เข้าสู่ระบบGarrick sudah memikirkan semuanya. Cepat. Terlalu cepat, bahkan untuk sesuatu sebesar ini.“Jadi intinya…” suaranya rendah, nyaris datar, “kalian berdua bergantian berinteraksi dengan kami.”Ia berhenti sejenak. “Bahkan denganku.”Velian mengusap sudut matanya dengan kasar, berusaha menahan sisa emosinya. “Kalau kau ingin bersama Eira…” ucapnya, suaranya sedikit serak, “kami bisa bertukar tempat besok pagi. Setelah aku tidur.”Garrick mengernyit. “Mengapa harus begitu?”“Kami hanya bisa bertukar saat Velian tidur … atau pingsan,” jelas Eira pelan.Garrick terdiam sejenak, lalu sorot matanya berubah. “Jadi maksudmu…” ia menelan napas, “setelah kau pingsan terakhir kali—”“Rhys terlalu mengkhawatirkanku,” potong Eira cepat. “Jadi aku memutuskan untuk menemuinya sebentar.”Penjelasan itu terdengar sederhana. Namun tidak bagi Garrick. Tatapannya beralih, kini sepenuhnya tertuju pada Eira. “Bagaimana denganku?” tanyanya pelan. Nada suaranya tidak tinggi. Tidak marah. Justru … terlalu tenan
Tangan kanan Dylen terangkat setengah. Udara di sekitarnya bergetar tipis sebelum pusaran air kecil terbentuk, melingkari pergelangan tangannya seperti arus yang hidup.Dalam sekejap—Sebuah buku tebal muncul di genggamannya.“Kau beruntung,” desis Dylen pelan, setengah tak percaya, sambil menyerahkan buku itu pada Garrick. “Dan lebih dari itu … kau berhasil menjadi orang yang mereka percayai.”“Mereka?” ulang Garrick, menerima buku itu dengan alis berkerut.Dylen menatapnya lurus. “Keduanya memilihmu,” ujarnya. “Jika suatu saat rahasia itu tak lagi bisa ditutup … mereka akan memberitahumu lebih dulu, bukan Rhys.” Ia berhenti sejenak, seolah memberi waktu pada kata-katanya untuk meresap. “Kenapa?” lanjutnya pelan. “Karena Rhys bisa saja melabeli mereka sebagai pengkhianat.”Sorot matanya menggelap.“Ia tidak akan tahu siapa yang sebenarnya ia cintai. Antara yang asli … dan yang palsu,” tambah Dylen lirih. “Rhys akan kebingungan.”Garrick membuka buku itu.Kosong.Halaman demi halaman—
Tanpa sepengetahuan mereka, Garrick diam-diam mendatangi Dylen di Akademi Marindor.Kunjungan itu terjadi tak lama setelah Velian pingsan—di saat semua orang masih terfokus pada kondisinya.Namun bagi Garrick, ada sesuatu yang jauh lebih mengusik pikirannya.Sebuah bisikan.Samar, nyaris tak terdengar … namun cukup jelas untuk menghancurkan seluruh keyakinannya.“Aku … bukan ... Eira...”Sejak saat itu, ia tahu—ada kebenaran yang disembunyikan.Ketika Garrick memasuki Akademi Marindor, suasana terasa tidak seperti biasanya.Sejumlah murid laki-laki berhamburan keluar dari pintu utama, wajah mereka dipenuhi kebingungan sekaligus kecemasan. Suara gaduh memenuhi halaman, membentuk kelompok-kelompok kecil yang saling bertukar cerita dengan nada tegang.“Kristalnya sempat redup…”“Tiba-tiba saja, semua sihirku tidak bisa digunakan!”Kabar itu menyebar cepat.Kristal Marindor—sumber utama yang menjaga kestabilan aliran sihir di akademi—sempat kehilangan cahayanya selama beberapa saat.Insi
Pintu kamar tertutup keras.Velian masuk tanpa menoleh ke belakang, napasnya tidak beraturan. Langkahnya terhenti di samping meja rias, dan di sanalah—pantulan Eira muncul, wajahnya dipenuhi kegelisahan saat melihat kondisi Velian yang berantakan.“Mengapa kau kembali sebelum acara selesai?” tanya Eira, bingung.Namun Velian tidak menjawab, seolah tidak mendengar apa pun. Tangannya bergerak cepat, hampir gemetar, membuka laci nakas satu per satu dengan panik. Ia mengobrak-abrik isinya, mencari sesuatu—sesuatu yang bisa menenangkan dadanya yang terasa seperti akan meledak.Napasnya semakin pendek. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia butuh obat penenang. Sekarang. Sebelum tubuh lemah ini kembali menyerah.Eira ikut panik, langkahnya mendekat, namun tetap tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.“Velian, ada apa denganmu?!” suaranya mulai meninggi, penuh kecemasan.Namun Velian masih tidak menjawab.Ia hanya terus mencari—dengan tangan gemetar, dengan napas yang semakin tercekik, da
Alverine menatapnya lurus, tanpa ragu. “Bukankah hubungan kalian sangat dekat?”Velian terdiam sesaat, lalu matanya membelalak tajam.Refleks, ia melirik ke arah lain. Rhys, Raven, dan Leona tampak tetap fokus pada hidangan mereka—namun jelas, mereka semua mendengar. Tatapan mereka sekilas mengarah ke Velian dan Alverine, sebelum kembali berpura-pura tidak peduli.Suasana yang semula tenang kini terasa berubah … lebih tegang, meski tak ada satu pun yang mengakuinya.“Ups!”Alverine nyengir lebar sambil menutup mulutnya sendiri, seolah baru sadar telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.Di sampingnya, Velian hanya bisa tertawa kecil—pahit, tipis, dan nyaris tak terdengar.“Pangeran akan menyusul setelah menyelesaikan urusannya, Alverine,” ujar Ratu Isolde lembut, menatap gadis kecil itu dengan gemas. “Kau sangat ingin melihatnya, ya?”Alverine menahan senyumnya, namun kilatan antusias tetap terlihat jelas di matanya.“Bolehkah aku bermain de
Dari pantulan cermin rias, Velian membuka suara.“Besok ada jamuan. Kenapa tidak kamu saja yang hadir? Sekarang kita sudah bisa bertukar peran.” Suaranya tenang, tapi menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang.Namun jika ditarik beberapa langkah dari pantulan itu, kenyataan yang berbeda terlihat.Eira Shawn berdiri di sana, menyisir rambut gelombangnya yang indah dengan gerakan pelan dan teratur. Wajahnya tenang, seolah tak ada gejolak apa pun—berbanding terbalik dengan apa yang baru saja terjadi beberapa saat lalu.Sejak Velian pingsan karena sesak napas, sesuatu telah berubah.Kini, mereka benar-benar bertukar peran.Dan pagi itu masih terlalu dini untuk memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi di antara mereka.“Aku tidak ingin. Kau saja yang berada di sana.” Eira menjawab tanpa menoleh. Nada suaranya tenang, tapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Baginya, satu hal sudah cukup—ia telah meminta maaf pada Rhys.Velian mengembuskan na
Velian menatap buku di meja, lalu perlahan mengalihkan pandangan pada Dylen. “Jangan-jangan….”“Tidak.” Dylen langsung memotong, suaranya tegas namun tak meninggi. Ia melangkah ke arah jendela, membiarkan tirai tipis berkibar diterpa angin siang. “Jantungmu memang bermasalah, tapi kasusmu bukan sep
“Siapa dia?” batinnya, bingung.“Nona Eira Shawn...?” Pria itu tampak mengenalinya.“Ya benar!” Velian menyahut senang. Akhirnya ada satu orang yang mengenali sosok Eira.Pria itu tersenyum kecil, sorot matanya yang dingin sedikit melunak. “Kami saling kenal. Tenang saja.” Ia menol
Di tengah aula utama, dekat pintu masuk, berdiri sebuah kristal raksasa—menjulang hampir setinggi bangunan dua lantai. Cahaya putih kebiruan berdenyut pelan dari dalamnya, seperti detak jantung raksasa yang hidup. Kilau lembut itu memantul di lantai marmer, menyinari seluruh ruangan dengan aura s
Rhys menuruni anak tangga utama dengan pedang tergenggam di tangan kirinya. Bilah peraknya memantulkan cahaya siang yang masuk dari jendela besar. Ia sudah berpamitan dengan Raven, Leona, dan Alverine, mengabarkan bahwa ia harus kembali ke Celesthaven untuk menyelesaikan pembahasan proyek hunian







