ログインTeja akhirnya memutuskan untuk segera mandi karena rasa lengket usai orgasme solonya. Pria berambut panjang itu melangkah perlahan menuju kamar mandi dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Gemercik air dingin dari shower menyiram kepala hingga ujung kakinya, membasuh habis sisa-sisa peluh dan cairan sperma yang mengering di kulit. Sensasi sejuk air dingin kini terasa begitu menyegarkan, tak ada lagi rasa menggigil kedinginan ataupun suhu tubuh panas mendidih yang membakar seperti beberapa saat lalu.Usai mandi, Teja melilitkan handuk di pinggangnya lalu melangkah keluar. Pria itu mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kecil, lalu berganti pakaian tidur yang longgar.Sembari duduk di tepi ranjangnya yang kini sudah diganti dengan sprei baru yang bersih, ia merenung. Tatapannya menerawang menatap langit-langit kamar.'Kenapa sama tubuhku? Apa aku mengalami peningkatan energi Qi tingkat tiga?' gumam Teja lirih.Rasa penasaran yang begitu besar menggelitik benaknya. Kejadian
Gejolak dahsyat di dalam tubuh Teja kian menjadi-jadi, berputar hebat bagaikan badai api yang menghancurkan sekat-sekat pembuluh darahnya. Namun, ada yang aneh lagi dari tubuh Teja. Perlahan gairah Teja naik sendiri!Di tengah rasa sakit bercampur ngilu yang meremukkan persendian, sebuah dorongan gairah yang teramat pekat mendadak membuncah dari dasar perut bawahnya. Energi Qi di dalam tubuhnya bereaksi secara ekstrem, memicu keinginan dan syahwat yang melonjak drastis.Milik Teja yang terbesar se-Indonesia itu mulai mengeras maksimal! Pembuluh-pembuluh darah di sepanjang batangnya menonjol kuat, berdenyut-denyut tak terkendali.'A-aghhhh... Kenapa... kenapa gairahku malah membumbung tinggi kayak gini?!' rintih Teja dengan napas panas yang memburu cepat.Gigi-giginya bergetar hebat menahan erangan. Rasa dingin yang menusuk tulang membuat tubuh kekarnya tak sanggup lagi bertahan di atas lantai granit yang dingin. Dengan sisa-sisa kesadaran yang kian melemah oleh gedoran hasrat yan
Teja melangkah penuh kehati-hatian menaiki anak tangga menuju lantai atas kediaman megah milik Septa. Di dalam bopongannya, tubuh polos janda muda itu terasa begitu pasrah dan lemas tanpa daya, bersandar sepenuhnya pada dada bidang Teja yang kokoh. Napas Septa masih terengah-engah halus, memburu pelan membawa sisa-sisa gelombang kenikmatan dahsyat dari tiga ronde pelepasan berturut-turut yang baru saja melumpuhkan seluruh persendian tubuhnya.Pintu kamar yang terbuat dari kayu jati berukir itu terbuka perlahan sewaktu Teja mendorongnya dengan bahu. Hawa sejuk dari pendingin udara dan aroma terapi lavender yang menenangkan langsung menyapa indra penciumannya.Teja melangkah mendekati ranjang berukuran besar yang tertata rapi di tengah ruangan. Dengan gerakan yang sangat lembut, Teja meletakkan Septa di ranjang itu. Tubuh indah dan sintal itu kini terbaring mulus di atas sprei berwarna putih bersih.Septa membuka matanya sedikit, menatap Teja dengan pandangan mata yang amat sayu da
Napas Septa masih memburu pendek. Namun, binar di matanya sama sekali tidak meredup. Rasa penasaran bercampur gengsi seorang wanita dewasa yang tak sanggup menaklukkan pemudanya justru membakar kembali sisa-sisa stamina di dalam tubuhnya."Ayo, Ja... Jangan berhenti di sini. Aku mau ronde ketiga," ulang Septa dengan desahan manjaya yang sangat khas. Tangannya yang gemetaran merayap naik, mengusap leher Teja.Teja menatap janda muda itu dengan senyum miring yang menawan. "Bu Septa beneran masih kuat? Jangan dipaksakan kalau tubuhnya udah lemas.""Kuat! Tapi aku mau gaya lain, Ja. Jangan di lantai lagi... Kita berdiri di pinggir kolam!" pinta Septa penuh antusiasme yang membara.Teja tidak meragukan tekad wanita di hadapannya. Dengan perlahan, Teja bangkit berdiri. Otot-otot tubuhnya yang berlekuk sempurna berkilauan diterpa pantulan lampu kolam renang. Ia lalu mengulurkan tangan, membantu Septa untuk berdiri di atas kedua kakinya yang masih terasa gemetaran hebat.Septa bersandar le
Tempo hentakan Teja di atas lantai granit tepi kolam semakin menjadi-jadi. Bunyi kecipak basah beradu dengan guncangan tubuh sintal Septa bergema kian riuh, memantul di dinding-dinding kaca ruangan kolam tertutup yang penuh uap hangat tersebut."Ah-ah, nikmat banget, Sayang. Punyamu yang segede ini bikin aku melayang! Uh!" desah Septa histeris dengan leher mendongak tinggi.Dua bongkahan dadanya yang besar berguncang hebat seirama dengan genjotan bertenaga dari pemuda di atasnya. Jemari lentik Septa mencengkeram erat bahu kekar Teja, meninggalkan bekas goresan kemerahan tatkala hantaman milik Teja terus menembus batas terdalam kewanitannya."Ughh... Bu Septa tahan dikit ya, aku percepat lagi nih..." bisik Teja di depan telinga Septa. Pria berambut panjang itu memegangi pinggul padat Septa, menahan posisi janda muda itu agar setiap sodokannya mendarat tepat di titik peka Septa."A-apaa? Tahan sedikit lagi? Oh-oh, tapi aku udah nggak kuat banget, Sayang," jerit Septa semakin tak terk
"Pernah sekali sih, tapi itu sampai bikin lawan mainku hampir pingsan," sahut Teja santai sembari mengelus pelan pinggang mulus Septa yang masih terasa hangat dalam dekapannya.Septa membalikkan tubuhnya perlahan di dalam air, menatap lurus ke dalam manik mata Teja dengan tatapan kesungguhan yang bercampur gairah membara."Aku mau juga bantu kamu, Ja! Nggak apa-apa meski aku sampai pingsan sekalipun. Yang penting aku bisa ikut bahagia pas kamu bisa orgasme," ujar Septa memberikan penawaran yang begitu tulus. Janda muda itu menyatukan jemarinya di belakang tengkuk Teja, seolah siap menyerahkan seluruh sisa tenaganya demi memuaskan pemuda di hadapannya tersebut.Teja terkekeh halus, menyapu sejumput rambut basah yang menempel di pelipis Septa. "Kita lihat nanti ya, Bu Septa."Septa memang sedikit di bawah Nana dan Linda kecantikannya. Tapi, auranya sebagai janda muda yang bertubuh menarik memiliki kesan tersendiri bagi Teja. Lekuk tubuhnya yang matang, kesintalan yang padat, serta keb
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha







