-peti kayu yang tampak seperti peti buku biasa. Hari ini adalah harinya. Hari di mana ia akan meninggalkan neraka ini menuju Utara. Suara langkah kaki yang berat dan sedikit menyeret terdengar dari luar. Arlo muncul di ambang pintu. Pria itu tampak sudah jauh lebih baik dibandingkan malam badai itu, namun perban di lengan kirinya masih terlihat tebal di balik seragamnya, dan gips itu membuatnya tampak kaku. Ia berdiri di sana, menatap tumpukan peti yang
"siapa itu?!" semuanya terdiam dan menahan nafas, tak lama seorang pelayan masuk sambil membungkuk, membawakan minuman-minuman yang sebelumnya diperintahkan Arabella. "saya izin mengantarkan minuman nona" Arabella berdecak kesal sekaligus lega. "lain kali ketuk dan bersuara lah! jangan membuat ku terkejut!" pelayan itu hanya mengangguk dan menunduk sebelum keluar dengan langkah pelan. "huuu hampir saja!" gumam Arabella dengan perasaan was-was. ✨✨✨ Disisi lain, Tiga hari berlalu dengan ketegangan yang meningkat di kediaman Ashbourne. Nara menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku geografi tentang wilayah Utara. Ia benar-benar mempersiapkan keberangkatan nya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa gelisah. Ia tahu Arlo sedang berada di Bukit Hitam. Malam itu, badai besar menghantam ibukota. Petir menyambar-nyambar, menerangi langit dengan kilatan putih yang mengerikan. Nara berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah Bukit Hitam yang samar-samar terlihat di kejauhan.
Harap like dan follow akun ini sebelum lanjut membaca ------- Nara belum sampai di kamarnya saat sebuah tangan besar mencengkeram lengannya dengan sangat kuat dan menghentakkan tubuhnya ke dinding koridor yang sepi. "Lepaskan!" Nara meringis kesakitan, lukanya di punggung terasa seperti ditarik. Arlo berdiri di depannya, napasnya memburu, matanya memancarkan kemarahan yang belum pernah Nara lihat sebelumnya. "Apa yang merasukimu?! Kenapa kau begitu jahat pada Arabella? Dia sangat menyayangimu, dia bahkan memohon agar aku tidak menghukummu tadi!" Nara tertawa hambar, air mata mulai menggenang di matanya namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. "Menyayangiku? Wanita munafik itu?" "Dia baik hati, Veronica! Kau yang gila karena iri! Padahal kau punya segalanya!" bentak Arlo. "Iri dengan apa, Arlo? Dengan kasih sayang Ayah yang bahkan tidak sudi melihat lukaku? Dengan perhatianmu yang kau berikan pada orang yang merebut segalanya dari ku?" Nara berteriak balik, suaranya p







