Teilen

Part 143

last update Veröffentlichungsdatum: 10.06.2026 19:09:26

Hari Selasa yang dinanti akhirnya tiba. Kompleks Pengadilan Agama sejak pagi sudah dipadati oleh lalu lalang orang yang menunggu antrean sidang.

Selain didampingi Kaivan, Zivanya ditemani oleh kedua orang tua dan adiknya. Seruni terus menggenggam erat jemari putrinya yang terasa dingin, sementarai Abi duduk di sisi lain Zivanya dengan wajah yang tampak lebih tua setelah mengetahui kehancuran rumah tangga putrinya.

Tidak lama kemudian, Ariyan juga muncul bersama Jeandra dan Zelena. Mengenakan k
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (6)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
kasihan Zevia sih kalau cuma di jadikan mainan si Ariyan
goodnovel comment avatar
Kirania Zahra
g di baca penasaran di baca g enak tumben di kisah ini ko g seperti kisah² sebelum nya thor
goodnovel comment avatar
delima
nikmati sajah apa yg ditulis author
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 155

    Zelena dan Jeandra saling berpandangan menyikapi kepergian putra mereka. Zelena memberi isyarat melalui matanya agar Jeandra segera mengejar. Jeandra yang mengerti isyarat tersebut dengan cepat bergerak mengejar Ariyan. Langkah kakinya yang lebar dan tergesa menyusuri koridor rumah sakit. Sebagai seorang ayah, ia tahu betul tabiat putranya. Ariyan bukan tipe lelaki yang akan mengamuk atau membuat keributan di tempat umum. Ia akan memilih pergi, mengurung diri di dalam keheningan, dan membiarkan egonya yang terluka bertransformasi menjadi amarah.​Tepat di dekat pintu kaca menuju ke arah lobi, Jeandra berhasil melihat punggung tegap Ariyan. Putranya itu melangkah dengan sangat cepat. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Gesturnya memancarkan aura dingin yang membuat orang-orang di sekitarnya refleks memberi jalan.​"Ariyan! Tunggu dulu!" seru Jeandra sembari mempercepat langkah hingga berhasil menyejajari putranya.​Ariyan terus berjalan lurus menuju area par

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 154

    “Ariyan, kamu dengar Mama nggak? Tolong buka pintunya dulu!” Zelena mengulangi dengan suara lebih keras lantaran tidak ada sahutan dari dalam sana.Entah apa yang dilakukan anaknya di dalam. Hari-hari belakangan Ariyan jarang di rumah. Kalaupun ada, ia lebih sering mengurung diri di kamar. "Ariyan! Sebentar aja. Mama nggak mau ganggu kamu, tapi ini penting!" "Masuk, Ma. Pintunya nggak dikunci." Akhirnya terdengar sahutan dari dalam. ​Pintu pun Zelena buka, memperlihatkan sosok Aryan yang sedang bermain gitar. Pria itu hanya mengenakan celana pendek tanpa mengenakan baju. Zelena mendekat dengan langkah tergesa-gesa. Melihat gurat kepanikan di wajah ibunya, dahi Ariyan berkerut halus. Ia menegakkan posisi duduknya dan berhenti memetik senar. "Ada apa, Ma? Kenapa muka Mama cemas?" “Mama memang cemas. Barusan Mami mertua kamu nelepon–” “Mantan, Ma,” koreksi Ariyan cepat. “Iya mantan,” ulang Zelena. “Katanya Kai sakit pas lagi pipis terus pipisnya nggak mau keluar. Setelah diba

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 153

    Zivanya tentu saja terkejut mendengar ucapan Seruni. Ia tidak ingin melibatkan mertuanya. Apalagi ia tahu Ariyan tidak akan peduli.“Mi, nggak usah. Jangan telepon Mama Zelena.” Zivanya mencoba melarang.“Jangan telepon Mama Zelena? Ziva, kamu ini bicara apa sih?" Seruni menatap putrinya dengan dahi berkerut heran. ​"Kaisar, kan, cucu kesayangan Zelena juga. Wajar kalau Mami mengabari besan sendiri waktu cucunya masuk IGD begini. Apalagi dokter tadi bilang kalau penyakit Kaisar ini turunan dari garis ayahnya. Mami cuma mau memastikan lagi ke Zelena apa dulu Ariyan memang pernah mengalami hal yang sama saat kecil, biar kita makin yakin dengan penanganannya."​"Tapi, Mi, nggak usah siang-siang begini. Kasihan Mama Zelena lagi enak-enak tidur siang terus panik pas Mami kabari.” Zivanya mencoba mencari alasan yang sekiranya masuk akal. Jantungnya berdebar begitu kencang. ​Zivanya tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. Bahwa hubungannya dan Ariyan sudah berada di titik beku, dan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 152

    “Ibuuuu… sakiiit!” Perhatian Zivanya dan Seruni spontan beralih saat mendengar suara Kaisar disusul tangis keras anak itu. Saking asyik mengobrol keduanya tidak menyadari Kaisar tidak lagi berada di dekat mereka. “Ibuuuu… ke siniii!” panggil Kaisar disertai tangisan yang berasal dari kamar mandi. Zivanya setengah berlari menuju kamar mandi yang terletak di sudut ruang tengah, diikuti oleh Seruni yang ikut panik di belakangnya. ​"Kai kenapa, Sayang?!" panik Zivanya melihat Kaisar. ​Di dalam sana, Kaisar sedang berdiri goyah di depan kloset. Celananya melorot sampai ke lutut. Wajah anak itu basah oleh air mata yang mengalir deras, dan kedua tangannya tampak gemetar hebat mencoba memegang area intimnya sendiri. ​"Ibu... sakit... pipisnya nggak mau kelual... sakit sekali, Ibuuu," adu Kaisar tersedu-sedu. Kakinya menghentak-hentak kecil menahan rasa perih yang teramat sangat. ​Zivanya segera jongkok. Ia mencoba memeriksa kondisi putranya. "Mana yang sakit, Nak? Sini Ibu lihat, biar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 151

    Zivanya tentu terkejut mendengar jawaban Kaivan. Tapi ia sangat menghargai kejujuran lelaki itu. Meski demikian, ada perasaan tidak nyaman di hatinya. Haruskah ia kehilangan laki-laki yang dekat dengannya karena orang yang berasal dari lingkaran mantan suaminya?Zivanya buru-buru menepis pikiran itu, merutuki dirinya sendiri di dalam hati. ‘Kenapa aku harus merasa sebal? Kaivan bebas punya masa lalu dengan siapa pun.’​"Aku menceritakan ini bukan agar kamu kepikiran. Aku cuma nggak mau menyembunyikan apa pun. Apalagi kita sudah sedekat ini. Amanda udah jadi masa lalu. Jauh sebelum kita dekat.” Kaivan menjelaskan lebih lanjut lantaran Zivanya hanya diam. ​"Aku nggak apa-apa, Kai. Sungguh. Aku cuma agak kaget aja. Dunia ternyata sesempit itu ya? Mantan kamu ternyata berasal dari lingkaran yang nggak jauh-jauh dari Ariyan.”​Kaivan menganggukkan kepala, menyetujui ironi tersebut. "Sangat sempit. Makanya aku langsung menolak. Selain karena aku nggak mau terlibat lagi dengan dia, aku ju

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 150

    Kaivan yang terkejut dan tidak sempat menghindar dari ciuman perempuan itu langsung berdiri tegak. Ia sangat tidak suka dan tidak nyaman, apalagi ia sedang mendekati Zivanya. Tanpa sadar, Kaivan mengusapkan telapak tangannya ke pipi, menghapus bekas ciuman tersebut. Ia sempat melirik Zivanya guna memastikan ekspresi perempuan itu. Zivanya hanya diam dan sama kagetnya dengan Kaivan.“Datang-datang langsung main cium aja kamu,” ucap Kaivan tidak suka namun halus.Perempuan itu terkikik manja, sama sekali tidak merasa bersalah. “Baru juga di pipi kamu kagetnya udah kayak gitu. Gimana kalau di bibir?”Ekspresi Kaivan semakin tegang. Bayangkan saja. Ia tengah melakukan pendekatan dengan Zivanya lalu perempuan lain tiba-tiba datang dan mengatakan hal seperti Itu.“Nggak lucu banget kamu becandanya,” respons Kaivan jengkel. Ia cepat-cepat mengenalkan perempuan itu pada Zivanya. “Ziva, ini Amanda. Yang dulu kita pernah ke nikahannya. Dia ini istrinya Fero, bestie-nya Ariyan.”Zivanya menerbit

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status