تسجيل الدخولHati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.
Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhannya. Ariyan ingin mengunci pintu masa depan mereka selamanya, memastikan tidak akan pernah ada darah dagingnya yang mengikat mereka.
“Kamu memintaku untuk mandul secara sengaja?” tanya Zivanya yang mati-matian menahan emosi dan air mata.
“Jangan berlebihan. Ini demi kebaikanmu juga supaya nggak ketergantungan sama obat,” balas Ariyan berdalih. “Toh, kita sama-sama tahu pernikahan ini hanya karena orang tua kita. Jadi buat apa mempertahankan sesuatu yang nggak akan pernah kita butuhkan?”
Zivanya memalingkan wajah ke jendela, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga. Bagaimana mungkin Ariyan tega? Zivanya masih bisa menahan sakit menyaksikan perselingkuhan laki-laki itu dan kekasihnya. Tapi ia tidak sanggup jika laki-laki itu juga mencoba merampas hak paling mendasar darinya sebagai seorang wanita.
“Gimana? Kamu setuju?” Ariyan terus mendesak.
Zivanya menoleh cepat. “Aku nggak akan pernah setuju. Kamu bicara seolah rahimku ini adalah salah satu lahan proyekmu yang gagal, Ari. Lahan yang harus ditutup permanen karena kamu tidak ingin ada beban bangunan di atasnya.”
Ariyan tetap menatap lurus ke depan sambil terus berbicara. “Aku hanya bicara realistis. Kita nggak saling cinta. Maksudku, aku yang nggak cinta sama kamu. Membiarkan rahimmu tetap subur hanya akan memberi harapan palsu pada orang tua kita, dan aku nggak mau itu.”
Zivanya mencengkeram sabuk pengamannya dengan kuat untuk melampiaskan rasa sakit hatinya. “Aku tahu kamu memintaku melakukan tubektomi bukan karena peduli pada kesehatanku. Kamu ingin aku nggak bisa punya anak supaya kamu bisa tidur denganku tanpa rasa takut, sementara hatimu tetap kamu simpan untuk saudaramu itu. Kamu ingin aku menghapus hakku menjadi seorang ibu, hanya agar kamu tetap punya hak untuk mencintai wanita lain tanpa beban.”
Ariyan menghela napas panjang. Ia terlihat terganggu dengan emosi Zivanya. “Jangan memutarbalikkan kata-kataku. Aku hanya menawarkan solusi.”
“Kalau kamu sebegitu bencinya memiliki darah daging dariku, kenapa kamu nggak minta cerai ke orang tua kita? Kenapa harus rahimku yang dikorbankan demi cinta gilamu pada perempuan itu?”
Ariyan mengerem mobil secara mendadak di bahu jalan, membuat tubuh Zivanya terhentak ke depan. Lelaki itu lalu memandang dengan mata yang berkilat tajam dan penuh intimidasi.
“Aku satu-satunya anak kandung orang tuaku. Mama melahirkan aku dengan susah payah hingga hampir kehilangan nyawanya. Dan kamu pikir aku bisa mengecewakan dia? Nggak, Ziva. Aku nggak bisa. Mereka berharap banyak dariku. Di mata mereka aku ini adalah anak yang sempurna. Aku pebisnis yang sukses di usia muda. Punya istri yang baik dan pernikahan yang harmonis. Dan aku nggak ingin merusak itu semua. Kebahagiaan Mama adalah kebahagiaanku. Dan kesedihan Mama adalah kesedihanku juga. Memangnya kamu pikir kalau kita cerai hubungan orang tua kita nggak akan rusak? Jangan lupa, Ziva. Mereka bersahabat sejak zaman masih muda. Anak seperti apa sih kita yang tega menghancurkan hubungan baik mereka? Lagian kamu nggak lupa, kan, kalau papimu kena sakit jantung?”
Zivanya menatap Ariyan dengan pandangan buram oleh air mata. Semua yang dikatakan lelaki itu memang benar. Dan Ariyan mengambil keuntungan dari sana. Dengan mempertahankan rumah tangga bersama Zivanya, ia tetap bisa menjalani hubungannya bersama Aira dengan aman.
“Kenapa mendadak? Kamu sudah setahun menyuruhku minum pil, kenapa baru sekarang kamu minta aku untuk benar-benar mematikan rahimku? Apa karena Aira? Apa karena kamu ingin dia menjadi satu-satunya wanita yang boleh mengandung anakmu?” Air mata Zivanya berlinang tanpa mampu dihentikan saat menanyakannya.
“Iya.”
Jawaban Ariyan yang begitu lugas membuat Zivanya tersentak hebat.
“Dia nggak sakit maag.”
Zivanya mengerutkan dahi, bingung. “Maksud kamu?”
“Alasanku nggak pulang semalam, alasan kenapa dia nggak bisa bangun tadi pagi, itu bukan karena maag.” Ariyan menoleh, menatap Zivanya dengan sorot mata tidak terbaca. “Aira hamil.”
Zivanya merasa jantungnya baru saja berhenti berdetak selama beberapa detik mendengar pengakuan Ariyan. Ia menegang di tempat duduknya.
“H-hamil?” lirihnya dengan lidah kelu.
“Ya. Anakku.” Ariyan mengucapkannya dengan nada bangga yang terselubung. “Itulah kenapa aku minta kamu untuk steril. Aku nggak mau ada anak lain. Aku nggak mau anak dari pernikahan paksa ini. Kasihan dia nanti karena aku nggak akan pernah bisa menyayangi dia sama seperti perasaanku yang nggak akan bisa mencintai kamu, Zivanya. Jadi aku mohon pengertian kamu.”
Zivanya menutup mulutnya dengan tangan. Air mata yang tadi mengalir deras kini terhenti karena syok yang teramat sangat. Jadi, selama ini ia dipaksa menelan pil KB, dilarang hamil, dan bahkan diminta untuk tubektomi, hanya agar jalan bagi anak hasil perselingkuhan itu menjadi mulus?
Ia menatap suaminya, pria yang ia puja sejak remaja, dan menyadari bahwa ia bukan sedang menghadapi seorang manusia.
“Kamu brengsek, Ariyan! Kamu jahat!” kecam Zivanya dengan hati yang teramat perih. Air mata yang sempat tertahan kini kembali menuruni kedua sisi pipinya. “Kalau kalian memang saling cinta, kenapa kalian nggak kawin lari? Kenapa harus aku yang jadi korban?”
“Andai aku bisa, aku pasti sudah lakukan sejak lama,” jawab Ariyan sembari menyalakan mesin mobil.
“Kamu benar-benar bajingan! Kamu nggak mau kehilangan harta orang tuamu kalau menikah dengan Aira makanya kamu manfaatin aku!” Zivanya terus meracau di sela-sela tangisnya.
“Terserah kamu mau bilang apa,” tanggap Ariyan tidak ingin berdebat. “Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau tubektomi. Tapi jangan sampai hamil walau bagaimanapun caranya. Kamu yang selalu mengagungkan women support women, sebagai sesama perempuan pasti mengerti perasaan Aira.”
Ucapan Ariyan membuat luka di hati Zivanya menganga semakin lebar. Air matanya tidak ada gunanya karena tidak mampu membuat Ariyan berhenti menyakitinya.
Kenapa dirinya yang harus mengerti perasaan perempuan itu? Jika ia harus memahami perasaan semua orang, lalu siapa yang akan mengerti pada perasaannya?
Ketika mobil berhenti di depan rumah mewah mereka, Ariyan tidak mematikan mesin. Ia bahkan tidak menoleh saat Zivanya masih berusaha menghapus sisa air mata yang merusak riasannya.
“Turunlah. Aku harus pergi lagi,” ucap Ariyan dingin. Sepasang matanya tertuju pada layar ponsel yang sejak tadi terus menyala menampilkan pesan dari Aira.
Zivanya menatap suaminya dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. “Ini malam ulang tahun kita. Orang tua kita baru merayakannya. Apa kamu benar-benar tega meninggalkanku sendirian?”
Ariyan menghela napas panjang, terlihat sangat tidak sabar. “Ziva, kita sudah membahas ini. Aira sedang hamil. Dia sedang mengandung anakku dan dia sedang sendirian di sana. Kondisinya sedang tidak stabil.”
“Lalu bagaimana dengan kondisiku?” tanya Zivanya dengan suara serak. “Aku istrimu. Aku yang baru kamu minta untuk menjadi mandul demi kelancaran masa depan anakmu dengan perempuan lain. Apa kamu nggak punya sedikit rasa kasihan padaku?”
Ariyan akhirnya menoleh, menatap Zivanya dengan tatapan yang menyiratkan kebosanan. “Ziva, berhentilah bersikap egois. Aira itu sebatang kara. Dia nggak punya siapa-siapa di dunia ini selain aku. Sejak Mama dan Papa mengusir dia, aku adalah satu-satunya pegangannya. Dia nggak punya siapa pun kecuali aku. Kamu jangan cemburu sama dia. Harusnya kamu bersyukur punya keluarga yang lengkap, punya orang tua dan orang-orang yang sayang sama kamu. Kamu punya segalanya, sedangkan Aira hanya punya aku. Jadi tolong, biarkan aku memberikan waktuku untuknya.”
“Tapi aku juga mencintaimu, Ariyan,” lirih Zivanya yang sudah kehilangan kata untuk menyadarkan Ariyan. Ia tidak peduli lagi pada rasa malu karena sudah terang-terangan mengakui perasaannya.
“Cintamu itu beban buat aku. Dan kalau kamu memang sayang aku, harusnya kamu bantu aku menjaga rahasia ini, kamu dukung aku, bukan malah terus-menerus menuntut perhatian,” balas Ariyan tanpa perasaan. “Sekarang turun. Aku nggak mau Aira menunggu terlalu lama.”
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Zivanya membuka pintu mobil. Begitu kakinya menginjak paving block, Ariyan langsung menginjak pedal gas, meninggalkan Zivanya yang berdiri mematung di tengah keremangan malam.
Zivanya baru saja selesai merapikan meja saat pintu ruangannya diketuk. Tak lama, sosok yang ia tunggu muncul. Kaivan melangkah masuk dengan pembawaan yang begitu tenang. Di tangan kanannya, Kaivan menenteng sebuah kantong makanan dari sebuah toko kue ternama. "Pagi, Zivanya," sapa lelaki itu. "Atau hampir siang, sepertinya?" "Hai, Kai. Tepat waktu seperti biasa," jawab Zivanya sembari tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan sisa-sisa amarah yang masih membayang di matanya. "Silakan duduk." Kaivan meletakkan kantong kue yang dibawanya di atas meja kerja Zivanya, tepat di depan tumpukan berkas. "Aku tebak kamu pasti belum sarapan. Warna lipstikmu segar, tapi wajahmu seperti orang yang cuma minum air putih sejak bangun tidur." Zivanya tertawa hambar, sedikit tersindir oleh ketajaman intuisi pria di hadapannya. "Kamu cenayang atau gimana?" "Aku cuma nebak, kamu kalau lagi stres pasti nggak selera makan," balas Kaivan sembari mengeluarkan satu kotak berisi tiramisu dari kanton
Melalui jendela kamarnya Zivanya melihat Ariyan dan Aira akan masuk ke mobil. Akhirnya perempuan itu pergi juga. Dari ekspresi Aira yang Zivanya tangkap, kekasih suaminya itu terlihat cemberut. Mungkin marah karena dikurung di bawah tadi.Di luar sana, di bawah sinar matahari pagi yang mulai terik, Ariyan membukakan pintu mobil untuk Aira dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ariyan menunggu dengan sabar hingga Aira masuk dan duduk nyaman di kursi penumpang, seolah wanita itu adalah benda paling rapuh yang bisa pecah kapan saja.Zivanya mencengkeram kain tirai. "Manis sekali," gumamnya.Hanya beberapa menit yang lalu, bibir lelaki itu membungkamnya dengan ciuman. Hanya beberapa menit yang lalu, tangan lelaki itu mencengkeram lengannya hingga memerah. Namun sekarang, Ariyan bertransformasi menjadi pria paling lembut di dunia demi wanita yang ia sembunyikan dari orang-orang.Setelah mobil Ariyan meninggalkan halaman, Zivanya segera bersiap-siap. Ia harus melaksanakan rutinitasnya se
“Foto USG?" Ariyan mengulang kalimat itu dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Keringat dingin mulai merembes di balik bajunya. Ia melirik Zivanya, berharap istrinya memiliki skenario darurat, namun Zivanya balik menatapnya dengan sorot mata yang seolah berkata, ‘Kamu aja yang jelasin ke Mama’. “Iya, foto USG. Mama penasaran. Kalian udah ke dokter, kan? Atau cuma baru tahu lewat test pack?” “Udah ke dokter, Ma. Kemarin,” jawab Zivanya cepat yang membuat Ariyan semakin tersudut dan jengkel di saat bersamaan. Zivanya seolah berniat membuat rahasia itu terbongkar. “Mama boleh lihat? Mami juga pasti nggak sabar,” ucap Zelena yang mendapat anggukan kepala dari Seruni. “Ya bolehlah, Ma, masa nggak boleh,” ujar Zivanya lagi. “Tapi fotonya masih di dokter, Ma,” timpal Ariyan secepat kilat. “Kemarin karena buru-buru dan rumah sakitnya ramai, pasiennya juga banya
Mereka mendengar deru mesin mobil yang semakin dekat, lalu mati, disusul pintu mobil yang dibuka lalu ditutup. "Ikut aku, Ra! Cepat!" Ariyan mencekal lengan Aira dengan keras, mencoba menarik wanita itu. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya hanyalah menyembunyikan bukti perselingkuhannya sebelum sang ibu melangkah masuk ke ruang tamu. Namun, belum sempat ia menyeret Aira lebih jauh, suara dingin Zivanya menghentikan langkahnya. "Kenapa harus disembunyikan, Ari? Mama pasti senang kalau tahu akan memiliki dua orang cucu secara bersamaan. Kasihan Kak Aira diperlakukan seperti barang haram,” ucap Zivanya dengan raut prihatin. "Ziva, tolong. Jangan sekarang,” pinta Ariyan dengan nada memohon. Matanya berkilat penuh ketakutan. "Kalau Mama lihat Aira di sini, semuanya berakhir." Zivanya pun tertawa. "Kenapa harus berakhir? Aku pikir ini awal yang bagus. Kalian nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Mau nggak mau Mama pasti kasih restu.” “Argggh!” Ariyan merasa begitu frustrasi kare
"Kenapa kamu kaget, Kak?" Zivanya bertanya dengan nada yang sangat ringan sambil menatap Aira yang kini wajahnya kehilangan warna. "Bukannya itu hal yang sangat lumrah bagi sepasang suami istri? Kami tinggal satu atap, tidur di ranjang yang sama setiap malam. Kecuali kalau dia sedang mampir ke tempatmu sebentar untuk melepas penat. Rasanya aneh kalau kamu berpikir hanya rahimmu yang bisa menampung benihnya."Aira menggelengkan kepala, napasnya mulai memburu pendek-pendek. "Nggak mungkin. Ariyan bilang nggak pernah menyentuhmu."Zivanya sontak tertawa. "Kak Aira sayang. Kakak sudah berumur, harusnya sudah paham kalau laki-laki itu makhluk visual dan pandai bicara. Dia akan mengatakan apa pun agar perempuan di depannya merasa menjadi satu-satunya. Padahal kenyataannya? Dia pulang ke sini, ke pelukanku, hampir setiap hari. Mungkin saat dia bersamamu dia membayangkan aku, atau mungkin sebaliknya? Siapa yang tahu?”Zivanya sengaja memberikan jeda, membiarkan racunnya meresap ke dalam pi
Bunyi alarm yang menjerit-jerit memaksa Zivanya untuk bangun. Saat ia menggeser tubuh, sebuah pemandangan di sisi ranjang membuatnya tersentak hingga seluruh kesadarannya pulih seketika.Ariyan ada di sana. Lelaki itu berbaring telentang, masih dengan kemeja kusut yang sama dengan semalam. Lelaki itu pulas dalam lelap seolah-olah rumah tangga mereka tidak sedang berada di ambang kehancuran. Zivanya tertegun, menatap wajah suaminya dengan rasa tidak percaya yang membuncah. Bagaimana bisa setelah pertengkaran hebat semalam lelaki ini masih bisa tidur di sampingnya? Bagaimana dengan kekasihnya?"Bangun, Ari," suruh Zivanya tanpa intonasi.Ariyan mengerang pelan lalu membuka matanya. Begitu kesadarannya terkumpul dan melihat tatapan menghunus dari Zivanya, ia pun berkata, "Aku masih ngantuk. Baru pulang jam tiga tadi.”“Nggak ada yang tanya kamu pulang jam berapa,” dengkus Zivanya. “Kamu punya apartemen mewah untuk selingkuhanmu, kenapa pulang ke sini?"Ariyan tidak menjawab. Ia memel







