LOGINVelian dan Ratu berdiri di depan jendela besar yang terbuka, memandangi hamparan kebun bunga: camellia putih berpadu poppy merah yang bergoyang diterpa angin.
Velian menoleh ke arah Rhys, yang terlihat di kejauhan bersama seorang pria yang dari pakaian resminya jelas anggota keluarga kerajaan. Matanya membelalak. "Pangeran?!" gumamnya lirih, penuh penasaran untuk melihat rupa aslinya di dunia nyata.Ratu tersenyum hangat, matanya mengikuti punggung putranya. "Putra Mahkota sudah begitDame Raven membuatkan susu cokelat hangat untuk Alverine yang sejak tadi menangis dan tak kunjung bisa tidur. Rhys menggendong putrinya, satu tangan menyangga tubuh kecil itu sementara tangan lainnya menepuk-nepuk punggungnya perlahan. "Alverine, kalau kau menginginkan sesuatu, katakan pada Papa." Suaranya lembut, jauh berbeda dari nada tegas yang biasa ia gunakan di istana. "Papa tidak tahu apa yang kau mau kalau kau hanya menangis seperti ini." Alverine tetap menangis. Sudah lima menit. Lima menit bukan waktu yang sebentar bagi seorang anak yang biasanya langsung tertidur hanya dengan dibacakan dongeng atau diajak berhitung sampai dua puluh. Biasanya, sebelum hitungan mencapai angka terakhir, Alverine sudah terlelap. Dan sekali tidur, ia justru terkenal sulit dibangunkan. Namun, malam ini berbeda. Alverine sempat tertidur sebentar di antara Rhys dan Dame Raven. Keduanya bahkan sudah kembali memejamkan mata ketika tiba-tiba tangisan keras memecah
Garrick mendengarnya. Ia juga memahami setiap ucapan Dylen. Namun, Garrick bukan lagi pemuda yang menginjak usia remaja dan setiap pagi mengajak Eira berjalan-jalan sebelum berangkat ke sekolah hanya karena gadis kecil itu hampir selalu bangun lebih awal daripada penghuni istana lainnya.Ia bukan lagi Garrick yang duduk di samping Eira untuk mengajarinya menulis, berhitung, atau mengeja kata-kata sederhana.Waktu telah mengambil semua itu darinya.Eira kini sudah mampu melakukan semuanya sendiri.Garrick menyaksikan pertumbuhannya dari waktu ke waktu.Dari seorang gadis kecil yang selalu membawa buku ke mana pun ia pergi, menjadi seorang perempuan muda yang anggun dan menawan.Semakin dewasa, Eira semakin menyerupai mendiang ibunya.Jelita.Anggun.Namun, ada sesuatu yang tidak pernah mampu Garrick lihat.Kebahagiaan.Sejak kedua orang tua Eira tiada, Garrick tidak pernah benar-benar bisa melihat gadis itu menjalani hidup dengan bahagia.
Kedatangan Garrick juga menjadi salah satu hal yang sama sekali tidak mereka duga malam itu.Untungnya, ia datang ketika percakapan mereka telah berakhir. Tidak ada lagi pembahasan mengenai Lucien, kekuatan magis, ataupun rahasia Velian yang seharusnya tidak terdengar oleh siapa pun.Mereka bahkan terkadang lupa bahwa Garrick juga mengetahui rahasia Velian.Mungkin karena terlalu lama bersama, keberadaan rahasia itu perlahan terasa seperti sesuatu yang biasa bagi mereka. Sesuatu yang tidak perlu lagi disembunyikan di antara orang-orang yang sudah mengetahui kebenarannya.Namun, bukan berarti mereka boleh lengah.Terutama di tempat seperti Morwenia, di mana satu percakapan yang terdengar oleh orang yang salah dapat mengubah arah kehidupan seseorang."Sudah malam. Lekas kembali dan beristirahat."Garrick tidak mengatakannya sebagai saran. Itu perintah.Velian menatapnya beberapa detik, lalu memasang wajah polos seolah benar-benar tidak memahami maksud kedatangannya. "Bukankah malam ini
Dylen sebenarnya masih ingin bercerita lebih banyak tentang Morwenia kepada Velian.Tentang negeri yang selama ini hanya hidup di antara halaman-halaman buku yang ditulisnya sendiri. Tentang sejarah yang tidak pernah ia ketahui sepenuhnya. Tentang orang-orang yang selama ini hanya ia ciptakan sebagai tokoh, tetapi ternyata memiliki kehidupan, ketakutan, luka, dan tanggung jawab yang jauh lebih berat daripada yang pernah ia bayangkan.Velian adalah penulis kisah mereka. Namun, ia tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang terjadi di balik kisah itu.Mungkin karena itu pula Dylen ingin membuatnya mengerti. Bahwa di tempat ini, tidak seorang pun hanya sedang menjalani sebuah cerita.Mereka sedang berusaha bertahan hidup. Bertahan dari perang, kekuatan yang tidak mereka pahami, masa lalu yang terus mengejar, serta tanggung jawab yang tidak pernah mereka minta untuk dipikul.Velian sendiri tidak keberatan mendengarkan. Ia selalu menyukai ketika Dylen bercerita. Menurutnya, Morwenia begit
Namun, dibandingkan dengan penantian Rhys yang begitu antusias, orang yang justru lebih lama menyaksikan setiap tahap pertumbuhan Eira adalah Lucien.Rhys tidak selalu berada di istana. Sebagian besar masa mudanya ia habiskan untuk berlatih pedang di wilayah perbatasan Morwenia, di bawah bimbingan langsung Dyvar Caelmont, ayah Dylen sekaligus Master Marindor pada masa itu.Sejarah Morwenia sendiri jauh lebih panjang daripada yang diketahui kebanyakan orang.Sebelum gelar Pedang Istana berada di tangan Rhys, gelar tersebut merupakan milik Dyvar Caelmont—salah satu pendekar terkuat pada masanya. Tidak ada yang menyangka seorang pemuda bernama Rhys Vance akan datang dan menantangnya.Pada usia dua puluh dua tahun, Rhys berhasil mengalahkan Dyvar.Kemenangan itu mengubah arah sejarah.Gelar Pedang Istana Morwenia yang selama bertahun-tahun berada di tangan Dyvar akhirnya berpindah kepada Rhys Vance. Sementara itu, Dyvar diutus ke wilayah perbatasan untuk menjaga salah satu garis pertahana
Semua orang telah duduk di tempat masing-masing untuk menikmati hidangan makan malam. Seperti biasa, Rhys mengangkat sendok dan garpu terlebih dahulu sebelum mereka mulai menyantap hidangan. Di tengah suasana yang semestinya hangat itu, Garrick justru sedang berjalan menuju kamar Eira atas permintaan Rhys untuk mengambilkan obat yang biasa disimpan di atas nakas. Garrick tidak banyak bertanya. Ia langsung mengiyakan. Meski begitu, ada sedikit kekesalan yang tersimpan di wajahnya. Velian menggunakan tubuh Eira untuk beraktivitas setiap hari, tetapi justru terlihat begitu ceroboh dalam menjaganya. Begitu pintu kamar Eira dibuka, semerbak aroma bunga Camellia langsung menyambut indra penciumannya. Garrick melangkah masuk tanpa banyak memperhatikan sekeliling. Kakinya membawa dirinya menuju nakas berwarna merah muda pucat, dengan ukiran lambang Morwenia pada permukaannya. Bagian atas nakas itu dilapisi kain tipis bersulam benang emas yang menjuntai rapi di tepinya. Tangannya
“Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru
Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa







