Mag-log inHujan kembali turun, tetapi Ren masih berdiri tenang di samping mobil yang ringsek itu. Senyum tipis di bibirnya perlahan memudar, sedangkan tatapan matanya masih dipenuhi tipu daya.
“Aku pikir racunnya akan membuatmu mati terlalu cepat, Kai,” ucap Ren sambil kembali menyeringai.
Di sela rasa sakitnya, tatapan Kai berubah menjadi dingin. Baru beberapa menit lalu dia merasa ada seseorang di saat seperti ini, tapi ternyata orang itu justru yang menikamnya dari belakang.
Kopi tadi memang sudah dicampur sesuatu. Kai tidak mencurigai apa pun, dan itu kesalahan fatalnya malam ini.
“Sial!”
Kai mencoba menggerakkan tangannya, tapi rasa sakit membuatnya tidak berdaya.
Ren tertawa kecil. “Kau benar-benar tidak berdaya, Kai.”
Di saat bersamaan, sopir truk membunyikan klakson ke arah mereka. Ren langsung menoleh dan menatapnya.
Sopir truk itu menganggukkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan area itu.
Rahang Kai mengeras, mulai menyadari bahwa truk itu juga bagian dari rencana Ren.
“Kenapa ... kenapa kau melakukan ini, Ren?” tanya Kai dengan napas yang mulai tidak beraturan.
Ren menatap Kai beberapa saat sebelum menghela napas panjang.
“Selama ini, semua orang hanya melihatmu, Kai. Aku muak hidup di bawah bayang-bayangmu.”
Kai hanya menatap Ren dengan sorot menuntut penjelasan. Tidak menyangka satu-satunya orang yang paling dia percayai akan melakukan hal sekotor ini padanya.
“Mereka semua takut padamu, Kai,” lanjut Ren pelan. “Dan kau tahu? Aku juga.”
Hujan tiba-tiba turun semakin deras. Suara air menghantam aspal bercampur dengan bunyi alarm mobil yang belum berhenti.
Ren kembali berkata, “Kau menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalanmu. Cepat atau lambat, aku juga akan menjadi salah satunya.”
Kai tertawa pelan. Tawa yang dia paksakan, tapi justru terdengar menyeramkan.
“Jadi,” ucap Kai, mengabaikan rasa sakit yang semakin menyebar ke seluruh tubuhnya. “Kau memilih menusukku lebih dahulu.”
“Aku sudah memikirkan banyak cara, tapi ini adalah satu-satunya cara untuk mengalahkanmu,” ucap Ren dengan tenang. Seolah semua persahabatan mereka selama ini tidak ada artinya sama sekali.
Untuk pertama kalinya, Kai merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya. Marah dan kecewa bercampur menjadi kehampaan yang sulit dia jelaskan.
Kai membangun semua reputasi dan pencapaiannya dari nol. Sedangkan Ren adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar dia percayai.
Kai memejamkan mata sejenak. Selama ini, dia selalu percaya bahwa Ren tidak akan pernah merendahkan harga dirinya untuk sesuatu seperti ini. Namun siapa sangka, justru dialah yang menyiapkan kematian untuknya.
“Kecelakaan ini akan terlihat sempurna, Kai. Orang-orang akan berpikir kau mati karena kehilangan kendali di tengah hujan,” ucap Ren.
Kai kembali tertawa. “Tidak buruk juga.”
“Kau tahu, orang sepertimu tidak pantas mempercayai siapa pun, Kai.”
Ren mengeluarkan sebuah jarum suntik dari saku jasnya. Cairan bening di dalamnya memantulkan cahaya lampu jalan.
Kai melihatnya, membuat napasnya semakin berat. Sungguh tidak menyangka akhir hidupnya akan memalukan seperti ini—mati di tangan orang kepercayaannya.
Tanpa banyak perjuangan, Ren berhasil menyuntikkan cairan itu ke leher Kai. Seketika, dunia di sekeliling Kai mulai menjauh. Hal terakhir yang dia lihat sebelum semuanya berubah gelap, hanya seulas senyum kemenangan dari bibir Ren.
Setelah memastikan Kai sudah tidak berdaya, Ren berbalik pergi. Langkah kakinya perlahan menjauh di tengah hujan yang semakin lebat.
Kai tetap diam di dalam mobil. Sendirian dan perlahan sekarat.
Perlahan, Kai kehilangan kesadarannya. Pandangannya semakin gelap.
Pada detik terakhirnya, Kai merasa takut. Bukan takut mati, melainkan takut semua yang sudah dia bangun akan jatuh ke tangan pengkhianat seperti Ren.
Sial. Kalau saja aku punya kesempatan kedua, akan kupastikan kau tidak pernah hidup tenang, Ren!
Bahkan saat sekarat pun, seorang Kai masih memikirkan kesempatan untuk balas dendam. Namun sayangnya, rasa dingin mulai menyelimuti seluruh tubuhnya. Kesadarannya seperti ditarik ke dalam jurang gelap.
Kai merasa tubuhnya semakin ringan. Lalu samar-samar, suara orang-orang asing mulai terdengar di sekitarnya.
“Apakah Anda baik-baik saja?”
Itu suara seorang perempuan.
“Tolong buka mata Anda.”
Kai ingin membuka matanya, tapi tubuhnya tidak bisa dia gerakkan. Rasa sakit menghantam bertubi-tubi.
Lalu, suara lain terdengar. Suara pria tua.
“Cepat panggil tabib! Penyakitnya kambuh lagi!”
Tabib?
Penyakit kambuh?
Sebelum Kai sempat memahami apa yang terjadi, kesadarannya berubah menjadi gelap total.
Keheningan menyelimuti kedai itu untuk beberapa saat. Semua mata bergantian memandang Kai dan pria tua bercaping itu.“Apa maksud dari ucapanmu itu, Pak Tua?” tanya seorang pengunjung.Pria tua itu tidak menjawab. Dia berjalan menuju meja Kai dengan mata yang terpaku pada pemuda itu, seolah sedang memastikan sesuatu.Bansu berdiri menghalangi pria tua itu agar tidak terlalu dekat dengan Kai. “Tolong jaga sopan santunmu, Pak Tua.”“Kota kita hampir diserang beast tingkat tinggi pagi ini, dan kau menyuruhku menjaga sopan santun?” tanya pria tua tadi. Tangannya menyilang di dada, seolah ingin menantang Bansu.“Kedatangan beast itu tidak ada kaitannya dengan Yang Mulia Kaizen,” ucap Bansu mencoba tetap tenang.“Kau tahu apa?” tanya pria tua itu, lalu mendorong Bansu agar menyingkir.Pria tua itu tampak renta dan kumal, tapi tenaganya tidak bisa diremehkan.Bansu terdorong cukup jauh dan nyaris terjatuh jika tidak ditahan Nyonya An.Pria tua itu menggebrak meja Kai. Tidak terlalu
Melihat Kai yang masih mematung di tempatnya, Bansu segera menarik lengan tuannya itu untuk kembali masuk ke dalam rumah. Namun, Kai menepis tangan pelayan tua itu.“Yang tadi itu makhluk apa, Bansu?” tanya Kai.“Itu beast, Yang Mulia,” jawab Bansu dengan tenang.“Monster?”“Kurang lebih seperti itu, Yang Mulia.”Beast. Kata itu terdengar asing bagi Kai, seasing wujud makhluk itu sendiri.“Beast tingkat tinggi sangat berbahaya, tapi beast tingkat rendah bisa dijinakkan,” tutur Bansu. “Meski demikian, hampir seluruh anggota tubuh mereka bernilai tinggi.”“Begitu rupanya,” gumam Kai.“Sebaiknya kita kembali ke dalam, Yang Mulia. Mari,” ajak Bansu.Kai menggeleng. “Tidak. Kita akan ke kedai, Bansu. Kau lupa?”Bansu ternganga. Kaizen memang selalu ingin tahu akan banyak hal, tapi dia tidak pernah membahayakan dirinya sendiri.“Tapi Yang Mulia, bagaimana jika beast tadi kembali lagi?” tanya Bansu, lalu menuturkan, “itu beast tingkat tinggi. Makhluk itu liar dan menyerang apa saja yang ada
Kai bangun dari tidur secara perlahan. Tubuhnya tidak terasa lemas seperti malam sebelumnya, sakit di kepala dan dadanya juga sudah tidak terasa.Kai menatap jendela yang sedikit terbuka—mungkin Ruhi atau Bansu yang telah membukanya. Ingatannya kembali pada saat dia bicara dengan Kaizen.“Aku jadi ingin tahu seperti apa kekaisaran Ansa itu,” gumam Kai. “Bahkan namanya pun mengingatkanku pada Ansa Dynamics.”Sudut bibir Kai perlahan terangkat. Jika dia tidak bisa membalas dendam pada Ren dan Ansa Dynamics, mungkin dia bisa bermain-main dengan Ansa yang satu ini.Namun sebelum itu semua, Kai harus mengetahui tentang dunia ini dan hierarki di dalamnya. Statusnya sebagai mantan putra mahkota yang hampir kehilangan kewarasannya, mungkin tidak akan menyusahkannya dalam mencari informasi.Kai turun dari ranjang. Langkahnya pelan tapi pasti menuju kursi di dekat jendela. Baru saja hendak membuka jendela lebih lebar, suara seseorang terdengar dari luar.“Bagaimana menurutmu? Apakah Yang Mulia
Ruangan itu masih sunyi setelah Kai membentak tabib tadi. Ruhi dan Bansu saling menatap dengan alis yang mengernyit. Sementara itu, tabib tadi—yang kerap dipanggil Tabib Wi—tampak ragu untuk melakukan pemeriksaan.“Yang Mulia,” ucap Bansu dengan hati-hati. “Tolong izinkan Tabib Wi untuk memeriksa kondisi Anda.”Kai tidak langsung menjawab. Dia justru menatap mereka satu per satu.Ruhi tampak gelisah. Tabib Wi dan Bansu terlihat khawatir.Kai memijat pelipisnya dengan pelan. Kepalanya masih berdenyut sakit sesekali, dengan ingatan lain yang bermunculan secara samar.Namun setidaknya, sekarang Kai semakin memahami beberapa hal. Tempat ini bukan penculikan. Orang-orang di depan Kai mengenalnya, atau lebih tepatnya mengenal Kaizen—pemilik tubuh ini.Kai memejamkan matanya sejenak. Dia tidak benar-benar selamat. Jiwanya pindah ke tubuh orang lain di dunia lain—sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan dalam imajinasi terliarnya sekalipun.Kaizen Wilang. Kai mengembuskan napas dengan pelan.
Rasa sakit menghantam kepala Kai begitu kesadarannya kembali. Napasnya berat, sementara aroma herbal asing tercium samar di hidungnya. Tubuhnya terasa seperti kehilangan tenaga.Kai membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya sempat buram, tapi kemudian semua tampak jelas.Kai mengernyit sambil mengamati ruangan itu. Langit-langit dan dindingnya terbuat dari kayu. Cahaya lampu minyak bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Di samping ranjang, beberapa mangkuk kecil berisi cairan asing tersusun rapi di atas meja kayu.Kai menyadari bahwa ini bukan di rumah sakit—tentu saja. Bukan juga di apartemen mewahnya. Bahkan sangat jauh dari kesan modern yang biasa dia lihat.Kai langsung bangkit saat mengingat kecelakaan yang dia alami. Namun, tindakannya itu justru membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Terutama di bagian dada.Meski demikian, Kai tetap memaksa untuk duduk. Dia harus memahami apa yang terjadi.Apakah aku selamat? Kai tersenyum tipis. Setidaknya dia b
Hujan kembali turun, tetapi Ren masih berdiri tenang di samping mobil yang ringsek itu. Senyum tipis di bibirnya perlahan memudar, sedangkan tatapan matanya masih dipenuhi tipu daya.“Aku pikir racunnya akan membuatmu mati terlalu cepat, Kai,” ucap Ren sambil kembali menyeringai.Di sela rasa sakitnya, tatapan Kai berubah menjadi dingin. Baru beberapa menit lalu dia merasa ada seseorang di saat seperti ini, tapi ternyata orang itu justru yang menikamnya dari belakang.Kopi tadi memang sudah dicampur sesuatu. Kai tidak mencurigai apa pun, dan itu kesalahan fatalnya malam ini.“Sial!”Kai mencoba menggerakkan tangannya, tapi rasa sakit membuatnya tidak berdaya.Ren tertawa kecil. “Kau benar-benar tidak berdaya, Kai.”Di saat bersamaan, sopir truk membunyikan klakson ke arah mereka. Ren langsung menoleh dan menatapnya.Sopir truk itu menganggukkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan area itu.Rahang Kai mengeras, mulai menyadari bahwa truk itu juga bagian dari rencana Ren.“Kenapa ... ken







