LOGINKedatangan Garrick juga menjadi salah satu hal yang sama sekali tidak mereka duga malam itu.Untungnya, ia datang ketika percakapan mereka telah berakhir. Tidak ada lagi pembahasan mengenai Lucien, kekuatan magis, ataupun rahasia Velian yang seharusnya tidak terdengar oleh siapa pun.Mereka bahkan terkadang lupa bahwa Garrick juga mengetahui rahasia Velian.Mungkin karena terlalu lama bersama, keberadaan rahasia itu perlahan terasa seperti sesuatu yang biasa bagi mereka. Sesuatu yang tidak perlu lagi disembunyikan di antara orang-orang yang sudah mengetahui kebenarannya.Namun, bukan berarti mereka boleh lengah.Terutama di tempat seperti Morwenia, di mana satu percakapan yang terdengar oleh orang yang salah dapat mengubah arah kehidupan seseorang."Sudah malam. Lekas kembali dan beristirahat."Garrick tidak mengatakannya sebagai saran. Itu perintah.Velian menatapnya beberapa detik, lalu memasang wajah polos seolah benar-benar tidak memahami maksud kedatangannya. "Bukankah malam ini
Dylen sebenarnya masih ingin bercerita lebih banyak tentang Morwenia kepada Velian.Tentang negeri yang selama ini hanya hidup di antara halaman-halaman buku yang ditulisnya sendiri. Tentang sejarah yang tidak pernah ia ketahui sepenuhnya. Tentang orang-orang yang selama ini hanya ia ciptakan sebagai tokoh, tetapi ternyata memiliki kehidupan, ketakutan, luka, dan tanggung jawab yang jauh lebih berat daripada yang pernah ia bayangkan.Velian adalah penulis kisah mereka. Namun, ia tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang terjadi di balik kisah itu.Mungkin karena itu pula Dylen ingin membuatnya mengerti. Bahwa di tempat ini, tidak seorang pun hanya sedang menjalani sebuah cerita.Mereka sedang berusaha bertahan hidup. Bertahan dari perang, kekuatan yang tidak mereka pahami, masa lalu yang terus mengejar, serta tanggung jawab yang tidak pernah mereka minta untuk dipikul.Velian sendiri tidak keberatan mendengarkan. Ia selalu menyukai ketika Dylen bercerita. Menurutnya, Morwenia begit
Namun, dibandingkan dengan penantian Rhys yang begitu antusias, orang yang justru lebih lama menyaksikan setiap tahap pertumbuhan Eira adalah Lucien.Rhys tidak selalu berada di istana. Sebagian besar masa mudanya ia habiskan untuk berlatih pedang di wilayah perbatasan Morwenia, di bawah bimbingan langsung Dyvar Caelmont, ayah Dylen sekaligus Master Marindor pada masa itu.Sejarah Morwenia sendiri jauh lebih panjang daripada yang diketahui kebanyakan orang.Sebelum gelar Pedang Istana berada di tangan Rhys, gelar tersebut merupakan milik Dyvar Caelmont—salah satu pendekar terkuat pada masanya. Tidak ada yang menyangka seorang pemuda bernama Rhys Vance akan datang dan menantangnya.Pada usia dua puluh dua tahun, Rhys berhasil mengalahkan Dyvar.Kemenangan itu mengubah arah sejarah.Gelar Pedang Istana Morwenia yang selama bertahun-tahun berada di tangan Dyvar akhirnya berpindah kepada Rhys Vance. Sementara itu, Dyvar diutus ke wilayah perbatasan untuk menjaga salah satu garis pertahana
Semua orang telah duduk di tempat masing-masing untuk menikmati hidangan makan malam. Seperti biasa, Rhys mengangkat sendok dan garpu terlebih dahulu sebelum mereka mulai menyantap hidangan. Di tengah suasana yang semestinya hangat itu, Garrick justru sedang berjalan menuju kamar Eira atas permintaan Rhys untuk mengambilkan obat yang biasa disimpan di atas nakas. Garrick tidak banyak bertanya. Ia langsung mengiyakan. Meski begitu, ada sedikit kekesalan yang tersimpan di wajahnya. Velian menggunakan tubuh Eira untuk beraktivitas setiap hari, tetapi justru terlihat begitu ceroboh dalam menjaganya. Begitu pintu kamar Eira dibuka, semerbak aroma bunga Camellia langsung menyambut indra penciumannya. Garrick melangkah masuk tanpa banyak memperhatikan sekeliling. Kakinya membawa dirinya menuju nakas berwarna merah muda pucat, dengan ukiran lambang Morwenia pada permukaannya. Bagian atas nakas itu dilapisi kain tipis bersulam benang emas yang menjuntai rapi di tepinya. Tangannya
Velian yang berdiri di belakang Rhys sudah tidak terlalu terkejut mendengar pertanyaan semacam itu. Sebelum Dylen, Lucien pun pernah menerima pertanyaan yang sama. Dylen sendiri tampak berpikir sejenak, seolah sedang mencari jawaban yang paling aman. “Banyak duke dari berbagai negeri yang dikabarkan menyukai Eira, meskipun kebanyakan hanya sebatas rumor.” Rhys menatapnya tajam. “Jadi, kau menyukai Eira?” Dylen justru tersenyum tipis. “Namun, ada juga pria-pria yang tidak menyukai kepribadiannya yang dingin dan galak, meskipun dia memiliki paras yang cantik rupawan.” Ia sengaja berhenti sejenak. “Menurutmu, aku berada di kubu yang mana?” “Jawab saja.” “Baiklah.” Dylen mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “Tenang saja. Aku menyukai perempuan bernama Velian, bukan Eira. Bukan pula selirmu yang lain.” Ia tersenyum santai. “Puas?” Velian yang sejak tadi mendengar percakapan mereka langsung melotot. Tubuhnya bahkan terpaku di tempat. Apa tadi bisa disebut pengakuan cinta
Namun, ketika Dylen berbalik untuk mencari keberadaan Velian—yang sejak tadi tidak ikut turun dari tribun—pemandangan yang dilihatnya justru membuat langkahnya terhenti.Velian masih berada di tempatnya.Bukan sedang mengkhawatirkan Alverine.Bukan pula sedang menyusul Rhys.Perempuan itu malah asyik memegang Vox Device di depan wajahnya, memiringkan kepala sedikit, lalu mengambil foto dirinya sendiri.Satu foto.Kemudian satu lagi.Dylen memejamkan mata rapat-rapat.Kepalanya tertunduk, seolah sedang berusaha menahan umpatan yang memenuhi pikirannya. 'Bisa-bisanya dia selfie di tengah semua orang yang sedang panik.' Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya memanggil,“Nona Eira.”Velian menurunkan Vox Device dan menoleh santai. “Apa?”Dylen menatapnya beberapa detik. “Ada yang perlu kita bicarakan mengenai Alverine dan latihannya tadi.”“Oh.” Velian melirik ke bawah, ke arah Alverine yang kini ditemani Rhys. Lalu kembali menatap Vox Device di tangannya. “Sebentar. Aku belum dap
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping







