로그인“Foto USG?" Ariyan mengulang kalimat itu dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Keringat dingin mulai merembes di balik bajunya. Ia melirik Zivanya, berharap istrinya memiliki skenario darurat, namun Zivanya balik menatapnya dengan sorot mata yang seolah berkata, ‘Kamu aja yang jelasin ke Mama’. “Iya, foto USG. Mama penasaran. Kalian udah ke dokter, kan? Atau cuma baru tahu lewat test pack?” “Udah ke dokter, Ma. Kemarin,” jawab Zivanya cepat yang membuat Ariyan semakin tersudut dan jengkel di saat bersamaan. Zivanya seolah berniat membuat rahasia itu terbongkar. “Mama boleh lihat? Mami juga pasti nggak sabar,” ucap Zelena yang mendapat anggukan kepala dari Seruni. “Ya bolehlah, Ma, masa nggak boleh,” ujar Zivanya lagi. “Tapi fotonya masih di dokter, Ma,” timpal Ariyan secepat kilat. “Kemarin karena buru-buru dan rumah sakitnya ramai, pasiennya juga banya
Mereka mendengar deru mesin mobil yang semakin dekat, lalu mati, disusul pintu mobil yang dibuka lalu ditutup. "Ikut aku, Ra! Cepat!" Ariyan mencekal lengan Aira dengan keras, mencoba menarik wanita itu. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya hanyalah menyembunyikan bukti perselingkuhannya sebelum sang ibu melangkah masuk ke ruang tamu. Namun, belum sempat ia menyeret Aira lebih jauh, suara dingin Zivanya menghentikan langkahnya. "Kenapa harus disembunyikan, Ari? Mama pasti senang kalau tahu akan memiliki dua orang cucu secara bersamaan. Kasihan Kak Aira diperlakukan seperti barang haram,” ucap Zivanya dengan raut prihatin. "Ziva, tolong. Jangan sekarang,” pinta Ariyan dengan nada memohon. Matanya berkilat penuh ketakutan. "Kalau Mama lihat Aira di sini, semuanya berakhir." Zivanya pun tertawa. "Kenapa harus berakhir? Aku pikir ini awal yang bagus. Kalian nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Mau nggak mau Mama pasti kasih restu.” “Argggh!” Ariyan merasa begitu frustrasi kare
"Kenapa kamu kaget, Kak?" Zivanya bertanya dengan nada yang sangat ringan sambil menatap Aira yang kini wajahnya kehilangan warna. "Bukannya itu hal yang sangat lumrah bagi sepasang suami istri? Kami tinggal satu atap, tidur di ranjang yang sama setiap malam. Kecuali kalau dia sedang mampir ke tempatmu sebentar untuk melepas penat. Rasanya aneh kalau kamu berpikir hanya rahimmu yang bisa menampung benihnya."Aira menggelengkan kepala, napasnya mulai memburu pendek-pendek. "Nggak mungkin. Ariyan bilang nggak pernah menyentuhmu."Zivanya sontak tertawa. "Kak Aira sayang. Kakak sudah berumur, harusnya sudah paham kalau laki-laki itu makhluk visual dan pandai bicara. Dia akan mengatakan apa pun agar perempuan di depannya merasa menjadi satu-satunya. Padahal kenyataannya? Dia pulang ke sini, ke pelukanku, hampir setiap hari. Mungkin saat dia bersamamu dia membayangkan aku, atau mungkin sebaliknya? Siapa yang tahu?”Zivanya sengaja memberikan jeda, membiarkan racunnya meresap ke dalam pi
Bunyi alarm yang menjerit-jerit memaksa Zivanya untuk bangun. Saat ia menggeser tubuh, sebuah pemandangan di sisi ranjang membuatnya tersentak hingga seluruh kesadarannya pulih seketika.Ariyan ada di sana. Lelaki itu berbaring telentang, masih dengan kemeja kusut yang sama dengan semalam. Lelaki itu pulas dalam lelap seolah-olah rumah tangga mereka tidak sedang berada di ambang kehancuran. Zivanya tertegun, menatap wajah suaminya dengan rasa tidak percaya yang membuncah. Bagaimana bisa setelah pertengkaran hebat semalam lelaki ini masih bisa tidur di sampingnya? Bagaimana dengan kekasihnya?"Bangun, Ari," suruh Zivanya tanpa intonasi.Ariyan mengerang pelan lalu membuka matanya. Begitu kesadarannya terkumpul dan melihat tatapan menghunus dari Zivanya, ia pun berkata, "Aku masih ngantuk. Baru pulang jam tiga tadi.”“Nggak ada yang tanya kamu pulang jam berapa,” dengkus Zivanya. “Kamu punya apartemen mewah untuk selingkuhanmu, kenapa pulang ke sini?"Ariyan tidak menjawab. Ia memel
Kaivan membeku sejenak di ambang pintu. Sosok di depannya tampak jauh dari citra Ariyan yang biasanya rapi dan terkendali. Rambutnya awut-awutan, bajunya kusut, dan sorot matanya menyiratkan kekacauan yang dalam."Masuk," ujar Kaivan pendek sambil memberi ruang.Ariyan melangkahkan kaki dengan langkah berat. Ia langsung menghempaskan tubuh ke sofa ruang tamu Kaivan. Ia menyandarkan kepala, memejamkan mata seolah sedang memikul beban yang begitu berat di pundaknya. Keheningan mengisi ruangan selama beberapa saat.Kaivan berjalan ke arah dapur. Ia mengambil dua botol air mineral dari lemari es. Ia menyerahkan satu pada Ariyan sebelum duduk di sofa tunggal di depan sahabatnya."Sejak kapan lo dekat sama Ziva?” Ariyan membuka percakapan setelah menyesap airnya.Kaivan tertegun sejenak. Pertanyaan yang dilontarkan Ariyan terdengar seperti tuduhan yang dibalut rasa ingin tahu, namun Kaivan tetap berusaha tenang. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Ariyan yang tampak kacau namun tetap m
Zivanya mengurung diri di kamar dan mengunci pintu dari dalam. Berkali-kali Ariyan mengetuk dan meminta agar dibukakan, tapi Zivanya mengabaikan. Ia tahu Ariyan sedang ketakutan. Tetapi bukan takut kehilangan cintanya, karena memang tidak pernah ada cinta di sana. Ariyan hanya takut kehilangan kendali. Selama bertahun-tahun Ariyan merasa telah berhasil menjinakkan Zivanya, menjadikannya istri pajangan yang sempurna di depan orang-orang. Sementara ia bebas memuaskan egonya di tempat lain.Zivanya melangkah menuju tempat tidur dan mengambil ponselnya. Ia membuka daftar kontak lalu terpaku selama hitungan detik.Zivanya sempat ragu. Apakah ia benar-benar akan menyeret Kaivan ke dalam pusaran api ini?Namun, mengingat betapa lancarnya Ariyan berbohong soal kehamilan tadi, empati Zivanya pun menguap. Tepat saat Zivanya hendak men-dial nomor Kaivan, ia mendengar suara mobil Ariyan yang menjauh. Deru mesin tersebut akhirnyamenghilang, menandakan suaminya telah pergi dari rumah, kemungki







