Beranda / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 168. Tak Sampai Hati

Share

168. Tak Sampai Hati

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 15:11:57

Melihat Nana yang lemas, Teja tak sampai hati.

Ia tidak tega membiarkan wanita itu terus menahan beban tubuhnya dalam posisi menungging yang melelahkan.

Ia pun melepas miliknya dari sana, menarik perlahan bendanya yang telah menghantarkan Nana menggapai puncak pertama.

Suara letupan kecil tercipta dari perpisahan milik mereka yang basah.

Cairan yang melumuri permukaan kulit milik keduanya memberikan efek bunyi yang khas saat gesekan itu berakhir.

Mendapati itu, Nana segera berbalik badan dan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   334. Puas Sepuas-puasnya

    Tempo hentakan Teja di atas lantai granit tepi kolam semakin menjadi-jadi. Bunyi kecipak basah beradu dengan guncangan tubuh sintal Septa bergema kian riuh, memantul di dinding-dinding kaca ruangan kolam tertutup yang penuh uap hangat tersebut."Ah-ah, nikmat banget, Sayang. Punyamu yang segede ini bikin aku melayang! Uh!" desah Septa histeris dengan leher mendongak tinggi.Dua bongkahan dadanya yang besar berguncang hebat seirama dengan genjotan bertenaga dari pemuda di atasnya. Jemari lentik Septa mencengkeram erat bahu kekar Teja, meninggalkan bekas goresan kemerahan tatkala hantaman milik Teja terus menembus batas terdalam kewanitannya."Ughh... Bu Septa tahan dikit ya, aku percepat lagi nih..." bisik Teja di depan telinga Septa. Pria berambut panjang itu memegangi pinggul padat Septa, menahan posisi janda muda itu agar setiap sodokannya mendarat tepat di titik peka Septa."A-apaa? Tahan sedikit lagi? Oh-oh, tapi aku udah nggak kuat banget, Sayang," jerit Septa semakin tak terk

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   333. Melumpuhkan Saraf

    "Pernah sekali sih, tapi itu sampai bikin lawan mainku hampir pingsan," sahut Teja santai sembari mengelus pelan pinggang mulus Septa yang masih terasa hangat dalam dekapannya.Septa membalikkan tubuhnya perlahan di dalam air, menatap lurus ke dalam manik mata Teja dengan tatapan kesungguhan yang bercampur gairah membara."Aku mau juga bantu kamu, Ja! Nggak apa-apa meski aku sampai pingsan sekalipun. Yang penting aku bisa ikut bahagia pas kamu bisa orgasme," ujar Septa memberikan penawaran yang begitu tulus. Janda muda itu menyatukan jemarinya di belakang tengkuk Teja, seolah siap menyerahkan seluruh sisa tenaganya demi memuaskan pemuda di hadapannya tersebut.Teja terkekeh halus, menyapu sejumput rambut basah yang menempel di pelipis Septa. "Kita lihat nanti ya, Bu Septa."Septa memang sedikit di bawah Nana dan Linda kecantikannya. Tapi, auranya sebagai janda muda yang bertubuh menarik memiliki kesan tersendiri bagi Teja. Lekuk tubuhnya yang matang, kesintalan yang padat, serta keb

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   332. Memang Susah

    Lenguhan Septa terdengar semakin kencang di tengah hangatnya uap kolam. Tubuhnya meliuk-liuk resah saat jemari Teja merayap semakin berani, mengusik area sensitif yang membuat seluruh syaraf di tubuh janda muda itu menegang hebat."Ahh... Ja... Udah, Ja, aku nggak tahan lagi..." rintih Septa dengan napas yang memburu.Wanita berparas jelita itu membalikkan tubuhnya, menatap Teja dengan mata sayu penuh gairah yang sudah membara di puncak ubun-ubun. Jemari lentiknya meraba dada bidang Teja yang basah, menyusuri garis otot kekar itu hingga turun ke bawah, melewati perut kotak-kotak Teja dan berakhir dengan meremas perlahan milik Teja yang menegang besar di dalam air."Masukin sekarang, Ja... pliss, di dalam air hangat ini... Aku pengen ngerasain sensasinya sekarang!" pinta Septa meminta penyatuan tanpa bisa ditahan lagi.Teja memandang paras ayu Septa yang bersimbah uap air dengan senyum miring yang begitu memikat. 'Hm. Bu Septa ini adalah wanita keenam dalam targetku menuju peningkat

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   331. Ukurannya Sudah Kembali

    Tak lama kemudian, Teja tiba di rumah megah Septa. Mobil Pajero Sport putihnya terparkir rapi di pelataran yang dipayungi pepohonan rindang. Pria berambut panjang itu melangkah santai menuju pintu utama yang sudah terbuka sedikit karena memang telah menanti kedatangannya.Janda muda berusia tiga puluh tahun itu menyambut kedatangan Teja dengan gaun tidur satin merah muda yang sangat ketat. Kain mengkilap itu mencetak setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan bentukan bahan halus yang menukik tajam di setiap gundukannya.Payudara Septa yang besar dan kencang nampak menyembul malu-malu di antara celah gaun tidur bagian atasnya. Belahan dada yang ada di sana terlihat begitu curam dan melenakan tatapan mata Teja.Teja menjadi teringat kesintalan tubuh polos Septa saat ia gagahi di ranjang sebelumnya. Bayangan kehangatan dan kehenyalan kulit janda kaya itu kembali terlintas sejenak di benaknya, membuat desiran hawa hangat di dalam dada Teja."Langsung ke kamar atas aja yuk,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   330. Makanan Mewah

    "Baik, Bu. Nanti begitu longgar akan aku kabarin Bu Septa," ucap Teja menutup pembicaraan dengan nada ramah.Teja meletakkan ponselnya di dasbor."Pasien, Jo?" tanya Nana yang duduk di sampingnya."Iya, mau pijet," sahut Teja singkat sembari memfokuskan pandangannya pada jalanan yang mulai padat."Apa kita tunda aja acara makan-makannya? Pekerjaanmu lebih penting, Jo," lanjut Nana penuh rasa pengertian. Gadis itu menatap Teja dengan perhatian yang tulus, tidak ingin kesibukan sang pria idolanya terganggu hanya demi memanjakan mereka."Nggak perlu, Na. Aku tadi udah bilang kalau sudah senggang baru hubungi dia kok," balas Teja menenangkan.Teja melanjutkan mengemudi. Kendaraan bernomor polisi pilihan itu menyusuri jalan protokol kota hingga melaju pelan berbelok masuk ke sebuah area parkir yang sangat luas.Pajero Sport putih Teja memasuki sebuah restoran besar dan terlihat mewah. Bangunan dua lantai berarsitektur modern dengan lampu-lampu gantung besar itu langsung menyapa pandangan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   329. Manusia Hina Dina

    "Masalah ini sebaiknya Pak Yulio saja yang memutuskan," ucap Teja. Pria berambut panjang itu melangkah mundur perlahan, mengembalikan kewenangan eksekutif penuh kepada sang CEO yang berdiri tegap di sampingnya."Pak Yulio, mohon berdiskusi dengan manajer keuangan dan yang lainnya untuk memeriksa sepak terjang dua manajer ini sebelumnya," imbuhnya dengan nada tenang nan tegas.Yulio mengangguk paham. Pengalaman pahitnya hampir terbunuh oleh pengkhianatan keluarga membuat pria berjambang lebat itu semakin peka terhadap potensi kebusukan di dalam lingkar bisnisnya."Kamu mau pulang dulu atau mau ke ruanganku, Ja?" tanya Yulio menatap sahabat sekaligus pemilik separuh saham perusahaannya itu."Aku balik aja, Pak. Oh iya, sekalian aku mau nitip dua sahabatku ini buat ikut wawancara seleksi karyawan," Teja menunjuk ke arah Endro dan Jesen yang masih berdiri mematung kaku di dekat pintu.Yulio menoleh pada Sri, memberikan tatapan dingin yang langsung membuat tubuh wanita paruh baya itu berg

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status