Share

Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu
Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu
Author: Zizara Geoveldy

Part 1

last update publish date: 2026-04-17 15:13:33

Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang terlalu jauh dalam sensasi panas yang mendominasi kamar ini.

​Malam ini Ariyan yang baru pulang kerja terlihat lelah. Dan Zivanya tahu pria itu hanya butuh pelarian. Zivanya dengan bodohnya selalu bersedia menjadi pelarian baginya.

Sambil terus bergerak, Ariyan mencumbu dan mengecup leher Zivanya, menciptakan tanda kepemilikan yang besok akan disesali Zivanya, tapi sekarang terasa begitu memabukkan.

Ariyan bergerak semakin cepat. Zivanya hanya bisa mengikuti, membiarkan tubuhnya diambil alih.

​Saat Ariyan mengangkat sedikit tubuhnya untuk mengganti posisi, kemeja pria itu yang tadi hanya terbuka kancingnya kini tersingkap lebar sebelum ia jatuhkan ke lantai.

​Di situlah Zivanya melihatnya. Jelas, di bawah temaram cahaya.

​Tepat di dada kiri Ariyan, di atas jantungnya, terukir sebuah tato permanen dengan huruf cursive yang rapi.

​Aira.

Ini bukanlah yang pertama. Sudah ratusan malam Zivanya melihatnya. Tapi efeknya tidak pernah berbeda.

Darah Zivanya rasanya berhenti mengalir. Jantungnya berpacu liar. Bukan karena gairah, melainkan karena rasa sakit yang menghantam ulu hatinya.

Ariyan menandai tubuhnya dengan nama wanita lain. Wanita yang selalu dia sebut sebagai masa lalu yang rumit, tapi jelas masih menguasai masa kininya.

​Zivanya merasa sangat sakit. Di saat Ariyan sedang menyatukan tubuh dengannya, nama wanita lain melekat di kulitnya, ikut bergesekan dengan kulit Zivanya.

Seketika, seluruh hasratnya sirna.

​“Ari...” Zivanya mencoba mendorong bahu pria itu.

​Ariyan tidak peduli. Ia sedang berada di ambang puncaknya. Ia terus memacu dirinya, mengabaikan perlawanan kecil Zivanya.

​Zivanya memalingkan wajah ke samping, memandang dinding kosong. Sudut-sudut matanya terasa panas. Setiap sentuhan Ariyan sekarang terasa menjijikkan. Ia merasa seperti benda mati yang sedang digunakan untuk memuaskan syahwat pria yang hatinya sepenuhnya adalah milik orang lain.

​Tepat di saat Ariyan mengerang karena mencapai pelepasannya, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Getarannya terasa hingga ke tempat tidur.

​Drrrt… ​Drrrt…​ Drrrt…

​Ariyan rebah di atas tubuh Zivanna bersama napasnya yang tersengal-sengal di telinga wanita itu.

​Ponsel berwarna hitam tersebut tidak berhenti bergetar.

​Ariyan mengesah kesal, lalu menarik diri dari Zivanya. Ia duduk di tepi tempat tidur membelakangi istrinya dan mengambil ponsel.

​“Halo.”

​​Zivanya duduk perlahan. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.

​“Sakit? Sejak kapan? Kamu sudah minum obatnya?” suara Ariyan kini berubah panik. Ia langsung berdiri, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja selesai bercinta dan tidak berpakaian.

​“Oke, oke, tenang. Jangan panik. Aku ke sana sekarang.”

​Panggilan ditutup dengan tergesa. Mata pria itu bergerak liar mencari pakaiannya di lantai. Ia tidak menatap Zivanya sedikit pun.

​“Aira sakit. Aku harus pergi,” ujarnya singkat sambil menarik celananya. Ia bahkan tidak perlu repot-repot memakai celana dalam.

​Zivanya memandangnya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di hatinya sudah sampai di titik di mana ia tidak bisa lagi marah.

​“Dia sakit apa?” tanya Zivanya pelan, datar tanpa emosi.

​Ariyan mengancingkan celananya dengan gerakan yang semakin panik. “Aku nggak tahu. Dia Cuma bilang perutnya sakit. Mungkin maagnya kambuh lagi. Dia sendirian. Aku harus ke sana sekarang.”

Zivanya memang tidak ingin marah. Ia sudah terlalu lelah untuk itu. Ia sudah menerima sejak lama bahwa dirinya bukan prioritas. Tapi melihat Ariyan yang begitu panik demi wanita lain tepat saat mereka selesai bercinta, kalimat itu keluar begitu saja tanpa bisa ia tahan.

​“Dia selalu sakit di saat kamu bersamaku. Apa kamu nggak sadar?”

Tangan ​Ariyan yang sedang memasang kancing kemeja sontak terhenti. Ia menatap Zivanya untuk pertama kalinya sejak ponselnya berdering. Sorot matanya terlihat begitu dingin.

​“Ini bukan waktunya untuk cemburu. Dia butuh aku.”

​“Dan aku? Apa aku nggak butuh kamu?”

Ucapan istrinya membuat Ariyan memberikan wanita itu tatapan tajam.

“Kamu lupa aku nggak pernah menginginkan pernikahan ini? Kalau bukan karena orang tua kita, bukan kamu yang menjadi istriku. Tapi Aira!”

Zivanya terpaku. Jawaban suaminya membuat hatinya tersayat-sayat. Ia sadar betul akan hal tersebut. Ia sudah menghafalnya di luar kepala, namun mendengarnya langsung dari mulut Ariyan di saat keringat mereka bahkan belum kering, rasanya seperti dikuliti hidup-hidup.

​“Aku tahu,” jawab Zivanya lirih. “Aku tahu kamu nggak pernah menginginkanku. Tapi setidaknya, hargai aku sebagai istrimu.”

“Jangan terlalu banyak menuntut,” jawab lelaki itu tidak suka. Ia sudah berhasil memasang kemejanya lalu menyambar kunci mobil di atas nakas. Tidak ada kecupan pamit atau tatapan menyesal. Yang ada hanya punggung pria itu yang menjauh dengan tergesa, mengejar wanita yang ia sebut sebagai cinta sejati.

​“Jangan menungguku. Aku mungkin menginap di sana kalau kondisinya parah,” ucap lelaki itu sebelum menghilang di balik pintu dan menutupnya dengan sedikit bantingan.

Zivanya tetap duduk di tempat tidur yang berantakan. Bau maskulin Ariyan masih tertinggal di bantal, namun pemiliknya sudah lari mengejar wanita lain.

Aira adalah anak angkat orang tua Ariyan yang diadopsi sejak berumur tiga tahun. Setelah dewasa, keduanya saling jatuh cinta. Orang tua Ariyan yang tidak setuju pada hubungan mereka, menjodohkan Ariyan dengan anak sahabatnya, yaitu Zivanya. Zivanya menerima perjodohan itu karena sejak Sekolah Menengah Pertama ia sudah jatuh cinta pada laki-laki itu. Perasaan Zivanya sangat bahagia dinikahkan dengan Ariyan sebelum ia tahu Ariyan sudah memiliki wanita lain di hatinya.

​Lamunan Zivanya buyar karena listrik yang tiba-tiba mati. Ia mengambil napas dalam-dalam, menelan pahitnya kenyataan bahwa malam ini, sekali lagi, ia kalah untuk ke sekian kalinya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
aku mampir di mari ka Zi.. setelah beres baca kisah Zelena dan Jeandra yg mengharu biru... baru baca bab pertama sudah di bikin gedek sm tingkah si Ariyan kasihan Zivanya
goodnovel comment avatar
Siti Hayatul Amalia
Zivanya luar biasa banget, bisa2nya sabar ngadepin laki modelan Ariyan. Semoga ada laki2 lain yg akan mencintainya dgn tulus, biar si Ariyan ngerasain kayak Jeandra dulu, tp ga perlu dapat pengampunan dr Zivanya
goodnovel comment avatar
Diana Susanti
yaa nggak ngira aja,,,dulu waktu bayi zivanya ternyata berjalannya waktu malah Aira yg jd cinta nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 51

    Kalau saja bukan desakan dari kandung kemihnya, Zivanya belum akan bangun. Ia terpaksa membuka matanya yang berat bagai diberi perekat lalu membawa diri ke kamar mandi. Saat kembali ke tempat tidur, Zivanya menyadari satu hal. Ariyan tidak berada di sana. Mata Zivanya dengan refleks mencari jam dan menemukan waktu saat ini masih sangat pagi. Pukul setengah lima.Mungkin Ariyan ke apartemen Aira, pikirnya. Terserahlah. Zivanya tidak peduli. Tentang pria itu yang lebih sering berada di apartemen kekasihnya bukanlah hal yang baru. Malah Zivanya heran kalau Ariyan lebih sering berada di rumah.Tapi entah dorongan dari mana yang membuat Zivanya melangkah mendekati jendela dan melempar pandang ke luar sana. Ternyata mobil yang biasa dipakai suaminya ada di sana. Ariyan tidak pergi.Zivanya tertegun sejenak. Alisnya bertaut rapat melihat kendaraan gagah itu masih terparkir tenang di bawah temaram lampu taman. Jika mobilnya ada di sana, artinya Ariyan masih berada di dalam rumah ini. Namun,

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 50

    Seketika ruangan tersebut diliputi keheningan setelah penjelasan lugas Kaivan. Andara merasa tidak enak hati karena sudah salah sangka. Ia juga merasa kecewa karena sejak pertama melihat Zivanya tadi langsung menyukainya. Begitupun dengan Ananta yang terdiam. Setelah beberapa saat barulah lelaki itu membuka mulut.“Maksud kamu Ariyan Ari, sahabatmu, Bang?” tanya Ananta agar lebih jelas. Ia memang mengenal Ariyan.“Iya, Pa. Kalau Ari tahu Papa nyuruh aku ngelamar istrinya dia bisa ngamuk,” seloroh Kaivan.Ananta tertawa masam. “Tapi untungnya dia nggak di sini. Kalau dia tahu Papa bisa bonyok beneran.”Helaan napas kecewa pun terdengar dari mulut Zevia. “Gagal deh punya kakak ipar.”Sementara itu, ​​Andara masih mematung. Ia lalu menatap Zivanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada gurat kekecewaan yang terlukis jelas di wajahnya karena ia terlanjur menaruh harapan besar pada perempuan muda di sebelahnya ini. ​"Maaf ya, Ziva, Tante nggak tahu. Malah tadi langsung nyerocos. Tante b

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 49

    Kedua orang tua Kaivan muncul dari dalam rumah dan memberi senyum hangat pada Zivanya.​“Kenapa masih berdiri, Bang? Diajak duduk dong pacarnya,” titah Andara dengan senyum menggoda.​“Ma, Pa, kenalkan, ini Zivanya, teman aku, bukan p–” “Sudahlah, Kai, nggak usah malu,” potong Ananta, papanya Kaivan sebelum sang putra menyelesaikan perkataannya. Ia melangkah mendekat, mengabaikan usaha Kaivan untuk mengoreksi sebutan itu. “Papa tahu kamu memang sulit terbuka soal hati, tapi kalau sudah dibawa sampai ke rumah malam-malam begini, Papa rasa penjelasannya sudah cukup.”​Zivanya hanya bisa terpaku. Lidahnya terasa kelu. Ia ingin membantu menjelaskan, tapi tidak memiliki kesempatan​“Ayo duduk, Zivanya,” ujar Andara sambil menyentuh lengan Zivanya dengan lembut, seolah-olah dirinya memang benar kekasih Kaivan.​Zivanya segera menyalami keduanya dengan sopan. “Selamat malam, Om, Tante. Maaf saya mampir malam-malam begini,” ucap Zivanya sambil menyerahkan kotak macaron yang tadi sempat merek

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 48

    Zivanya menyandarkan punggungnya di kursi mobil Kaivan. Ia mencoba melepaskan sesak yang menghimpit dada sejak di pesta tadi. Keheningan malam yang menembus kaca jendela perlahan menenangkannya, meski bayangan wajah dingin Ariyan masih enggan pergi dari benaknya.​Kaivan melirik sekilas, lalu memecah keheningan dengan suara rendahnya yang menenangkan. "Masih kesal?"​"Menurutmu?"Kaivan menjawab dengan senyum tipis.“Dia benar-benar ngerusak suasana. Dan cara dia memperlakukan aku tadi seolah-olah aku ini barang miliknya yang bisa ditarik ke sana kemari.”“Sabar ya. Orang yang lagi cemburu memang kayak gitu.”Zivanya sontak mendengkus. “Kayaknya aku udah pernah bilang deh. Dia itu bukan cemburu, Kai. Tapi egois.”"Mungkin batas antara cemburu dan egois bagi Ariyan itu setipis benang, Ziva," sahut Kaivan pelan sambil memutar kemudi, memasuki jalan yang lebih lengang.​Zivanya tidak membalas. Ia memalingkan wajah ke luar jendela, menatap deret

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 47

    Zivanya memasang tampang masam sambil melempar pandang pada suaminya. Lelaki itu benar-benar membuatnya jengkel setengah mati. Ariyan tidak bergerak, namun auranya yang mendominasi membuat suasana di sekitar meja katering terasa membeku. Kaivan yang menyadari arah pandang Zivanya ikut melempar mata pada Ariyan. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Entah sejak kapan Ariyan mengekori mereka, Kaivan tidak menyadarinya. “Kenapa sih tuh orang ngikutin kita terus?” kesal Zivanya. “Mungkin kangen istrinya.” “Ih!” dengkus Zivanya sebal yang membuat Kaivan tersenyum geli. “Mau disamperin ke sana?” tanya lelaki itu. “Ayo.” Zivanya langsung melingkarkan tangan di lengan Kaivan, bergelayut manja padanya. Seiring dengan langkah kakinya yang semakin mendekat, Zivanya sengaja mengeratkan pelukan tangannya di lengan Kaivan. Ia memastikan tubuh mereka menempel cukup dekat untuk dilihat oleh siapa pun yang memandang. Terutama suaminya. Ia ingin Ariyan merasakan apa yang selama ini ia ra

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 46

    Gedung hotel bintang lima yang mereka datangi berpendar oleh cahaya lampu yang menggantung megah di langit-langit ballroom. Aroma manis yang lembut menyeruak, bercampur dengan wangi parfum mahal dari para tamu undangan yang berlalu-lalang. Zivanya melangkah masuk dengan tangan yang tertaut di lengan Kaivan. Gaun haute couture-nya membuat perempuan itu semakin cantik dan anggun serta memberikan kesan berkelas yang membuat beberapa pasang mata menoleh kagum.​Zivanya mencoba mengatur napasnya. Berada di keramaian setelah kejadian di halaman rumah tadi bukan hal mudah, namun kehadiran Kaivan yang tenang di sampingnya memberikan sedikit rasa aman.​"Kamu baik-baik aja?" Kaivan bertanya lembut.​Zivanya menganggukkan kepala.​Baru saja mereka melangkah beberapa meter menuju area utama, seorang wanita cantik yang mengenakan ball gown menghampiri mereka. Tapi sepasang matanya tertuju hanya pada Kaivan.​"Kaivan!" seru wanita itu.​Tanpa aba-aba, wanita itu langsung menghambur memeluk Kaivan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status