Share

Part 6

last update publish date: 2026-04-28 17:22:07

Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana.

Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan.

Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda di rumah ini yang terlihat seperti pernikahan yang bahagia. Mulai dari Foto pre wedding di dinding, foto pernikahan, hingga beberapa kenangan kecil saat ia dan Ariyan bercinta di sofa. Ariyan suka sekali mengeksplor setiap sudut di rumah ini untuk tempat mereka bercinta. Dan Zivanya hanya bisa menurut karena cintanya yang begitu besar pada lelaki itu.

Ia duduk di sofa ruang tamu tanpa melepas heels-nya dan lagi-lagi termenung di sana.

Di luar, suara kendaraan lewat sesekali. Semilir angin menggerakkan daun-daun di halaman. Rumah ini terletak di kawasan yang tenang. Salah satu yang dulu ia syukuri, karena ia pikir ketenangan adalah hal yang baik untuk sebuah rumah tangga baru.

Sekarang ia tahu bahwa kesunyian seperti ini seolah akan membunuhnya meski ia sudah biasa karena Ariyan jarang di rumah. Lelaki itu lebih sering menghabiskan waktu di kantor atau apartemen kekasih yang sangat dicintainya itu.

‘Aira hamil’.

Kalimat itu terus terngiang di telinga Zivanya tanpa ia inginkan.

Zivanya mengangkat tangannya dan menatap jemarinya di kegelapan. Jari manis kirinya masih mengenakan cincin pernikahan mereka. Ariyan yang memilih. Ia ingat hari itu. Ariyan memilihnya dengan cepat dan tanpa pertimbangan. Tapi Zivanya menyukai pilihan Ariyan. Meski pada akhirnya hanya Zivanya sendiri yang memakainya. Sedangkan Ariyan sudah melepaskannya di hari pertama mereka menjadi suami istri.

Ia memutar cincin itu pelan-pelan. Bersamaan dengan itu ucapan suaminya kembali melintas di kepala.

‘Cintamu itu beban buat aku.’

Ia berhenti memutar.

Selama satu tahun ini, ada satu hal yang selalu berhasil membuat Zivanya bertahan. Keyakinan bahwa suatu hari, dengan kesabaran dan cinta yang meluap-luap dari Zivanya, Ariyan akan melihatnya. Tapi itu tidak terjadi. Ariyan malah semakin menjadi-jadi dengan Aira.

Setelah cukup lama termenung, Zivanya akhirnya menyalakan lampu. Hanya untuk melihat kado-kado untuk mereka berdua serta kue ulang tahun yang diberikan mertuanya di restoran. Kue itu hanya tersentuh beberapa slice. Selebihnya mertuanya menyuruh membawa pulang. Zivanya menatap kue yang rasanya lezat itu dengan hampa. Ia membiarkan begitu saja sebelum akhirnya berjalan menuju grand piano berwarna hitam. Piano itu satu-satunya benda di rumah ini yang ia bawa dari rumah orang tuanya.

Ia duduk di bangku piano, menatap tuts hitam putih di depannya, lalu mengangkat kedua tangannya.

Tidak ada partitur yang ia buka. Jarinya bergerak sendiri untuk memainkan melodi yang ia hafal sejak usia sembilan tahun, yang diajarkan ibunya di ruang keluarga rumah mereka.

Nocturne in E-flat major dimainkan. Zivanya memejamkan mata, membiarkan jemarinya menari di atas tuts hitam-putih. Setiap denting piano bercerita tentang keheningan, kesepian, dan cinta yang berjalan sendirian. Ini adalah lagu favoritnya. Dan setiap kali ia merasa sedih dan kesepian, Zivanya akan bermain piano untuk mengalihkannya.

Hatinya larut dalam permainan melodi. Tapi pikirannya tidak. Ia teringat ucapan ibu mertuanya kala itu.

“Setiap rumah tangga pasti memiliki masalah. Tapi kalian pasti bisa menyelesaikannya. Mama percaya kamu bisa menjadi istri yang baik untuk Ariyan. Jadi, kalau ada masalah sedikit jangan langsung menyerah. Kamu harus sabar-sabar menghadapi Ariyan. Apa pun yang terjadi, bertahan ya, Ziva.”

Air mata Zivanya mengalir deras di sela-sela permainannya.

Sabar? Seberapa banyak lagi stock sabar yang harus ia gali dari hatinya yang sudah kering kerontang?

​Melodi Nocturne semakin mendayu, seolah-olah piano itu ikut menangis bersamanya. Tepat saat nada terakhir memudar, suara bel pintu memasuki pendengarannya.

​Zivanya tersentak. Jemarinya terhenti di atas tuts. Ia melirik jam dinding. Hampir tengah malam. Ariyan tidak akan pernah menekan bel. Lelaki itu memiliki kunci sendiri, dan biasanya masuk tanpa suara. Dan lebih seringnya tidak pulang sama sekali. Malam ini lelaki itu juga tidak akan pulang. Aira lebih membutuhkannya. Katanya.

Lalu siapa yang bertamu pada jam segini?

Zivanya berdiri. Ia merapikan gaunnya yang sedikit kusut dan menghapus air matanya. Dengan perasaan bertanya-tanya, ia melangkah menuju pintu. Saat pintu terbuka, ia mendapati sosok lelaki tinggi dan gagah berdiri di sana.

​"Kaivan?”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
Ziva.. tinggalkan laki jahanam macam si Ariyan.. jangan jatuhkan harga dirimu.
goodnovel comment avatar
Qinnara Raleena Fasya
knp buku ini ga tentang kai sama ziva aja sih skip aja ariyan huhu
goodnovel comment avatar
Diana Susanti
kaivan anaknya Andara dan Ananta yaaa kak ziii
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 326

    "Mesra sekali ya ayah dan anak ini.” Suara Seruni terdengar dari arah belakang mereka. Zivanya buru-buru menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu mengurai pelukan. Ia menoleh dan mendapati Maminya melangkah mendekat dengan tangan bersedekap. “Mami nguping aku dan Papi?” “Memangnya kenapa? Pembicaraan kalian terlalu penting sampai Mami nggak boleh tahu?” balas Seruni sewot. “Bukannya gitu, Mi. Malah bagus kalau Mami dengar. Jadi aku nggak perlu lagi jelasin sama Mami.” “Mami memang udah dengar semuanya tapi kamu tetap harus menikah sama Ariyan. Masalahnya, Ariyan dan Tante Zelena sudah setuju.” Zivanya sama sekali tidak tahu bahwasanya Maminya baru saja menelepon Zelena di luar dan mendapat penolakan halus. Yang ada di pikiran Zivanya saat ini hanyalah rasa lega yang teramat besar karena Papinya telah memberinya izin untuk berdiri di atas keputusannya sendiri. “Tapi aku yang nggak mau, Mi,” jawab Zivanya. “Aku nggak akan menikah dengan Ariyan atau siapa pun y

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 325

    Seruni tentu saja terkejut mendengar jawaban Zelena yang tidak disangka-sangka. Tadinya ia mengira akan mendengar kabar bahagia. Tapi ternyata ia harus kecewa.“Masa sih, Zel? Ariyan itu masih cinta banget sama Ziva. Dia nggak mungkin menolak!” balas Seruni denial.“Aku paham, Run," tutur Zelena dengan nada yang begitu lembut, mencoba meredam penyangkalan mantan besannya di seberang sana. "Tapi kita nggak bisa memaksakan perasaan Ariyan sekarang. Dulu mereka berpisah juga bukan hal yang mudah. Ari punya sikapnya sendiri, dan sebagai ibunya, aku harus menghargai keputusannya.""Tapi kamu ibu kandungnya!" balas Seruni cepat. "Kalau kamu yang minta, kalau kamu yang mohon sama Ariyan, dia pasti nggak tega. Ini demi Ziva, demi cucu kamu juga, demi Kaisar! Apa kamu nggak kasihan sama mereka?”Zelena mengusap dadanya yang terasa semakin sesak. Mendengar nama Kaisar dan Zivanya sungguh menyentuh sudut terlembut di hatinya. Tetapi Zelena tetap harus memegang kendali agar tidak terbawa arus kep

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 324

    Semakin mendekati hari pernikahan Zivanya, Zelena menjaga Ariyan extra ketat. Ia selalu berada di dekat putranya itu agar tidak lolos menemui Zivanya. Ia juga menyibukkan Ariyan di Kaisar Fitness agar tidak terus mengingat Zivanya. Sejak tadi pagi handphone Zelena terus berdering, yang akhirnya ia silent-kan. Panggilan telepon hingga pesan datang dari Seruni yang terus menanyakan kesediaan Ariyan dan apa Zelena sudah membujuk Zivanya. Dari tempatnya duduk, Zelena memerhatikan putranya. Tampak olehnya Ariyan sedang sibuk memandu seorang klien secara langsung. Kaus hitam yang membalut tubuh tegapnya sedikit basah oleh keringat, raut wajahnya fokus dan serius seolah tidak ada beban lain yang mengganggu pikirannya. Zelena terus membebani Ariyan dengan jadwal pelatihan di tempat fitness ini, semata-mata agar pikiran Ariyan teralihkan dan tidak terus-terusan memikirkan Zivanya. Ponsel Zelena yang tergeletak di atas meja kembali menyala terang, menampilkan nama yang tidak asing. Untuk pu

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 323

    Malam kian larut. Jarum jam baru saja melewati angka dua dini hari. Zivanya merapatkan selimut yang dibawakan Syabila ke bahunya. Tadi setelah bertengkar dengan Seruni akhirnya ia kembali ke rumah sakit. Semua demi sang ayah. Kalau saja tidak ingat kesehatan Abi, Zivanya tidak akan sudi kembali lagi ke sana.Seruni tampak sudah jauh lebih tenang usai meluapkan tangis dan desakannya pada Zelena di telepon. Seruni percaya penuh bahwa Zelena yang teramat menyayangi Zivanya pasti sanggup membujuk Ariyan dan membuat Zivanya tidak berkutik. Bagi Seruni, masalah ini dianggap selesai. Ia tinggal menunggu besok pagi."Kak Ziva, tidur sebentar yuk. Kakak dari sore belum makan, belum istirahat sama sekali," bujuk Syabila lembut seraya mengusap jemari Zivanya yang sedingin es."Aku nggak bisa tidur. Baru satu detik nutup mata rasanya kayak mau tenggelam.”"Jangan dipikirin omongan Mami tadi ya, Kak,” bujuk Syabila prihatin. Ia tahu betul betapa dalamnya luka yang digoreskan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 322

    “Siapa yang nelepon, Ma?”“Seruni.” Zelena menjawab sambil mengunci layar handphone.“Tumben? Bukannya dia lagi sibuk nyiapin pernikahan Ziva?”Embusan napas panjang meluncur dari bibir Zelena sebelum menceritakan detail kejadiannya pada Jeandra.“Harusnya sih begitu. Tapi Ziva nggak jadi nikah.”“Kenapa?”Kaivan selingkuh,” jawab Zelena lirih dengan perasaan sedih dan kasihan. Ia bisa membayangkan betapa hancurnya hati Zivanya saat ini. “Kata siapa?”“Bukan kata siapa, Pa. Tapi Ziva yang melihat sendiri. Tapi yang lebih parah bukan cuma itu. Pak Abi kumat jantungnya setelah tahu.”“Terus gimana keadaannya sekarang?”“Masih di rumah sakit,” jawab Zelena. Ia menatap suaminya dengan pandangan ragu, menimbang-nimbang apakah harus menyampaikan permintaan gila dari Seruni atau tidak.Jeandra yang sudah hafal segala macam gestur dan ekspresi istrinya pun bertanya, “Pasti ada hal lain kan? Nggak mungkin Seruni cuma telepon buat ngabarin Ziva bat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 321

    Seruni benar-benar menghubungi Zelena saat itu juga. Panggilan langsung tersambung. Tetapi ia harus menunggu cukup lama sampai Zelena menjawabnya.“Zel, tolongin aku, Zel.” Seruni langsung menangis bahkan sebelum Zelena mengucapkan halo. Tentu saja Zelena terkejut mendengarnya. Seharusnya saat ini Seruni sedang sibuk dan berbahagia menyambut pernikahan putrinya.“Kenapa, Runi? Ada masalah apa?”"Papinya Ziva, Zel. Papinya Ziva,” jawab Seruni terisak. “Kenapa papinya Ziva?” Zelena ikut panik mendengarnya.“Papinya Ziva jantungnya kumat. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk!" ratap Seruni histeris, membuat Syabila yang berada di dekatnya hanya bisa menghela napas, tidak sanggup lagi menyaksikan tingkah sang ibu."Astaga, Pak Abi. Terus sekarang gimana keadaannya, Run? Dirawat di rumah sakit mana? Terus Ziva gimana? Ya Tuhan, Ziva...""Ini gara-gara Kaivan bajingan itu. Dia selingkuh! Pernikahan Ziva tiga hari lagi batal t

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 5

    Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status