Se connecterZivanya menahan napas. Tenggorokannya mendadak kering. Ia bisa merasakan tatapan Seruni dan Syabila yang kini ikut tertuju padanya, menuntut penjelasan atas kepanikan yang barusan ia tunjukkan. Sial, ia terlalu impulsif. Lalu saat melihat Abi yang meletakkan satu tangan di dadanya, Zivanya semakin cemas. Ia takut penyakit papinya kambuh. "Nggak ada yang aku sembunyikan, Pi. Tadi itu aku hanya khawatir jadwal Ari terganggu kalau Papi telepon," jawab Zivanya yang berusaha keras menurunkan nada suaranya agar terdengar lebih tenang. Ia kembali duduk dengan punggung yang terasa kaku. “Kalau Papi mau telepon Ari, ya telepon aja, Pi.” Abi menatap sang putri sekilas pandang sebelum mengambil kembali ponselnya, mencari kontak sang menantu, dan mendekatkannya ke telinga. Zivanya melirik jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan pukul sembilan malam. Di Indonesia mungkin sudah malam. Tetapi di Swiss, atau di mana pun Ariyan berada di belahan Eropa sana, lebih lambat lima sampai enam
Malam itu, Kaivan mengantar Zivanya pulang. Ia memastikan Zivanya masuk ke dalam rumah dengan aman, barulah pergi meninggalkannya. Zivanya baru selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan terusan longgar ketika suara bel berbunyi nyaring.Kerutan halus tercipta di dahinya. Saat Ini sudah jam delapan malam. Tidak mungkin Kaivan kembali lagi. Dengan langkah lambat, ia berjalan ke depan dan membuka pintu.Jantung Zivanya serasa melompat dari tempatnya ketika mendapati dua sosok yang sangat ia kenal berdiri di sana.“Mami? Papi?” Zivanya terperanjat.Seruni berdiri dengan anggun mengenakan tunik rajut, sementara di sebelahnya, Abi tersenyum hangat dengan jaket kasualnya.“Papi sama Mami sengaja mampir, habis ada acara makan malam sama kolega Papi di dekat sini. Mami kepikiran kamu terus dari siang,” jelas Seruni seraya melangkah masuk setelah Zivanya mencium tangan kedua orang tuanya.Langkah Seruni langsung terhenti begitu mereka tiba di ruang tengah. Insting seorang
Keluar dari rumah sakit, Zivanya langsung naik ke mobil Kaivan. Lelaki itu sesekali melirik Zivanya dari balik kemudi. Meski Zivanya mencoba tersenyum setelah melihat hasil USG tadi, Kaivan bisa merasakan ada mendung tebal yang masih bergelayut di matanya. Kesedihan wanita itu begitu pekat, sampai-sampai Kaivan bisa ikut merasakannya di dada. Daripada langsung mengantar Zivanya pulang ke rumahnya yang sepi dan dingin, Kaivan memutar kemudi menuju sebuah pusat perbelanjaan. "Kai, kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke rumahku," tanya Zivanya heran saat mobil memasuki area parkir mal. Kaivan mematikan mesin, lalu menoleh dengan senyum jenaka. "Kita punya misi medis darurat." "Misi medis apa?" "Mengobati stres," jawab Kaivan ringan sambil melepaskan sabuk pengamannya. "Ada film genre komedi yang review-nya bagus banget. Katanya, kalau nggak ketawa nonton ini, uang tiket diganti. Turun yuk. Kamu butuh asupan hormon endorfin
Sebenarnya Zivanya merasa sangat sedih. Walaupun ia bersikap tegar menghadapi sindiran Aira, tapi tetap saja ia tidak bisa membunuh perasaan pilu di hatinya. Karena sejujurnya ia masih sangat mencintai Ariyan. Tidak mudah menghilangkan rasa yang tumbuh sejak remaja. Apalagi mereka telah bersama sedari kecil. Ariyan adalah cinta pertamanya. Lelaki pertama yang menyentuhnya. Lelaki yang membuatnya tergila-gila dan kehilangan logika karena cinta. Suara bel di depan pintu mengeluarkan Zivanya dari lamunannya. Dengan tertatih ia membawa tubuh lemahnya ke depan rumah, mengabaikan denyut di kepalanya yang semakin menjadi-jadi. Beberapa kali ia harus bertumpu di dinding karena tubuhnya terlalu lemah. Kaivan dengan senyum tipisnya kini berdiri di hadapan Zivanya. Pria itu tampak jauh lebih segar dan sehat. Luka lebam di sekitar rahang dan pelipisnya sudah memudar menjadi garis kekuningan, dan ia tidak lagi meringis saat berbicara. Pria itu berdiri tegap, m
Zivanya menyeka air matanya dengan cepat, mencoba menata kembali serpihan emosinya sebelum melangkah masuk ke kamar tamu. Ia tidak ingin Kaivan melihat kesedihannya. Ia mendapati Kaivan sedang berusaha mengubah posisinya menjadi setengah bersandar di headboard sambil meringis menahan nyeri. “Kai, tiduran aja dulu,” kata Zivanya sembari mendekat. "Maaf, Ziva, aku malah jadi beban dan merusak rumah tanggamu,” suara Kaivan agak kaku karena jahitan di dalam mulutnya. Kaivan tahu di luar tadi Zivanya dan Ariyan pasti bertengkar hebat. "Nggak, Kai. Jangan bicara begitu. Ini bukan salahmu. Rumah tanggaku emang sudah rusak sejak awal. Dan itu bukan karena kamu.” Kaivan menurunkan kakinya. "Aku udah agak baikan. Pusingnya sudah berkurang, dan kurasa aku sudah bisa pulang ke apartemenku sendiri sekarang." "Tapi luka-lukamu–” "Aku bisa pesan taksi, dan nanti Adit pasti mau datang ke apartemen buat bantu-bantu," potong Kaivan memutus perkataan Zivanya. Ia menatap perempuan itu dan m
“Kamu nggak perlu teriak-teriak! Aku bukan orang tuli!” seru Zivanya membalas hardikan suaminya. Ariyan sontak mengatupkan mulutnya. Hari-hari belakangan Zivanya memang tidak pernah bersikap lembut lagi padanya. Tapi inilah bentakannya yang paling keras. "Aku membawanya ke sini murni karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab.” Zivanya melanjutkan perkataannya. "Kalau kamu masih punya sedikit hati nurani, kamu harusnya sadar kalau semua kekacauan ini bermula dari tanganmu sendiri.” "Nggak perlu ada hati nurani untuk orang seperti dia. Kamu ingin menghancurkanku lewat jalur hukum tapi dilarang oleh bajingan itu, jadi sekarang kamu memilih cara ini? Menghancurkan harga diriku sebagai suami di rumahku sendiri?" "Ini bukan rumahmu!" bantah Zivanya. "Ini tempatku untuk bernafas dari semua kegilaanmu, Ariyan! Tapi kamu bahkan nggak membiarkanku tenang walau cuma sehari. Kamu egois!" Zivanya memalingkan wajah lalu menunjuk ke arah koridor menuju kamar tamu. "Dia sedang kesakitan di







