Share

172. Sang Guru

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 15:15:22

Sanjaya buru-buru menggeleng. "Bukan hal yang urgent, Ja. Tapi cukup serius," jelasnya sembari membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman.

"Apa itu, Pak Sanjaya. Katakan saja!" balas Teja langsung pada inti persoalan.

Ia menatap lekat-lekat wajah pria paruh baya di hadapannya itu, siap mendengarkan setiap detail informasi yang akan disampaikan.

Sanjaya menarik napas panjang sejenak sebelum memulai penjelasannya. "Begini... Ada dua hal yang perlu kita bahas," ujarnya membuka poin utama pembi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   181. Tersenyum Jumawa

    Teja tersenyum sinis, merasa tertantang oleh pembangkangan makhluk astral tersebut. 'Oh, nggak mau nih?! Oke. Satu kali lagi aku perintahkan. Pergi dari sini atau aku yang lempar kamu dari sini ke tengah laut?!' ancam Teja, memberikan ultimatum terakhir dengan volume suara yang makin berat dan penuh penekanan.Mendengar ketegasan Teja yang begitu percaya diri dan merasakan tekanan energi Qi yang mendadak membesar di sekeliling ruangan, wajah pucat itu sedikit kaget. Ia tidak menyangka bahwa manusia muda di depannya memiliki nyali dan simpanan kekuatan sebesar itu.Namun, sebelum ia menjawab lagi untuk membela diri atau membalas ancaman tersebut, Teja sudah menggerakkan energi Qi-nya membentuk sebuah tangan besar yang mencengkeram tubuh wanita itu dan membuangnya ke tengah laut menggunakan kehendak batinnya. Proses itu terjadi sangat cepat!Teja hanya perlu membayangkan tangan raksasa tak kasat mata menjerat tubuh sang kuntilanak, lalu melemparkannya sejauh mungkin menembus dinding

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   180. Alasan Masing-masing

    'Bener banget. Ini adalah hidupku, kekuatanku. Aku harus bisa menerapkannya dengan ataupun tanpa ayah. Aku nggak boleh pasif!' tekad Teja dalam hati. Keputusan bulat itu seketika melenyapkan keraguan yang sejak tadi menggelayuti benaknya. Ia sadar bahwa bergantung sepenuhnya pada petunjuk sang ayah hanya akan memperlambat perkembangannya dalam menguasai kemampuan baru ini.Teja pun melangkah dan berdiri di tengah ruangan kamarnya. Ia mengambil posisi tegak dengan kedua kaki sedikit merenggang, mencoba menyelaraskan sirkulasi napasnya dengan detak jantung yang mulai berdegup kencang. Suasana kamar yang semula terasa biasa saja, kini mendadak berubah menjadi lebih dingin dan berat.'Coba sekarang aku pengen tahu, ada makhluk apa aja di kamar ini!' bisik Teja dengan suara rendah, menantang dirinya sendiri untuk menembus batas pandangannya.Ia berkonsentrasi dan memusatkan mata batinnya meraba setiap sisi ruangan itu. Teja memejamkan mata fisiknya, membiarkan kepekaan rasa dan energi

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   179. Bukan Delusi Belaka

    "Bukan cuma kayak gitu, Ja. Tapi itu baru sebagian kecil yang kamu ketahui!" bantah Toni dengan cepat, meluruskan pemahaman dangkal anaknya yang tampaknya menganggap remeh urusan sihir yang ia maksudkan.Teja menaikkan sebelah alisnya, merasa rasa ingin tahunya sengaja dipancing lagi oleh sang ayah. "Maksudnya, Yah?" tanya Teja, menuntut penjelasan yang lebih gamblang.Toni menggelengkan kepala, lalu melambaikan tangan di udara. "Nanti saja. Sekarang belum waktunya," ujar Toni, memotong pembicaraan sebelum rasa penasaran Teja berkembang menjadi terlalu liar.Teja mengatupkan bibirnya kembali, sedikit kecewa karena rasa penasarannya harus tertahan. Namun, sebelum anaknya sempat memprotes, Toni kembali membuka suara untuk memberikan fokus utama pada latihan mereka malam itu. "Buat malam ini, Ayah cuma ingin kamu paham dulu sama kekuatanmu di ranah astral. Energi Qi-mu bisa berfungsi untuk mengusir, memaksa, ataupun membatasi ruang gerak mereka," lanjutnya, merincikan.Mendengar isti

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   178. Bukan Halusinasi

    Teja langsung berdiri dari posisi duduknya. Langkah kakinya bergerak cepat mundur ke belakang, menjadikan kursi besi yang tadi didudukinya sebagai pembatas antara dirinya dan dua makhluk ganjil yang sedang menuju ke arahnya.Napasnya agak memburu, sementara matanya terus menatap lurus ke satu titik di dekat pohon mangga.melihat reaksi spontan anaknya, Toni justru terkekeh pelan. Ia tetap tenang di posisinya tanpa menggeser duduknya sedikit pun. "Ngapain takut? Katanya nggak takut tadi?!" goda Toni, sengaja memancing keberanian Teja.Wajah Teja memucat, sama sekali tidak menganggap situasi ini sebagai lelucon. Ia menunjuk-nunjuk ke arah depan dengan jari yang sedikit gemetar. "Eh, itu mereka kesini lho, Yah! Satu makhluk halus berupa nenek tua kayak Mak Lampir, dan satu lagi bentuk bocah cowok umur sepuluh tahun. Mereka beneran datang ke kursi kita! Aku nggak bohong!" ulang Teja dengan nada berbisik.Toni menoleh sekilas ke arah yang ditunjuk Teja, lalu kembali menatap anaknya. E

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   177. Di Bawah Pohon Mangga

    Toni menyandarkan punggung di kursi besi sambil menatap anaknya.“Apa yang ada di dalam saku kanan kemeja ayah?” tanya Toni tiba-tiba.Teja mengernyit. Pertanyaan itu sudah sering muncul dengan variasi berbeda. Dulu ia pernah diminta ayahnya untuk memeriksa apa yang dilakukan Nana dan Septa di rumahnya. Teja menarik napas pelan. Ia menegakkan punggung dan memusatkan perhatian.Tatapannya terkunci pada saku kanan kemeja Toni. Matanya tidak berkedip beberapa detik. Dalam benaknya, ia mencoba membayangkan ruang kecil di balik saku itu.Mata batinnya bergerak perlahan.Bayangan gelap muncul lebih dulu. Lalu samar-samar terlihat bentuk persegi panjang yang tipis. Teja terus memfokuskan pikirannya.“Hm...” gumamnya pelan.Toni tidak menyela.Teja memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi. Bayangan benda itu menjadi lebih jelas.“Berupa lembaran,” ujar Teja perlahan. “Bukan uang.”Toni tetap diam.“Ukurannya lebih kecil dari uang... lebih tipis... kertasnya buram.”Teja mencondongkan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   176. Uji Ulang

    "A-aku," Teja tergagap. Ia langsung menghentikan kunyahannya dan menatap sang ayah dengan wajah yang berubah kaku dan tegang.Pertanyaan tiba-tiba itu benar-benar meruntuhkan ketenangannya dalam sekejap.Toni tertawa sambil mengunyah sisa makanannya. Ia tampak sangat terhibur melihat reaksi putranya yang tampak panik dan kebingungan mencari alasan untuk mengelak. "Ayah adalah pemilik kekuatan itu sebelum kamu, Ja. Ayah bisa melihat rona ceria wajahmu setelah berhubungan!" ungkap Toni dengan nada menggoda sekaligus penuh keyakinan.Mendengar penuturan sang ayah yang tidak bisa dibantah lagi, Teja akhirnya memilih untuk berterus terang. Ia meletakkan sendoknya dan menghela napas pendek. "Buat mengisi kuota enam wanita menuju peningkatan energi Qi ke tahap tiga, Yah. Nana menjadi wanita pertama," aku Teja berterus terang mengenai hal tersebut.Toni mengangguk paham. Tidak ada keraguan atau kemarahan di wajah tuanya, melainkan seulas senyum bijak yang menenangkan hati sang anak. "Aya

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   57. Insiden Di Pom Bensin

    "Pak Sanjaya, sepertinya aku harus pamit pulang sekarang," ucap Teja sembari melirik ke arah jam dinding ruang tamu yang sudah menunjukkan pukul 8.15 malam."Setiap dua hari sekali aku akan datang kembali ke sini untuk mengontrol dan memastikan perkembangan kesehatan organ dalammu," lanjut Teja sem

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   49. Serangan Beruntun

    "Kamu bukan tandingan guru silat itu, Tang. Mereka memiliki keahlian bela diri dan terlatih, beda sama kamu yang cuma bisa tawuran," ujar Teja menolak tawaran Bintang dengan nada yang tetap tenang dan realistis.Bintang menunduk lesu dan segera mundur ke samping posisi berdiri Nana, merasa malu di

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status