MasukDalam novel itu, Eira Shawn terjebak dalam kebakaran Istana Morwenia—peristiwa yang dipicu oleh kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI. Tujuannya jelas: menjatuhkan pengaruh Rhys, agar ia tidak lagi diberi peran penting dalam kekuasaan.
Rhys memang bergelar Duke of Morwenia, berasal dari keluarga bangsawan terhormat. Namun bagi pihak yang membencinya, julukan itu tidak lebih dari kedok.Di luar sana, orang-orang yang kontra menyebut Rhys sebagai “eksekutor kerajaan”—pedang yang menjalankan kehendak Raja dan Ratu tanpa ampun.Velian mengembuskan napas panjang.Jika kejadian hari ini merupakan bagian dari rantai peristiwa menuju tragedi itu…Maka ia harus bergerak lebih cepat dari alur novelnya sendiri.Namun mengapa Eira sendiri, di dalam tubuhnya, berbicara seolah ada seseorang yang membunuhnya?Velian mencoba memahami sudut pandang itu.Jika Eira mengatakan ia dibunuh… apakah itu berarti Velian pern“Aku takut kamu berbuat sesuatu padaku,” ucap Velian jujur, tanpa filter.Rhys mengangkat tangan satunya, menyentuh dagu Velian dan menahannya agar menatap. “Misalnya?” tanyanya pelan, seperti jebakan.Velian memutar bola mata. Sial, ini orang kalau menggoda niat banget! Rhys belum tahu bahwa Velian adalah pencipta dunianya. Yang merancang pesona dan kegelapannya. Velian tahu semua trik Rhys, dan tahu cara menghindarinya. Tapi kalau Rhys menyerang duluan seperti ini, Velian otomatis akan melawan balik.“Aku takut kamu terpesona dengan paras dan tubuhku kalau kita tidur bersama di ranjang itu,” balas Velian, sengaja menaikkan alis menantang.Rhys tertawa kecil karena sesuatu terlalu absurd hingga menggemaskan. Biasanya, Eira akan menatap sinis, menampar, lalu pergi. Tapi gadis di depannya sekarang ... sangat berbeda.Rhys menepuk kepala Velian pelan, seperti menenangkan anak kelinci yang terlalu liar. “Kamu lucu sekali. Sudah, tidur saja. Saya tidak aka
Velian terbelalak kaget. Raven yang berdiri di belakang Rhys hanya bisa menghela napas pelan—ia sudah menduga ada sesuatu yang berbeda di antara mereka berdua.Saat Velian menoleh ke Leona, ia bisa melihat jelas bagaimana kepala dan telinga wanita itu seakan mengeluarkan asap. Wajah Leona memerah, matanya menyipit penuh amarah. Cemburunya tampak begitu mentah, begitu jelas, seolah hatinya benar-benar terbakar oleh keputusan Rhys barusan.Velian tertawa dalam hati. Excited kalau sampai satu ranjang dengan Rhys. Tokoh fiksi yang selama ini hanya ia kagumi lewat poster kini berdiri nyata di depan mata. Ketampanan itu bukan lagi sekadar gambar; Velian benar-benar masuk ke dunia mereka. Dunia Morwenia.~Jantung Velian rasanya mau meloncat keluar saat ia berdiri di depan kamar Rhys. Pintu yang tertutup rapat itu seakan memaku kakinya di tempat. Mau masuk—takut. Tidak masuk—tanggung.Untungnya, pakaian tidur Eira tidak semini milik Raven atau Leona. Mereka berdua
Rhys menepati janjinya: pulang lebih awal dan makan malam bersama keluarga. Lebih tepatnya, Rhys berusaha memenuhi permintaan Velian tadi pagi. Setelah menyelesaikan urusan penting di Celesthaven dan bertemu klien kelas atas, ia langsung kembali ke Morwenia tanpa menunda satu menit pun.Mobil Rhys melaju melalui jalur khusus yang hanya diperbolehkan untuk para bangsawan tertinggi. Sebagai sosok paling berpengaruh setelah Raja dan Ratu Morwenia, Rhys memiliki hak istimewa itu—tidak ada kemacetan, tidak ada kendaraan yang boleh menyalip, dan tidak ada hambatan apa pun ketika situasinya dianggap penting atau mendesak.Itu hanyalah satu dari sekian banyak keistimewaan kecil yang dimiliki Rhys Vance sebagai bangsawan terhormat.Saat Rhys tiba di mansion, ia mendapati putrinya sudah duduk di bawah tangga, meniup gelembung sabun dengan wajah ceria.“Papa!” seru Alverine, melonjak kecil begitu melihatnya.Rhys berjalan mendekat dan mengusap lembut kepala putrinya. “
Velian ketiduran sore-sore di kamar Alverine kembali mengalami mimpi buruk. Eira Shawn muncul lagi—wajahnya murka, namun amarah itu seperti ditahan di dalam tenggorokan.“Jangan dekati Garrick memakai tubuh dan wajahku demi kepuasanmu sendiri.”Velian terperanjat. “Kepuasan bagaimana? Aku memang terbangun di tubuhmu sejak masuk ke mansion terkutuk ini. Kamu galak juga, ya…”“Akan lebih terkutuk,” potong Eira, suaranya bergetar, “jika kamu sampai jatuh cinta pada pesona Rhys Vance—sepertiku dahulu.”Ucapan itu menghantam Velian seperti pukulan ke dada. Napasnya seketika menipis; udara di sekelilingnya serasa tersedot habis. Dalam mimpinya, ia tersedak. Saat terbangun, keadaan justru lebih parah—napasnya terputus-putus, dadanya seperti diremas dari dalam.Velian panik, berusaha meraih apa pun sebagai penyangga untuk bangkit dari ranjang Alverine. Namun kekuatan tubuh Eira terlalu lemah untuk menopangnya. Ia tergelincir dari kasur dan jatuh menghantam lantai ma
Dalam novel itu, Eira Shawn terjebak dalam kebakaran Istana Morwenia—peristiwa yang dipicu oleh kelompok pemberontak yang ingin menggulingkan Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI. Tujuannya jelas: menjatuhkan pengaruh Rhys, agar ia tidak lagi diberi peran penting dalam kekuasaan.Rhys memang bergelar Duke of Morwenia, berasal dari keluarga bangsawan terhormat. Namun bagi pihak yang membencinya, julukan itu tidak lebih dari kedok.Di luar sana, orang-orang yang kontra menyebut Rhys sebagai “eksekutor kerajaan”—pedang yang menjalankan kehendak Raja dan Ratu tanpa ampun.Velian mengembuskan napas panjang.Jika kejadian hari ini merupakan bagian dari rantai peristiwa menuju tragedi itu…Maka ia harus bergerak lebih cepat dari alur novelnya sendiri.Namun mengapa Eira sendiri, di dalam tubuhnya, berbicara seolah ada seseorang yang membunuhnya?Velian mencoba memahami sudut pandang itu.Jika Eira mengatakan ia dibunuh… apakah itu berarti Velian pern
Leona mengeluarkan sapu tangan dengan logo kerajaan di setiap sudutnya dari saku gaun, lalu melangkah cepat menghampiri Rhys. Ada percikan darah di salah satu sisi wajah pria itu—pemandangan yang membuat perut Leona sedikit menegang. Namun ia tahu, darah itu ada karena Rhys melindungi mereka semua. Melindungi keluarganya.Dengan tangan yang nyaris gemetar namun tetap berusaha lembut, Leona mengusap darah itu perlahan. Rasa panik yang sempat memenuhi dadanya perlahan menghilang, digantikan kelegaan mendalam. Rhys baik-baik saja. Itu sudah cukup. Ia tidak akan menjadi janda muda—dan itu jauh lebih penting baginya.“Kau baik-baik saja, Rhys?” tanyanya lirih setelah memastikan wajah Rhys bersih.Rhys mengangguk pelan. “Terima kasih, Leona.”“Tidak masalah.” Leona tersenyum penuh syukur dan rasa sayang yang tidak ia ucapkan.Tabib memeriksa denyut nadi Velian di pergelangan tangan. Denyut itu agak lambat. Wajah gadis itu pucat seperti selembar kertas, keringat dingin mengalir dari pel







