Compartilhar

7. Gitar Spanyol

Autor: Leva Lorich
last update Data de publicação: 2026-06-03 18:50:54

Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja.

Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab Teja ikut berbisik.

“Kamu bakal nyesel karena sudah berani ikut campur urusan kami!“ teriak pria gondrong sembari bergerak cepat menerjang ke arah Teja.

Teja menyambutnya dengan satu tangan yang bergerak lincah menangkis pukulan tersebut.

TAP!

Kaki kanannya bergerak maju satu langkah sembari mengirimkan telapak tangannya yang terkembang.

BLAMM!

Meski terlihat ringan dan tanpa tenaga, telapak tangan Teja membentur dada pria gondrong dengan sangat kuat. Pria itu bahkan sampai terpelanting ke tanah!

Darah mengalir di sela bibir pria itu. “Ughh! Kurang ajar!“ raung pria gondrong kesakitan.

Pria lain yang bertubuh gempal segera datang membantu. Ia merangsek ke arah Teja dengan cepat sambil mengirimkan beberapa tendangan sekaligus.

Tendangan kakinya memburu posisi Teja yang masih berdiri santai.

TAPP.

TAP!

Beberapa tangkisan diberikan oleh Teja sehingga tak ada satupun tendangan pria itu yang mengenai sasaran.

Tanpa menunda, balasan dari Teja menyusul. Ia melakukan gerakan siku yang sangat kuat ke arah bawah dan membentur lutut pria tersebut yang masih terayun.

KLAKK!

Tempurung lutut kanan pria gempal itu berubah menjadi tak wajar—bergeser ke arah samping kakinya!

“Arrrggghhh!“ pria itu meraung sangat kesakitan sambil berguling-guling di tanah karena kehilangan kekuatan tumpuan kakinya.

Semua terkesiap, pun juga dengan Nana yang berubah melongo bercampur kagum menatap kehebatan Teja.

Tiga pria tersisa tak berani lagi mengambil tindahan sembrono. Mereka segera berlari menolong dua pria yang ada di tanah.

“Ka-kamu mengusai ilmu bela diri?! Si-siapa kamu sebenarnya?“ pria gondrong gemetar menatap Teja. Wajahnya yang tadi sangat angkuh kini berubah pias.

Teja hanya tersenyum singkat. “Ck. Kan sudah aku bilang tadi, jaga sikap kaliann!“ cebiknya.

Pria gempal berusaha bangkit dengan dipapah dua orang lainnya. “Siapa namamu? Jangan pikir masalah bakal berhenti sampai di sini!“

“Namaku Teja Surya. Silakan kalau masih nggak terima, aku tunggu,” ucap Teja dingin sembari menggamit pinggang ramping Nana untuk beranjak memasuki mobil.

Mobil mewah Nana kemudian meluncur pergi diikuti tatapan penuh dendam dari mereka berlima.

Mobil Nana melesat cepat kembali ke kota asal mereka, lalu berhenti tepat di depan halaman rumah Teja.

“Jo, makasih ya buat yang tadi. Aku nggak nyangka kalau kamu sehebat itu,” ucap Nana tulus. Tatapan matanya menyiratkan rasa kagum yang luar biasa.

“Kan memang tugasku tadi jagain kamu, Na. Ya sudah, aku turun dulu. Jangan lupa transfer ongkos pijat dua kali lipat sesuai janjimu,” Teja beranjak akan membuka pintu mobil.

Namun, lengan kekar Teja segera ditahan oleh Nana. “Tunggu sebentar, Jo!“

Teja kembali menatap wajah cantik Nana. “Ada apa lagi, Na. Aku capek, gerah, mau mandi.“

Tiba-tiba Nana memajukan tubuhnya, sangat dekat, hingga balon udara besar di dadanya menyentuh erat lengan Teja.

“Sekali lagi makasih ya, Jo.“

CUPP!

Satu kecupan hangat Nana mendarat tepat di pipi kanan Teja.

Seketika Teja membeku!

Seumur-umur, ia belum pernah dicium oleh wanita, bahkan oleh mendiang ibunya sendiri yang meninggal saat melahirkannya.

Jantung Teja berdetak kuat, bergemuruh.

Perlahan tangan Teja bergerak meraba pipinya sendiri yang menyisakan sedikit sensasi basah dari saliva dan lipstik Nana.

Dengan sangat gugup dan canggung Teja langsung meraih handel pintu mobil. “Aku turun.“

Teja bergegas keluar dan berlari kecil meninggalkan mobil Nana.

Nana tersenyum lembut menatap tingkah pemuda polos tersebut sebelum kemudian menginjak pedal gas untuk melanjutkan perjalanan.

“Baru pulang, Ja?“ sebuah suara menyambut Teja saat ia melangkah memasuki ruang tamu.

Namun yang berbeda, itu bukan suara sambutan sang ayah. Itu adalah suara seorang wanita!

Teja yang tadinya berjalan menunduk segera mengangkat wajahnya dari mencari dari mana suara itu berasal.

“Ohh, i-iya, Bu Septa,” jantung Teja kembali berdegup tak karuan.

Baru saja ia berusaha menenangkan diri karena ulah Nana, sekarang ia kembali dihadapkan pada pasien pijat ayahnya yang jelas sedang menunggunya untuk meminta pijat.

Septa adalah istri pejabat cukup berpengaruh di kota itu. Usianya masih tiga puluh tahun dan belum memiliki anak. Wajahnya cantik penuh kesan kedewasaan dan kematangan. Bentuk tubuhnya sangat menarik menyerupai gitar spanyol.

“B-bu Septa kok sendirian, mana ayah?“ tanya Teja berbasa-basi.

Septa tersenyum sedikit genit mendengar pertanyaan itu.

“Ohh, ayahmu tadi keluar sebentar, mau beli rokok katanya. Kamu masih capek, Ja? Sudah bisa mijat belum nih?“

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab Teja ikut berbisik. “Kamu bakal nyesel karena sudah berani ikut campur urusan kami!“ teriak pria gondrong sembari bergerak cepat menerjang ke arah Teja. Teja menyambutnya dengan satu tangan yang bergerak lincah menangkis pukulan tersebut. TAP! Kaki kanannya bergerak maju satu langkah sembari mengirimkan telapak tangannya yang terkembang. BLAMM! Meski terlihat ringan dan tanpa tenaga, telapak tangan Teja membentur dada pria gondrong dengan sangat kuat. Pria itu bahkan sampai terpelanting ke tanah! Darah mengalir di sela bibir pria itu. “Ughh! Kurang ajar!“ raung pria gondrong kesakitan. Pria lain yang bertubuh gempal segera datang membantu. Ia merangsek ke arah Teja dengan cepat sambil

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tanpa berkedip ke area gundukan milik Teja. “Ternyata rumor itu benar ya, Jo?! Yang diomongin sama temen-temen di kampus nggak keliru!“ lirihnya masih dengan tatapan terpukau ke arah bagian itu. “Nggak, Na. Itu bukan hal yang perlu diomongin. Lupakan saja!“ geleng Teja yang mulai bergidik ngeri mendapati tatapan aneh Nana. Nyatanya, Nana tak berhenti sampai disitu saja. Perlahan ia bangkit berdiri dan kembali melilitkan selimut ke pinggangnya. Ia kemudian melangkah mendekat ke arah Teja. “Eh, stop, Na! Kamu mau ngapain?“ Teja semakin bergerak mundur, tersudut hingga ke dinding kamar. Nana hanya menyeringai tipis tanpa menghentikan langkah kakinya. “Aku mau buktiin sendiri, Jo. Aku mau lihat

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan.Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih sama kamu, Ja. Kamu lupa obrolan kita semalam? Sudah, bawa sini tas plastiknya, biar ayah saja yang masak!“ ujatnya sembari bangkit dan merebut belanjaan dari tangan Teja.“O-oh, gitu ya?!“ Teja masih tergagap, canggung.“Ah oh ah oh! Ayo buruan pijat aku. Keburu telat undangan nyanyiku nanti siang!“ keadaan berbalik. Justru Nana yang menarik tangan Teja menuju kamarnya sendiri.Dalam kepanikannya, Teja sempat menatap sang ayah sekali lagi. Namun Toni justru memberikan isyarat tangan OKE untuk memberi semangat.BLAMM!Pintu kamar itu menutup rapat setelah Nana menariknya, menyisakan Teja dan Nana yang saling tatap di balik pintu kamar.Sejenak Teja berdehem untuk menstabilkan kembali debaran

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya.“Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan.“Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi.Teja terdiam sejenak, kemudian meraba gada miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.“Eh, kok nggak sakit, Yah?“ ia melongo kaget.Toni tertawa singkat. “Makanya jangan asal ngomel saja mulut kamu itu! Tadi ayah sedang menguji peningkatan daya tahan tubuhmu, dan… terbukti nggak berasa, kan?““Waduh, Yah. Kalau ditendang aja nggak sakit, gimana nanti kalau nganu sama cewek?!“ Teja semakin melongo.“Halah, kenapa otakmu jadi kayak gitu sekarang, Ja?! Katanya kemarin nggak mau? Bilang mesum lah, ini lah, itu lah!“ goda Toni sembari menggerakkan kedua alisnya.“Sudah jadi takdirku, Yah. Aku kan juga pengen cepet naik tingkatan energi Qi!“ bantah Teja mencari-cari alasan.“Prettt!“ timpal sang ayah semakin jahil.Usai mengatakan itu, Toni kembali bergerak. Pukulan dan tendanga

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yang masih nampak kekar otot dada dan lengannya, mengenakan celana silat berukuran longgar. “Tinggal lima belas menit lagi menuju jam dua belas malam, Ja. Apa kamu sudah siap?“ tanya Toni dengan tatapan tajam ke arah sang putra semata wayangnya. Teja memang sejak seminggu lalu menolak dan masih merasa ragu untuk menerima warisan itu. Namun semenjak ia melihat sendiri refleks kemampuan bela diri dan energi Qi-nya kemarin, rasa ragu itu beranjak berubah menjadi rasa takjub dan ingin. “Aku siap, Yah,” jawab Teja sembari menatap balik. Toni sejenak tersenyum dan mengangguk senang. “Perlu ayah jelaskan di sini bahwa lilitan kain warisan dari raja leluhur kita itu memiliki—” “Tunggu, Yah! Raja?

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang dilirik para mahasiswa karena gayanya yang terkesan tomboy meski sebenarnya cantik. “Pagi, Jo. Ngapain kok nunduk gitu?“ sapa Nana sedikit tersenyum melihat tingkah aneh Teja. Teja menghentikan langkah sejenak, namun tetap melempar tatapan matanya ke arah lain. “Pagi, Na. Sori ya aku buru-buru,” ucapnya sambil kembali berjalan. Nana tak menghentikannya lagi, tatapannya hanya mengikuti langkah Teja yang menjauh dan menghilang di tikungan tangga diiringi senyumannya yang penuh arti. “Eh, anak gigolo udah datang nih. Gimana kabar bokapmu, Jo, dapet uang banyak dari muasin pelanggan kemarin?“ sindir Nando, teman sekelas Teja begitu melihat Teja memasuki ruang kuliah. Teja tak menanggapi, hanya d

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status