LOGIN“Nggak. Cuma mau numpang sarapan!” dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“
Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan.
Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih sama kamu, Ja. Kamu lupa obrolan kita semalam? Sudah, bawa sini tas plastiknya, biar ayah saja yang masak!“ ujatnya sembari bangkit dan merebut belanjaan dari tangan Teja.
“O-oh, gitu ya?!“ Teja masih tergagap, canggung.
“Ah oh ah oh! Ayo buruan pijat aku. Keburu telat undangan nyanyiku nanti siang!“ keadaan berbalik. Justru Nana yang menarik tangan Teja menuju kamarnya sendiri.
Dalam kepanikannya, Teja sempat menatap sang ayah sekali lagi. Namun Toni justru memberikan isyarat tangan OKE untuk memberi semangat.
BLAMM!
Pintu kamar itu menutup rapat setelah Nana menariknya, menyisakan Teja dan Nana yang saling tatap di balik pintu kamar.
Sejenak Teja berdehem untuk menstabilkan kembali debaran jantungnya. “Mau pijat yang kayak gimana, Na?“ tanyanya kemudian.
“Pijat kaki aja, Jo. Pegel banget kakiku habis manggung semalam!“ jawab Nana yang langsung melangkah ke ranjang Teja dan meraih selimut yang terlipat rapi di sana.
Karena sudah terbiasa dengan cara pijat ayahnya Teja, Nana langsung membungkus perut hingga kakinya menggunakan selimut tersebut sambil perlahan melepaskan pakaiannya dari balik sana.
Seperti menerima komando penyelidikan khusus, mata Teja segera memindai helai pakaian yang terjun bebas ke lantai kamarnya.
'Rok pendeknya dicopot. Gila! Dia cuma pakaian daleman doang di balik selimutku!' Teja menyimpulkan sendiri di dalam benaknya.
Tanpa di perintah, Nana dengan santai menelungkup diri di ranjang Teja dengan tubuh masih terbungkus selimut. “Ayo, Jo, mulai yuk. Keburu siang ini!“ suara Nana kembali terdengar meski sedikit teredam bantal di wajahnya.
Darah Teja berdesir, bukan hanya karena kemolekan tubuh Nana, melainkan pada bayangan bagaimana ranjangnya yang sehari-hari ia gunakan, kini sedang ditiduri Nana, si gadis cantik teman kuliah yang juga merupakan penyanyi terkenal.
“Dih, kok malah bengong kamu, Jo?! Ayo buruan nah!“ teriakan Nana kembali menyadarkan Teja dari lamunannya.
Teja meraih botol gel pelicin yang ada di meja kamar, kemudian perlahan mendekati posisi Nana.
Dengan tangan sedikit gemetar, Teja menaikkan balutan selimut dari kaki ke arah paha Nana. “Aku mulai dari jari kaki, Na,” ucapnya sembari mulai memijat tanpa menunggu tanggapan dari teman kampusnya tersebut.
Ilmu pijat warisan yang dibawa oleh lilitan kain celana dalamnya tersebut seolah menuntun tangannya untuk menyentuh titik-titik syaraf kaki Nana dengan begitu akurat.
“Oh, aah, Jo, gelii!“ desahan khas yang biasanya Teja dengar dari kamar ayahnya itu kini akhirnya benar-benar ia alami sendiri.
Gerakan tangan Teja semakin lincah menekan ke segala titik pemijatan.
Dari jari kaki naik ke betis. Dari betis naik ke balik lutut. Dan kini tangan Teja sudah menyibak selimut semakin ke atas dan mulai memijat paha sekal Nana.
'Astaga! Putih dan montok banget!' Teja mati-matian mengendalikan gejolak hasratnya yang kian meninggi. Ini juga kali pertama Teja melihat gadis hampir tanpa busana dan menyentuhnya!
Sesuatu di balik lilitan kainnya mulai menggeliat—memuai!
“Ampun, Jo, ini kegedean!' pekik Nana parau.
Teja segera tersadar!
Tadi karena terlalu asyik melamunkan keindahan paha Nana, ia sempat terlalu keras menekan bagian-bagian di sana.
“Ohh, sori, Na. Terlalu gede ya tenaga pijatanku?!“ ia seketika menghentikan pijatannya.
“Ehmmm, sh. Pelan dikit dong, Jo! Kamu pikir aku ini gedebok pisang apa?!“ rintih Nana.
“Iya, iya, sori banget, Na!“ Teja kembali menggerakkan tangannya untuk memijat.
Tapi tiba-tiba ponsel Nana yang berada di dalam tasnya berdering.
“Jo, tolong ambilkan tasku di deket kakiku dong,” pinta Nana sambil tetap dalam posisi tengkurapnya.
Teja melakukan apa yang diminta Nana.
“Halo. Iya, Pak. Oh begitu ya? Baik, terima kasih,” Nana hanya berbicara singkat dan meletakkan ponsel di samping tubuhnya.
“Bisa dilanjut, Na?“ tanya Teja.
Bukannya menyahut, Nana justru bangkit dan duduk di tepi ranjang.
“Eh, Na. Belum selesai pijatnya!“ ujar Teja mengingatkan.
“Gampang itu, Jo. Nanti aja lagi. Yang lebih penting, aku mau minta tolong sama kamu ini…” jawab Nana dengan wajah yang sekarang jauh lebih serius bercampur panik.
Teja menegangkan punggung kembali. “Ada masalah apa, Na?“
Kini posisi Nana duduk dengan kaki menggantung di hadapan Teja yang berdiri tegak. Ia sedikit melirik ke arah atas. “Yang telepon tadi itu pengawalku, Jo. Dia yang biasa ngawal aku tiap tampil nyanyi.“
“Nah tadi pas di telepon itu dia minta izin nggak bisa ngawal siang ini karena anaknya masuk rumah sakit. Kamu bisa nggak nemenin aku nyanyi siang ini? Nanti aku kasih dobel deh biaya pijatnya,“ lanjut Nana sembari memperbaiki posisi duduknya di bibir ranjang.
Teja sejenak berpikir, kasihan juga kalau Nana tidak ada yang mengawasi dan menjaganya saat manggung nanti.
“Boleh deh, Na. Kebetulan kan ini hari libur kuliah. Lagipula aku juga bete banget kalau di rumah mulu hari libur gini,” ia akhirnya mengangguk.
Mendengar itu, wajah Nana berubah gembira.
Saking senangnya, ia refleks memeluk tubuh Teja yang berdiri di hadapannya. “Makasih, Jooo!“
Karena posisi Teja yang masih berdiri, otomatis wajah Nana menempel ketat di bagian depan celana Teja, membentur sebuah benda yang terasa sangat keras dan super besar.
Seketika Nana tersentak.
Matanya membulat sempurna menatap gundukan besar yang menempel di pipinya itu.
“Ya ampun, Jo! Segede ini?!”
Pajero Sport putih milik Teja terparkir sempurna di pelataran asri rumah klinik. Hari sudah beranjak sore, membiaskan warna jingga temaram di langit Surabaya. Desan dengan penuh semangat membantu membawa beberapa kantong plastik berisi camilan dan buah-buahan segar masuk ke dalam rumah, sebelum akhirnya bocah itu berbaring santai di sofa ruang tengah sembari menikmati jajanan barunya.Teja dan Desy melangkah masuk membawa sisa kantong belanjaan yang dipenuhi bahan makanan mentah serta tumpukan pakaian baru. Saat Teja meletakkan kantong-kantong itu di atas meja dapur, Desy mendekatinya, melingkarkan kedua lengan halusnya di pinggang tegap Teja dari belakang."Mas, aku mau melayani Mas lebih privasi, tapi kalau ada Desan begini ya mana bisa?" ucap Desy lirih.Paras ayunya disandarkan di punggung tegap Teja. Ada nada kepasrahan bercampur kecemasan halus dalam bisikannya, khawatir keberadaan sang adik akan membatasi keleluasaannya untuk memberikan pengabdian utuh kepada pria terkasihny
"Ke kampus sebentar. Cuma satu mata kuliah dua SKS kok. Habis itu langsung ke sini lagi buat ngajak kamu dan Desan beli baju yang aku janjikan semalam," jawab Teja lembut seraya mengusap pelan helai rambut panjang Desy yang masih harum shampo.Mata Desy seketika berbinar terang. Senyuman manis merekah di paras tirusnya yang seputih kapas. "Iya, Mas... Aku sama Desan tunggu di rumah klinik ya. Hati-hati di jalan."Teja melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kucuran air segar menyiram tubuh tegap berototnya, menyegarkan kembali sirkulasi hawa Murni Qi tingkat tujuh di dalam pembuluh darahnya. Usai mengeringkan raga dan mengenakan pakaian kasual yang rapi, Teja berpamitan singkat pada Desy dan Desan.Sedan Maserati Quattroporte GTS V8 hitam milik Teja menyala halus, membelah jalanan kota Surabaya menuju universitasnya. Perkuliahan dua SKS pagi itu berjalan singkat. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang cerdas, Teja menyerap materi perkuliahan dengan amat cepat tanpa kendala s
"Iya… iya. Mbak masak nasi nih!" sahut Desy cepat dengan wajah yang masih memerah padam.Gadis berparas ayu itu buru-buru mengambil beras dari dalam wadah penyimpanan, membilasnya hingga bersih di bawah kucuran air kran yang jernih, lalu memasukkannya ke dalam wadah penanak nasi otomatis. Jemari lentiknya yang lincah menekan tombol memasak pada alat penanak nasi tersebut dengan gerakan terburu-buru, mencoba mengalihkan perhatian dari candaan vulgar Teja yang hampir saja tertangkap oleh sang adik.Teja hanya terkekeh renyah melihat tingkah panik kekasih barunya tersebut. Pemuda berambut gondrong itu dengan santai memindahkan koloke ayam yang renyah dan fuyunghay beraroma asam manis ke atas piring porselen besar, lalu menyajikannya di tengah meja makan bersih yang tertata rapi.Tak butuh waktu lama, uap harum dari nasi putih yang baru matang merebak memenuhi udara, berpadu sempurna dengan aroma masakan Teja di meja. Desy dengan sigap menyendokkan nasi hangat yang berasap tipis ke dal
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos tipis melalui celah tirai jendela kamar tidur, membiaskan pendar keemasan di atas kasur empuk. Desy masih terlelap amat nyenyak dalam balutan kemeja putih kebesaran Teja, napasnya teratur dengan raut wajah ayu yang begitu damai usai melewati malam panjang yang penuh kehangatan. Di ruang tengah, Desan pun tampak tertidur pulas di atas ranjang pasien yang sejuk, terbebas sepenuhnya dari cengkeraman demam tinggi.Teja melangkah pelan tanpa menimbulkan suara, melepaskan cengkeraman halus jemari Desy di pinggangnya agar tidak mengganggu tidur nyenyak sang gadis.Ia sejenak mencuci wajah di kamar mandi, kemudian keluar kamar menuju dapur.Segarnya usapan air dingin menyapu paras tampannya, membangkitkan kebugaran alami dari sirkulasi hawa Murni Qi tingkat tujuh yang mengalir stabil di dalam tubuhnya. Dengan langkah tegap berbalut pakaian kasual santai, pemuda berambut gondrong itu melangkah melintasi koridor klinik, menuju ke area dapur bersih ya
"Mas, aku masukin ya?" pinta Desy lirih sembari mulai membuka kancing kemeja kebesarannya.Jemari lentiknya yang bergetar halus merayap turun melintasi barisan kancing kemeja putih milik Teja yang melekat di tubuh mulusnya. Satu per satu kancing itu terlepas dari lubangnya, membiarkan kain putih tipis tersebut terkuak perlahan ke arah sisi samping tubuhnya.Kancing-kancing itu sudah terbuka sebagian, menampilkan keindahan belahan dada sang gadis yang curam dan putih.Aroma harum sabun mandi yang berpadu dengan kehangatan alami tubuh Desy seketika menyeruak semakin pekat. Kulit seputih salju di area dadanya tampak memikat, memancarkan kilau halus yang belum pernah tersentuh oleh polusi kehidupan malam. Seiring dengan jemarinya yang terus melepaskan ikatan kancing ke bawah, lekukan indah raga sang dara kian terpampang nyata.Tak lama kemudian bentuk bulatan buah dada berikut puting merah mudanya yang kaku juga mulai terlihat.Gumpalan kenyal yang mengkal dan ranum itu membusung anggu
"Aku pegang ya, Mas," bisik Desy dengan nada suara bergetar dan napas yang tertahan, matanya terpaku tanpa berkedip pada keperkasaan Teja yang mengacung gagah di udara terbuka.Tanpa menunggu persetujuan Teja, Desy menggenggamnya.Kedua telapak tangan halus Desy merapat, melingkari batang besar yang terasa begitu hangat dan keras sekeras beron bertulang. Ibu jari dan jemari lentiknya nyaris tidak saling bertemu saat menggenggam lingkar luar keperkasaan Teja. Hawa murni Qi tingkat tujuh yang bersirkulasi di tubuh Teja memancar langsung ke telapak tangan Desy, mengalirkan sensasi hangat yang mendinginkan rasa canggung sang gadis dan menyulut naluri purbanya yang teramat dalam."Ya ampun... bener-bener padat banget, Mas... nggak muat kalau cuma pakai satu tangan," cicit Desy lirih, memandangi helaian urat menegang yang menghiasi batang super jumbo tersebut dari pangkal hingga ke puncaknya.Desy mulai menggerakkan kedua tangannya, memberikan pijatan perlahan di sepanjang batang kejantan
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri







