Masuk“Aku mau ketemu anakku dulu. Aku mau lihat dia,” kata Zivanya. Ia ingin memastikannya. “Dia di NICU, Ziva.” “Aku tahu. Tolong antar aku ke sana.” “Kamu aja sendiri. Aku panggil perawat. Minta tolong dia yang antar,” tolak Ariyan keberatan. Memikirkan bayi itu saja sudah membuat dadanya sesak oleh kebencian. Bayi itu bukan anaknya dan sumber petaka baginya. Bayi yang membuatnya kehilangan enam puluh persen saham perusahaannya dalam sekejap, dan bayi yang memaksanya bertekuk lutut di bawah kendali Zivanya. Baginya, anak itu bukan darah daging yang patut dirayakan, melainkan sebuah kutukan berwujud manusia. Zivanya hanya bisa menahan perasaan melihat penolakan yang begitu nyata dari suaminya sendiri. Tepat setelah Ariyan menekan tombol panggilan, seorang perawat masuk. Ia dengan sigap membantu menyiapkan kursi roda untuk Zivanya setelah Ariyan menyampaikan maksudnya. Namun, tepat saat perawat itu mulai mendorong kursi roda Zivanya menuju pintu kamar, daun pintu terbuka dari luar.
Langkah Ariyan seketika terhenti tepat beberapa jengkal di depan pintu. Bahunya menegang kaku, dan senyum tengil yang sejak tadi bertengger di wajahnya kini lenyap tak berbekas. Pria itu berbalik lambat, menatap Zivanya dengan sorot mata yang tak lagi santai. Ada kilat kepanikan yang coba ia sembunyikan rapat-rapat di balik sepasang manik matanya.“Cerai?” Ariyan terkekeh. “Kamu baru bangun dari operasi, Ziva. Otak kamu pasti masih korslet karena efek sisa anestesi. Jangan ngaco.”“Aku nggak pernah sewaras ini seumur hidupku, Ariyan,” balas Zivanya langsung. Suaranya kini terdengar begitu datar dan tenang. Tidak ada lagi emosi meledak-ledak. Zivanya sadar, berteriak hanya akan membuat jahitan perutnya semakin nyeri dan membuat Ariyan merasa menang. “Ceraikan aku. Kamu silakan bersama perempuan sialan itu, dan biarkan aku pergi bersama anakku.”Ariyan melangkah kembali mendekati tempat tidur Zivanya, kali ini dengan rahang yang mengatup rapat. “Aku belum bisa menceraikan kamu. Kamu
Setelah duduk, Ariyan mengambil jemari dingin istrinya untuk kemudian mengunci dalam genggaman. Ia juga mengecupnya berkali-kali dengan gerakan yang tampak emosional."Aku minta maaf. Aku benar-benar ngerasa bersalah,” ucapnya penuh kesedihan.Zivanya hanya mematung, merasakan kulitnya meremang mual karena sentuhan pria itu.Ariyan mengembuskan napas berat. Ia memandang Seruni dan Zelena sekilas dengan gurat penyesalan yang mendalam sebelum kembali menatap Zivanya. "Tapi kamu juga bandel, Sayang. Udah kubilang berkali-kali, nggak usah nekat nyusul aku ke site. Jalur ke sana itu sepi, rawan, apalagi cuaca lagi hujan deras dan kamu lagi hamil tua. Aku ngerti orang hamil tuh suka aneh. Aku paham kamu kangen sama aku. Tapi aku bakal pulang kok. Coba kalau kamu nurut dan nunggu di rumah, kejadiannya nggak akan seperti ini. Andai kamu tahu, aku hampir gila mikirin kamu.”Zivanya menahan diri untuk tidak merotasi bola matanya mendengar untaian kata yang meluncur lancar dari bibir Ariyan.
Percakapan Zivanya dan Zelena terhenti saat pintu kembali dibuka. Seruni muncul bersama Syabila. Wajah mereka juga sama sedihnya dengan Zelena. Mengetahui sang putri telah sadar, Seruni langsung mendekati Zivanya dan memeluknya. “Aku baik-baik aja, Mi. Nggak usah sedih,” bisik Zivanya lirih. Ia mencoba mengulas senyum tipis di bibirnya yang pucat demi menenangkan sang mami. Seruni melonggarkan pelukan, mengusap air mata yang membasahi pipinya sendiri, lalu menatap Zivanya dengan pandangan yang penuh oleh rasa bersalah. “Bagaimana bisa Mami nggak sedih, Ziva? Kamu mengalami kejadian mengerikan, dan cucu Mami harus berjuang sendirian di dalam sana.” ”Aku nggak nyangka ada orang sejahat itu sama ibu hamil,” kata Syabila menimpali. Zivanya tidak berkomentar. Ia membiarkan adik dan maminya menumpahkan rasa khawatir mereka. Namun, di tengah kepungan rasa sayang dan kesedihan dari wanita-wanita terdekatnya itu, mata Zivanya bergerak liar menyapu seisi ruangan. Ia merasa ada yang ku
Kelopak mata yang terasa seberat bongkahan batu perlahan bergerak terbuka. Hal pertama yang menyapa indra penglihatannya adalah langit-langit putih bersih. Kepalanya terasa lebih berat dari matanya. Namun, ada dorongan yang memaksanya untuk tidak memejamkan matanya lagi.Zivanya mengerang lirih. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir, dan seluruh persendian tubuhnya seolah lolos dari tempatnya. Dengan refleks, tangan Zivanya yang masih tertancap jarum infus bergerak lambat, turun ke perutnya.Deg!Perempuan berwajah sendu itu terkesiap. Jantungnya berdentum begitu keras hingga menimbulkan rasa nyeri di dada. Perutnya yang semula besar berisikan malaikat kecil yang ia jaga mati-matian selama tujuh bulan ini, sekarang terasa kempis. Perutnya sudah kembali rata.“Anakku…” Zivanya ingin menangis mengetahuinya.Apa Ariyan berhasil menjalankan rencananya?Dengan amarah yang membuncah di dada, Zivanya mencoba duduk, tapi tubuhnya terasa lemah. Rasa sakit yang menggigit dari perutnya
Air hujan mengguyur kaca depan mobil dengan brutal, membuat pandangan ke depan menjadi buram meski wiper blade telah bekerja dengan kecepatan maksimal. Di balik kemudi, Zivanya mencengkeram setir dengan jemari yang bergetar hebat. Kakinya yang menekan pedal gas terasa lemas, namun ia terus melajukan kendaraannya menembus hujan, membelah jalanan kota tanpa arah dan tujuan.Ia ketakutan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Zivanya merasakan kengerian yang teramat sangat terhadap suaminya sendiri.Pikirannya kalut, berputar-putar pada kilasan kejadian di kamar bayi tadi. Sentuhan Ariyan, bisikan manipulatifnya, dan ciuman paksa yang terasa begitu menjijikkan masih menyisakan rasa mual yang menekan ulu hatinya. Zivanya tidak pernah menyangka bahwa Ariyan akan senekat dan sekejam itu. Hubungan terlarang pria itu dengan Aira benar-benar telah merenggut seluruh akal sehat dan nurani yang tersisa dari dalam diri seorang Ariyan. Bagaimana bisa lelaki itu tega meminta calon anaknya yang baru







