Share

Aah!

Author: Tinta Hitam
last update publish date: 2026-08-06 16:50:30

Silvia menggeleng sambil tertawa. “Padahal yang bekerja keras bukan cuma aku.”

"Tapi orang yang paling berjasa tetap kamu.” kelakar Leon.

Setelah makanan tersaji, suasana berubah jauh lebih santai. Mereka mulai mengenang masa-masa sekolah dahulu.

“Ingat waktu kamu pernah dihukum berdiri di depan kelas?”

Silvia langsung tertawa. “Jangan diingat-ingat.”

“Padahal waktu itu kamu yang paling rajin.”

“Aku dihukum gara-gara membela teman.”

Leon tertawa lepas. “Dan guru malah mengira kamu yang m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ambil Saja Suamiku    Aah!

    Silvia menggeleng sambil tertawa. “Padahal yang bekerja keras bukan cuma aku.” "Tapi orang yang paling berjasa tetap kamu.” kelakar Leon. Setelah makanan tersaji, suasana berubah jauh lebih santai. Mereka mulai mengenang masa-masa sekolah dahulu. “Ingat waktu kamu pernah dihukum berdiri di depan kelas?” Silvia langsung tertawa. “Jangan diingat-ingat.” “Padahal waktu itu kamu yang paling rajin.” “Aku dihukum gara-gara membela teman.” Leon tertawa lepas. “Dan guru malah mengira kamu yang membuat keributan.” Silvia ikut tertawa hingga matanya sedikit menyipit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawanya terdengar begitu lepas. Tanpa ia sadari, sejak tadi Leon tidak benar-benar fokus pada makanan. Tatapan pria itu justru terus tertuju kepada Silvia. Tatapan yang begitu dalam penuh kekaguman, Penuh rasa syukur dan menyimpan perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam sendirian. Namun Silvia sama sekali tidak menyadarinya. Ia masih sibuk menceritakan berbagai kenangan m

  • Ambil Saja Suamiku    Lepaskan!

    “Lepaskan!” Suara Silvia terdengar dingin disertai nada tegas. Tubuhnya refleks menegang ketika dua telapak tangan tiba-tiba menutup kedua matanya dari arah belakang. Berkas-berkas kerja sama yang baru saja ia rapikan hampir terjatuh karena rasa terkejut yang begitu mendadak. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi kesibukan kini mulai lengang. Para tamu telah pulang, para staf sedang membereskan perlengkapan acara, sementara Silvia masih bertahan menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu, sentuhan tiba-tiba itu membuat jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Terdengar suara tawa kecil yang begitu akrab. “Hei, galak sekali. Baru juga bercanda.” Orang itu terkekeh pelan sebelum akhirnya melepaskan kedua tangannya dari wajah Silvia. Silvia segera membalikkan tubuhnya dengan wajah waspada. Namun sesaat kemudian ia mengembuskan napas panjang sambil memegang dadanya yang masih berdebar. “Ternyata kamu, Leon.” Ada nada lega yang begitu jelas dalam ucapannya. Dia pikir itu Hans, atau komplotann

  • Ambil Saja Suamiku    Ingin Bertemu

    "Aku---" Belum sempat Anggi menjawab, Mama Novi malah tertawa kecil.Plak.Ia memukul pelan lengan putra sulungnya. "Dasar anak ini. Kamu lupa? Itu Anggi, teman kecil Hans. Dulu kamu juga sering bermain bersama dia. Bahkan kamu yang paling sering melindunginya kalau ada anak-anak nakal mengganggu."Sony memejamkan mata beberapa detik.Ia mencoba mengingat wajah masa kecil yang mulai samar dalam ingatannya.Perlahan bibirnya membentuk senyum kecil. "Oh... Jadi kamu Anggi."Wanita itu tersenyum manis.Sony mengangguk pelan. "Sekarang kamu jauh lebih cantik. Pantas saja hampir tidak mengenalimu."Pujian itu terdengar tulus. Tanpa ada maksud lain. Namun senyum Anggi justru berubah menjadi sedikit berbeda.Ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah ada maksud tersembunyi di balik lengkungan bibirnya."Aduh, Kak Sony terlalu berlebihan." Anggi terkekeh kecil. "Tapi memang sih, sejak dulu banyak pria yang tergila-gila sama aku. Jadi wajar saja kalau Kak Sony juga ikut terpikat."Ruangan mend

  • Ambil Saja Suamiku    Siapa Dia?

    Pintu rumah keluarga Wijaya terbuka perlahan.Suara langkah kaki yang tenang namun tegas menggema memenuhi ruang tamu yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Sosok pria bertubuh tinggi dengan jas hitam sederhana memasuki ruangan itu. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, sorot matanya dingin namun tajam seolah mampu menembus kebohongan siapa pun yang berdiri di hadapannya.Aura yang dipancarkannya membuat seluruh isi ruangan mendadak membeku.Bahkan Hans yang sejak tadi tampak percaya diri mendadak berdiri dari duduknya.Pria itu menghentikan langkahnya tepat di tengah ruang tamu. Tatapannya berkeliling, mengamati satu per satu wajah yang berada di sana.Lalu dengan suara berat yang berwibawa, ia bertanya, "Siap yang ingin menghancurkan keluarga Wijaya?"Kalimat itu meluncur datar. Namun justru karena diucapkan dengan begitu tenang, setiap orang yang mendengarnya merasakan tekanan luar biasa.Hans menelan ludah. "K-Kak Sony ... kapan pulang?" tanyanya dengan mata membulat penuh kete

  • Ambil Saja Suamiku    Karena Kamu!

    Suasana ruang tamu kembali dipenuhi keheningan yang mencekam. Hanya terdengar suara napas mereka yang sama-sama berat.Beberapa saat kemudian Mama Novi kembali menatap Anggi. "Kalau kerja sama itu batal, bukankah masih bisa dibuat lagi?"Tatapannya penuh harapan. "Paman kamu bekerja di MH Group, kan? Bukankah dia bisa membantu lagi?"Namun harapan itu langsung dihancurkan oleh jawaban Anggi."Tidak mungkin." Suaranya lirih. Tetapi penuh kepahitan."Mungkin saja saat ini Paman sudah dipecat.""Apa?!" Mama Novi spontan mundur satu langkah.Seketika tubuhnya limbung. Wajahnya yang semula dipenuhi amarah kini berubah pucat pasi. Rasanya seluruh tenaga dalam tubuhnya seolah menghilang begitu saja.Bruk...Wanita paruh baya itu terduduk lemas di lantai. Tangannya gemetar menopang tubuhnya sendiri. Tatapannya kosong dan napasnya mulai memburu.Seolah berita yang baru saja didengarnya telah menghancurkan seluruh harapan yang selama ini ia bangun."D-dipecat?" Suara Mama Novi bergetar."Kenapa

  • Ambil Saja Suamiku    Hantaman

    "Brakkk!"Suara pecahan vas bunga menggema begitu keras di seluruh ruang tamu.Pecahan kaca berserakan di lantai marmer, sementara bunga-bunga yang semula tertata rapi kini terlempar ke segala arah."Wuaaa... huaaa..."Tangis bayi yang berada di gendongan Mama Novi langsung pecah. Bayi kecil itu terkejut mendengar suara benturan yang begitu keras hingga tubuh mungilnya bergetar."Astaga, Hans!" seru Mama Novi dengan wajah kaget sambil mengayun pelan tubuh bayi itu. "Kenapa baru pulang malah marah-marah begini? Bukannya kalian seharusnya senang? Bukannya hari ini perusahaan Wijaya berhasil bekerja sama dengan MH Group?"Hans berdiri membelakangi mereka.Kedua tangannya mengepal begitu erat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Rahangnya mengeras, sementara napasnya terdengar berat, dipenuhi amarah yang belum juga mereda sejak meninggalkan gedung acara.Dengan suara kecut dan penuh kebencian, ia menjawab,"Kerja sama apa, Ma? Semuanya hancur! Semuanya kacau balau! Tidak ada satu pun y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status