แชร์

Part 5

ผู้เขียน: Zizara Geoveldy
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-17 15:17:31

Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.

Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhannya. Ariyan ingin mengunci pintu masa depan mereka selamanya, memastikan tidak akan pernah ada darah dagingnya yang mengikat mereka.

​“Kamu memintaku untuk mandul secara sengaja?” tanya Zivanya yang mati-matian menahan emosi dan air mata.

​“Jangan berlebihan. Ini demi kebaikanmu juga supaya nggak ketergantungan sama obat,” balas Ariyan berdalih. “Toh, kita sama-sama tahu pernikahan ini hanya karena orang tua kita. Jadi buat apa mempertahankan sesuatu yang nggak akan pernah kita butuhkan?”

​Zivanya memalingkan wajah ke jendela, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga. Bagaimana mungkin Ariyan tega? Zivanya masih bisa menahan sakit menyaksikan perselingkuhan laki-laki itu dan kekasihnya. Tapi ia tidak sanggup jika laki-laki itu juga mencoba merampas hak paling mendasar darinya sebagai seorang wanita.

“Gimana? Kamu setuju?” Ariyan terus mendesak.

Zivanya menoleh cepat. “Aku nggak akan pernah setuju. Kamu bicara seolah rahimku ini adalah salah satu lahan proyekmu yang gagal, Ari. Lahan yang harus ditutup permanen karena kamu tidak ingin ada beban bangunan di atasnya.”

​Ariyan tetap menatap lurus ke depan sambil terus berbicara. “Aku hanya bicara realistis. Kita nggak saling cinta. Maksudku, aku yang  nggak cinta sama kamu. Membiarkan rahimmu tetap subur hanya akan memberi harapan palsu pada orang tua kita, dan aku nggak mau itu.”

​Zivanya mencengkeram sabuk pengamannya dengan kuat untuk melampiaskan rasa sakit hatinya. “Aku tahu kamu memintaku melakukan tubektomi bukan karena peduli pada kesehatanku. Kamu ingin aku nggak bisa punya anak supaya kamu bisa tidur denganku tanpa rasa takut, sementara hatimu tetap kamu simpan untuk saudaramu itu. Kamu ingin aku menghapus hakku menjadi seorang ibu, hanya agar kamu tetap punya hak untuk mencintai wanita lain tanpa beban.”

​Ariyan menghela napas panjang. Ia terlihat terganggu dengan emosi Zivanya. “Jangan memutarbalikkan kata-kataku. Aku hanya menawarkan solusi.”

​“Kalau kamu sebegitu bencinya memiliki darah daging dariku, kenapa kamu nggak minta cerai ke orang tua kita? Kenapa harus rahimku yang dikorbankan demi cinta gilamu pada perempuan itu?”

​Ariyan mengerem mobil secara mendadak di bahu jalan, membuat tubuh Zivanya terhentak ke depan. Lelaki itu lalu memandang dengan mata yang berkilat tajam dan penuh intimidasi.

“Aku satu-satunya anak kandung orang tuaku. Mama melahirkan aku dengan susah payah hingga hampir kehilangan nyawanya. Dan kamu pikir aku bisa mengecewakan dia? Nggak, Ziva. Aku nggak bisa. Mereka berharap banyak dariku. Di mata mereka aku ini adalah anak yang sempurna. Aku pebisnis yang sukses di usia muda. Punya istri yang baik dan pernikahan yang harmonis. Dan aku nggak ingin merusak itu semua. Kebahagiaan Mama adalah kebahagiaanku. Dan kesedihan Mama adalah kesedihanku juga. Memangnya kamu pikir kalau kita cerai hubungan orang tua kita nggak akan rusak? Jangan lupa, Ziva. Mereka bersahabat sejak zaman masih muda. Anak seperti apa sih kita yang tega menghancurkan hubungan baik mereka? Lagian kamu nggak lupa, kan, kalau papimu kena sakit jantung?”

Zivanya menatap Ariyan dengan pandangan buram oleh air mata. Semua yang dikatakan lelaki itu memang benar. Dan Ariyan mengambil keuntungan dari sana. Dengan mempertahankan rumah tangga bersama Zivanya, ia tetap bisa menjalani hubungannya bersama Aira dengan aman.

“Kenapa mendadak? Kamu sudah setahun menyuruhku minum pil, kenapa baru sekarang kamu minta aku untuk benar-benar mematikan rahimku? ​Apa karena Aira? Apa karena kamu ingin dia menjadi satu-satunya wanita yang boleh mengandung anakmu?” Air mata Zivanya berlinang tanpa mampu dihentikan saat menanyakannya.

“Iya.”

Jawaban Ariyan yang begitu lugas membuat Zivanya tersentak hebat.

“Dia nggak sakit maag.”

 ​Zivanya mengerutkan dahi, bingung. “Maksud kamu?”

​“Alasanku nggak pulang semalam, alasan kenapa dia nggak bisa bangun tadi pagi, itu bukan karena maag.” Ariyan menoleh, menatap Zivanya dengan sorot mata tidak terbaca. “Aira hamil.”

​Zivanya merasa jantungnya baru saja berhenti berdetak selama beberapa detik mendengar pengakuan Ariyan. Ia menegang di tempat duduknya.

“H-hamil?” lirihnya dengan lidah kelu.

​“Ya. Anakku.” Ariyan mengucapkannya dengan nada bangga yang terselubung. “Itulah kenapa aku minta kamu untuk steril. Aku nggak mau ada anak lain. Aku nggak mau anak dari pernikahan paksa ini. Kasihan dia nanti karena aku nggak akan pernah bisa menyayangi dia sama seperti perasaanku yang nggak akan bisa mencintai kamu, Zivanya. Jadi aku mohon pengertian kamu.”

Zivanya menutup mulutnya dengan tangan. Air mata yang tadi mengalir deras kini terhenti karena syok yang teramat sangat. Jadi, selama ini ia dipaksa menelan pil KB, dilarang hamil, dan bahkan diminta untuk tubektomi, hanya agar jalan bagi anak hasil perselingkuhan itu menjadi mulus?

Ia menatap suaminya, pria yang ia puja sejak remaja, dan menyadari bahwa ia bukan sedang menghadapi seorang manusia.

​“Kamu brengsek, Ariyan! Kamu jahat!” kecam Zivanya dengan hati yang teramat perih. Air mata yang sempat tertahan kini kembali menuruni kedua sisi pipinya. “Kalau kalian memang saling cinta, kenapa kalian nggak kawin lari? Kenapa harus aku yang jadi korban?”

“Andai aku bisa, aku pasti sudah lakukan sejak lama,” jawab Ariyan sembari menyalakan mesin mobil.

“Kamu benar-benar bajingan! Kamu nggak mau kehilangan harta orang tuamu kalau menikah dengan Aira makanya kamu manfaatin aku!” Zivanya terus meracau di sela-sela tangisnya.

“Terserah kamu mau bilang apa,” tanggap Ariyan tidak ingin berdebat. “Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau tubektomi. Tapi jangan sampai hamil walau bagaimanapun caranya. Kamu yang selalu mengagungkan women support women, sebagai sesama perempuan pasti mengerti perasaan Aira.”

Ucapan Ariyan membuat luka di hati Zivanya menganga semakin lebar. Air matanya tidak ada gunanya karena tidak mampu membuat Ariyan berhenti menyakitinya.

Kenapa dirinya yang harus mengerti perasaan perempuan itu? Jika ia harus memahami perasaan semua orang, lalu siapa yang akan mengerti pada perasaannya?

Ketika mobil berhenti di depan rumah mewah mereka, Ariyan tidak mematikan mesin. Ia bahkan tidak menoleh saat Zivanya masih berusaha menghapus sisa air mata yang merusak riasannya.

​“Turunlah. Aku harus pergi lagi,” ucap Ariyan dingin. Sepasang matanya tertuju pada layar ponsel yang sejak tadi terus menyala menampilkan pesan dari Aira.

​Zivanya menatap suaminya dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. “Ini malam ulang tahun kita. Orang tua kita baru merayakannya. Apa kamu benar-benar tega meninggalkanku sendirian?”

​Ariyan menghela napas panjang, terlihat sangat tidak sabar. “Ziva, kita sudah membahas ini. Aira sedang hamil. Dia sedang mengandung anakku dan dia sedang sendirian di sana. Kondisinya sedang tidak stabil.”

​“Lalu bagaimana dengan kondisiku?” tanya Zivanya dengan suara serak. “Aku istrimu. Aku yang baru kamu minta untuk menjadi mandul demi kelancaran masa depan anakmu dengan perempuan lain. Apa kamu nggak punya sedikit rasa kasihan padaku?”

​Ariyan akhirnya menoleh, menatap Zivanya dengan tatapan yang menyiratkan kebosanan. “Ziva, berhentilah bersikap egois. Aira itu sebatang kara. Dia nggak punya siapa-siapa di dunia ini selain aku. Sejak Mama dan Papa mengusir dia, aku adalah satu-satunya pegangannya. Dia nggak punya siapa pun kecuali aku. Kamu jangan cemburu sama dia. Harusnya kamu bersyukur punya keluarga yang lengkap, punya orang tua dan orang-orang yang sayang sama kamu. Kamu punya segalanya, sedangkan Aira hanya punya aku. Jadi tolong, biarkan aku memberikan waktuku untuknya.”

​“Tapi aku juga mencintaimu, Ariyan,” lirih Zivanya yang sudah kehilangan kata untuk menyadarkan Ariyan. Ia tidak peduli lagi pada rasa malu karena sudah terang-terangan mengakui perasaannya.

​“Cintamu itu beban buat aku. Dan kalau kamu memang sayang aku, harusnya kamu bantu aku menjaga rahasia ini, kamu dukung aku, bukan malah terus-menerus menuntut perhatian,” balas Ariyan tanpa perasaan. “Sekarang turun. Aku nggak mau Aira menunggu terlalu lama.”

​Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Zivanya membuka pintu mobil. Begitu kakinya menginjak paving block, Ariyan langsung menginjak pedal gas, meninggalkan Zivanya yang berdiri mematung di tengah keremangan malam.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (25)
goodnovel comment avatar
Donna Romadhona
bener banget...mengadi2 nih cerita. wanita bego bin tolol bin dll
goodnovel comment avatar
Shima Asul
moga ziva ga bodoh terusan jadi bisa lanjut baca ,
goodnovel comment avatar
Satyanih 003
saya kurang cocok dgn ziva yang terlalu dibutakan cinta menjauh dan mencari solusi untuk ayahnya yg jantungan belum tentu juga akan anfal jika tahu kondisi ziva
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 202

    Udara pagi yang menusuk tulang tidak menyurutkan antusias para karyawan yang sudah berkumpul di lapangan terbuka, tempat puluhan mobil Land Rover pariwisata berbodi kokoh berbaris menunggu. Aroma khas bensin, oli, dan tanah basah berbaur dengan kepulan asap knalpot dari gerungan parau mesin-mesin tua penggerak empat roda yang mulai dipanaskan.​Mita dengan sigap menuntun Zivanya menuju salah satu mobil Land Rover. Di dalam kabin belakang yang berkapasitas terbatas, Rike ternyata sudah duduk manis di sudut kanan. Ia langsung menyapa Zivanya.“Selamat pagi, Bu Ziva. Sesuai daftar dari panitia, berarti sisa satu kursi lagi ya, Bu. Kita tinggal nunggu Pak Haris.”“Oh, oke,” balas Zivanya.Zivanya kemudian mengambil posisi duduk di baris sebelah kiri, sementara Mita mengambil tempat di sebelah Rike. Kursi mereka saling berhadapan satu sama lain.“Gue deg-degan nih. It my first time, btw,” celetuk Mita sambil memegang dadanya.“Gue udah beberapa kali sih, tapi tetep aja dag dig dug,” kata R

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 201

    Zivanya meremas ponselnya, menoleh cepat dengan tatapan menghujam. "Kamu kelewatan," kecamnya separuh berbisik, menahan volume suaranya agar tidak memicu kasak-kusuk belasan kepala divisi di belakang mereka. "Nggak perlu bawa-bawa masa lalu di depan Kaivan."​"Aku cuma mengatakan kebenaran yang dia nggak tahu, Ziva," dalih Ariyan. "Dan sampai kapan pun, fakta itu nggak akan berubah."​Zivanya memilih membuang muka, kembali menatap deretan pohon di sepanjang tol yang bergerak mundur dengan cepat.Pukul dua belas lewat tiga puluh menit, setelah terjebak kemacetan akhir pekan yang melelahkan di jalur menanjak Ledeng, lima bus besar rombongan kantor akhirnya berhasil berbelok memasuki gerbang sebuah resort yang bertengger di kawasan dataran tinggi Lembang. Udara dingin pegunungan yang bersih langsung menyergap kabin begitu pintu bus dibuka. Kabut tipis sisa pagi hari masih menggantung malas di sela-sela jajaran pohon pinus yang mengelilingi kompleks resort mewah berdesain kayu modern ters

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 200

    Zivanya memilih untuk tidak berkata apa-apa.Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan. Ada banyak sebenarnya. Tapi berada di dekat Ariyan selain mengganggu suasana hatinya juga membuatnya kehilangan kata-kata. Maka ia kembali memusatkan perhatian pada aplikasi baca di handphonenya. Tapi entah mengapa, kalimat yang sama sudah ia baca empat kali dan tidak satu pun yang masuk ke kepalanya.Sedangkan di sebelahnya Ariyan duduk dengan tenang tanpa melakukan apa-apa. Hanya duduk diam.Empat puluh menit pertama berlalu seperti itu.Sampai bus berguncang ketika melewati sambungan jalan, dan tumbler kopi Zivanya yang tidak tertutup rapat oleng dari tempat dudukannya. Dengan refleks Ariyan menangkapnya. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikiran. Jari-jemarinya menutup di sekeliling tumbler tepat sebelum isinya tumpah. Ia menahannya sesaat sebelum menyerahkannya kembali dengan gerakan yang sama tenangnya dengan segala sesuatu yang ia lakukan."Tutupnya kurang rapat, Ziva.” Ariyan memberik

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 199

    Hari masih sedikit gelap ketika Zivanya menggeret koper kecilnya ke ruang tengah. Hari ini ia akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti acara outing tahunan kantor yang tahun lalu berhasil ia hindari dengan alasan Kaisar demam. Alasan yang tahun ini tidak bisa ia pakai lagi karena Kaisar, dengan tubuhnya yang sekarang jauh lebih tinggi sudah berlari-larian sehat sejak subuh.​Dan sekarang, anak laki-laki itu sedang berdiri di depannya.“Ibu jadi pelgi ya?” “Jadi, Sayang.”​"Kai mau ikut."​Zivanya menatap jagoan kecilnya dan berjongkok di hadapannya. "Kai, Ibu, kan sudah bilang–”​"Kai mau ikuuut." Kaisar mengucapkannya lagi dengan penekanan yang berbeda, seolah versi kedua dari kalimat yang sama secara ajaib akan mengubah keputusan ibunya.​Zivanya menghela napas pelan. Ia mengusap rambut Kaisar yang awut-awutan dan menyisir dengan jari-jemarinya. "Ini acara kantor Ibu, Sayang. Nggak bisa bawa anak-anak."​"Kenapa?"​"Karena memang aturannya begitu."​"Atulannya siapa?"​Astaga, ken

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 198

    “Jadi kapan kita beli furniture?” “Hmm… kayaknya kapan-kapan aja deh, Kai.” “Kok kapan-kapan? Kamu terlalu sibuk atau…” Kaivan menggantung kalimatnya, menatap Zivanya lekat-lekat melalui video call malam itu. ​“Aku cuma ngerasa kita nggak perlu buru-buru. Lagian rumah itu juga nggak ditempati setiap hari.” Kaivan terdiam. Dalam heningnya ia mencoba mengartikan makna perkataan Zivanya. Apa ​Zivanya menyerah karena tertekan maminya? Dan ini adalah cara halus untuk menyudahi hubungan mereka? “Memang nggak ditempati setiap hari, tapi seenggaknya nggak dibiarin kosong. Minimal ada kursi sama meja.” “Ya. Aku setuju. Tapi rasanya untuk beberapa hari ini aku belum bisa fokus ke sana. Kalau kamu mau beli duluan, beli aja. Apa pun pilihan kamu aku pasti suka,” lanjut Zivanya halus. Ia mengembuskan napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipisnya sendiri. Raut lelahnya terlihat sangat jelas di layar. ​“Capek banget ya? Banyak kerjaan di kantor?” ​Di dalam hati

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 197

    “Sekarang tolong ceritain ke Mama gimana kejadian sebenarnya?” pinta Andara setelah Seruni pergi.“Apanya yang harus aku ceritain, Ma? Kan, udah jelas.”“Belum. Mama nggak tahu hubungan kamu sama Zivanya udah sejauh ini. Bahkan kalau Tante Seruni nggak datang menemui Mama, Mama juga nggak tahu kalau Zivanya udah cerai sama Ariyan.”​​Mendengar kalimat mamanya, Kaivan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengaku. "Ziva cerai udah hampir satu tahun, Ma.”“Hampir satu tahun?”Kaivan mengiakan dengan anggukan. “Sepuluh bulan lebih tepatnya. Dan yaa… aku sama dia memang lagi menjalin hubungan.”​"Mama nggak melarang kalau memang kamu suka sama dia, Kai," ujar Andara dengan nada suara yang tenang dan meneduhkan. "Mama nggak masalah kalau memang dia yang jadi pilihan kamu. Tapi kamu juga nggak boleh tutup mata terhadap realita yang ada di depan kamu sekarang."​Kaivan bergeming, mendengarkan dengan saksama setiap untaian kata yang diucapkan mamanya.​"Orang tuanya nggak setuju. Bahkan sam

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 143

    Hari Selasa yang dinanti akhirnya tiba. Kompleks Pengadilan Agama sejak pagi sudah dipadati oleh lalu lalang orang yang menunggu antrean sidang. Selain didampingi Kaivan, Zivanya ditemani oleh kedua orang tua dan adiknya. Seruni terus menggenggam erat jemari putrinya yang terasa dingin, sementarai

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 142

    Seumur hidup, tidak sekali pun terlintas di pikiran Zivanya akan melewati fase perceraian, apalagi di usia yang sangat muda. Sejak lahir ia memiliki kehidupan yang sangat indah dan bisa dikatakan sempurna untuk ukuran manusia. Cantik, kaya-raya dan memiliki segalanya. Di matanya, takdir selalu berpi

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 141

    Setelah mereka berpisah, Zivanya masih melakukan rutinitas seperti biasa. Bekerja di perusahaan yang dulu milik suaminya. Entah mengapa Zivanya merasa sedih. Ia merasa jahat mengambil sesuatu yang bukan haknya. Perusahaan ini, gedung tempatnya berada sekarang, serta kursi yang tengah didudukinya a

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 140

    Zivanya memerhatikan dalam diam Ariyan yang sedang mengemasi barang-barangnya. Setelah berbicara dari hati ke hati, mereka menemui kesepakatan bahwa Ariyanlah yang harus angkat kaki. Apalagi rumah tersebut sudah Ariyan pindah tangankan atas nama Zivanya. Rumah ini beserta seluruh kenangan pahit di d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status