共有

Kepergok

作者: Tinta Hitam
last update 公開日: 2026-07-25 08:21:59

"Memangnya kau ini siapa, Silvia?" suara Tuan Wijaya menggema memenuhi aula, disusul tawa yang meledak keras. "Sampai berani mengatakan punya dukungan untuk menjatuhkan keluarga Wijaya? Kau pikir hanya dengan mulutmu, nama besar keluarga kami bisa runtuh?"

Tawa itu terdengar panjang, diikuti beberapa orang yang ikut tersenyum sinis. Tatapan mereka penuh ejekan, seolah Silvia hanyalah seorang wanita yang sedang mencari perhatian.

Namun berbeda dengan harapan mereka. Silvia tidak marah. Ia juga t
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Ambil Saja Suamiku    Kepergok

    "Memangnya kau ini siapa, Silvia?" suara Tuan Wijaya menggema memenuhi aula, disusul tawa yang meledak keras. "Sampai berani mengatakan punya dukungan untuk menjatuhkan keluarga Wijaya? Kau pikir hanya dengan mulutmu, nama besar keluarga kami bisa runtuh?"Tawa itu terdengar panjang, diikuti beberapa orang yang ikut tersenyum sinis. Tatapan mereka penuh ejekan, seolah Silvia hanyalah seorang wanita yang sedang mencari perhatian.Namun berbeda dengan harapan mereka. Silvia tidak marah. Ia juga tidak membalas.Di bibirnya justru terukir senyum tipis. Senyum yang tenang, tetapi menyimpan begitu banyak luka yang telah berubah menjadi keberanian.Baginya, menjawab pertanyaan itu sama sekali tidak penting.Beberapa detik berlalu. Keheningan yang diciptakan Silvia justru membuat Tuan Wijaya kehilangan kesabarannya."Kenapa diam?" ejeknya lagi sambil mendekat. "Apa kau sudah kehilangan muka? Atau ... kehilangan kata-kata karena kebohonganmu mulai terbongkar?"Ruangan kembali dipenuhi suara ta

  • Ambil Saja Suamiku    Ancaman Silvia

    "Kalau benar bayi itu cucu kandungmu, Bu Novi, kenapa cuma dititip beberapa hari saja sudah marah-marah?"Suara seorang tamu menggema di tengah aula yang semula dipenuhi tawa dan musik. Kalimat itu disusul suara lain, lalu semakin banyak orang ikut berseru."Iya! Kalau itu cucumu sendiri, bukannya harusnya senang mengurusnya?""Benar! Masa nenek kandung malah menolak?"Bisik-bisik berubah menjadi gumaman panjang. Semua mata kini tertuju kepada Mama Novi yang berdiri di tengah kerumunan. Wajahnya yang tadi penuh keangkuhan perlahan memucat. Bibirnya bergetar, napasnya memburu, sementara sorot matanya tampak gelisah mencari jalan keluar.Sesaat kemudian, air mata kembali mengalir di pipinya. Dengan suara bergetar yang sengaja dibuat pilu, ia menatap Silvia."Silvia ... kenapa? Kenapa kamu tega mempermalukan Mama di depan orang sebanyak ini?"Tangisnya terdengar lirih, seolah dialah korban dari semua kejadian itu.Namun, Silvia justru tersenyum tipis. Tawa kecil keluar dari bibirnya. Ta

  • Ambil Saja Suamiku    Mempermalukan

    “Silvia, kamu keterlaluan!” teriak seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun dengan suara melengking yang menggema di seluruh aula. Wanita itu berjalan cepat dengan langkah penuh keangkuhan. Tatapannya tajam, dipenuhi kebencian yang seolah telah dipupuk selama bertahun-tahun. Di pelukannya tergendong seorang bayi mungil yang masih tertidur lelap, sama sekali tidak mengerti bahwa dirinya sedang menjadi pusat sebuah pertunjukan yang penuh kepalsuan. “Berani-beraninya kamu menitipkan bayi ini di rumahku! Kamu ibu macam apa?” bentaknya lagi tanpa sedikit pun menahan emosi. Semua kepala langsung menoleh ke arah sumber keributan. Kilatan lampu kamera dari para wartawan memenuhi ruangan. Para tamu undangan saling berbisik penasaran, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Di hadapan amarah yang membuncah itu, Silvia hanya berdiri dengan tenang. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Bibirnya hanya menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Tatapannya begit

  • Ambil Saja Suamiku    Bab 8

    "Cukup! Aku sudah tidak bisa diam lagi!"Brak!Suara benturan keras menggema di seluruh ruangan rumah sakit ketika kepalan tangan Fatih menghantam meja kecil di samping ranjang. Gelas berisi air bergetar hingga tumpah, sementara vas bunga bergoyang nyaris terjatuh.Rahang Fatih mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol, sementara sorot matanya dipenuhi bara kemarahan. Wajahnya begitu menyeramkan, laksana seekor singa yang siap menerkam siapa saja yang berani menyakiti keluarganya.Dadanya naik turun menahan amarah yang sejak tadi berusaha ia pendam."Anggi dan Hans benar-benar sudah kelewatan!" geramnya dengan suara bergetar. "Mereka menghancurkan hidupmu, mempermainkan perasaanmu, lalu masih bisa tertawa seolah tidak terjadi apa-apa!"Fatih berdiri dari kursinya hingga kursi itu bergeser ke belakang."Aku akan menemui mereka sekarang juga!" bentaknya. "Aku akan melabrak dua pengkhianat itu! Kalau perlu, aku buat mereka merasakan sedikit saja rasa sakit yang selama ini kamu tanggung!"

  • Ambil Saja Suamiku    Bab 7

    "Bagaimana keadaanmu, Silvia?" suara Fatih bergetar. Kedua tangannya menggenggam erat jemari adiknya yang terasa dingin. Tatapannya dipenuhi kecemasan, seolah takut kehilangan satu-satunya adik yang begitu ia sayangi. Kelopak mata Silvia bergerak perlahan. Napasnya masih tersengal, wajahnya pucat, sementara bekas air mata masih membasahi kedua pipinya. Saat pandangannya bertemu dengan Fatih, bibirnya bergetar hebat. "Ka... Kak Fatih ...." Hanya itu yang mampu ia ucapkan sebelum tangisnya kembali pecah. Isakannya begitu pilu hingga tubuhnya bergetar hebat. Semua luka yang selama ini ia tahan seolah tumpah dalam sekali waktu. Fatih memejamkan mata. Dadanya terasa sesak melihat adiknya menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat berlindung. Perlahan ia mengusap punggung Silvia, membiarkannya meluapkan semua rasa sakit yang selama ini dipendam sendirian. "Menangislah... Kakak di sini." Silvia justru menangis semakin keras. "Aku capek, Kak... Aku benar-benar capek. Mereka sang

  • Ambil Saja Suamiku    Bab 6

    "Kalau aku jadi kalian, aku pasti bakal syok dengar rahasia ini," bisik Anggi sambil melirik ke arah pintu, memastikan tak ada orang lain yang mendengar. Eko mengernyitkan dahi. "Rahasia apa?" Dirga ikut mendekat. "Jangan bikin penasaran deh." Senyum tipis terukir di bibir Anggi. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti embusan angin, namun jelas menggema di ruangan itu. "Bayi yang selama ini dirawat Silvia... sebenarnya anakku dan Hans." "Apa?!" seru Eko spontan. Dirga bahkan sampai berdiri dari kursinya. "Anggi, lo bercanda, kan?" ujarnya dengan wajah serius. Lebih serius dari dosen yang sedang mengajar. Bukannya menjawab dengan serius, Anggi justru memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... kalian lucu sekali!" Air matanya sampai keluar karena terlalu keras tertawa. "Aku nggak bercanda. Itu memang anakku dan Hans." Eko masih menggeleng tak percaya. "Nggak mungkin... selama ini semua orang mengira itu anak Silvia. Dan ba

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status