登入Aroma gurih dari makanan yang dimasak Zivanya menguar memenuhi penciumannya, membuatnya ikut lapar. Setelah menatanya di meja makan, ia memanggil Ariyan."Makanannya sudah siap. Makan dulu.”Ariyan menjawab dengan senyum tipis.Saat Zivanya bermaksud memanggil Kaisar, anak itu lebih dulu muncul dari arah dalam kamar dengan ransel tersandang di punggungnya.“Kai mau ke mana?” tanya Zivanya heran.“Kai mau ikut sama Papa, Ibu. Mau nginap di rumah Oma.”Satu embusan napas meluncur dari mulut Zivanya mendengarnya. Kalau Zivanya izinkan, otomatis nanti ia akan kembali bertemu dengan Ariyan saat lelaki itu mengantar Kaisar. Padahal saat ini Zivanya tidak ingin berinteraksi dengan banyak orang kecuali putra satu-satunya."Kai, Papa kan lagi kurang sehat," ujar Zivanya lembut, berusaha memberi pengertian pada putranya tanpa terkesan menolak kasar. "Nanti Papa makin capek kalau harus jaga Kai di rumah Oma."Kaisar langsung memajukan bibirnya, menatap sang ibu dengan binar mata memohon yang sul
Sambil memasak, pikiran Zivanya tanpa sengaja melayang pada Kaivan. Sedang apa lelaki itu sekarang di saat pernikahan mereka harusnya terselenggara? Lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya? Kenapa handphone Zivanya sunyi senyap? Maksudnya, tidakkah kedua orang tua lelaki itu merasa bersalah atau malu atas kelakuan anak mereka? Dan kenapa mereka tidak menghubungi Zivanya untuk sekadar minta maaf atau memberi penjelasan? Zivanya mengusir bayangan Kaivan dan pertanyaan-pertanyaan yang mulai menggerogoti pikirannya. Untuk apa ia memikirkannya? Kaivan saja sedikit pun tidak menunjukkan rasa bersalahnya. Pelukan di belakang tubuhnya menyentak Zivanya keluar dari lamunannya. Ia benar-benar terkejut saat mengetahui Ariyanlah sosok pemeluk yang dagunya kini bertumpu di pundak Zivanya. Sendok di tangan Zivanya nyaris terlepas. Detak jantungnya berpacu liar. Bukan karena romansa, melainkan karena ia betul-betul terkejut. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan tangan Ariyan yang melingkar di
Gerakan tangan Zivanya yang sedang mengompres dahi Ariyan seketika terhenti. Dengan cepat ia menariknya ketika menyadari pria di hadapannya sudah kembali sadar.“Papa! Papa udah bangun!" seru Kaisar gembira dan langsung memeluk dada Ariyan.“Hei jagoan Papa.” Ariyan mengusap punggung Kaisar."Papa jangan sakit lagi ya. Kai sedih kalau Papa sakit. Tadi Papa pingsan.” Dengan lancar Kaisar memberitahu. “Untung ada Kai dan Ibu. Coba kalau Papa sendirian.” Ariyan menggeser matanya pada Zivanya seolah ingin mengonfirmasi cerita anaknya."Kamu pingsan di lobi. Sekuriti yang gotong kamu sampai ke atas,” ujar Zivanya menjelaskan."Makasih. Aku nggak ada niat bikin kamu susah. Aku cuma mau nunggu kamu di bawah. Tadi itu—““Aku ambilin minum,” potong Zivanya memutus perkataan Ariyan.Selagi Zivanya menjauh, Ariyan mengobrol dengan Kaisar yang menceritakan kejadian tadi dengan lengkap. Mengetahui anak itu sangat menyayanginya, membuat Ariyan semakin terbunuh perasaan bersalah.Ariyan merengkuh
Zivanya terpaksa turun setelah mendengar kabar dari resepsionis. Kaisar ikut mengekor dengannya Di sudut area lounge lobi yang luas, tampak beberapa petugas keamanan dan resepsionis berkerumun mengelilingi salah satu sofa kulit berukuran besar."Papa!" pekik Kaisar ketika matanya menangkap sosok pria yang terbaring di sofa tersebut. Anak itu melepaskan genggaman tangan ibunya dan berlari kecil menghampiri sang ayah dengan ekspresi panik.Zivanya tergesa mengikuti di belakangnya. Jantungnya berdegup kencang karena tidak percaya, cemas, dan jengkel yang membuncah. ‘Beneran pingsan atau ini cuma akal-akalan Ariyan biar aku luluh?’ pikirnya getir.Saat Zivanya berdiri tepat di samping sofa dan melihat paras Ariyan dari dekat, seluruh prasangka buruk itu seketika sirna.Wajah mantan suaminya itu tampak pucat-pasi. Bulir-bulir keringat membasahi pelipis serta garis rahangnya. "Bu Zivanya,” sapa resepsionis lega dan juga cemas. "Tadi Pak Ariyan tetap menunggu di dekat meja resepsionis. Se
Kai di rumah baru, Pa. Di lantai paling atas. Jendelanya besar, bisa lihat gedung-gedung kayak mainan,” jawab Kaisar bersemangat dan terdengar menggebu-gebu.Dahi Ariyan sedikit berkerut memikirkannya. "Rumah baru? Maksud Kai, Ibu nggak di rumah Omi lagi?" tanyanya memastikan."Nggak, Pa. Kai udah pindah.”Berbagai pertanyaan berseliweran di kepala Ariyan. Pernikahan batal? Zivanya pindah dari rumah orang tuanya? Apa yang terjadi sebenarnya?"Kai, kasih ponselnya ke Ibu sebentar ya, Sayang.”"Ibuuu! Papa mau bicara!" seru Kaisar lantang seraya berlari kecil menghampiri ibunya.Zivanya tentu saja terkejut mendengarnya. Ia terlalu sibuk menata pakaian sehingga luput mengawasi Kaisar.“Kai yang nelepon Papa?” bisiknya pelan sembari menerima handphone dan menutup bagian speaker agar tidak terdengar oleh Ariyan. Kaisar dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Bukan. Papa yang nelepon duluan.”“Kai ngomong apa aja sama Papa?” “Kai bilang Ibu nggak jadi nikah,” jawab Kaisar lugu.Astaga… ana
Seharusnya, jam tujuh pagi ini Zivanya sudah berada di bridal suite hotel bintang lima dikelilingi makeup artist, dirias hingga semakin cantik serta tersenyum tipis sewaktu gaun pengantin bernuansa putih karya perancang busana ternama melekat di tubuhnya.Ia seharusnya sedang bersiap melangkah ke pelaminan mewah bergaya modern, memajang senyum di hadapan para tamu. Namun, kenyataan hari ini sungguh berbeda.Zivanya berdiri santai di balkon penthouse-nya yang luas, mengenakan loungewear yang longgar dan nyaman. Angin pagi berembus lembut menerpa wajahnya yang bersih tanpa riasan. Di tangannya, secangkir teh hangat menguapkan aroma menenangkan. Dari lantai atas ini, pemandangan kota di bawah sana tampak bagai kotak-kotak."Ibu! Lihat, Kai bikin benteng dari balok!" seru Kaisar keras dari arah dalam.Zivanya menoleh, menyunggingkan senyum yang benar-benar terbit dari dasar hatinya.Ia kemudian melangkah untuk mengambil handphonenya yang berbunyi. Ada panggilan suara dari Syabila.“Kak Zi
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







